SIXTH RUN
You are my only sun, one and only in the world
I bloomed for you, but I’m still getting thirsty
It’s too late too late I can’t live without you
Though my branch runs dry, I reach for you with all my
strength.
“Sudah selesai.”
Namjoon menarik keluar pelatuk dari tangki gas
sebuah mobil berwarna hitam. Selagi memindahkan permen Loli di dalam mulutnya
dia berjalan ke jendela di sisi pengemudi. Si pengemudi menyerahkan sebuah
kartu pada Namjoon untuk membayar. Dia mengambilnya dan menggesekkan kartu pada
mesin. Setelah dia menyerahkan kembali kepada pemiliknya, orang tersebut tidak
mengatakan apa pun untuk berterima kasih pada Namjoon ataupun memberi tips.
Sebaliknya dia menaikkan jendela kemudian beranjak pergi dari pom bensin dengan
tergesa-gesa. Namjoon tidak terkejut untuk sesaat pun. Dia telah terbiasa
dengan pelanggan semacam itu. Kenyataannya yang itu tadi terhitung yang cukup
baik. Setidaknya dia tidak melemparkan uang tips seperti pelanggan yang
sebelumnya Namjoon dapat.
Ya, Namjoon, si pelajar yang rajin belajar ini
sedang bekerja di sebuah pom bensin bukannya menghadiri suatu tempat les privat
untuk membuat nilainya lebih baik lagi. Satu, Namjoon tidak membutuhkan hal
itu. Dia belajar dengan cukup baik sendiri. Dua, dia adalah seorang yatim
piatu. Bagaimana bisa dia mampu membayar uang les? Di sanalah dia berdiri, di
sebuah pom bensin di tengah malam sementara para pelajar lainnya sedang belajar
di dalam kelas atau makan malam dengan keluarga mereka. Dia tidak
menginginkannya tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia harus membiayai dirinya
sendiri.
Malam itu, pom bensin tidak memiliki banyak
pelanggan. Ketika Namjoon melirik pada jam digital di layar ponselnya, waktu
telah menunjukkan pukul 23.30. Dua jam lagi, dia sudah bisa pulang. Namjoon
memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan mendengarkan beat yang diberikan Yoongi sebelumnya. Dia harus menuliskan
beberapa lirik untuk beat tersebut,
dengan begitu mereka dapat menciptakan sebuah lagu yang utuh untuk
dipertunjukkan di Hongdae pada hari Sabtu.
Ini terdengar konyol. Namjoon tahu itu. Bagaimana
sebuah kru yang begitu kacau seperti ini mempertontonkan sesuatu? Mereka bahkan
tidak punya cukup lagu atau kemampuan untuk ditunjukkan. Rap Taehyung berada
pada level di bawah level menyedihkan. Jin melakukan rap seperti orang tua.
Sementara Jimin, dia hanya terlihat seperti anak hilang di department store.
Ketakutan dan tersesat. Bagaimana seorang anggota seperti itu dapat melakukan
pertunjukkan? Mereka akan menjadi bahan lelucon di jalanan dan semua itu adalah
kesalahan Taehyung. Itu adalah ide gilanya.
☆☆☆☆☆☆☆
“Hyung,
tidak kau merasa GRCFGA harus melakukan pertunjukan di suatu tempat? Kita harus
melakukan sesuatu bersama. Dengan begitu ini akan lebih menyenangkan.”
Suatu hari, Taehyung tiba-tiba saja mencetuskan
idenya dari kebosanan di ruang musik. Tempat tersebut telah resmi menjadi
tempat berkumpul mereka di sekolah. Namjoon tidak tahu bagaimana Yoongi
melakukannya, tapi pemuda itu mampu untuk mendapatkan kunci ruangan dari guru.
“Apa itu GRCFGA?” Jin bertanya.
“Great
rappers have come, you fake rappers go away. Itu adalah nama kru kita.”
Taehyung berseru.
Jin melongo. Jimin dengan jelas menunjukkan bahwa
dia juga merasa jijik dengan nama tersebut meskipun yang dia lakukan hanyalah
duduk dengan tenang di sudut ruangan. Sementara Yoongi, dia mengamuk.
“Kau kah ‘rapper hebat’ itu? Sudah kubilang
berhenti menamai kru dengan nama-nama konyol seperti itu. Suatu hari dengan
pasti kau akan mati di tanganku!” Yoongi meluncurkan beberapa tinju kecil pada
Taehyung. Dia terlihat tidak setuju pada nama tersebut namun dia tidak marah.
Dia setuju dengan ide Taehyung untuk memberi nama pada kru. Tapi nama tersebut
adalah yang terburuk dari seluruh nama yang sebelumnya Taehyung pernah
tawarkan.
“Ah... Hyung,
sakit! Aku kan hanya mencoba melakukan sesuatu untuk kru, ini yang kudapat?”
Taehyung mencoba menghindar dari pukulan Yoongi.
Jimin terlihat gelisah. Dia tidak pernah terbiasa
dengan Yoongi yang bersikap kasar pada Taehyung. Dia juga tidak pernah menyukai
ketika Yoongi dan Namjoon berdebat mengenai musik yang mereka sedang kerjakan.
Semua hal mengenainya sangat canggung. Rasanya seperti dia ingin berada di
suatu tempat lainnya tapi dia terlalu takut untuk pergi. Namjoon bertanya-tanya
apakah itu memang sifatnya atau sesuatu telah terjadi padanya hingga
mengubahnya menjadi seseorang seperti itu? Dia tidak dapat menjawabnya.
“Kau pantas mendapatnya. Nggak heran kalau tes
Bahasa Koreamu di bawah sepuluh. Bahkan anak SD pun bisa melakukan lebih baik
daripada kau.” Namjoon berkomentar.
“Kau baru saja mengejek nilai ujianku?” Taehyung
merasa dikhianati. Namjoon mengendikan bahunya.
“Aku hanya mengatakan kenyataan. Bahkan Jimin yang
siswa pindahan saja punya nilai yang lebih bagus daripada kau.”
“Baiklah! Aku memang lebih bodoh daripada anak SD.
Aku akan menerima fakta itu. Tapi kalian semua sangat membosankan. Bagaimana
kalian bisa betah berada di dalam ruang ini sepanjang hari dan tidak melakukan
apa pun?”
“Kita hanya di sini setiap jam istirahat.”
“Aku nggak boleh melebihkan sedikit? Itu bukan
poinku.” Taehyung menoleh ke Yoongi. “Suga Hyung,
kau bilang kau ingin orang-orang tahu kualitas musikmu. Menyebarkan pemikiranmu
untuk dunia yang lebih baik. Inikah yang kau maksud ketika kau memutuskan untuk
membentuk krumu sendiri?”
Yoongi menaikkan alis mata.
“Tidakkah kita harus melakukan sesuatu yang lebih
menantang daripada berdiam di dalam ruangan dan hanya bisa bicara saja?”
Taehyung melanjutkan. “Ayolah. Ini kan SMA. Bukankah kita masih muda dan
berdarah panas?”
Namjoon tidak tahu apa yang Taehyung tonton semalam
hingga mempengaruhinya berbicara seperti ini. Mungkin saja itu adalah salah
satu film lama tentang masa muda dan sesuatu semacam itu. Taehyung sangat mudah
terpengaruh oleh hal yang dia lihat. Dia menjadi terlalu bersemangat begitu ide
tersebut merasukinya.
“Baiklah, kau benar.” Yoongi terlihat sedang
memikirkan mengenai hal tersebut.
Dan itu adalah pertanda buruk yang Namjoon segera
tangkap.
☆☆☆☆☆☆☆
“Kau tidak mau kerja yang benar?” Sebuah nada kasar
dari seseorang mengganggu lamunan Namjoon.
Dia tidak menyadari sejak kapan dia terlelap dalam
pemikirannya, tapi dia yakin itu cukup lama hingga membuat seorang pelanggan
kesal. Namjoon segera memasukkan ponsel ke dalam kantong celana dan berlari ke
pos kerjanya untuk membantu pelanggan mengisi tangki kendaraannya.
“Kau.” Namjoon segera mengenali pemuda berhelm yang
memintanya untuk mengisi bensin untuknya.
Itu adalah Jung Rahoon dengan motor berwarna jetblacknya.
Itu adalah motor 250 cc dari salah satu merek terkenal dari Jepang. Namjoon
rasa Rahoon pernah membangga-banggakan kendaraan tersebut. Dia berkata bahwa
motornya ini merupakan jenis yang sama dengan yang Lorenzo gunakan pada sesi
MotoGP tahun lalu, hanya warnanya saja yang berbeda. Namjoon mengingatnya jelas
karena pada awal semester ini Rahoon merasa kesal karena pembalap yang dia
sukai berpindah ke tim lain. Namjoon membenci keputusan pembalap tersebut. Itu
membuat Namjoon harus menderita tanpa mengetahui apa kesalahannya.
“Isi sampai penuh.” Rahoon tidak perlu turun dari
motornya karena pembuka tang ada di bagian depan.
“Kau akan bayar untuk ini, kan?” Namjoon memastikan sebelum dia
melakukannya. Dia tidak akan tertipu untuk kedua kalinya setelah sebelumnya
Rahoon melakukannya.
Namjoon mendapat masalah dengan manajernya setelah
itu. Bayarannya dipotong nyaris separuh untuk mengganti bensin yang diambil
Rahoon.
“Yeah... cepatlah! Aku harus pergi.” Rahoon memutar
matanya.
Namjoon menghela napas dan berjalan untuk mengambil
pelatuknya.
“Bukannya terakhir kali kau dilarang untuk
mengendarai motormu?”
Rahoon terlihat kesal. “Itu bukan urusanmu.”
Namjoon mengangkat alis matanya tapi dia tidak
mengatakan apa pun selain meletakkan pelatuk ke dalam tangki gas. Diamnya
Namjoon malah membuat Rahoon menjadi tidak nyaman.
“Kau akan melaporkannya ke Ibu kan? Kalau kau
melihatku dengan motorku.”
“Kenapa aku harus peduli dengan urusanmu?”
Rahoon segera menarik kerah Namjoon selagi
mendengus kesal. Tapi dia tidak menghantam Namjoon. Setelah menatapnya sesaat,
dia kembali melepaskan Namjoon.
“Kalau begitu jangan katakan apa pun padanya.”
Namjoon tidak mengatakan apa pun untuk menanggapi
itu. Proses pengisian tangki berlangsung cukup lama. Mungkin Rahoon habis
mengosongkan tangki sebelum dia datang ke pom bensin. Namjoon tidak tahu
mengapa anak ini masih berkeliaran di sekitar Seoul di tengah malam seperti ini
dengan motornya sementara seharusnya dia sudah berada di rumah. Namjoon tidak
mau memikirkan hal itu tapi dia tahu seseorang di rumah akan mengkhawatirkan
Rahoon.
“Ibumu mungkin akan sedang menantimu saat ini.”
Rahoon mendecap lidah dan membuat ekspresi
mengejek. “Akankah? Dia bahkan tidak peduli mengenaiku. Anak kesayangannya kan
kau. Tidak ada yang peduli denganku di dalam rumah itu. Dan kau, sepertinya kau
menyadari itu dengan sangat baik hingga kau bisa memainkan kartu-kartumu dengan
baik. Aku benci kau yang masuk ke dalam keluargaku.”
Kayak aku
mau saja. Namjoon memikirkan spontan
tapi tidak mengatakan apa pun.
“Sudah selesai.” Namjoon menarik pelatuk dan
meletakannya ke dalam pos. Begitu dia selesai mengkonfirmasi jumlah yang Rahoon
harus bayar, pemuda itu telah kabur.
Namjoon tidak dapat mempercayainya. Dia baru saja
tertipu untuk ke sekian kalinya. Tapi dia hanya melakukannya pada Rahoon.
Namjoon hanya akan menurunkan pertahanan yang selalu dia pasang setiap kali
hanya kepada Rahoon karena dia telah mengenai pemuda itu sejak lama.
Namjoon tidak dapat memahami sikap Rahoon. Mereka
dulu adalah teman ketika SD. Suatu hari di masa SMP, Rahoon bersikap bertolak
belakang padanya. Satu kali dia akan menggelontor buku milik Namjoon ke dalam
toilet. Di hari lain dia akan mempermalukan Namjoon di depan kelas. Kemudian
begitu SMA dimulai, dia mulai bersikap semakin kasar pada Namjoon. Tapi
terkadang di waktu-waktu yang amat jarang, Rahoon akan memuntahkan kebenciannya
pada Namjoon dalam sikap yang lebih tenang seperti yang baru saja.
Untuk menebak suasana hati Rahoon itu seperti
menaiki permainan roller coster selama setahun penuh. Suatu hari dia terlihat
sangat bergelora penuh amarah, di hari lain dia bersikap cukup tenang.
Untuk dapat menarik hubungan dari semua petunjuk
mengenai sikap Rahoon, mungkin Namjoon harus menariknya dari hari pertama dia
memasuki rumah keluarga Rahoon setelah kecelakaan yang terjadi pada
keluarganya. Saat itu terjadi Namjoon berusia sembilan tahun.
☆☆☆☆☆☆☆
“Mulai sekarang Namjoon akan bergabung dengan
keluarga kita. Rahoon, dia adalah saudaramu sekarang. Tidakkah kau senang dia
bisa bermain denganmu kapan pun? Tapi Ibu peringatkan kalian berdua, jangan
bermain terus. Kalian harus belajar juga. Rahoon bisa belajar dari Namjoon.”
Suatu hari, Jung Yiran Yimo, ibu Rahoon membawanya dari panti asuhan untuk
memperkenalkannya ke dalam keluarganya, Rahoon dan keluarganya. Dia melakukan
itu sebelum Namjoon tercatat di dalam sebuah panti asuhan.
Namjoon dan Rahoon sering bermain bersama ketika
keluarga Namjoon masih hidup. Mereka menghadiri sekolah yang sama. Ya, di
distrik kecil seperti Ssangmun, pilihan sekolah itu terbatas, terlebih lagi
sekolah dasar. Sudah merupakan suratan takdir untuk mereka menjadi teman waktu
itu. Namjoon sering berkunjung ke rumah Rahoon untuk bermain. Mungkin saja saat
setiap kali mereka bertemu ibu Rahoon menyukainya. Itulah sebabnya ketika dia
mendengar keluarga Namjoon mengalami kecelakaan dan meninggalkan anak itu
sendiri, dia langsung menawarkan diri untuk membesarkan Namjoon sebagai anak
laki-lakinya.
Mungkin itulah awal mulai perpecahan antara Rahoon
dan Namjoon. Siapa yang lebih disayang dan perbedaan perlakuan tidak berjalan
baik di antara mereka. Saat pertama, Namjoon berpikir mungkin saja ibu Rahoon
ingin Namjoon terbiasa dengan keluarga mereka, tapi ternyata perhatian tersebut
tidak pernah berkurang.
Sikap Ibu Rahoon mulai menekannya dan Rahoon. Hal
menjadi semakin memburuk dan mengakibatkan Namjoon memutuskan kalau dia harus
tinggal sendiri ketika dia SMA.
Tentu saja ibu angkatnya tidak membiarkannya
melakukan itu tapi Namjoon memaksa. Bukan karena dia tidak bersyukur atas usaha
wanita itu untuk membesarkannya ketika dia kehilangan seluruh keluarganya,
hanya saja dia berpikir dia tidak akan bisa bernapas jika dia masih berada di
dalam rumah tersebut.
Dia
melakukannya untuk bertahan hidup.
☆☆☆☆☆☆☆
Jin berjalan ke pintu sembari mengunyah sandwich di mulutnya. Itu adalah hari
Sabtu. Dia merencanakan untuk bersama seluruh anggota kru untuk pergi ke
Hongdae. Untuk memikirkan soal apa yang akan mereka lakukan di Hongdae saja
sudah membuat Jin meringis. Dia berharap hal akan berlangsung dengan baik. Jin
membawa serta digital camcodernya. Dia pikir mereka harus menyimpan
kenang-kenangan pertunjukkan pertama BTS.
Ya, akhirnya kru tersebut punya nama yang pantas
meskipun yang satu ini pun cukup menggelikan. Tapi ini lebih baik daripada
GRC... apa? Jin tidak bisa mengingat lagi apa saran Taehyung sebelumnya. Nama
tersebut datang dari Park Jimin, tak disangka. Itu adalah singkatan dari
Bangtan Seonnyeondan (The Bulletproof Boy Scouts). Jimin menyarankan nama itu
untuk memberikan kesan lebih kuat pada kru karena Namjoon dan Yoongi menyukai
hardcore rap daripada yang memiliki pace lambat. Lirik-lirik mereka pun cukup
keras. Dan mungkin itu adalah sebuah doa bahwa nama tersebut akan melindungi
mereka dari komentar-komentar buruk yang akan datang pada mereka setelah pertunjukan
pertama. Alasan yang terdengar sangat Jimin.
Membahas soal pertunjukan
pertama saja sudah membuat Jin berkeringat dingin. Dia tidak yakin apakah dia
dapat bernyanyi di hadapan banyak orang. Ya, kau tidak salah melihatnya.
Daripada melakukan rap, Namjoon menyarankan Jin, Taehyung, dan Jimin untuk
bernyanyi. Dengan begitu mereka tidak akan lebih mempermalukan diri mereka.
Melakukan rap terdengar mudah
pada awalnya. Jika kau tidak bisa bernyanyi maka kau bisa melakukan rap. Itu
selalu berfungsi untuk grup idol di televisi tapi tidak di dunia rap yang
sesungguhnya. Untuk dapat melakukan rap, kau harus memiliki begitu banyak
kemampuan dan latihan. Pertama, kau harus memahami ritme dan ketukan yang tepat
untukmu. Kedua, kau harus memiliki ketangkasan untuk melihat hal yang terjadi
di sekitarmu untuk dapat menyampaikan lirik yang lebih kuat. Oh ya, jangan lupa
pula, kau harus dapat membuat rima dan catchphrase
yang menarik. Kemudian, kau juga harus memiliki kepercayaan diri mengenai
dirimu. Untuk jujur pada perasaanmu dan tidak takut untuk mengutarakannya
dengan lantang.
Itu adalah sesuatu yang Jin
tidak miliki, kepercayaan diri. Begitu pula dengan Jimin. Jin mengkhawatirkan
pemuda yang lebih muda tersebut. Akankah pertunjukan ini berjalan dengan baik
untuk Jimin? Akankah dia menjadi ketakutan di bawah pandangan banyak orang?
Bahkan untuk menatap langsung ke dalam mata para anggota kru saja dia tidak
dapat melakukannya.
Jin harus berdoa lebih keras
untuk Jimin agar dia baik-baik saja nanti. Jika tidak pun, itu tidak masalah.
Jimin setuju untuk bergabung dalam pertunjukan tersebut saja sudah merupakan
langkah yang sangat besar untuknya. Tidak masalah jika dia tidak dapat
melakukannya hingga akhir. Langkah pertama selalu yang tersulit.
“Kau mau ke mana? Mau pergi
main dengan Yoongi?” Tepat ketika Jin baru selangkah keluar dari rumahnya,
Sohee keluar dari dalam rumahnya.
Dia masih mengenakan pakaian
tidurnya dan sedang menggosok gigi. Ya, di siang hari. Sohee adalah salah satu
yang suka bangun siang di akhir pekan, dan juga sesungguhnya di hari biasa pun.
“Ya, kami mau ke Hongdae untuk
perform.”
“Perform?” Mata Sohee
membesar. “Apa Yoongi akan ada di sana?”
Jin mengangguk enggan.
“Tunggu aku! Aku mau ikut.”
Sohee mengeluarkan sikat gigi dari mulutnya. Dia baru saja hendak kembali masuk
tapi berhenti di tengah melakukannya.
“Kau masuk juga. Jangan ke
mana-mana sampai aku selesai bersiap.” Sohee menarik Jin masuk ke dalam
rumahnya dan berlari ke kamarnya.
Jin dengan tenang melihat ke
sekeliling interior apartemen. Ini bukan pertama kalinya dia berkunjung. Dia
pun datang ke sana sebanyak Sohee berkeliaran di dalam rumahnya. Tidak ada
orang lain di rumah. Mungkin kedua orang tua Sohee sudah berangkat kerja, di
akhir pekan. Itu bukan hal baru untuk Jin.
Jin membuat dirinya nyaman di
ruang tamu karena dia tahu Sohee akan mengambil waktu yang sangat lama untuk
bersiap-siap, terlebih bersiap untuk melihat performa Yoongi. Dia pasti akan
berdandan untuk membuat pemuda tersebut terkesan. Pemikiran tersebut membuat
cubitan pelan di hati Jin.
Aku akan terlambat. Kalian pergi duluan saja. Aku akan
bertemu dengan kalian di Hongdae.
Jin memutuskan untuk mengalihkan pikirannya sebelum
hal tersebut mempengaruhi suasana hatinya. Setelah mengirim pesan tersebut dia
meraih remote control untuk mengubah
saluran televisi. Sohee mungkin sedang menonton tayangan ulang drama sebelum
dia menangkap Jin keluar dari rumahnya. Jin mencoba mencari tontonan lain
karena dia tidak suka menonton drama. Dia mencari film atau tayangan reality
show.
☆☆☆☆☆☆☆
“JIN HYUNG!
DI SINI! KAMI DI SINI!”
Sebuah suara yang tidak asing dari kejauhan dapat
didengar di tengah keramaian tersebut. Jin mengenalinya sebagai suara Taehyung.
Tentu saja hanya pemuda itu saja yang akan berteriak keras di dalam tim mereka.
Namjoon akan memilih cara yang lebih praktis untuk memberitahu teman se-timnya
jika dia cukup peduli pada Jin yang kesulitan mencari mereka. Jimin terlalu
pemalu untuk dapat berteriak keras. Dan Yoongi, dia tidak memanggil Jin dengan Hyung, tentu saja.
Setelah melambai balik untuk menandakan dia sudah
memahami posisi mereka, Jin menerobos keramaian bersama Sohee. Hongdae di Sabtu
sore itu adalah sebuah kegilaan. Jin tidak pernah menyadari bahwa Korea Selatan
punya populasi penduduk sebanyak ini hingga dia datang ke tempat ramai seperti
Hongdae atau Myeongdong di akhir pekan. Turis dari Tiongkok, Jepang, dan
beberapa negara lain pun berkontribusi atas populasi keramaian ini. Jin dapat
mendengar beberapa orang berbicara dengan bahasa yang tidak dia mengerti.
“Akhirnya kau datang juga, Hyung. Kami sudah menunggumu lama sekali. Apa yang menahanmu?”
Setelah beberapa menit mencoba, Jin akhirnya
berhasil memasuki taman bermain Hongdae, tempat gratis yang disediakan untuk
para musisi jalanan melakukan pertunjukan. Jin mencoba mengendalikan napas. Itu
sangat melelahkan untuknya menerobos keramaian. Sungguh sebuah kekacauan.
“Kok bisa seseorang bersuara sekeras itu dari
kejauhan?” Ada Sohee yang sedang terengah-engah pula di belakang Jin. Dia juga
merasa terkejut ketika mendengar suara Taehyung.
“Hyung,
siapa perempuan ini? Pacarmu? Ini sebabnya kau terlambat? Untuk menjemput dia?”
Taehyung terlihat terkejut ketika melihat Sohee muncul dari belakang Jin.
Yoongi mencibir. Dia mengurai lipatan lengannya dan
berjalan ke arah Jin.
“Ya Jin,
aku tidak menyuruhmu membawa si bulat satu ini. Kenapa kau membawanya? Kau
hanya membawa satu orang yang merepotkan untuk kita.”
“Aku nggak gemuk! Kau buta ya?” Sohee segera
melakukan protes. “Aku sudah menurunkan berat badan beberapa kilo selama
liburan musim panas kemarin.”
“Ya kah? Aku kok nggak lihat ada perbedaan.” Yoongi
mengejeknya.
“Kau seperti biasa selalu nggak sopan!” Sohee
menjerit kesal.
“Kalau begitu kau dipersilakan untuk pulang.”
Yoongi tersenyum manis pada Sohee sambil menunjuk ke arah dia baru saja
berasal. Sohee terlihat sangat kesal dan nyaris menangis tapi dia mencoba
menatap Jin untuk pertolongannya.
“Aku butuh dia untuk pegang digicam-ku.” Jin datang
untuk menolong Sohee.
Ekspresi wajah gadis itu menjadi lebih cerah.
“Lihat kan, Jin butuh aku di sini. Kalau kau tidak
bersikap baik padaku, aku akan merekammu dengan angle yang paling aneh dan
mengunggahnya online.” Sohee menjulurkan lidah ke arah Yoongi.
Kali ini Yoongilah yang terlihat kesal.
“Dia teman masa kecilku dan Yoongi. Dia tinggal di
samping rumahku.” Jin akhirnya membeberkan informasi kepada Taehyung untuk
menghentikan pemuda tersebut menatap teman perempuannya seakan dia baru saja
melihat alien.
Taehyung memindahkan perhatian dari Yoongi dan
Sohee ke pada Jin. “Apa kau akan mendokumentasikan pertunjukan kita juga, Hyung?”
“Tentu saja, ini kan pertunjukan bersama pertama
kita. Kupikir pasti menyenangkan jika kita bisa menontonnya lagi suatu saat di
masa depan ketika kita sudah dewasa.”
“Itu terdengar luar biasa. Apa kita akan tetap
berteman setelah kita tumbuh dewasa?”
Jin hanya menaikkan alis matanya. Dia pun tidak
yakin mengenai hal tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang akan datang di masa
depan. Mereka mungkin saja akan berteman hingga mereka masing-masing memiliki
keluarga atau berpisah jalan setelah euforia ini berakhir. Siapa yang bisa
menebaknya?
“Ayo bersiap.” Yoongi meminta perhatian mereka setelah
selesai membuat kesal Sohee. Hari ini dia terlihat memiliki suasana hati yang
baik. Itu sebabnya dia merespons Sohee, bahkan sempat membuatnya kesal.
Biasanya, Yoongi akan mengabaikan gadis itu pada kesempatan pertama.
Jin segera mengeluarkan digicam dan memberikannya
pada Sohee.
“Bantu aku untuk merekamnya. Dan jangan hanya
merekam Yoongi. Aku tidak mau melihat Yoongi sepanjang video ketika aku
menontonnya ulang.”
“Tapi aku kan mau.”
“Yun Sohee!” Jin memperingatkannya dengan nada
keras.
“Baiklah. Aku akan mengambil video masing-masing
anggota. Tapi, aku akan merekam Yoongi lebih banyak lagi.” Sohee menambahkan di
belakang kemudian melarikan diri sebelum Jin dapat mengambil kamera tersebut
kembali.
Jin menghela napas. Dia yakin bahw dia tidak bisa
mengharapkan apa pun mengenai rekaman tersebut. Terakhir kali Jin memberikan
Sohee digicamnya untuk mereka ulang tahun ketujuh belasnya, video tersebut
hanya menunjukkan Yoongi sedang memakan kue ulang tahun Jin, Yoongi mencicipi
makanan, atau Yoongi sedang berinteraksi dengan orang-orang di pesta. Ketika
menontonnya, Jin bersumpah akan menghanguskan video tersebut dan mengirimnya ke
neraka di mana dia tidak dapat melihatnya. Itu adalah sebuah momen mengerikan
untuk dialaminya ketika dia memperkirakan sebuah kenang-kenangan yang bagus
tentang pestanya tapi yang dia lihat malah Yoongi. Dan hal tercanggung yang
terjadi adalah ketika ibunya memasuki ruangannya, video itu sedang menampilkan
posisi tidak pantas mengenai Yoongi. Itu membuat ibunya salah paham. Dia nyaris
mengira anak laki-lakinya semata wayang ini memiliki hubungan khusus dengan
teman masa kecilnya. Dan Jin harus menjelaskannya panjang lebar bahwa itu
adalah Sohee yang mengambil gambar dan dia baru saja ingin menghapus semua itu.
“Hyung,
aku akan menarik orang-orang untuk menonton pertunjukan kita.” Taehyung
menyenggol pundak Jin untuk mendapatkan perhatiannya kemudian dia berjalan
pergi sendirian dengan placard di tangannya.
Tanpa seseorang pergi bersamanya, Jin yakin
Taehyung dapat melakukannya dengan baik. Sebaliknya dia mengkhawatirkan
seseorang lainnya. Park Jimin.
Aku
baik-baik saja. Aku bisa melakukan ini. Park Jimin, kau bukan orang yang sama
seperti sebelumnya. Kau sudah berubah.
Jimin terus mengulanginya di dalam benak. Dia mencoba
untuk menghipnotis dirinya agar tidak menciut di bawah tatapan ratusan orang.
Tepat ketika dia nyaris kehilangan kepercayaan dirinya lagi, dia merasakan
tepukan ringan di bahu kirinya.
Itu adalah Sohee dengan digicam milik Jin. Dan itu
terarah pada Jimin.
“Katakan sesuatu pada kamera. Bagaimana
perasaanmu?” Sohee menanyakan dengan ramah. Tatapan matanya terlihat tak
bermaksud jahat.
“H-hai.” Jimin melambaikan tangan dengan canggung.
Sebagian disebabkan karena kamera difokuskan padanya, itu membuatnya gugup. Dia
mencoba melawan ingatan-ingatan yang mengancam untuk menyeruak ke atas
kesadarannya. Alasan lainnya adalah karena dia tidak pernah mendapati seorang
perempuan menatapnya tanpa maksud jahat. Seperti dia tidak punya tujuan lain
selain hanya sekadar menatapnya. Terakhir kali mereka menatapnya, itu
seperti....
“Katakan hal lain selain ‘hai’. Jin akan marah
padaku kalau aku hanya merekam kau mengatakan hai.” Suara Sohee membawa Jimin
kembali ke realitas.
“Saat ini aku merasa sedikit gugup. Aku tidak tahu
apakah aku bisa melakukan ini dengan baik.” Rasanya pandangan tidak menghakimi
yang Sohee berikan membantunya untuk berbicara. Meskipun dia masih sedikit
gugup, Jimin mampu menyelesaikan komentarnya tanpa melarikan diri di tengah
pembicaraan.
“Jangan khawatir. Kau bisa melakukannya. Jika kau
tidak bisa bernyanyi dengan baik Yoongi akan menutupi kekurangan itu untukmu.
Dia akan membantumu. Lakukan saja sebisa yang kau mampu lakukan. Kau akan
baik-baik saja. Lagi pula, kau cukup manis dan enak dilihat. Akan ada banyak
perempuan yang menyukaimu.” Sohee tersenyum pada Jimin.
Komentar tersebut membuat Jimin terpaku untuk
sesaat.
“Aku harus pergi ke anggota lain. Sampai jumpa.
Semoga beruntung di pertunjukan pertamamu.”
Tanpa menanti jawaban Jimin, Sohee sudah pergi ke
Namjoon.
“Apakah semua baik-baik saja? Kau masih bisa tampil
hari ini? Tidak apa-apa kalau kau mau berhenti sebelumnya. Bahkan dengan berada
di sini sudah membutuhkan keberanian yang besar untukmu.”
Kali ini Jinlah yang mendekati Jimin. Dia menatap
Jimin dengan tatapan pedulinya.
“Aku baik-baik saja untuk saat ini. Kupikir aku
akan mencobanya.”
“Baiklah. Jangan paksakan dirimu. Kau bisa
mengambil langkah lebih kecil untuk keluar dari ketakutanmu.”
“Aku baik-baik saja.” Jimin tidak menyadari bahwa
dia dapat mengatakan sesuatu dalam nada tegas seperti ini. Ini adalah pertama
kalinya. Mungkin pertemuan singkatnya dengan Sohee baru saja membantunya untuk
meringankan perasaannya.
Jin menatapnya sesaat sebelum menjadi yakin untuk
meninggalkan Jimin sendiri untuk membantu Yoongi. Jin selalu seperti itu. Dia
selalu memperhatikan Jimin dan yang lainnya sehari-hari. Ketika sesuatu menjadi
terlalu berat untuk Jimin, Jin akan menjadi yang pertama menyadarinya dan
membantunya untuk mengatasinya. Dia tidak melakukan sesuatu secara khusus.
Hanya memberi Jimin sepasang telinga dan kehadiran yang selalu siap untuk Jimin
jika dia membutuhkan seseorang untuk berbicara dengannya. Tapi, kebanyakan
Jimin tidak pernah mengatakan satu hal pun pada Jin. Mereka hanya akan duduk
berdampingan dalam diam sebelum Yoongi memanggil mereka kembali dan mengomel
karena mereka bermalas-malasan.
Jimin memperhatikan kerumunan sekali lagi. Dia bisa
melakukan ini, kan?
☆☆☆☆☆☆☆
Suka dengan cerita ini? Bisa lanjut baca di postingan dengan tag "Youth
of Lily". Kalau nggak sabaran menanti terjemahan bisa langsung mampir ke sini untuk versi Inggrisnya.























