"Aku Ingin Bahagia."
Tango
Kategori: Novel
Penerbit: Ufuk Publishing House
Penulis: Goo Hye Sun
ISBN: 978-602-18349-8-5
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Halaman: 309 halaman
Terbit: 2012
Kategori: Novel
Penerbit: Ufuk Publishing House
Penulis: Goo Hye Sun
ISBN: 978-602-18349-8-5
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Halaman: 309 halaman
Terbit: 2012
Well, ini review pertamaku setelah sekian lama tidak membuatnya. Sebenarnya, ini adalah kedua kalinya aku membaca buku ini. Bukan karena aku nge-fans pada penulis buku ini. Jujur saja sih, aku tidak terlalu suka dengan drama-drama yang diperankan oleh aktris yang satu ini. Namun, harus kuakui aktris yang satu ini benar-benar multitalenta. Mulai dari akting, membuat lagu, menyanyi, bermain alat musik, sutradara, produser, hingga menjadi penulis, semua ia lakukan. Bahkan jika kalian membaca bukunya yang satu ini, kalian akan bisa melihat ilustrasi yang ia lukis pula.
Yuk, kita mulai saja pembicaraan tentang buku ini!
Pertama-tama aku ingin mengatakan, buku ini secara nggak langsung memiliki pengaruh yang besar pada tulisan-tulisanku. Ini adalah hal yang baru kusadari setelah membaca buku ini kedua kalinya. Ada satu kutipan yang selalu melekat dalam benak.
Kopi adalah kenyataan.
Sepertinya kalimat ini tanpa kusadari meninggalkan jejak tertanam dalam benakku. Aku sangat suka dengan perumpaan yang terus dipaparkan dalam novel ini. Menurutku, perumpamaan ini sangat melekat dalam inti cerita Tango.
Novel ini berkisah tentang seorang perempuan muda naif bernama Yun yang ingin bahagia, hal itu berbanding terbalik dengan pendapat kekasihnya, Jong Woon yang mengatakan hidup itu penuh realitas dan kau harus menghadapinya (Ga usah dicari kalimat ini dalam novel, karena tidak ada. Lol).
Hampir sepanjang novel ini, tokoh utama, Yun, bertentangan dengan pendapat kekasihnya ini. Ia terus berkutat untuk tak mempercayai bahwa ia harus merasakan semua rasa pahit kehidupan untuk hidup. Ia ingin bahagia, dan harus bahagia.
Yun dan Jong Woon itu ibaratnya adalah pasangan yang menarikan Tango dengan tidak seirama. Keduanya begitu berbeda hingga perbedaan itu membuat Jong Woon perlahan menjauh. Perpisahan itulah yang membuat Yun pertama kalinya dipaparkan secara langsung pada kenyataan. Pertama kalinya Yun mempertanyakan apakah ia harus ikut hanyut dalam kenyataan hidup?
Novel Tango ini memiliki inti cerita yang sangat filosofis dan dalam. Sungguh membuat aku terhanyut dalam cerita, meskipun sebenarnya pada bagian-bagian awal cerita sedikit sulit untuk mengikuti alur novel ini karena penulis membahas permasalahan yang berkutat di hal yang itu-itu saja hampir seperempat bagian dari novel.
Tapi, aku tidak mengatakan bahwa hal itu tidak diperlukan. Hanya saja sedikit membosankan meskipun Goo Hye Sun menggunakan POV pertama yang tidak biasa. Penulis tidak memberikan detil peristiwa secara mendalam. Ia lebih fokus untuk mengungkapkan seperti apa pemikiran Yun terhadap gagasan-gagasan yang dihadapkan padanya. Hal ini sedikit membuatku merasa overwhelming. Meskipun ada yang mengatakan emosi Yun sangat datar sepanjang cerita, namun menurutku, tidak seperti itu. Memang tidak dramatis, namun perasaan Yun tersampaikan dengan baik.
Ada satu bagian yang sangat berkesan untukku.
Pertama-tama, setidaknya aku harus makan. Lalu, aku juga harus merapikan kamarku.
Aku masuk ke kamar mandi. Berbeda dengan tekadku, jariku bergetar dengan sangat kencang, sepertinya aku harus segera menenangkan jari-jariku. Aku mengalirkan air hangat di sepuluh jari-jariku yang terus bergetar. Sekarang, kepalaku terasa panas.
Apa aku harus menelepon ibuku? Tidak, lebih baik tidak usah. Aku harus tidur. Tidak, aku harus makan dulu.
Pada bagian ini sangat terasa sekali kebingungan Yun yang baru saja putus dan tidak tahu harus melakukan apa. Sederhana, tapi emosi Yun tersampaikan dengan baik. Kalimat-kalimat yang dirajut oleh Goo Hye Sun sangat simpel (Begitu pula dengan hasil terjemahannya), namun terasa tulus dan menawan. Hanya saja, meskipun simpel itu tak berarti aku bisa memahami semua hal yang ia katakan sih. XP.
Ada beberapa pemikiran yang bagaimana pun aku coba renungkan rasanya tetap tidak dapat kumengerti. Mungkin ini karena aku belum pernah mengalaminya atau melihat secara langsung sih. Mungkin suatu saat ketika aku membaca ulang buku ini untuk kesekian kalinya aku akan mengerti. Seperti yang kualami ketika membaca bagian Si Hoo. Hehehe.
Waktu baca pertama kali, sesungguhnya aku tidak terlalu menyadari apa yang terjadi pada Si Hoo. Namun ketika baca kedua kalinya, aku merasakan sebuah perasaaan yang berbeda ketika membaca bagian itu. Memang tidak dramatis, Goo Hye Sun menceritakannya dengan sederhana dan singkat, namun hal itu mengena dan rasanya sedih. :')
Sepanjang ini, sepertinya review-ku masih bagus-bagus semua ya? Kalau ditanyakan apa yang tidak kusetujui dari cerita ini. Itu adalah akhir dari cerita. Rasanya seperti cerita ini sudah selesai, tapi ada sesuatu yang tertinggal. Pesan bisa didapat, namun ada yang membuatku tidak puas membaca ending cerita itu. Tapi, kalau kupikirkan bagaimana sebaiknya mengakhiri cerita ini, Uhm...
Jujur, aku juga tidak tahu. Mungkin, semua ini terasa janggal dimulai dari apa yang terjadi pada Si Hoo. Rasanya sureal. Kenapa hal itu tiba-tiba saja terjadi padanya, tanpa peringatan sedikit pun. Bukan peringatan yang harus jelas banget sih. Cuma mungkin kurang dramatis sedikit kali ya. Bukan ketika Yun mengetahui apa yang terjadi pada Si Hoo, tapi ketika Yun menanti. Pada bagian itu, aku merasa ada yang kurang.
Above all of those things I said, membaca Tango itu seperti sedang menikmati sebuah lukisan. Terutama, ketika kita tidak sepenuhnya memahami seni melukis, namun dengan melihat lukisan itu terdapat sebuah perasaan yang rasanya ingin disampaikan. Namanya seni kan tidak harus memiliki intepretasi yang sama dari setiap orang. Kita berhak mengapresiasi karya seni itu dengan cara kita sendiri, secara personal.
Untukku, Tango itu semacam karya seni yang apik dan menawan. Setiap deretan katanya menggoreskan kesan mendalam dalam benak. Rasanya kalau mau milih kutipan buat di-input ke dalam GR, bisa berbaris-baris panjang, atau bahkan satu novel. Lol. Sulit untuk memilih yang mana yang paling berkesan. Semua bagian sangat menarik untuk direnungkan.
Jika kalian penasaran tentang cerita ini, kalian bisa membacanya sendiri. ^^
PS: Jujur, aku penasaran dengan versi bahasa aslinya. Jika terjemahannya saja terasa sedalam ini, bagaimana dengan bahasa aslinya ya. :) Pengen ngoleksi buku ini dalam Bahasa Korea.
PENILAIAN:
1. Judul: 8/10
Simpel dan menarik, tapi hanya bersinggungan sedikit dengan inti ceritanya.
2. Blurb/ Sinopsis: 8/10
3. Karakterisasi: 8/10
4. Jalan cerita: 7/10
5. Originalitas: 10/10
Novel ini menurutku sangat tidak seperti novel pada umumnya, mulai dari penyajian sudut pandang, struktur cerita, hingga pesan ceritanya. Novel ini terasa sangat tulus. Itu yang terpenting. Sudah jarang rasanya bisa menemukan novel yang seperti ini. Apa ya, uhm... semacam perjalanan kembali mengenali diri sendiri. Seperti yang diutarakan Goo Hye Sun dalam catatan penulisnya, proses mencari jawaban.
Overall Enjoyment : 41/50
Wew! This is the highest rating I give out of all book I read before. lol





















