ELEVENTH RUN
Today the moonshines brighter
on the blank spot in my memories
it swallowed me, this lunatic,
please save me tonight
(Please save me tonight,
please save me tonight)
Within this childish madness
you will save me tonight
on the blank spot in my memories
it swallowed me, this lunatic,
please save me tonight
(Please save me tonight,
please save me tonight)
Within this childish madness
you will save me tonight
“Aku merasa ingin muntah. Kita makan terlalu
banyak.” Jungkook berjalan keluar dari restoran diikuti yang lainnya.
Masing-masing dari mereka mengusap perut. Jin tertinggal di belakang bersama
Yoongi untuk menyelesaikan pembayaran.
“Itu karena kau memesan terlalu banyak, Kookie.”
Taehyung menggoda Jungkook.
“Kenapa itu salahku? Aku kan dengan tepat pesan
untuk tujuh orang. Itu karena Jimin Hyung
tidak makan banyak. Bagaimana bisa aku tahu kalau dia tidak punya selera makan
yang besar?”
Jimin memalingkan pandangannya ke arah lain.
“Kalau dipikir-pikir, iya ya Jimin makan sedikit
sekali.” Hoseok mengalungkan lengannya pada Jimin yang segera merasakan bulu
kuduknya menyerbak oleh sentuhan tersebut. “Apa kau selalu makan sesedikit
itu?”
“Sesungguhnya dia jarang makan, Hyung.” Namjoon menjawabnya untuk Jimin
sebelum pemuda tersebut dapat melakukannya untuk dirinya.
Itu membuatnya sadar, semenjak dia dan Jungkook
bergabung dengan acara kumpul-kumpul grup tersebut, Hoseok tidak pernah melihat
pemuda tersebut makan bersama mereka. Jimin selalu saja berada di samping
menyaksikan yang lain melahap camilan yang mereka pesan dari layanan pesan-antar.
Seperti dia sedang dihukum untuk tidak makan.
“Itu tidak baik. Kau sudah sekurus ini. Kau harus
makan lebih banyak supaya punya tenaga. Seperti Taehyung. Dia makan begitu
banyak dan lihatlah betapa hiperaktifnya dia.” Hoseok menunjuk pada Taehyung
yang sedang berdebat dengan Jungkook.
“Apa kau sedang mengataiku makan seperti babi dan
bersikap seperti anjing gila, Hyung?”
Taehyung mendengar komentar tersebut.
Hoseok tertawa tapi Jimin tidak. Perkataan Taehyung
untuk mendeskripsikan apa yang dia lakukan membuat Jimin merasa tidak nyaman.
Bagaimana pemuda tersebut bisa menghina dirinya dengan semudah itu.?
“Aku masih dalam masa pertumbuhan. Tentu saja aku
harus makan banyak.” Taehyung tidak terlihat tersinggung, malahan dia
membalasnya dengan sangat santai dan kembali berbincang dengan Jungkook.
Jimin iri dengan sikap Taehyung seperti itu
sesungguhnya. Dia tidak terpengaruh oleh komentar orang-orang dan masih saja
bersikap sama, seceria biasanya. Seakan dia tidak pernah mendengar hal
tersebut.
“Lihat. Tidak buruk untuk makan lebih banyak. Kau
kan masih muda. Kau bisa membakar kalori dengan lebih banyak bergerak. Apa kau
sedang diet?”
“Aku makan dengan baik.” Sebelum Jimin dapat
menjelaskan dirinya, ponsel yang berdering telah mengalihkan perhatian Hoseok.
Hoseok melayangkan pandangan meminta maaf dan
berpindah ke samping untuk mengecek ponselnya. Dia telah melakukan hal tersebut
sejak makan siang. Sesekali menerima pesan yang harus segera dia periksa
secepatnya, dengan sembunyi-sembunyi.
Jimin tidak lagi memusatkan perhatian ke arah
anggota kru lagi. Pikirannya mulai berkelana. Itu adalah saat ketika matanya
bertubrukan dengan sepasang mata yang tidak asing. Jimin segera memalingkan
tubuhnya dari pemuda tersebut. Dia mencoba menyembunyikan dirinya di belakang
anggota kru.
“Apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau bersembunyi di
belakangku?” Jin yang baru saja keluar dari restoran terkejut dengan sikap Jimin.
“Jalan saja. Ayo pergi dari sini, Hyung. Kumohon.” Jimin memegang tas
punggung Jin dengan erat.
Jin melirik Yoongi untuk mencerna sikap aneh pemuda
yang lebih muda ini. Yoongi hanya mengendikan bahu dan mengangkat sedikit
dagunya untuk memberi kode Jin berjalan.
Para anggota kru segera berpindah dari tempat
tersebut. Jimin mengikuti mereka dengan ketat tepat di belakang. Jin dapat
merasakan kecemasan pemuda tersebut. Dia bertanya-tanya apa yang Jimin lihat
hingga membuatnya ketakutan.
“Hyung,
ayo kita beli kembang api. Kita bisa memainkannya begitu malam tiba.” Taehyung
menyarankan selagi mereka berjalan.
Diam-diam Jimin melirik ke arah dia tadi melihat
orang yang tidak asing tersebut. Orang tersebut telah pergi. Itu membuat Jimin
merasa dapat bernapas lagi.
☆☆☆☆☆☆☆
Kau bisa mengatakan bahwa Jinha bukanlah pantai
yang akan memberikanmu banyak hiburan selain pantai yang indah dan makanan laut
yang lezat. Jika kau tidak akan mengeksplorasi kota Ulsan, tidak ada banyak hal
yang dapat kau lakukan di pantai. Tidak ada atraksi permainan seperti flying banana atau ski air. Angin tidak
bertiup terlalu keras maupun kencang. Itu adalah tempat yang luar biasa untuk
berselancar angin. Itulah sebabnya pada sore hari, sekitar pukul 4-5 ketika
matahari sudah tidak terlalu tinggi, mereka dapat melihat ada banyak peselancar
asing yang berjalan di sekitar pantai dari lokasi berkemah di bawah pepohonan
pinus.
Tapi tidak ada hal yang dapat dilakukan para
anggota kru di sana, terutama untuk Jimin yang tidak dapat mendekati air. Mereka
hanya dapat bermain dengan pasir di sore hari. Ketika malam tiba bermain dengan
kembang api atau bernyanyi dan nge-rap mengikuti musik yang mereka mainkan dan
mereka melakukan barbeque serta api unggun. Yoongi bertugas untuk memanggang
daging karena dia kalah dalam permainan gunting batu kertas. Jin berdiri di
sampingnya sebagai asisten namun yang dia lakukan malah merekam acara kumpul
kelompok tersebut. Sementara itu yang lainnya berkumpul di sekitar api unggun
untuk mendengarkan lagu Jungkook.
Ternyata Jungkook merupakan penyanyi yang cukup
baik. Dia memiliki suara yang lembut yang dapat melelehkan hati para gadis. Itu
terbukti karena beberapa gadis mendekati lokasi berkemah kru ketika mereka
mendengar suara Jungkook dan Taehyung berharmonisasi. Tapi para gadis itu
segera kabur setelah melihat wajah menyeramkan Yoongi. Taehyung tertawa sangat
keras setiap kali itu terjadi. Dan itu mengakibatkan dia mendapatkan tatapan
garang dari Yoongi.
“Hara mungkin akan sangat kesal karena aku tidak
mengizinkan dia untuk ikut jika dia tahu cowok yang dia taksir dapat bernyanyi
dengan sangat indah.” Hoseok memberi komentar.
“Kau harus meminta rekamannya dari Jin Hyung. Dia kan merekam semua. Dengan
begitu Hara bisa menikmati dan mengulangnya sebanyak yang dia inginkan.”
Taehyung bergabung untuk menggoda Jungkook.
Wajah dari pemuda termuda di sana nyaris berubah
sangat merah setiap kali dia mendengar Hoseok menggodanya mengenai Hara.
Padahal Haralah yang memiliki perasaan terhadapnya tapi mengapa dialah yang
tersiksa di sini? Ini bukan berarti Jungkook memiliki perasaan terhadap Hara.
Maksudnya, Hara memang seorang gadis yang cantik, tapi hanya saja ... pada saat
itu dia sedang tidak memiliki pemikiran apa pun mengenai lawan jenis.
“Jika Howon ada di sini, pasti ada lebih banyak kesenangan.”
Taehyung mengatakannya lagi.
“Yeah, ini gilirannya untuk membantu orang tua kami
di pasar.”
Jimin, Taehyung bilang kau punya suara yang bagus.
Kau juga harus coba menyanyikan beberapa lagu. Aku tidak pernah mendengarmu
menyanyi.” Hoseok memalingkan perhatiannya pada Jimin.
“Aku-.”
“Ayolah Jimin! Tidak ada orang asing di sini. Kau
tidak usah malu-malu. Kita tahu kau memiliki suara yang indah. Kau kan lead
singer BTS.” Taehyung menambahkan. “Bagaimana jika menyanyikan lagu Yui yang
Goodbye Days? Kau suka lagu itu, kan? Pertama kali aku memintamu bergabung
dengan kru ini kau sedang menyanyikan lagu itu.”
“Benarkah? Aku juga suka lagu itu. Ayo nyanyikan
bersama, Hyung. Biarkan aku mencari
dahulu. Adakah versi karaoke untuk lagu
ini?” Jungkook meraih ponselnya dan mulai mencari melalui channel online streaming
yang menyediakan instrumental untuk menyanyi.
Jimin tidak yakin apakah dia harus melakukan itu
namun sebelum dia dapat memutuskannya, Jungkook telah menemukannya dan
menyalakan musik. Para anggota kru pun telah menenggelamkan diri ke dalam
musik. Mereka mengayunkan tangan-tangan mereka ke udara. Taehyung memaksa Jimin
untuk ikut menyanyi. Pemuda tersebut melakukannya dengan ragu, dengan suara
yang teramat pelan.
“Ayolah Jimin. Kami tidak bisa mendengar suaramu.
Bahkan Namjoon yang merupakan rapper hebat tapi penyanyi yang buruk pun ikut
bernyanyi.”
“Ya, kau
ingin mati?” Namjoon menendang udara selagi Taehyung menghindar dan
menertawakannya.
“Jimin? Park Jimin, kah?”
Seseorang menyela momen grup tersebut. Mereka
memalingkan perhatian ke arah orang tersebut pada waktu yang bersamaan. Seorang
pemuda yang kira-kira seusia mereka mendekat seakan dia sedang memastikan
pandangannya mengenai Jimin sementara Jimin terlihat tegang. “Kau Park Jimin.
DwaeJimin (BabiMin)!”
“Hei, jaga mulutmu.” Yoongi mengarahkan penjepit di
tangannya ke arah orang tersebut.
Pemuda tersebut mengangkat tangannya ke udara. “Aku
tidak bermaksud buruk. Hanya berniat memastikan aku tidak salah orang. Kupikir
aku sudah mengenali orang yang salah siang tadi, tapi baru saja aku mendengar
temanmu memanggilmu. Itu membuatku ingin memastikan, kalau saja ....”
Ekspresi wajah Jimin mendadak semakin suram.
Pengusik itu tidak menyadarinya namun seluruh kru melihatnya. Yoongi baru saja
hendak menyergap maju ke arah pemuda tersebut namun Jin menahannya. Jin tidak
yakin apakah pemuda tersebut bermaksud buruk atau hanya ingin mengenang masa
lalu.
“Kupikir kau sudah mati sejak kejadian itu. Semua
orang bilang seperti itu dan kau tidak pernah kembali ke sekolah.”
Tangan Jimin menjadi semakin dingin. Keringat dingin
mengalir menuruni punggung selagi dia mendengar pemuda tersebut berbicara.
Kenangan dari hari-hari itu mulai memasuki benaknya lagi. Tarikan napasnya
memendek. Dia tidak dapat menggerakkan tubuh sama sekali meskipun dia sangat
ingin kabur dari tempat tersebut. Mulutnya terasa masam ketika dia mengeratkan
rahang.
“Yah Jimin, apa ini benar-benar kau? Kau berubah
sangat banyak. Kau menghilangkan seluruh lemakmu. Apa kau melakukan operasi
atau diet? Uhm, itu tidak benar. Mustahil untukmu untuk berhenti ... Hey!”
Yoongi menyela pemuda tersebut. Dia mencengkeram
leher baju pemuda tersebut. Pemuda itu terlihat sangat tidak senang dengan
tingkah Yoongi.
“Apa masalahmu?”
“Apa masalahmu? Itu harusnya pertanyaanku untukmu.”
“Memangnya siapa kau? Apa sekarang DwaeJimin punya
seekor anjing? Wow, itu ....”
Yoongi mengayunkan tinju ke arah pemuda tersebut.
Segera pemuda tersebut terjebab rata dengan tanah dan Yoongi menghajarnya terus
menerus. Jin dan Namjoon mencoba memisahkannya dari pemuda tersebut. Sebenci
apa pun mereka mengenai perkataan pemuda tersebut terhadap Jimin, tidak ada
seorang pun yang menginginkan Yoongi melukai seseorang, terlebih lagi membunuh
pemuda tersebut.
“Jimin a
(Hyung) ....” Taehyung dan Jungkook
pada saat bersamaan melihat Jimin berlari pergi dari tempat itu menuju pantai.
Mereka ingin mengikutinya namun Hoseok menghentikan mereka. Dialah yang
mengejar pemuda yang bermasalah tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆
“Ayo kita
suruh DwaeJimin lakukan pertunjukan untuk kita.”
“Ya!
DwaeJimin, pergi belikan kami camilan.”
“DwaeJimin,
merangkak! Kau kan babi. Beraninya kau berjalan dengan dua kaki.”
“Berhenti
makan, dasar kau Babi.”
“Uh... DwaeJimin
itu mengganggu pemandangan mata. Menjijikkan. Kenapa dia melakukan itu?”
“DwaeJimin”
Jimin dapat mendengar suara-suara tersebut di dalam
kepalanya selagi dia berlari. Orang-orang sedang menatapnya dengan ekspresi
jijik. Dia merasa telanjang. Mereka tertawa selagi menikmati menyiksanya.
Mereka mengarahkan telunjuk ke arahnya dan mengambil gambar, seperti dia adalah
sebuah objek eksperimen.
“Mengapa
ciptaan gagal sepertimu itu hidup?”
Sejumlah banyak air, orang-orang berbicara dengan
suara yang teramat keras dan mereka juga menertawakannya. Di atas lantai,
merangkak di tanah, Jimin merasakan kepalanya dipaksa untuk memasuki air.
Aku ingin
bernapas.
Jika ini
adalah sebuah mimpi, bangunkan aku!
Seseorang
tolong datang dan selamatkanku. Siapa pun.
Tidak adakah seseorang untuk menyelamatkannya?
“Jimin a!”
Seseorang mencengkeram Jimin pada bahu. Itu mengejutkan pemuda tersebut hingga
membuatnya memberontak sangat liar.
“Ini aku, Hoseok Hyung. Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Baiklah, aku tidak
akan menyentuhmu juga.” Hoseok mengangkat tangannya dari bahu Jimin. Seluruh
tangannya terangkat ke udara. Dia beranjak mundur beberapa langkah untuk
menenangkan pemuda tersebut.
Setelah beberapa saat, Jimin mulai kehilangan
tenaga dan terjatuh ke atas pasir. Wajahnya pucat dan tubuhnya mulai bergetar
dengan kuat. Tatapan matanya kosong seakan dia telah tenggelam dalam kenangan. Dia
terlihat sangat rapuh ketika memeluk dirinya sendiri. Seakan itu pilihan
terakhirnya untuk melindungi diri.
Tidak akan
ada yang menyelamatkanmu. Kau tidak seharusnya ada di dunia ini. Kau adalah
keberadaan yang tidak diinginkan siapa pun.
Pemandangan itu membuat hati Hoseok terasa sakit.
Dia tidak tahu bagaimana cara untuk menyelamatkan pemuda tersebut tanpa
membuatnya semakin hancur berantakan.
“Jimin a.”
Hoseok memanggil lembut namun dia tidak mendapatkan respons dari pemuda
tersebut. Dia merendahkan diri untuk mencocokkan tinggi dengan pemuda tersebut
selagi dia mendekatinya.
Hoseok tidak dapat meraih pemuda tersebut tanpa
cukup yakin bahwa itu tidak akan membuat pemuda tersebut ketakutan seperti
sebelumnya. Akhirnya dia memilih untuk berdiam di posisinya. Menanti Jimin
untuk menenangkan diri. Mereka berdua duduk di atas pasir menghadap pantai
namun hanya Hoseoklah yang menatap pemandangan di hadapan mereka.
“Apa yang sesungguhnya terjadi padamu hingga
membuatmu menjadi seperti ini, Park Jimin?”
Pada akhirnya Hoseok tidak dapat lagi menahan
dirinya. Dia menanyakan pertanyaan yang telah mengambang di dalam benaknya
sejak pertama kali dia melihat Jimin di taman Hongdae. Dia lebih seperti sedang
berbicara pada dirinya sendiri daripada kepada Jimin.
Sekali lagi, tidak ada yang berbicara. Hoseok
menanti untuk waktu yang lama agar Jimin dapat mengendalikan dirinya kembali.
☆☆☆☆☆☆☆





















