Maaf, aku lagi ingin marah-marah. Nampaknya judul ini
sangat cocok untuk memulai review-ku tentang buku yang berjudul 'Maaf,
Aku Lagi Jatuh Cinta'.
Berhubung Tan Sis pengen baca review tentang novel yang
sukses bikin aku emosi, akhirnya kuputuskan untuk posting review-nya.
This is a serious problem. Baru kali ini selesai
membaca buku yang kulakukan pertama kali adalah lempar tuh buku jauh-jauh.
Untung buku ini adalah pemberian. Kalau beli sendiri, entahlah seberapa nyesek
rasanya.
Cliché. Bad Ending. No Conclusion.
Itu adalah tiga kata yang bisa merangkum seluruh isi
novel tersebut.
Sebelum aku melanjutkan review kenapa aku bilang
tiga kata itu, aku mau nunjukkin part yang bikin aku tetap lanjutin baca
novel ini sampe tamat. Well, not all of them are bad. Ada beberapa hal
yang cukup menarik meskipun clichè.
1. Gaya penceritaannya cukup menarik dan ringan. Ada
humor-humor yang bisa bikin merasa terhibur.
2. Perjuangan tokoh utama Rimba dan teman-temannya demi
membayar uang kuliah sendiri itu inspiratif. Patut dicontoh.
3. Buku ini diawali dengan kutipan yang merangkum isi
bab. That's quite good.
Quote yang paling kusuka dari semuanya:
Jadikan kisah itu berbeda agar nantinya menjadi berkesan,
jangan paksakan menjadi yang terbaik.
That's all the good points.
Baiklah kita mulai secara resmi review ini. *Jadi dari tadi belom mulai jugaaaa???* *oops*
Penilaian masih tetap sama.
1. Sinopsis / Deskripsi cerita.
2. Opening / First Impression
3. Karakterisasi tokoh
4. Story Line : Logika cerita, progress
cerita, cara penceritaan, gaya penulisan, dll.
5. Ending/ Pesan
Sistem penilaian aku adalah 1-10. 1 untuk yang paling
jelek dan 10 untuk yang terbaik. Poin akan kuberikan di bagian paling
bawah setelah review selesai. Let's get start.
Maaf, Aku Lagi Jatuh Cinta
Sinopsis/ Deskripsi Cerita
Sebelum kita bahas, aku mau menjabarkan sinopsis novel
ini.
Novel ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Rimba
yang ingin kuliah di Jakarta, padahal bapaknya sudah sepuh. Meskipun awalnya
orang tuanya tidak menyetujui keinginan tersebut namun Rimba tetap nekat. Pada
awal kedatangannya ke Jakarta, Rimba yang bingung bagaimana caranya untuk
membayar kuliah tanpa meminta orang tua bertemu dengan Brio. Kemudian ia
menemukan ide untuk menghasilkan uang dari melakukan jajak pendapat pada
mahasiswa di kampus mengenai produk tertentu. Usaha tersebut berkembang sangat
pesat hingga Rimba dan Brio akhirnya memutuskan untuk memperkerjakan dua orang
mahasiswa miskin seperti mereka, Soim dan Erdo.
Di awal masa kuliahnya, Rimba jatuh cinta pada pandangan
pertama pada Brinita, kembang kampus yang merupakan model dan bintang iklan.
Namun wanita itu tidak menggubris pernyataan cintanya sebanyak tiga kali,
hingga akhirnya Rimba putus asa dan berpacaran dengan Nay yang juga merupakan
kembang kampus. Meskipun bersama Nay, Rimba tak juga mampu melupakan Brinita
hingga akhirnya Nay merasa pemuda itu tidak menyukainya. Nay memutuskan
hubungan mereka. Rimba yang merasa sedih setelah putus, dinasihati oleh Brio,
sahabat karibnya, bahwa dia memang tidak bisa melihat perasaan cinta Rimba pada
Nay. Rimba masih mencintai Brinita. Rimba akhirnya memutuskan untuk mengejar
Brinita kembali. *cerita tidak berhenti sampai sini, tapi saya lelah ngetik
seluruh rangkuman ceritanya. Saya yakin kalian juga lelah membacanya Haha.*
Bagaimana? Sudah kelihatan belum keanehan cerita ini?
Haha... ini adalah novel romance, tapi kenapa yang lebih banyak porsinya
adalah cerita perjuangan hidupnya. Timeline penceritaan novel ini juga
sebenarnya sedikit membingungkan hingga aku pun bingung mau merangkum kisah ini
seperti apa. Mau ceritain perjuangan hidup atau perjuangan cintanya?
Kuakui analogi mengenai orang pintar, ngeyel, jatuh
cinta, dan ibu hamil itu menarik. But... that's not representing
all the story about.
First Impression
Cerita ini dibuka dengan analogi antara orang pintar,
orang ngeyel, orang jatuh cinta versus ibu hamil dan bukti analogi cerita itu
dalam rupa percakapan.
Kemudian dilanjutkan Nay yang memutuskan hubungan dengan
Rimba. Kemudian pembaca dibawa flashback dengan porsi perjalanan hidup Rimba
untuk membangun LSK. Sama sekali tidak ada menyebutkan Britnita sejak awal,
hingga tiba-tiba saja Brio menyebutkan tentang perempuan itu hingga akhirnya
kisah cinta Rimba dan Britnita dimulai lagi (catatan: Brinita itu adalah cewe
yang disukai Rimba sebelum pacaran dengan Nay. Ditembak tiga kali tapi nolak
yang akhirnya bikin Rimba putus asa dan pacaran dengan Nay)
Dari penjabaran timeline seperti ini, bisa kita
simpulkan... alur penceritaan MALJC(disingkat aje ye.. XD) itu ga runut.
Cenderung seperti angin puting beliung. Wush... ke kanan wush ke kiri... kalau
ga konsen mungkin akan lost.
Anyways, sebenarnya kesan pertamaku pada cerita ini cukup
baik awalnya. Hal ini disebabkan oleh sinopsis yang menarik, hanya saja begitu
masuk bab Nay memutuskan Rimba (notabene baru bab 2 sepertinya) dan dilanjutkan
dengan flashback yang panjang hingga aku bingung benarnya kisah Nay dan Rimba
itu berada di waktu yang mana, itu membuat aku merasa ini... cerita apaan
sih.
Karakterisasi
Sebelum kita membahas tentang karakter Rimba, aku mau
mengutip sebuah paragraf dari buku ini.
"Kamu sudah berbuat banyak, Rim. Kamu sudah berbuat lebih dari cukup dari kata sahabat. Kamu ada untuk Brio, kamu bisa ada untuk soim, dan kamu juga selalu ada untuk aku. Kamu sahabat terbaik yang pernah aku kenal, walau kadang kala arogansimu itu membuat bete,"
Arogansi. Jujur sepanjang cerita ini, selain dia tengil.
Kesan arogansi yang membuat bete ini tidak aku menemukan kesan itu.
Mengenai karakter tokoh-tokoh lain seperti Erdo, Soim,
dan Brio. Ketiga tokoh ini bisa kukatakan terlalu mirip. Ga ada perbedaan yang
jelas yang bahkan penulisnya aja bisa lupa sama karakternya sendiri saking
miripnya. Contoh:
"Gue sedih, Do. Gue dan Soim bener-bener sendiri sekarang. Gue nggak pernah tau siapa bokap dan nyokap gue, Brio juga nggak pernah ketemu dengan nyokap dan bokapnya...."
Kutipan ini benar-benar kuketik apa adanya sesuai dengan
apa yang tercetak di buku. Tidak perlu dibahas lebih lanjut ya, kita lanjut ke
karakterisasi tokoh lainnya.
Untuk tokoh Saudah (tunangan Brio) pun tidak memiliki
karakterisasi yang unik. Disini awalnya karakternya dikatakan adalah anak panti
asuhan... ah aku semakin kesal untuk menjelaskannya. Terlalu banyak lubang
dalam cerita ini hingga aku pun bingung bagaimana merunut dan menjelaskan
karakternya.
Fine, I'll try it. Saudah pada awalnya
dikesankan sebagai sosok yang ayu dan manis tapi di ending, Rimba ngamuk pada
Saudah karena kemanjaan dia untuk diperhatikan oleh Brio. Rasanya karakter ini
tidaklah konsisten.
Tentang Soim. Ada satu hal yang mengganggu tentang tokoh
satu ini. Namanya. Soim adalah orang Kristen/Katolik (entahlah tidak jelas)
yang merupakan anak kades yang korupsi. Disini saja sudah mulai ada kejanggalan
logika. Nama Soim tidak mengesankan sebagai tokoh yang beragama
Kristen. Menurut aku, nama ini lebih cenderung Muslim karena orang
Kristen itu cenderung menggunakan nama-nama khas. Seperti Nathaniel, Bernadus,
Marcel, Joseph. Nama-nama orang Kristen kebanyakan diambil dari nama-nama yang
muncul di Alkitab. Malah nama Brio lebih mirip orang Kristen daripada
Soim.
Kejanggalan lain adalah ini mungkin saja di beberapa
tempat bisa terjadi, tapi... bukankah mayoritas posisi petinggi daerah itu
Muslim? Terutama di Jakarta, apalagi dikatakan bapak Soim adalah Kades.
Story Line
Berbicara tentang logika dalam cerita, ada hal yang
menganggu. Tidak signifikan mengganggu cerita tapi ada beberapa kalimat yang
membuat aq mempertanyakan logikanya.
Let me quote them for you.
"Tiga puluh persen untuk aset perusahaan. Lo dua puluh, gue sepuluh, biar gue ngerasa memiliki. Tiga puluh persen operasional. Empat puluh persen kita bagi per bulan. Persentasenya menyesuaikan, termasuk jika kita merekrut orang baru,"
30%+ 20%+10%+30%+40%=130%
Atau aku yang salah interpretasi? Mungkin maksudnya 20%
dan 10% yang dimiliki mereka adalah dari 30% aset perusahaan? Bukanlah aset
perusahaan itu artinya aset yang dimiliki oleh perusahaan? Tapi yang dimaksud
dari kalimat itu(yang kutangkap) itu adalah saham yang mereka miliki. Hmhhh...
sedikit ambigu kalimatnya. Correct me if I'm wrong. Aku sedikit bingung
tentang hal ini.
Part lain yang membingungkan.
Mereka yang dikasih pasangan sempurna, eh seenaknya aja
diselingkuhin, dibikin nangis-nangis, dikibulin.
Siapa yang dikibulin, dibikin nangis-nangis,
diselingkuhin? Yang dikasih pasangan sempurna?
Ending and Moral Story
Dari antara semua itu... yang paling menyebalkan adalah
akhir ceritanya. Bayangkan, kita sudah diceritakan sejak awal tentang
perjuangan hidup Rimba, trus akhirnya nyambung-nyambung ke Brinita yang
akhirnya dikejar lagi oleh Rimba setelah putus dengan Nay. Setelah Rimba
mendapatkan Brinita, tiba-tiba saja hadir kemelut Rimba dengan restu ortunya
dan Brio yang dikatakan sahabat karibnya... ah sudahlah tak usah disebutkan.
Saya masih kesal...
Yang bisa kukatakan saat ini adalah... premisnya boleh
tentang analogi orang jatuh cinta vs orang-orang lainnya tapi konklusi akhirnya
itu tidak menutup semua itu. Ketika halaman terakhir itu aku bahkan tidak tahu
kalau itu sudah berakhir karena ending-nya terjadi begitu saja. Tidak
nyambung.
Sudahlah kita akhiri saja review ini sebelum aku
mulai membahas rasa kalimat. Terlalu banyak yang janggal. Kalian pasti sudah
pada merasakan waktu baca kutipan-kutipan di atas.
...
Oke... kukasih contoh...
Setelah sebuah paragraf narasi yang panjang tentang
kekaguman Rimba pada Brinita yang cuek, tiba-tiba saja dilanjutkan dengan
kalimat ini.
"Lo mikir apaan sih, Rim?"Aku kaget. Brio
nyengir.
O.o what the...
Aku mengangguk, mengiyakan dengan tulus permintaan Brio. Aku
haru. Aku bersyukur punya sahabat seperti Brio.
Kalimat ini mungkin akan terdengar lebih enak jika
diubah menjadi: Terharu dan bersyukur punya sahabat seperti Brio,
Karena terlalu banyak kata aku ini... aku itu.. aku...
lalalala... bubar yuk. Sebelum seseorang nimpuk aku gara-gara review ini
terlalu banyak kritikan daripada saran dan juga masukan. :p
PENILAIAN:
1. Judul: 3/10
Judul ini sangat-sangat tidak sesuai dengan isi
ceritanya.
2. Blurb/ Sinopsis: 5/10
Sinopsis di halaman belakang novel sangat
menarik dan menarik perhatian calon pembeli, tapi... aku merasa kecewa dengan
isi novel ini yang tidak sesuai dengan analogi yang ingin disampaikan dalam
novel.
3. Karakterisasi: 1/10
Can I give this Zero? I
really want to give it ZERO. Just thinking again about this novel make my anger
rise again.
4. Jalan cerita: 4/10
Seperti yang kukatakan sebelumnya, 3 kata. Clichè.
Bad Ending. No Conclusion. Ini adalah tiga hal yang paling
menyebalkan buat aku ketika membaca novel. Terutama poin terakhir. PESAN
CERITA.
Kenapa tidak kunilai 1 seperti karakterisasinya? Itu
karena aku masih menyukai beberapa humor dan sisi inspiratif cerita ini,
tentang perjuangan hidup Rimba, meskipun alurnya Clichè dan
terkesan tanpa konflik yang real.
5. Originalitas: 5/10
Overall Enjoyment : 18/50
Intinya, maybe someone will like this story for the
entertainment aspects but for me, this book doesn't really entertain me at
all.
Btw... catatan terakhir.
Karena buku ini diberikan oleh seseorang, aku tidak tahu
apakah ini buku kesalahan cetak ataukah memang terbit seperti itu, tapiiiiii
typonya banyak banget. Huruf-huruf yang dempet juga banyak. Belum lagi ada dua
bab yang tercetak dua kali. Ini benar-benar butuh perjuangan untuk
menyelesaikan bacaan dan review ini.






















