WARNING:
LONG POST AND RANDOM THOUGHT a.k.a GAJE. Dan ini aku copas dari postinganku di BAIA. *males*
Hallo,
Daisy is back.
Pernahkah
kalian membayangkan kenapa sih BTS memakai Demian sebagai referensi untuk
comeback Wings mereka kemarin?
Ternyata
karya Hesse yang satu ini bukan buku yang asing loh untuk warga Korea. Sebelum
BTS menggunakan buku ini, ada beberapa acara TV yang sempat mengungkit mengenai
buku ini.
Contohnya saja, drama Producer, buku ini merupakan buku yang
diberikan Kim Soohyun kepada IU untuk dia baca. Selain itu pada variety show 2
Days 1 Night, pernah ada episode mengenai pertanyaan berupa kutipan dari buku
ini. Aku sendiri baca buku ini
jauh sebelum BTS keluarin konsep ini. Lebih tepatnya karena Drama Producer dan
variety show 2 Days 1 Night sih. Haha. Gara-gara penasaran dengan kutipan
“The bird fights its way out of the egg. The egg is the world. Who would be born must first destroy a world. The bird flies to God. That God’s name is Abraxas.”
Nah
beberapa hari lalu, aku menemukan sebuah artikel yang menarik tentang buku
Demian.
Mengapa
Orang Korea Sangat Menyukai Karya Hermann Hesse Demian di Antara Karya-Karya
Novel Barat Lainnya?
Kalian
bisa baca di sini artikelnya.
Agak
panjang dalam Bahasa Inggris.
Aku ceritakan
singkat saja buat kalian yang kurang paham (tidak semua kurangkum, kalau kalian
ingin lebih memahaminya, bisa membaca langsung di sana)...
Artikel
ini dibuka dengan pandangan beberapa orang mengenai buku Demian ini dan Korea
Selatan misalkan mengenai miskonsepsi orang Korea terhadap kehidupan Westerner,
kemudian tentang hieraki sosial Korea, kebudayaan perusahaan di Korea hingga
lingkup politikal Korea dan sebagainya yang seakan-akan terefleksi pada novel
tersebut.
Ada pula
yang menyebutkan bahwa Korea Selatan adalah sebuah tempat di mana penampilan
dan bentuk adalah hal yang sering kali lebih diutamakan dibandingkan esensi
atau konten hingga tema semacam ini mungkin saja memiliki daya tarik bagi orang
Korea.
Bagi
penulis sendiri, ketika membaca Demian sekali lagi setelah hidup di Korea
selama setahun setengah, dia baru menyadari apa yang dimaksudkan oleh partner
bahasanya saat menyarankan dia membaca buku tersebut untuk memahami kebudayaan
Korea.
Dia
menyadarinya tepat dari bab pertama ketika narator buku, Emil Sinclair,
mengingat masa kecilnya di akhir abad 19 di Jerman, mengatakan mengenai dua
“dunia” dari realitas personalnya: “Rumah orang tuaku membentuk satu dunia,
namun batas dari dunia tersebut bahkan lebih sempit, sesungguhnya dunia itu hanya
berkisar di sekeliling orang tuaku.”
Menurut
penulis, banyak pembaca muda Korea yang akan menyadari persamaan yang tinggi
ini, ruang yang begitu menyesakkan dari “ibu dan ayah, cinta dan peraturan
ketat, perilaku ideal, dan sekolah” tempat “dua garis lurus dan jalan-jalan
dituntun menuju masa depan: di sana terdapat tanggung jawab dan rasa bersalah,
kesadaran buruk dan pengakuan, permintaan maaf dan akhir yang baik, cinta,
penghormatan, dan kebijaksanaan”. Namun di sisi lain mereka juga menyadari dunia kedua Emil
Sinclair. Tentang dunia yang penuh dengan hal-hal jahat dan mengerikan.
"Orang-orang takut karena mereka tidak pernah memiliki diri mereka sendiri sepenuhnya”
Bagian
pada novel Demian:
“Seluruh masyarakat dibentuk oleh orang-orang yang takut pada hal yang tidak diketahui di antara mereka! Mereka semua menyadari bahwa peraturan yang mereka telah jalani seumur hidup tidak lagi valid, bahwa mereka hidup berdasarkan prinsip hukum kuno—baik agama maupun moralitas mereka tidak lagi sesuai pada kebutuhan dari masa sekarang” kemudian Demian menyebutkan mengenai hal yang dilakukan Eropa seabad ini “tidak melakukan apa pun selain belajar dan membangun pabrik-pabrik.”
Menurut
penulis blog tersebut ini seakan merupakan deskripsi yang cukup tepat mengenai
bagaimana Korea menghabiskan beberapa dekade untuk perkembangan yang sangat cepat
setelah Perang Korea.
Kemudian
lanjut penulis, ketika Sinclair berpikir mengenai “pria-pria gentleman tua yang
terpelajar yang bergantung pada kenangan dari masa-masa universitas mereka
sebagai oleh-oleh dari surga dan membentuk sebuah penyembahan dari tahun
belajar mereka yang telah “hilang” sebagai puisi atau bentuk romantis lain dari
masa kecil mereka,” pencarian akan kebebasan dan keberuntungan di masa lalu seorang
pembaca Korea akan berpikir mengenai lusinan pria paruh baya kenalannya yang
mabuk untuk melewati malam-malam mereka.
Bagi
mereka dan banyak orang lainnya novel Demian memberikan semacam penghiburan,
sebuah janji bahwa suatu hari seseorang mungkin akan mengakhiri kehidupan
“mengikat pendapat mereka, idealisme, tugas, kehidupan, keberuntungan, dan
lebih dekat lagi pada mereka dari kawanan” menuju “masa depan individual”, kemanusiaan,
tempat di mana semua orang bergerak, tidak ada gambaran ideal, tidak ada hukum.
Artikel
ini ditutup dengan pernyataan
Namun
kebanyakan orang Korea paham bahwa cerita ini tidak berakhir baik bagi Emil. Pada
akhirnya hal-hal itu memang seharusnya terasa menyakitkan.
Bagian
akhir dari artikel ini mengingatkanku pada sebuah kalimat yang cukup popular
disebutkan di Korea. Ada banyak drama yang mengutipnya. Acara TV yang membuat
tema mengharukan mengenai masa muda pun juga pernah mengutipnya. Kutipan itu
adalah
“아프니까 청춘이다”
“Because it’s hurt, it’s
youth”
Kalau kalian pernah mendengar mixtape
RM yang “Do You” atau rap GD di Palletenya IU, kalimat ini pun sempat
disebutkan. Sebenarnya aku sempat membahas ini juga di fanficku, Youth of Lily,
sekilas.
Aku cukup setuju dengan lyric Do
Younya RM.
Mengapa karena itu terasa sakit
itu adalah masa muda? Memangnya seseorang yang sudah berusia lanjut tidak lagi
merasakan hal apa pun? Seperti apa kategori muda itu? Apakah jika kita terus
merasakan “sakit” hingga berusia lanjut sekali pun kondisi itu pun termasuk
dalam kategori “masa muda”?
I hate self-help books more than anything in the worldBullshit telling us to do this or thatThey have no backbone and believe other’s wordsSo that bullshit is a best sellerWhat do those guys know about youYour dreams your hobbies, can they understand?If you look less at wits, there are a lot of things that changeYou were born as a hero, why are you trying to become a slave?“Because it hurts, it’s youth”That kind of definition is the biggest problem – RM, Do You
Kurasa,
jika melihat dari penjabaran penulis blog tersebut dan melihat bagaimana
kehidupan Korea, juga mencoba memahami pemikiran Namjoon, semua ini bisa menjadi
gambaran bagi kita yang hidup di luar Korea untuk memahami latar belakang
kebudayaan Korea hingga keterkaitannya dengan Demian.
Lantas, mengapa
BTS menggunakan Demian sebagai sebuah konsep... bisa jadi alasannya adalah
karena
Uhm... apa
ya? Aku juga bingung *nggak membantu malah bikin rumit* #plak
Well,
okay...
Mungkin...
BTS ingin menunjukkan relevansi mereka terhadap Demian. Mungkin juga karena
Bang PD-nim melihat bahwa ini menjadi fenomena sosial di Korea yang mungkin
akan membuat orang-orang merasa terkoneksi dengan lagu BTS ketika mendengarnya.
Kita bisa lihat sendiri, pendapat-pendapat di blog itu.
Itu alasan
yang bisa kita lihat langsung karena terlihat cukup jelas.
Apalagi kalau lihat lyric Run
dari album HYYH, kita bisa melihat esensi dari kutipan yang tadi kusebut.
Terutama pada bagian
Let me run more
Please let me run more
Even though my feet are full of scars
I smile whenever I see you
Please let me run more
Even though my feet are full of scars
I smile whenever I see you
Let’s run run run again! I
can’t stop running
Let’s run run run again! I can’t help running
Only thing I can do is run
Only thing I can do is love you
Let’s run run run again! I can’t help running
Only thing I can do is run
Only thing I can do is love you
Let’s run run run again! It’s
ok to fall down
Let’s run run run again! It’s
ok to be injured
I am happy enough even though
I can’t get you
Curse me, this foolish
destiny!
Memang
benar alasan itu mungkin termasuk salah satu di dalamnya. Tapi selain itu,
pardon me for being skeptic, kalau menurutku orang Korea cenderung
meromantisasi sesuatu. Put romantic meaning over everything, wrap to make it
look pretty and touching and at some point it turned to be an excuse for me.
Like “아프니까 청춘이다” this quote. Karena ini adalah masa muda makanya
ini terasa sakit, ini menjadi semacam excuse bagi seseorang untuk terus
bertahan dalam posisi yang tidak menyenangkan untuk dirinya, situasi membuat
dirinya tidak bahagia. Hingga akhirnya tidak melakukan apa pun selain bertahan.
Seperti contohnya ada satu adegan
yang kuingat dari drama I Need Romance 3 (drama ini tidak untuk ditonton anak
usia di bawah 17 tahun. LOL. terlalu dewasa), ada sebuah karakter yang selalu
menempelkan kutipan kata 아프니까 청춘이다 di meja kerjanya untuk mengingatkan bahwa usaha
dan kerja keras yang dia lakukan saat ini terasa sangat berat, terasa sangat
menyakitkan karena itu adalah masa muda. Dia terus bertahan dalam kondisi
pekerjaan yang membuatnya tertekan, menyimpan seluruh gajinya, membaginya ke
dalam beberapa macam tabungan: tabungan untuk pendidikan, tabungan untuk
menikah, dan tabungan dsb, hingga dia bertahan dalam hubungan yang tidak
menyenangkan lagi baginya karena pacarnya sedang berusaha untuk lolos ujian PNS
(kalau tidak salah).
Ya, di Korea entah mengapa (aku tidak bisa paham), ketika
seseorang sedang mempersiapkan ujian PNS, dia selalu saja semacam tidak
melakukan hal apa pun selain belajar. Ini terdengar konyol buatku karena pada
akhirnya dia membuat susah orang di sekitarnya karena harus mengalah, harus
menyokong kehidupannya.
Balik ke cewe ini... Karakter
cewe ini karena terlalu bergantung dengan kutipan itu sebagai penghiburan, dia
seakan kehilangan dirinya. Kehilangan kesenangannya. Sampai akhirnya dia
menyadari bahwa yang dia lakukan itu kurang tepat dan dia akhirnya berusaha
untuk menemukan apa yang ingin dia lakukan.
*Kemudian
kenapa aku malah bahas drama ya?*
Balik ke
soal BTS dan Demian.
BTS dengan
lagu BST, kurasa ingin mengatakan memang dalam proses itu memang selalu ada
rasa sakit namun lebih dari itu ketika melakukan itu mereka tidak ingin itu
hanya sekadar excuse (seperti yang disebutkan dalam lirik mixtape RM). Mereka
ingin memberikan full effort till the last drop agar tidak ada lagi penyesalan.
Penyerahan diri sepenuhnya pada apa yang mereka inginkan dan kejar. Terlihat
sekali dalam chorusnya.
Kalau
menurut kalian, apa alasan di balik Demian sebagai referensi?
Yang sudah
baca Demian, suaranya dunkz...
*BTW...
postingan ini panjang sekali... 8 halaman word, LOL*
PS: Tambahan
Saking terkenalnya Hesse di Korea, di Paju ada sebuah kafe yang didedikasikan untuk Hesse. Nama kafe itu Cafe Hesse


































