SEVENTEENTH RUN
A house made of cards, and us inside
Even if you say you see the end,
Even if you say you see the end,
Even if you say it’ll collapse soon
a house made of cards, and stupidly, us
Even if you say it’s a useless dream,
a house made of cards, and stupidly, us
Even if you say it’s a useless dream,
Just stay a little more like this
“Apa yang sesungguhnya kau inginkan dariku, Yun
Sohee? Berhenti menggangguku!”
Jin berseru pada gadis tersebut setelah dia
terus-terus mengusiknya. Itu bukan pertama kalinya. Sohee sudah mengikutinya
selama berhari-hari.
“Aku ingin kau berbicara pada Yoongi!”
Lagi-lagi itu. Sohee sudah mengatakan hal yang sama
sejak pertama kali. Itu adalah untuk kembali berbaikan dengan teman masa kecil
mereka, Yoongi. Jin tidak ingin melakukannya. Harga dirinya tidak membiarkannya
untuk menyerah. Kenapa dia harus meminta maaf pada Yoongi terlebih dahulu
ketika Yoongilah yang bersalah di sini?
Jin mendengus sambil berjalan pergi sekali lagi.
Sohee sekali lagi mencengkeram
lengannya.
“Jin ... Kim Seokjin! Bisakah kalian berdua
berhenti bersikap seperti anak kecil? Kau sejak awal sudah tahu kalau Yoongi
itu memang seperti itu. Kita sama-sama tahu. Kenapa kau harus kesal hanya
karena masalah sepele seperti itu?”
“Hentikan! Aku sudah cukup dengan kau terus-terusan
berbicara mengenai Yoongi ini dan itu. Biarkan aku sendiri.”
“Aku tidak bisa! Ini pertama kalinya kau berhenti
berbicara dengan Yoongi dalam waktu yang lama. Aku tidak ingin siapa pun dari
kalian menyesali hal ini. Kalian hanya tidak tahu bagaimana untuk meminta maaf
bahkan ketika kalian ingin melakukannya.”
“Kenapa aku harus menjadi yang meminta maaf? Apa
aku melakukan sesuatu yang salah? Apa aku yang berkata kasar padamu saat itu?
Apa aku yang memperlakukanmu seperti bukan manusia?” Jin sekali lagi kehilangan
kesabarannya.
“Itu ....” Sohee terlihat terkejut.
“Bukannya ini harapanmu kalau aku tidak lagi
berhubungan dengannya? Kau selalu tidak menyukai saat aku bermain dengannya
sejak kita kecil, ya kan?”
“Aku tidak seperti itu.”
“Huh, benar. Aku lupa. Sekarang kau kan sangat
naksir padanya.”
“Itu tidak ada hubungannya satu sama lain! Berhenti
menjadikanku alasan untuk membenarkan tindakanmu!”
“Kau memang alasanku!”
Suara mereka beradu satu sama lain. Tidak ada yang
benar-benar mendengarkan yang lain. Mereka mencoba menyampaikan pemikiran dan
perasaan mereka. Pada akhirnya, Sohee menutupnya mulutnya dan memandang Jin
dengan terluka.
“Dan aku bahkan tidak tahu untuk alasan apa kau
menjadi seperti ini. Dia selalu memperlakukanmu dengan buruk dan kau masih saja
menyukainya. Kenapa?”
Kenapa
kau tidak bisa menyukaiku saja? Itu
adalah pertanyaan yang Jin tidak dapat tanyakan pada Sohee. Dia pun tidak dapat
membalas tatapan Sohee. Jin takut jika dia menatap ke arah mata gadis tersebut,
matanya akan mengkhianatinya. Mereka akan menunjukkan betapa putus asanya Jin.
“Yoongi bukan orang yang benar-benar buruk.”
“Kau pikir aku tidak tahu mengenai itu?”
“Itulah! Kau mengenal Yoongi lebih baik daripada
siapa pun tapi kenapa kau masih saja kesal mengenai hal seperti ini?”
“Tidakkah kau sudah mengetahui alasannya?” Jin
menghentikan ucapannya. Dia tahu bahwa dia telah membocorkan sesuatu. Jin
mengalihkan wajahnya. “Aku hanya ingin tahu untuk alasan macam apa kau mulai
tertarik padanya.”
“Kau sungguh-sungguh ingin tahu?”
“Ya, aku ingin tahu. Kenapa kau membuang dirimu
untuk seseorang yang tidak pernah menghargaimu? Kenapa? Kenapa?” suara Jin
sudah semakin tinggi.
“Itu karena Yoongi telah menyelamatkanku
sebelumnya.”
☆☆☆☆☆☆☆
“Kau terlihat lebih baik dengan rambut hitammu.”
Yoongi sedang berdiri di dekat jendela kaca di
dalam ruang kelas yang kosong untuk memandangi aktivitas yang sedang
berlangsung di bawah sana, di lapangan atau di suatu di bawah gedung. Itu bukan
suatu hari yang spesial. Hanya dia sendiri—karena tidak ada Jin yang
menemaninya— dan pemikirannya sebelum seseorang memutuskan untuk mengusik
lamunan Yoongi. Ketika Yoongi berbalik badan, dia melihat Park Sem sedang berdiri di belakangnya.
“Lihat apa yang kubilang padamu jauh sebelumnya.
Apa susahnya mengecatnya kembali? Apa kau melakukan itu hanya untuk membuatku
kesal saja, huh?”
Pemuda itu membungkukkan tubuh untuk memberi salam
kepada sang guru sambil membantah tuduhan tersebut.
“Jadi kau melakukan itu karena kau ingin melawan
peraturan sekolah? Itu bisa membuat situasi menjadi lebih buruk, kau tahu?”
Yoongi terdiam. Park Sem menepuk pundak Yoongi selagi dia tersenyum seakan mengetahui
apa yang Yoongi rasakan. Sepertinya dia hanya ingin menggoda pemuda itu saja.
Yoongi mengira bahwa pria tersebut hanya mampir
untuk mengatakan itu saja padanya, namun ternyata Park Sem tetap tinggal di sampingnya dan mencoba membuka sebuah
percakapan dengannya, percakapan yang normal. Tidak ada hal yang menyinggung
peraturan atau pun hal sekolah lainnya.
“Aku melihatmu di televisi dengan beberapa temanmu.
Kau mengikuti sebuah kompetisi, kan?”
Yoongi mengangguk canggung. Dia tidak memahami
alasan guru tersebut mengungkit topik tersebut. Itu hanyalah sebuah episode
yang ditayangkan beberapa hari yang lalu, salah satu ronde penyisihan sebelum
panggung ofisial. Para kru televisi telah merekam beberapa adegan untuk acara
tersebut, membuat lagu, berlatih, perencanaan panggung ofisial, pengambilan
vokal, dan beberapa ronde eliminasi sebelum siaran langsung final. Orang-orang
di sekolah telah membicarakan mengenai hal tersebut sejak pengumuman peserta
kompetisi.
“Aku tidak pernah menyangka kau memiliki kemampuan
membuat musik yang cukup baik.”
“Terima kasih.”
“Aku mengenal salah satu anggota timmu. Dia adalah
Kim Namjoon Haksaeng, siswa kelas
satu, kan? Dia siswa yang pandai. Kalian akan melalukan dengan sangat baik di
acara itu. Ah, kau dan timmu akan memenangkan acara itu. Aku akan mendukung tim
kalian.”
Yoongi merasa tersesat dalam pembicaraan ini. Dia
tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya. Mereka tidak pernah berada dalam
hubungan yang melibatkan percakapan dari hati-ke-hati. Malahan, sesungguhnya,
ini adalah kali pertama mereka bersikap ramah terhadap satu sama lain tanpa
mencoba untuk mencekik leher yang lainnya.
“Jadi, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”
“Saya rasa baik.” Yoongi menggaruk lehernya.
“Temanmu, Seokjin Haksaeng. Aku tidak melihatnya di sekitarmu akhir-akhir ini.
Kalian berdua kan selalu ke mana pun bersama.”
“Kim Seokjin!”
Tepat ketika guru tersebut membahas mengenai Jin,
Yoongi mendengar suara Sohee dari bawah sana. Ketika dia melirik ke arah sana,
dia melihat Jin dengan langkah berderap berjalan keluar dari gedung sekolah
diikuti oleh Sohee yang terlihat sangat putus asa ingin menghentikan pemuda
tersebut. Mereka terlihat memiliki perdebatan. Yoongi tidak pernah melihat Jin
sekesal itu. Dia bertanya-tanya apa yang sedang mereka bicarakan. Dia tidak
dapat mendengar percakapan itu tapi dia dapat mendengar dengan samar mereka
menyebutkan namanya.
“Apa kalian berdua berkelahi karena seorang
perempuan?” Guru tersebut sepertinya mendengar kedua orang tersebut juga.
“Apa? Tidak mungkin. Kenapa kami harus berkelahi
karena seorang perempuan?”
“Kau kan pernah melakukannya sebelumnya, ya kan?
Bukannya itu adalah siswi yang waktu itu? Yun Sohee, kan? Alasanmu berkelahi
dengan seorang guru di tahun pertama.”
Mata Yoongi berkilat karena pertanyaan tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆
“Tolong
jangan bersikap seperti ini, Sonsaengnim. Jangan.”
Sohee menggeliat keluar dari cengkeraman laki-laki
tersebut. Dia telah berusaha kabur dari ruangan tersebut sejak tadi namun dia
tidak bisa meloloskan diri. Laki-laki yang jauh lebih tua itu mengancam akan
menjatuhkan nilai Sohee di mata pelajarannya. Dan itu jelas merupakan kerugian
untuk Sohee. Ini bukanlah pertama kalinya laki-laki itu mencoba melakukan hal
tersebut. Pertama kali, itu hanyalah sebuah percakapan yang sedikit terlalu
ramah; perlahan tindakan itu berubah menjadi selipan-selipan tangan nakal
ketika guru tersebut mencoba menjelaskan pelajaran kepada Sohee. Gadis itu telah
merasakan tindakan yang tidak seharusnya dari guru tersebut. Sohee selalu
berhasil kabur sebelumnya namun kali ini sepertinya bukan hari
keberuntungannya.
“Tolong!”
“Diamlah atau aku akan membunuhmu.” Guru tersebut
membungkam mulut Sohee dengan tangannya.
“Sonsaengnim,
jangan lakukan hal seperti ini.”
“Bukannya kau yang menginginkannya? Itu sebabnya
kau selalu menggodaku.”
“Apa yang Anda bicarakan, Sonsaengnim. Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu.”
“Kau si Rubah Kecil, aku menyukainya ketika kau
melakukan trik seperti ini. Sekarang, biarkan aku ... Ouch!”
Sohee menggigit tangan guru tersebut dan berlari
menuju pintu.
“Apa ada orang di luar sana? Tolong ... Argh ....”
Sebelum dia dapat membebaskan diri, guru tersebut telah menjambak rambutnya.
Dia mendapat tamparan sekali lagi.
“Beraninya kau menggigitku? Jadi kau ingin bermain
seperti ini?”
Mata pria itu memerah karena berahi.
“Sonsaengnim,
tolong. Jangan lakukan itu. Biarkan saya pergi.”
Sohee mulai menangis dan menggumamkan agar pria itu
membiarkannya pergi. Dia tidak mendengarkan permintaan tersebut. Sohee
terperangkap di sudut, terduduk di lantai. Seragamnya berantakan, begitu pula
dengan rambut dan riasannya. Sohee berpikir ini akan menjadi akhir hidupnya.
Mengapa tidak ada seorang pun datang ke arah tempat ini? Seseorang seharusnya
datang dan menolongnya keluar dari neraka ini.
Tepat sebelum Sohee kehilangan harapan terakhir
akan kedatangan seseorang untuk menyelamatkannya, sebuah suara yang kencang
terdengar. Pintu ruangan itu dibuka paksa. Penyelamatnya telah datang. Itu
adalah Yoongi yang terlihat sangat terkejut oleh pemandangan di hadapannya.
Sohee menatap pemuda tersebut, menangis dengan
putus asa. Suaranya serak akibat menangis dan berteriak meminta pertolongan.
“Kau, Bajingan sial!”
Itu adalah ketika mata Yoongi berkilat penuh
kemarahan. Dia melemparkan diri di tengah-tengah laki-laki tersebut dan Sohee
dengan segera dan mulai menghajarnya tanpa ampun. Dia tidak berhenti bahkan
ketika guru tersebut telah berdarah begitu banyak, bahkan ketika guru lain
masuk untuk menghentikan keributan tersebut.
Hari itu begitu kacau. Tidak ada yang benar-benar
mengingat dengan tepat apa yang terjadi. Satu hal yang cukup pasti adalah
kondisi guru tersebut ketika dia diangkut oleh ambulans begitu mengerikan.
Hidungnya berdarah karena patah dan tim medis harus menopang beberapa bagian
tubuhnya karena tulang-tulangnya parah.
☆☆☆☆☆☆☆
Pandangan terkejut Jin membuat kenangan mengenai
hari itu kembali merasuki benak Sohee. Dia mencoba mengendalikan ketakutannya
dengan terus menggumamkan, “tidak apa-apa. Yoongi telah menyelamatkanku hari
itu.”
Dia tahu bahwa jika Yoongi tidak datang untuk
mencari tempat tenang untuk tidur, tidak akan pernah ada yang datang
menolongnya. Sohee bahkan tidak mengingat bagaimana dia berakhir di ruangan
tersebut dengan guru itu. Mungkin sesuatu menariknya ke tempat itu atau
seseorang mengirimnya untuk datang ke sana. Dia tidak mengingatnya dengan jelas
dan tidak ingin mengingatnya. Pada akhir kesimpulannya, Yoongi telah
menyelamatkannya. Itu adalah hal yang terpenting.
Dia terselamatkan ketika Yoongi menariknya masuk ke
dalam pelukan yang melindungi setelah pengalaman mengerikan yang baru saja
terjadi.
☆☆☆☆☆☆☆
“Saat itu, kenapa Anda melakukan seperti, Sem?” Yoongi bertanya pada Park Sem selagi menatap tajam ke dalam mata
pria tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆
Yoongi menyebabkan kekacauan lain di dalam ruang
guru tak lama setelah kejadian itu. Itu adalah saat ketika Kepala Sekolah
memberitahu bahwa mereka akan menutup kasus tersebut tanpa mengirimkan orang
yang bersalah itu ke penjara, tempat dia seharusnya berada. Yoongi tidak dapat
menerima bahwa dia dihukum selama seminggu sementara guru tersebut tidak
mendapatkan apa pun yang mengharuskannya membayar perlakuan buruk yang dia
lakukan pada Sohee.
“Kita tidak bisa membuat hal menjadi lebih besar
dari ini, Min Yoongi Haksaeng. Kau
berkelahi dengan guru tersebut hingga dia harus dirawat di rumah sakit saja
sudah membuat kekacauan besar untuk sekolah. Kau tidak tahu seberapa banyak
masalah yang sekolah dapatkan dari forum orang tua. Mereka ingin kau
dikeluarkan dari sekolah.” Sang Kepala Sekolah mencoba menjelaskan.
“Kalau begitu Anda seharusnya katakan saja pada
mereka apa yang Bajingan itu telah lakukan!”
“Jaga bahasamu, Min Yoongi Haksaeng!” Ada Park Sem yang
berdiri di samping Kepala Sekolah untuk mendukungnya.
Yoongi melemparkan tatapan marah pada guru
tersebut. Dia mencurigai keterlibatan guru tersebut dalam keputusan ini. Guru
tersebut pasti merupakan orang yang menghasut Kepala Sekolah untuk menutup
kasus tersebut dengan tenang. Yoongi sempat melihatnya memasuki ruang rawat laki-laki
itu di rumah sakit. Itu sangat mencurigakan. Park Sem juga merupakan orang yang memisahkan Yoongi dari laki-laki itu.
Dialah yang menelepon dan mengirimkan guru tersebut dengan ambulans. Seharusnya
dia biarkan saja laki-laki sialan itu mati untuk mempertanggungjawabkan
tindakannya. Dia seharusnya mengirimkan laki-laki itu ke neraka.
Tapi, Yoongi pikir Park Sem tidak ada bedanya dengan laki-laki itu. Yoongi pernah
memergokinya berbicara begitu “manis” kepada pelajar perempuan. Dia tidak
berbeda dari laki-laki itu.
“Itu bukan hal yang mudah untuk dikatakan. Kau harusnya
paham kalau kita berada di dalam situasi yang sulit. Kau tidak bisa melakukan
hal-hal dengan ceroboh.”
“Orang tuamu menuntut sekolah untuk melepaskanmu
tanpa mendapatkan hukuman sulit yang akan mencelakai masa depanmu.” Sementara
Kepala Sekolah mencoba berkata manis pada Yoongi, Park Sem memotong dan mengatakan kebenarannya dengan blak-blakan. Itu
memberi Yoongi informasi sebanyak yang dia butuhkan.
Lagi-lagi itu adalah kekuasaan orang tuanya. Tidak
ada yang perlu dibahas dari hal itu. Yoongi muak dengan semua ini. Dia muak
akan dunia peraturan dan regulasi sekolah yang keropos. Orang tuanya selalu
melakukan hal seperti ini sejak dia masih kecil.
☆☆☆☆☆☆☆
“Saat itu, apa kau akan merasa senang jika sekolah
membongkar apa yang terjadi dan melukai masa depan gadis itu?” Park Sem balas memandang dengan kekuatan yang
sama. Dia menghela napas tak lama kemudian. “Rumor itu adalah hal yang
menakutkan, Yoongi. Orang-orang tidak perlu kebenaran sepenuhnya untuk mulai
membicarakannya. Mereka hanya memerlukan secuil saja dan mengisi bagian-bagian
yang kosong dengan versi mereka masing-masing. Gadis itu akan mendapatkan
kerugian yang terparah.”
“Itu tidak berarti Anda harus melepaskan penjahat
itu pergi semudah itu. Anda seharusnya mengirimnya untuk membusuk di penjara.”
Yoongi mendengus kesal setelah mengucapkannya. “Ah, Anda tidak mungkin melakukannya
karena Anda kan jenis yang sama dengan binatang itu. Anda mencoba menutupi
rekan Anda. Itu dilakukan dengan sangat mulus. Jadi, sudah berapa banyak
perempuan yang Anda manfaatkan? Jika Anda menyentuh Sohee, Anda tahu saya tidak
akan ragu untuk membunuh Anda.”
“Jaga bicaramu, Haksaeng.
Jangan samakan aku dengan orang itu.”
“Kenapa? Apa karena Anda lebih ahli hingga tidak
pernah tertangkap basah sedikit pun hingga hari ini?”
Guru tersebut menampar pipi Yoongi keras. Tangannya
terlihat bergetar setelah dia melakukannya namun itu berhasil membungkam
Yoongi. Pemuda itu terlalu terkejut untuk bereaksi selama beberapa detik.
“Aku tidak tahu dari mana kau mendapat ide yang
begitu mengerikan mengenai aku memanfaatkan murid-muridku yang berharga.”
Yoongi menatap guru tersebut dengan bertanya-tanya.
Dia tidak dapat memahami sorot mata guru tersebut yang menampilkan perasaan
terluka yang dalam. Entah menampar Yoongi telah menyebabkan harga dirinya
hancur ataukah tuduhan tersebut tidak sedikit pun mendekati kebenaranlah yang
menyebabkan hal tersebut. Mendadak Yoongi menyadari bahwa dia telah bertindak
melewati batas dengan tuduhan-tuduhannya. Namun di saat yang sama dia merasa
bingung. Jika guru tersebut tidak sedang mencoba melindungi penjahat tersebut,
lalu apa yang dia lakukan di dalam ruang rawat laki-laki itu?
“Aku harus pergi.” Sebelum Yoongi dapat bertanya
lebih, guru tersebut memutuskan untuk beranjak keluar dari suasana panas
tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆
Jin berjalan menyusuri jalanan tanpa tujuan.
Pikirannya tidak sedang bersama tubuhnya. Dia sedang memikirkan mengenai hal
yang Sohee baru saja ceritakan padanya. Dia tidak pernah tahu bahwa Sohee
pernah mengalami sesuatu yang mengerikan semacam itu. Kapan itu sesungguhnya
terjadi? Bagaimana mungkin dia melewatkan hal tersebut? Ini kan melibatkan
teman-teman masa kecilnya.
Ah, mungkin itu adalah saat ketika Jin tergeletak
karena flu babi hingga dia harus absen dari sekolah selama beberapa minggu. Tidak
heran, Jin merasakan keanehan setelah dia kembali ke sekolah. Ada banyak rumor
beredar dan Yoongi muncul dengan warna rambutnya yang mencolok. Setiap orang
yang dia tanyai mengenai apa yang terjadi hanya berkata untuk bertanya pada
pemuda itu sendiri. Seseorang telah menutupi kebenarannya. Apa yang mereka
ketahui hanyalah mereka melihat Yoongi berjalan di lingkungan sekolah dengan
seragam berlumuran darah. Mereka menganggap bahwa Yoongilah yang berkelahi
dengan guru yang terluka itu.
Jin telah gagal sebagai seorang teman. Dia telah
gagal melindungi Sohee. Di dalam benaknya saat ini begitu kacau. Kekacauan
besar dan dia bahkan tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan saat itu.
Bahkan
meskipun Yoongi tidak pernah menyelamatkanku, aku tidak akan pernah menyukaimu,
Jin.
Pikirannya secara acak mengingat perkataan Sohee
sebelumnya ketika dia berjalan pergi dari Jin setelah selesai bercerita. Sohee
menyadari perasaan Jin sejak awal. Dan sekarang dia pun telah gagal
menyembunyikan perasaannya.
Dia selalu gagal melakukan apa pun. Tidak ada satu
hal pun yang dapat dia lakukan dengan baik. Dia selalu saja memiliki kekurangan
dalam satu hal jika dibandingkan dengan Yoongi. Dia tidak pernah bersikap
mencolok. Dia adalah wallflower yang
orang-orang tidak akan pernah sadari keberadaannya jika tidak karena Yoongi.
Dia bukanlah seseorang yang sangat pandai berbicara atau pun pemberani. Itu
adalah suatu hal yang selalu Jin irikan dari Yoongi.
Jin bertanya-tanya bagaimana jika saat itu, adalah
dirinya yang menangkap basah guru tersebut. Apakah dia akan mampu melakukan hal
yang sama dengan Yoongi ataukah dia akan melarikan diri?
Sementara pikirannya berkelana, mendadak Jin
mendengar suara klakson keras. Sebelum dia mampu memproses apa yang terjadi,
seseorang menariknya mundur.
“Apa kau ingin mati?!”
Itu adalah Yoongi yang menyelamatkannya dari
kecelakaan mobil. Sebuah mobil melintasi mereka dengan pengemudi yang
mengeluarkan sumpah serapah pada Jin dan Yoongi karena kecerobohan mereka.
“Kenapa kau berkeliaran dengan tatapan kosong
seperti itu!”
Yoongi terlihat sangat kesal, namun Jin tahu itu
adalah caranya untuk menunjukkan perhatian. Dia selalu saja seperti itu. Dia
terlihat kasar dari luar, namun sesungguhnya dia memperhatikan orang-orang yang
dia sukai dengan baik. Bahkan sering kali terlewat baik. Tak jarang pula dia
akan mencekikmu dengan perhatiannya. Namun itulah Yoongi.
Sekarang selagi memandangi Yoongi, Jin memikirkan
mengenai hal lain. Dia tahu itu adalah hal dasar untuk menolong seorang gadis
tak berdaya yang sedang dimanfaatkan, tapi ... kenapa saat itu Yoongi begitu
emosi ketika melindungi Sohee? Untuk alasan apa Yoongi melindungi Sohee
sesungguhnya? Dia memberontak karena hal tersebut. Dia bahkan menyembunyikan
kebenaran itu dari Jin. Itu adalah kali pertama Yoongi menyembunyikan suatu hal
darinya.
“Yoongi, kau suka Sohee, kan?”
Mata Yoongi bergerak panik ketika dia mendengar
pertanyaan tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆





















