Catatan:
Karena banyak yang tidak membaca catatan postinganku di Chapter 2 part 1 aku akan ulangi di setiap post. Untuk siapa pun, tolong jangan di REPOST di mana pun, wattpad/blog/Livejournal/wordpress/dsb. Kalau
mau print boleh, tapi tidak boleh diperjualbelikan. Mau share boleh
tapi hanya share link blog post saja. Tidak boleh mengcopy sebagian atau
seluruh bagian dari postinganku. Baik link PDF atau postingan.
Kalau
aku googling dan kutemukan ada yang melakukan itu, link PDF akan
kutiadakan dan postingan akan kukunci supaya tidak bisa dicopy sama
sekali.
Jadi tolong, teman-teman yang baik, jangan lakukan itu ya. Berbagi itu boleh, tapi nggak gitu caranya. :)
PROLOG
Yang
benar-benar kuinginkan hanyalah untuk mencoba dan menjalani kehidupan yang
secara spontan diberikan padaku. Mengapa itu terasa sangat sulit?
Untuk menceritakan kisahku, aku
harus memulainya jauh ke dalam masa lalu. Jika diperbolehkan, aku akan harus
kembali lebih jauh lagi, kepada tahun-tahun awal dari masa kecilku dan bahkan
lebih dari itu, kepada awal mulaku.
Ketika
penulis menuliskan novel biasanya mereka akan bertindak seakan-akan mereka
adalah Tuhan. Mereka dapat meneliti dan memahami sejarah kehidupan seseorang
secara keseluruhan dan menyajikannya seakan Tuhanlah yang menceritakan hal itu
kepadanya. Mengungkapkan inti dari keseluruhan. Aku tidak dapat melakukan melebihi
yang para penulis tersebut dapat lakukan. Tapi, kisahku ini lebih penting
untukku daripada kisah milik para penulis itu untuk diri mereka. Karena ini
adalah kisahku; ini adalah kisah mengenai seorang manusia – bukan seseorang
yang dibentuk khusus, memiliki potensi, ideal, atau bahkan seseorang yang tidak
nyata. Ini merupakan seseorang yang nyata, unik dan hidup.
Tentu saja,
orang-orang masa kini semakin tidak memahami makna kehidupan seseorang;
kenyataannya bahwa manusia, setiap dari mereka yang berharga dan merupakan
eksperimen unik dari alam, ditembak mati secara massal[1].
Jika kita bukanlah sesuatu yang lebih dari seorang individu yang unik, jika
kita sungguh dapat dilenyapkan dari dunia dengan sebutir peluru, maka tidak
lagi memiliki arti untuk menceritakan kisah-kisah. Tapi setiap orang bukan
hanya merupakan dirinya, namun dia juga unik, sangat spesial, penting dan patut
diingat dalam setiap kejadian mengenai sebuah fenomena dunia bertemu. Hanya
sekali dan tidak pernah lagi terjadi dengan cara yang sama. Jadi, kisah setiap
orang adalah penting, kekal, dan Ilahi. Sehingga setiap orang, pada suatu
tingkat dia hidup dan memenuhi kodrat alam, adalah menakjubkan dan patut untuk
diberikan perhatian penuh. Dalam setiap diri kita, jiwa terbentuk. Dalam setiap
diri kita, sang Pencipta menderita. Di dalam diri kita, seorang penebus
disalibkan.
Tidak
banyak orang akhir-akhir ini yang memahami apa itu manusia. Banyak yang
merasakannya dan karena itu mati dengan lebih mudah, seperti halnya aku akan
mati lebih mudah ketika aku telah selesai menuliskan kisah ini.
Aku
tidak memiliki hak untuk menyebut diriku seseorang yang mengetahui. Aku adalah
seseorang yang mencari, dan masih mencari, namun aku tak lagi mencari di antara
bintang-bintang ataupun buku-buku. Aku memulainya dari mendengarkan ajaran dari
denyutan di dalam aliran darahku. Ceritaku tidaklah manis dan penuh harmoni
seperti kisah-kisah yang diciptakan. Dia terasa bodoh dan kebingungan, penuh
dengan kegilaan dan mimpi, seperti hidup semua orang yang tidak lagi ingin
berbohong pada diri sendiri.
Kehidupan
bagi setiap orang adalah sebuah perjalanan menuju dirinya sendiri. Usaha di
sebuah perjalanan. Isyarat dari sebuah jalan. Tidak ada yang pernah menjadi
dirinya sendiri, namun setiap dari mereka menginginkan untuk menjadinya.
Beberapa mencari dengan meraba-raba, yang lain menemukannya dengan lebih nyata,
semua tergantung pada kemampuannya sendiri. Masing-masing bersamanya ke ujung
dari jejak kelahirannya, kehidupan purba yang berlendir dan berselubung kulit telur.
Banyak dari mereka yang tidak pernah menjadi manusia namun tetap menjadi seekor
katak, kadal, atau semut. Banyak pula yang menjadi separuh manusia separuh
ikan. Namun setiap dari mereka melakukan perjudian dengan Takdir, sebuah usaha
penuh harapan untuk menjadi manusia. Kita semua memiliki asal yang sama, sang
Ibu[2].
Kita semua berasal dari abyss yang
sama; namun masing-masing dari kita, dengan melakukan sebuah percobaan lemparan
dadu di kedalaman, berjuang untuk menuju tujuan masing-masing. Kita dapat
saling mengerti satu sama lain namun hanya kita sendirilah yang mampu
menafsirkan diri kita.
[1] Perang Dunia Pertama masih berlangsung ketika waktu kisah ini ditulis.
[2] Kemungkinan hanya berarti “ibu-ibu kita” tapi jika ditilik dari jejak
mitologi dalam novel ini, kemungkinan ini memiliki referensi terhadap “Ibu”
dewa dalam mitologi bumi purba dalam act pertama
dan kedua pada bagian kedua dalam buku Faust
karangan Goethe.
Untuk membaca lanjutan atau mengunduh file lainnya bisa dicari di bawah label "DEMIAN".
UPDATE 6 FEBRUARI 2017
Hallo semua, sudah tidak sabaran kan menanti Demian terjemahanku? Sekarang sudah open pre-order loh.
Di mana?
Di OA Line ini @fsk5729i (Purple Land Shop), yuk yang ingin pesan bisa langsung add OA ini dan isi form pemesanannya.
Oh ya, untuk yang bertanya apakah akan dijual di gramedia? Yup, pasti!
Dari penerbit akan
mendistribusikan ke seluruh gramedia di Indonesia. Tapi, supaya
distribusi ke gramedia bisa menjangkau ke kota-kota kalian, aku mau minta tolong kalian untuk mengisi form ini
Sekalian aku juga mau minta pendapat kalian soal novel OWL SERVICE yang katanya dipakai untuk concept You Never Walk Alone. Kalau aku nerjemahin novel ini, apakah kalian berminat? Silakan isi jawaban kalian di form ya. :)






















