LAST RUN
Everybody
say it is over but I can’t stop this
I can’t
tell whether it is sweat or tears
My
bare-love and tough typhoon and wind
Can only
make me run more with my heart
“Oke, kita sudah selesai. Terima kasih atas kerja
samanya.”
Sang PD mengakhiri sesi tanya jawab untuk ketiga
anggota BTS. Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan set namun para kru BTS
tetap tinggal di tempat mereka. Mereka saling melempar pandang seakan sedang
berbicara lewat telepati. Yoongi dan Jungkook mencoba memberikan keberanian
untuk Namjoon berbicara.
“Apa saya boleh menambahkan satu hal lagi?”
Akhirnya Namjoon pun memberanikan diri.
Semua orang menatap ke arahnya. PD memberikan kode
bahwa mereka tidak punya waktu lagi untuk berbicara namun para kru memaksa.
Akhirnya PD pun menyerah.
“Selagi kita masih di topik ini, ini bukan untuk
kompetisi tapi saya harus mengatakannya. Kami akan sangat berterima kasih jika
Anda menayangkan bagian ini pula. Ini ditujukan kepada teman-teman kami yang
saat ini sedang berada pada waktu terburuk dalam kehidupan mereka dan untuk
semua orang yang saat ini merasa terluka.”
Namjoon menatap ke arah kamera untuk waktu yang
lama. Mencoba merangkai kata-kata yang yang tepat untuk diucapkan. Selagi dia
memikirkan mengenai hal tersebut, pemikiran singkat mengenai hal yang
akhir-akhir ini terjadi memasuki benaknya. Mulai dari Hoseok, Jimin, kemudian
Taehyung. Rasanya semua telah runtuh. Masing-masing orang mendapatkan luka yang
besar dari pengalaman tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆
Di mana
aku saat ini?
“Baik, Omunim.
Tidak usah khawatir. Kami akan menjaganya selagi Anda berbicara dengan dokter.
Tidak masalah. Apa dia sudah sadar?”
Jimin dapat mendengar seseorang sedang berbicara di
luar. Sebelum dia bisa memahami situasi yang berlangsung, dia mendengar pintu
dibuka.
“Kau sudah sadar.”
Itu adalah suara Jin. Para anggota kru memasuki
ruangan tepat beberapa saat setelah Jimin membuka mata. Ada Namjoon, Yoongi,
dan Jin di sana. Jimin mengedarkan pandangan mata ke sekelilingnya. Ini bukan
kamarnya. Hal terakhir yang dia ingat hanyalah dia hendak mandi untuk
mendinginkan kepala. Dia ingat kalau dia mendapatkan sebuah pesan sebelum pergi
ke kamar mandi. Apa yang terjadi?
“Min Yoongi! Jin! Bisa-bisanya kalian
meninggalkanku?” Seorang lagi memasuki ruangan. Itu adalah Sohee dengan sebuah
pot bunga di dalam tangannya.
“Itu karena kamu selambat siput.” Yoongi mengejek
gadis tersebut.
“Aku lambat? Siapa yang kau bicarakan, Min Dalpaengi (Siput Min)! Aku kan sedang
memperhatikan bunga untuk Jimin.”
“Tidak ada yang menyuruhmu bawa bunga.”
Pasangan teman masa kecil itu sepertinya telah
kembali berbaikan seakan mereka tidak pernah berkelahi sebelumnya. Sekarang
setelah menyadarinya Jin dapat melihat betapa Yoongi menikmati saat-saat
menggoda Sohee meskipun dia sering kali terlihat tidak acuh pada gadis
tersebut. Yoongi pun peduli pada Sohee. Jin mengetahui hal tersebut kemarin
ketika dia melihat Yoongi di jalan sebelum sebuah panggilan dari Namjoon
datang. Namun, jika dia pikirkan lagi, tidak ada sesuatu yang patut diributkan
sejak awal. Dia bahkan tidak ingat mengapa dia merasa kesal sebelumnya. Apa dia
merasa kesal karena melihat cara Yoongi memperlakukan Sohee? Atau karena
tatapan Yoongi pada Sohee hari itu terlihat beda dari apa yang biasa Jin lihat
darinya? Tidak seharusnya satu pun dari hal ini mengusiknya sesungguhnya,
terlebih lagi setelah dia mengetahui apa yang terjadi ketika dia tidak ada di
sana.
“Apa kau tidak tahu kalau membawa sesuatu ketika
mengunjungi seseorang di rumah sakit itu sopan santun dasar?
“Jimin kan laki-laki. Aku yakin dia tidak akan
menyukai bunga itu.”
Dia ada
di rumah sakit. Jimin menerima informasi itu
sesegera dia mencoba mengangkat tubuhnya untuk duduk. Jimin merasakan rasa
nyeri yang teramat sangat ketika dia hendak menggerakkan tangan kirinya. Ketika
dia mengangkatnya, terlihat perban di kedua lengannya. Dia melakukannya lagi,
kan? Dia melakukannya lagi. Sekali lagi Jimin telah kalah atas dirinya. Dia
mengerang dalam diam sambil menutup wajah. Dia benci dirinya. Dia benci
kelemahannya.
“Teman-teman, jangan berkelahi di depan pasien.
Kalian membuat Jimin sakit kepala.” Jin mencoba menghentikan argumentasi tanpa
akhir Yoongi dan Sohee.
Sohee segera mengabaikan Yoongi ketika dia melihat
Jimin.
“Jimin, akhirnya kau sadar. Kami sangat
mengkhawatirkanmu. Taehyung kira kau tidak akan bertahan. Kau sudah membuatnya
ketakutan, tahu?”
Jimin segera mencari sosok pemuda yang disebutkan
namun dia tidak ada di sana. Para anggota kru menunjukkan ekspresi penuh rasa
sakit ketika nama itu diungkit oleh perempuan satu-satunya di dalam ruangan
itu. Sesuatu telah terjadi. Mengapa Taehyung tidak ada di sana?
“Ah! Aku lupa. Ini untukmu, Jimin.” Sohee
memberikan tanaman yang sudah dia pegang sejak memasuki kamar kepada pemuda
itu.
“U-untuk apa ini?”
“Lihat kan, dia tidak menyukainya.”
“Tutup mulutmu!” Sohee memberi Yoongi tatapan tajam
atas komentarnya sebelum dia kembali menghadapi Jimin. “Itu adalah tanaman peace
lily.”
Kedua alis Jimin bertautan dengan perasaan campur
aduk. Dia tidak pernah mendapatkan sesuatu dari seorang gadis, terlebih lagi
sebuah tanaman bunga. Dia tidak paham untuk apa itu, namun sebelum dia dapat
bertanya, gadis yang lebih tua itu telah menjelaskan makna dari tanaman itu.
“Itu adalah harapan untukmu mendapatkan kehidupan
yang lebih baik.” Sohee tersenyum manis padanya.
Jimin masih tidak memahaminya namun dia tidak
lanjut bertanya. Dia malah memandangi para anggota kru yang berdiri di
sekeliling tempat tidurnya. Setiap dari mereka memandanginya penuh
kekhawatiran. Itu membuat Jimin sangat membenci dirinya. Dia benci dirinya yang
terus mengusik semua orang.
Yoongi menarik kursi untuk duduk di samping Jimin.
Semua orang terlihat mendapatkan tanda yang sama darinya. Mereka menginginkan
sesuatu dari Jimin. Pemuda itu mendapatkan firasat tersebut. Yoongi belum
berbicara sepatah kata pun pada Jimin.
“Biarkan aku meletakkan itu di atas meja.” Sekali
lagi Sohee mengambil alih tanaman pot itu dari Jimin. Ketika dia melakukannya
tangannya menyenggol lengan Jimin yang terluka. Itu membuat Jimin meringis.
“Sakit, kan? Rasakan. Tentu saja itu akan terasa
sangat sakit. Kenapa kau sangat suka menyayat pergelangan tanganmu?” Yoongi
berkomentar ketika melihat ekspresi kesakitan Jimin.
Jin menahan Yoongi mengatakan hal yang kasar dengan
menyentuh pundaknya namun pemuda itu menepis tangan tersebut.
“Apa yang kau pikirkan ketika kau melakukan hal
seperti itu?”
“Yoongi, jangan terlalu kasar.” Jin memperingatkan
dengan nada tegas. Dia bisa melihat betapa Jimin mengerut ke dalam dirinya
selagi Yoongi mengomelinya. Jimin yang mengasingkan diri adalah hal yang tidak
mereka perlukan. Mereka tidak akan dapat mengetahui pemikirannya jika dia
menarik diri. Mereka harus mencari tahu mengapa Jimin mencoba membunuh diri.
Apa yang menyebabkan hal tersebut?
“Ma-maaf.”
“Jangan katakan maaf pada kami. Apa kamu tidak tahu
betapa orang tuamu khawatir?”
“Itu bukan pengalaman yang menyenangkan menyaksikan
kau meregang nyawa di kamar mandi. Terlebih lagi ini bukan kali pertama.”
Namjoon bergabung dengan Yoongi. Namun dia melakukannya dengan sikap yang lebih
tenang. “Sungguh, Jimin. Kau harus membiarkan kami tahu apa yang terjadi
padamu. Dengan begitu kami bisa melakukan sesuatu untukmu.”
Jimin memalingkan pandangannya, namun tidak ada
tempat untuk bersembunyi. Setiap pasang mata sedang memandanginya.
Apa kau pikir
kau bisa kabur dari kami?
Isi pesan yang dia pernah dapatkan sekali lagi
terlintas dalam benak Jimin.
“A-aku tidak tahu.” Jimin pikir dia tidak boleh
mengatakan apa pun pada siapa pun atau dia akan mendapatkan pengalaman
mengerikan lebih banyak. Dia tidak dapat mengatakan apa pun. Dia dilarang untuk
bercerita. Dia telah melakukannya sekali dan konsekuensinya adalah sesuatu yang
tidak ingin dia alami lagi.
“Kami tahu sesuatu terjadi padamu di sekolah
menengah pertama. Jadi kali ini apa yang membuatmu ingin membunuh diri?” Yoongi
tidak seperti Namjoon yang memiliki kesabaran untuk membuat Jimin paham, dia
lebih kepada sosok yang berterus terang.
Perkataan Yoongi membuat Jimin semakin ketakutan.
Matanya mulai berkeliaran panik seakan dia sedang mencari sesuatu, atau
seseorang. Jimin terlihat sangat ketakutan.
“Jimin a
....” Jin berbicara dengan nada lembut.
“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa pun. Jangan
tanya aku. Kumohon.”
“Park Jimin!” Yoongi menaikkan nada suaranya.
Bukannya berbicara Jimin malah menggeleng kepalanya
lebih keras. Dia menutupi kepala dan telinganya dengan lengannya yang terluka.
Mengerut hingga menyerupai bola. Dia mencoba untuk tidak terlihat sebisa
mungkin.
“Teman-teman, jangan paksa dia. Dia baru saja
sadar. Berikan dia waktu.”
Sohee mencoba melerai situasi menegangkan tersebut
namun Yoongi tidak melepaskan pandangan tajamnya. Hal itu membuat Sohee
menghela napas dengan kesal. Dia melirik ke arah Jin dan memberinya tanda untuk
membawa pergi Yoongi dari ruangan. Jin melakukan yang diminta. Yoongi melawan
awalnya namun Jin berhasil membawanya keluar untuk mendinginkan kepala.
Tinggallah Sohee dan Namjoon di dalam ruangan bersama Jimin. Sohee memandangi
Jimin dengan tenang. Pemuda itu masih saja mengurung dirinya di dalam dekapan
lengan. Sohee duduk di kursi Yoongi tadi.
“Apa kau tahu makna dari bunga yang kubawa
untukmu?”
Sohee menyeret pandangan matanya ke arah pot
tanaman bunga di samping tempat tidur.
“Aku tahu tanaman ini biasanya dikirimkan kepada
keluarga yang mengalami kehilangan tapi ada makna lain mengapa aku memberimu peace
lily ini. Itu adalah kelahiran kembali. Untuk mengekspresikan harapan dan
ketenangan, itu adalah yang biasanya orang katakan mengenai makna tanaman ini.
Kuharap dengan kembali hidup kau akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Kau tahu, kau tidak seharusnya membiarkan seseorang memiliki pengaruh atas
dirimu seperti ini. Ini adalah kehidupanmu.”
“Kau tidak tahu apa pun mengenai ini.” Jimin
bergumam.
“Ya, aku memang tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang
sudah kau alami hingga membuatmu melakukan hal seperti ini tapi aku senang kau
dapat bertahan hidup. Kau sudah dilahirkan kembali dari kematian, karena itu
kau seharusnya hidup dengan lebih baik.”
Jimin tidak mengatakan apa pun.
“Kau bisa menceritakan apa pun pada kami. Bukankah
kami temanmu?” Namjoon melanjutkan perkataan Sohee. Dia kemudian menambahkan
hal lain di belakang untuk meringankan percakapan. “Aku tidak percaya kalau aku
sungguh bisa menggunakan kata itu.”
Jimin masih menutup mulutnya.
“Apa kau ingin diselamatkan? Atau kau lebih ingin
mengabaikanmu?”
Jimin mengangkat kepalanya namun masih tidak
mengatakan apa pun. Namjoon memahami bahwa akan sulit untuk Jimin membicarakan
hal yang membuatnya takut, terlebih lagi jika hal itu membuatnya memutuskan untuk
membunuh dirinya. Namjoon mencoba cara lain.
“Taehyung bersamaku ketika kami menemukanmu di
dalam kamar mandi.”
“Apa yang kalian berdua lakukan di rumahku?”
“Kami mencoba untuk berbicara denganmu. Kau kan
sudah absen tiga hari. Itu membuat Taehyung cemas sebenarnya. Tapi kami tidak
pernah mengira akan menyaksikan usaha bunuh dirimu.”
Jimin memandang ke arah Namjoon lama sebelum dia
membuka bibirnya untuk berbicara. “Aku tidak mencoba untuk bunuh diri.”
Namjoon mendapatkan Jimin masuk ke dalam percakapan
sekarang.
“Sungguh? Kalau begitu apa yang kau lakukan dengan
lenganmu?”
Jimin terlihat ragu. Dia menatap ke arah lengannya
yang diperban. Dia teringat saat pertama kali dia merasakan hal seperti ini. Di
sekolah menengah pertama, saat itu pun juga merupakan sebuah kecelakaan. Namun
semua orang mengira itu seperti itu. Mereka bilang dia ingin membunuh diri
sementara yang dia inginkan hanyalah untuk bertahan hidup. Namun apa gunanya
mengoreksi hal tersebut? Orang-orang hanya ingin mendengar dan melihat yang
mereka inginkan saja. Tidak ada yang mendengarkannya. Tidak ada satu pun.
“Baiklah, kau benar. Aku hanya merasa sangat lelah
dengan dunia. Tidak ada yang memihakku. Kupikir apa gunanya lagi melanjutkan
hidup.”
“Apa yang terjadi? Apa yang membuatmu berpikir
seperti itu? Pasti ada penyebabnya kan? Apa itu karena pemuda yang di pantai
saat itu? Apa dia melakukan sesuatu padamu?”
Mata Jimin bergerak panik.
“Aku tidak tahu. Jangan tanya aku.”
Namjoon melirik pada Sohee yang sepertinya memiliki
pemikiran yang sama dengannya. Mereka menyadari bahwa mereka kembali ke kotak
pertama lagi.
“Tidak apa-apa.”
Namjoon menepuk tangan Jimin untuk meyakinkannya.
☆☆☆☆☆☆☆
Yoongi dan Jin segera berdiri ketika mereka melihat
Namjoon dan Sohee keluar dari ruangan Jimin setelah perawat masuk.
“Bagaimana?” Jin adalah yang pertama kali bertanya.
Namjoon dan Sohee kompak menggeleng.
“Itu pasti karena anak itu! Seharusnya aku
memberinya pelajaran lebih.” Yoongi menendang dinding.
“Aku tahu kau peduli dengan semua orang di sini
tapi memukul seseorang tidak akan membantu, kau tahu itu?” kata Jin.
“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan
sekarang?” Sohee terlihat bingung karena dia tidak mengetahui apa yang terjadi
pada malam di pantai namun dia tahu ada sesuatu yang salah yang terjadi sejak
hari pertunjukkan pertama BTS.
“Beri dia waktu. Aku tahu ini akan memakan waktu
tapi dia akan menceritakan itu pada kita perlahan.” Namjoon sekali lagi
menghela napas. Dia merasa lelah dengan semua sikap penuh perhatian ini
sesungguhnya. Rasanya lebih mudah ketika dia bersikap tidak acuh pada segala
hal. Namun dia telah terlanjur terlibat dalam kekacauan ini hingga tidak lagi
dapat kabur darinya.
“Baiklah, ayo pergi untuk saat ini. Kita bisa
kembali besok. Sekarang, bagaimana kalau kita mengunjungi Hoseok? Jungkook dan
adik-adik Hoseok pasti sudah mengganggu anak itu sejak dia bangun. Mereka
sangat mengkhawatirkannya.” Jin menyarankan.
“Kenapa kita punya begitu banyak orang untuk
dikunjungi di sini?” Yoongi mengerang.
Para anggota kru mulai berjalan pergi dari depan
pintu kamar Jimin. Mereka membicarakan mengenai rencana mereka. Selagi mereka
berjalan, mendadak Sohee bersikap aneh dengan bersembunyi di balik punggung
Yoongi. Sepertinya dia baru saja melihat sesuatu yang membuatnya ketakutan. Hanya
Yoongilah yang menyadari hal tersebut. Dia menoleh ke arah pandangan Sohee.
Awalnya dia pikir itu karena keributan yang sedang terjadi tak jauh dari tempat
mereka berdiri, namun ternyata laki-laki yang membuat keributan itu adalah
seseorang yang Yoongi dan Sohee ingat dengan jelas. Itu adalah laki-laki yang
memberikan mimpi buruk pada Sohee. Tapi ada sesuatu yang berbeda terlihat dari
orang tersebut. Dia terlihat seperti pesakitan dan tidak dalam pikiran
sehatnya. Beberapa orang menuntun jalannya, atau lebih tepatnya memaksanya
berjalan, orang-orang dengan seragam putih yang tidak berasal dari rumah sakit
ini. Apa yang terjadi pada laki-laki itu?
Yoongi menyentuh tangan Sohee untuk mendapatkan
perhatiannya kembali. “Jangan lihat ke arah sana.”
Sohee mendongak ke arah Yoongi. Pemuda itu bertukar
posisi dengan Sohee untuk menutupinya. Tindakan kecil itu membuat gadis itu
tersenyum kecil.
“Apa yang kalian berdua sedang lihat?” Jin
menangkap situasi yang tidak menyenangkan di belakangnya. Dia dan Namjoon telah
berhenti berjalan karena menyadari kedua orang lainnya tertinggal.
Sohee mencoba mengabaikan perasaan buruknya.
“Tidak ada apa-apa. Oh ya, mumpung kita masih di
sini, apa kita sebaiknya mengunjungi kamar orang tua Taehyung juga? Kita bisa
mengunjungi Taehyung di pusat detensi untuk memberitahu kabar terbaru soal
kondisi ayahnya.”
Dia mencoba mengalihkan perhatian para anggota kru.
Komentarnya sesungguhnya membuat semua orang teringat pada nasib tak pasti dari
pemuda tersebut.
“Apa yang akan terjadi pada Taehyung? Apa dia akan
baik-baik saja?” Jin bertanya dengan nada khawatir.
Bagaimana
menjadi muda adalah momen terindah dalam kehidupan kita? Di mana letak
keindahan dari hal ini?
Namjoon teringat pada apa yang Taehyung katakan
ketika dia mengunjungi pemuda tersebut di sel penjara sementara. Pemandangan
dari ekspresi penuh rasa sakit Taehyung meninggalkan rasa pahit untuk Namjoon.
Di mana sisi keindahan dari semua kekacauan ini?
“Dia akan baik-baik saja, kurasa.” Namjoon
memutuskan untuk bertahan pada kepercayaannya dan mengalihkan pemikiran buruk.
Dia belum ingin menyerah. Semua akan baik-baik saja. Baik-baik saja.
Yoongi menghela napas sambil mengacak rambut
hitamnya dengan frustrasi. “Tidakkah kau merasa hal ini sungguh penuh kegilaan?
Kurasa aku akan menjadi gila karena semua kejadian gila ini.”
Namjoon terkekeh penuh ironi ketika mendengar
Yoongi mengeluhkan rasa frustrasinya. Dia memahami bagaimana rasanya ketika kau
memperhatikan semua orang yang kau pedulikan jatuh satu persatu ke dalam
keputusasaan dan kau tidak dapat melakukan apa pun untuk mencegahnya. Dia
sangat tahu hal itu. Namun begitulah bagaimana kehidupan bekerja. Kau tidak
dapat menyelamatkan semua orang. Kau tidak bisa menjalankan kehidupan untuk
mereka.
“Baiklah, kita sungguh harus menjemput Jungkook
dari kamar Hoseok supaya bisa berlatih keras untuk siaran langsung.”
☆☆☆☆☆☆☆
PD yang bertugas menatap cemas Namjoon yang terdiam
untuk beberapa detik. Itu juga terjadi pada seluruh orang di dalam ruang interview
dan semua orang yang sedang menonton video tersebut ketika itu diputar. Mereka
semua menanti dalam diam untuk hal yang Namjoon ingin sampaikan.
“Aku tahu kalau aku tidak bisa mengatakan ‘ayo
hanya melihat dan memikirkan hal-hal yang baik saja’ atau ‘mari kita hanya
menjalani kehidupan yang penuh kebahagiaan saja’. Itu adalah kebohongan besar.
Hidup selalu penuh dengan kontradiksi. Mereka memang bisa membawamu kepada
kebahagiaan level tertinggi; mereka juga bisa menarikmu turun hingga titik
keputusasaan terdalam.
Aku juga tidak bisa mengatakan setelah ini masa
depan hanya akan dipenuhi dengan hal-hal baik saja dan kau tidak akan terluka
lagi. Itu mustahil. Setelah ini bahkan kau mungkin akan menghadapi hal yang
lebih sulit daripada hari ini. Kau mungkin akan merasa bahwa terang tidak akan
pernah menyinari kehidupanmu lagi. Tapi aku sangat ingin mengatakan hal ini
padamu. Hari-hari penuh kebaikan akan datang. Jangan menyerah. Kau tidaklah
sendiri. Pasti ada seseorang yang peduli mengenaimu.
Dan untuk Jimin, Taehyung, dan Hoseok Hyung, kalian punya kami.”
Meskipun kau tahu dengan cukup pasti bahwa kau
tidak dapat melakukan banyak mengenai situasi tersebut, kau masih saja ingin
mencoba melakukan sesuatu. Setidaknya untuk berada di samping mereka. Hanya itu
saja.
☆☆☆☆☆☆☆
“Let’s run, run, run again!
It’s ok to fall down
Let’s run, run, run again!
It’s ok to be injured
I am happy enough even though I can’t get you
Curse me, this foolish destiny!”
Kerumunan penonton sudah mulai ikut menyanyikan bagian
chorus bersama Jungkook. Panggung masih terasa sangat panas bahkan begitu pula
dengan keramaian di bawahnya. Para anggota kru mengedarkan pandangan ke arah
penonton. Semua orang terlihat menikmati lagu tersebut. Sepertinya lagu mereka
sudah cukup sukses meraih hati para pendengarnya. Hati semua orang, dan semoga
saja itu termasuk hati teman-teman mereka yang mungkin sedang menyaksikan
siaran langsung ini dari tempat mereka berada. Jika itu dapat terjadi, maka ini
rasanya cukup untuk saat ini.
“(Run) Don’t tell me bye, bye
(Run) You make me cry, cry
(Run) Love is a lie, lie
Don’t tell me, don’t tell me
Don’t tell me bye, bye.”
THE END
Author’s Note:
Akhirnya tamat juga. Sebenarnya aku selalu merasa
khawatir dengan akhir dari cerita ini. Aku khawatir jika kalian tidak akan
menyukainya. Itu sebabnya saat cerita ini ditulis dua chapter terakhir adalah
chapter-chapter yang paling sulit. Tapi, karena sekarang aku sudah mengunggah
cerita ini, tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Penilaian tinggal tergantung
pada kalian. Aku sudah menyelesaikan cerita ini, sekarang giliran kalian. Jika
kalian menyukainya, boleh loh tinggalin komentar dan vote. :)
Dan untuk kata-kata terakhir, aku ingin memberi
kalian sebuah kutipan yang kurasa cocok untuk cerita ini meskipun bukan ide utama
dari cerita ini.
“Sosok muda itu bahagia karena ia memiliki
kemampuan untuk melihat keindahan. Siapa pun yang mempertahankan kemampuan
untuk melihat keindahan tidak pernah menjadi tua.” – Frans Kafka.
Kuharap
kalian semua tidak pernah menjadi tua dan semoga kalian semua selalu berbahagia.
See you next time or somewhere else. :)





















