[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Fourth Run
10:17 PM
FOURTH RUN
Just one day, if I can be
with you
Just one day, if I can hold your hands
Just one day, if I can be with you
Just one day
Just one day, if I can hold your hands
Just one day, if I can be with you
Just one day
“Yimo,
ibuku bilang kepiting saus kecap yang Yimo
bagi kemarin rasanya sangat lezat. Ibu ingin tahu apa dia boleh menanyakan
resepnya pada Yimo.”
“Tentu saja, kapan saja dia boleh tanyakan.”
Jin sedang berjalan masuk ke dalam rumahnya ketika dia
mendengar suara-suara yang familiar untuknya sedang berbicara. Salah satunya
adalah suara ibunya dan suara lainnya adalah Sohee, Jin mengenali para pemilik
suara tersebut. Jin tidak terburu-buru untuk masuk ke dalam rumah ketika dia
mengetahuinya. Malah dengan tenang dia melepaskan sepatunya. Jin sudah terbiasa
dengan Sohee yang keluar masuk di dalam rumahnya sejak mereka kecil. Orang tua
Sohee bekerja hingga larut malam. Mereka sering kali menitipkan Sohee kepada
ibu Jin hingga mereka pulang ke rumah. Ibu Jin adalah ibu rumah tangga.
“Kunci memasak kepiting saus kecap adalah kau harus
membeli kepiting yang masih hidup dua jam sebelumnya. Simpan di kulkas
pendingin hingga waktunya memasak. Dengan begitu kau akan mendapatkan daging
kepiting yang segar. Rasanya akan lebih lezat daripada kau memasak dengan
kepiting yang sudah kau beli beberapa waktu sebelumnya. Kepiting saus kecap
akan sempurna untuk dimakan setelah kau menyimpannya 3-4 hari setelah
memasaknya.”
Jin melihat ibunya sedang berbincang dengan Sohee
di meja makan. Sepertinya malam itu Sohee lagi-lagi makan malam di rumah Jin.
“Aku sudah pulang.” Jin menyapa ibunya.
“Oh, Jin! Kau pulang terlambat malam ini. Sudah
makan?” Ibu Jin berdiri dari kursi.
“Aku sudah makan dengan Yoongi sebelum pulang.” Jin
meletakkan tas punggung di salah satu kursi sebelum berjalan ke kulkas untuk
meraih minuman.
“Ya sudah. Tapi kalau kau masih ingin makan, ada
makanan sisa di dalam kulkas. Ayahmu mungkin tidak akan makan juga. Dia kerja
hingga larut juga hari ini.”
Jin mengangguk setelah menyesap minuman dinginnya. Setelah
meletakkan kembali botol air ke dalam kulkas, Jin bergerak menuju kamar
tidurnya. Ketika itu terjadi, Jin menyadari Sohee mengekorinya.
“Apa yang kau butuhkan dariku?” Jin bertanya
setelah menaruh tas punggung di atas meja belajar.
Sohee menutup pintu di belakangnya.
“Aku lihat kau dan Yoongi bersama dua murid kelas
satu setelah sekolah hari ini. Apa yang kalian lakukan dengan mereka?”
“Ini mengenai aku atau Yoongi kah yang ingin kau
ketahui?” Jin melipat lengannya.
“Tentu saja mengenai Yoongi. Ngapain aku mau tahu
urusanmu.” Gadis itu menepis rambut panjangnya ke belakang.
Sesaat Jin terlihat terluka oleh komentar tersebut
namun dia segera menyimpan ekspresi wajahnya.
“Yoongi ingin membentuk kru dengan mereka.” Jin
memutar tubuhnya untuk mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas. “Bisa keluar
dari kamarku? Aku mau ganti baju.”
“Kenapa Yoongi membuat kru lain? Bukannya dia sudah
bergabung dengan satu kru?” Sohee tidak mengindahkan permintaan tersebut.
“Dia berantem dengan mereka dan memutuskan untuk
keluar. Bisa nggak kau keluar dari kamarku? Aku sudah lelah hari ini.” Jin
memutar tubuh Sohee dan mendorongnya ke arah pintu.
“Kenapa Yoongi memilih dua anak itu? Dia kan sangat
pemilih soal bekerja dengan siapa.” Sohee masih berbicara ketika Jin
mendorongnya keluar.
Jin tidak menjawab pertanyaan tersebut. Ketika dia
baru saja beberapa langkah pergi dari pintu, Sohee kembali membuka pintu dan
melongok masuk.
“Tadi kau dan Yoongi makan apa sebelum pulang?”
Jin kehilangan kata-kata ketika mendengar
pertanyaan tersebut. “Kenapa kau tidak tanya sendiri ke Yoongi?” Ketika Jin
hendak menutup pintu kamarnya lagi, Sohee bertahan dengan keras kepala. “Kau
mau menyaksikan aku ganti baju?”
Jin membiarkan pintu terbuka dan mulai melepaskan
blazernya.
Kali ini Soheelah yang terpaku untuk sesaat sebelum
dia buru-buru menutup pintu kamar.
“Kayak Yoongi akan jawab saja kalau aku yang
tanya.”
Jin tidak bereaksi. Ini bukan sehari dua hari Sohee
menanyakan mengenai Yoongi padanya. Hal ini sudah berlangsung semenjak awal
tahun SMA mereka. Terjadi begitu saja. Suatu hari Sohee tiba-tiba saja menjadi
sangat tertarik mengenai Yoongi. Padahal sebelumnya dia selalu mengeluhkan
Yoongi yang bersikap kejam padanya setiap kali Jin bermain dengan pemuda itu. Yoongi
sering berbicara dengan serampangan kepada Sohee sejak mereka kecil. Yoongi
bisa menjadi sangat kejam kepada seseorang yang dia tidak minati. Tapi, kebanyakan
memang Yoongi tidak peduli dengan orang-orang. Dia hanya peduli pada dirinya
sendiri.
Bahkan Jin tidak dapat memutuskan apakah masuk ke
dalam lingkaran pertemanan pemuda itu berarti baik atau buruk. Yang Jin pahami
hanyalah dia sering kali terlibat dalam masalah karena sikap Yoongi. Suatu hari
beberapa pelajar dari sekolah tetangga mencegatnya di dekat gang buntu untuk
sebuah “percakapan”. Di hari yang lain seorang kakak kelas memperingatkan Jin
untuk berhati-hati kalau bertemu dengannya lagi. Dan, tahun ini, Jin berhasil
masuk ke dalam daftar murid nakal milik Park Sem. Sungguh betapa hebatnya hidup dan teman yang Jin miliki ini.
☆☆☆☆☆☆☆
“Apa yang akan kita lakukan dengan Suga Hyung dan Jin Hyung hari ini?” Taehyung
memulai percakapan dengan Namjoon setelah bel pelajaran berakhir
berbunyi.
Namjoon tidak menjawab dan Taehyung masih saja
berbicara.
“Apa kau tidak bersemangat mengenai ide kru ini?”
“Tidak terlalu.”
Namjoon telah menyelesaikan mengepak barang-barang
miliknya dari atas meja sementara Taehyung telah menyelesaikannya lebih dahulu
dari Namjoon. Dia tidak memiliki banyak barang di atas meja. Dia bahkan tidak
menyimak pelajaran sejak pagi. Yang Taehyung lakukan hanyalah mencoret-coret di
atas buku catatannya dengan pena. Pemuda itu selalu melakukannya hampir setiap
saat. Guru-guru tidak pernah memperhatikan Taehyung karena aktivitas itu
membuatnya terlihat seperti sedang mencatat pelajaran. Selain itu, dia juga
duduk di samping siswa terpandai di antara murid kelas satu.
“Tidakkah kita harus mulai memikirkan nama kru
kita? Semalam aku nonton SMTM 5 sebelum tidur. Rapper-rapper itu punya nama
panggung yang aneh-aneh. Apa aku harus membuat satu juga untukku?” Taehyung
mengikuti Namjoon yang berdiri dari kursi. Dia mengekori ketat pemuda tersebut
dan terus saja mengganggunya dengan obrolannya. Taehyung tidak memperhatikan
arah jalannya hingga dia menyebabkan masalah. Taehyung menabrak pelajar lain
ketika dia sedang hendak keluar dari pintu.
“Ouch!” Pelajar itu mengerang sakit ketika dia
terjengkang ke depan dan berakhir di atas lantai. Taehyung segera mengulurkan
tangan dan meminta maaf.
“Maaf, aku tida....”
Pelajar itu menampik uluran tangan tersebut dan
berdiri dengan usaha sendiri. Dia melarikan diri sebelum Taehyung dapat
mengucapkan hal lain.
Taehyung terlihat sangat terkejut untuk sesaat
karena sikap aneh pelajar tersebut.
“Kau lihat itu? Kau lihat itu? Dia Park Jimin. Dia
itu anak aneh yang kuceritakan padamu. Apak aku terlihat seperti punya penyakit
menular? Dia memperlakukanku seperti itu.” Taehyung memulai racauannya lagi.
Namjoon memutar matanya menanggapi hal itu dan
kembali berjalan.
“Apa masalahnya sebenarnya? Apa kau rasa dia lebih
anti sosial daripada kau?” Namjoon meliriknya tajam atas pertanyaan tersebut,
tetapi pemuda tersebut tidak menyadarinya. “Itu sangat buruk. Ini kan SMA,
terlebih lagi ini tahun pertama kita. Kita harus menikmatinya selagi bisa.”
Namjoon tidak mengatakan satu hal pun pada
Taehyung. Interaksi yang terjadi di antara mereka selalu seperti itu. Selalu
saja Taehyung yang melakukan pembicaraan sementara Namjoon hanya
mendengarkannya lewat sebelah telinga dan percakapan itu keluar lagi dari
telinga yang lain. Tapi, sesekali Namjoon akan mengatakan sesuatu jika dia
merasa hal itu diperlukan.
“Namjoon! Kau dengar aku kan?”
“Apa?”
“Haruskah kita ajak Jimin untuk bergabung dengan
kru? Kurasa itu akan menyenangkan untuknya. Kita bisa memiliki anggota lebih
banyak. Semakin banyak semakin menyenangkan.”
“Tidakkah kau harus bertanya pada Yoongi Hyung terlebih dahulu? Kurasa dia tidak
akan setuju kalau kau menambahkan satu lagi anggota yang tidak biasa ke dalam
kru.”
“Kau benar. Aku akan bertanya padanya saat
bertemu.”
“Bahkan jika dia mengizinkannya, itu tidak berarti
si Jimin ini akan setuju untuk bergabung. Seperti yang kau katakan, dia
menghindari orang-orang. Itu artinya dia tidak ingin orang-orang
memperhatikannya.”
“Kenapa dia tidak menyukai perhatian? Pada satu
titik pasti setiap orang menginginkan perhatian. Sejumlah perhatian yang wajar
pasti diidamkan, seperti sebuah pengakuan.”
“Dia bukan kau. Tidak semua orang merasakan hal
yang sama denganmu.”
“Kenapa?” Sekali lagi Taehyung menanyakan hal yang
sama.
Namjoon hanya mendesah. Percakapan ini tidak akan
menuju mana pun jika dibicarakan dengan Taehyung. Pemuda itu tidak akan pernah
memahami bahwa setiap orang bisa jadi sangat berbeda darinya. Tapi, yah, dia
juga tidak pernah menyadari bahwa Namjoon tidak ingin diganggu sejak hari
pertama mereka duduk bersebelahan. Taehyung akan menyusup masuk ke dalam zona
personal Namjoon setiap kali ia dapat lakukan hal itu. Namjoon pun yakin bahwa
Taehyung akan lakukan hal yang sama kepada Park Jimin.
“Suga Hyung!
Jin Hyung.” Tiba-tiba saja Taehyung
berteriak dan melambaikan tangannya dengan heboh ke arah dua sosok yang berdiri
sekitar 200 meter dari mereka. Keduanya baru saja keluar dari ruang kelas,
mungkin itu adalah kelas mereka.
Jin melambaikan tangan balik sedangkan Yoongi tidak
mengacuhkan lambaian tangan tersebut. Ia malah berjalan ke arah Namjoon.
“Hyung!
Aku sudah memikirkan beberapa nama untuk kru kita. Kau mau mendengarnya?”
Taehyung mengatakannya dengan bersemangat ketika Yoongi telah sampai di hadapan
mereka, yang diikuti Jin pula.
“Nanti saja.” Yoongi menjawab singkat kemudian
memindahkan perhatian ke arah Namjoon. “Apa aku boleh melihat buku catatanmu
lagi? Yang kapan itu isinya lirik-lirik tulisanmu.”
Taehyung tidak terlihat tersinggung dengan sikap
tersebut, malahan dia pindah bercakap-cakap dengan Jin yang terlihat kewalahan
mengikuti alur percakapannya.
“Tidak.” Namjoon menunjukkan ekspresi wajah yang
kaku. Memangnya dia pikir dia siapa? Beraninya menanyakan hal yang penting dari
Namjoon. Buku itu lebih penting daripada buku apa pun yang Namjoon miliki,
bahkan dari hal apa pun lainnya.
“Baiklah, aku sudah tahu itu. Kau punya waktu? Aku
ada beat untuk kau dengarkan. Mungkin
kau bisa terinspirasi dengannya. Aku butuh seseorang untuk berdiskusi.”
“Main setelah sekolah? Call, aku ikut! Ke mana kita akan pergi, Hyung? Ke rumahmu?” Taehyung menyela pembicaraan Yoongi dan Namjoon
sekali lagi.
Sungguh, sesekali Namjoon berpikir bahwa Taehyung
itu seperti seorang murid sekolah dasar daripada murid SMA. Dia tidak tahu dari
mana Taehyung mendapatkan sumber energinya untuk selalu hiperaktif setiap saat.
“Permisi, bisakah kalian tidak menghalangi pintu?
Aku harus keluar.” Seorang pelajar dari arah belakang Namjoon menyela pembicaraan
mereka. Dia terlihat sangat terburu-buru setelah beberapa kali mencoba untuk
menyusup keluar. Ini adalah waktunya pulang sekolah. Sebagian besar murid di
kelas itu memenuhi pintu kelas dan di pintu lain ada empat pelajar yang
menghalangi pintu dengan berdiri terlalu lama di depannya.
Namjoon segera berpindah ke samping, diikuti oleh
Yoongi, Taehyung, dan Jin. Mereka membuka jalan seperti yang laut merah lakukan
untuk Musa. Pelajar itu segera berjalan keluar dari kelas seperti seseorang
baru saja membakar api di bawah kakinya.
“Hoseok selalu tergesa-gesa seusai sekolah. Kalau
bukan karena waktu kerja paruh waktunya sudah dekat, itu pasti karena
adik-adiknya dalam masalah.” Jin mengatakannya ketika mereka memperhatikan
pelajar itu berlari.
Dia menjelaskan hal tersebut tidak kepada siapa
pun. Namjoon dan Yoongi tidak terlalu memperhatikan informasi tersebut, hanya
Taehyunglah yang terlihat sedikit janggal. Dia menatap ke arah pelajar itu
pergi hampir seperti tatapan merindu namun Namjoon cukup yakin bahwa Taehyung
tidak mengenal si Hoseok ini. Taehyung pun tidak punya saudara. Dia adalah anak
satu-satunya.
☆☆☆☆☆☆☆
“Saya datang. Di mana dia, Sonsaengnim?” Hoseok tersengal-sengal setelah berlari dari gedung
SMA ke gedung SMP.
Di ruangan tersebut ada seorang guru wanita
berambut pendek bob dengan kacamata berbingkai hitam yang duduk di salah satu
kursi sementara ada dua siswa lain yang sedang berlutut di lantai dengan kedua
tangan terangkat. Salah satu dari siswa itu adalah Howon, adik laki-lakinya dan
Hoseok tidak mengenal siswa yang satunya. Pemuda yang satu itu terlihat sangat
tampan meskipun wajahnya penuh dengan luka dan lembap. Hoseok menangkap aura
tak acuh darinya ketika mata mereka bertatapan.
“Apa yang dia lakukan kali ini, Sonsaengnim?” Hoseok berjalan ke arah
sang guru terlebih dahulu.
“Mereka ketahuan sedang berkelahi.”
“Sungguh? Oh, tidak. Saya minta maaf atas apa yang
terjadi, Sonsaengnim.”
“Ini sudah ketiga kalinya untuk Jung Howon Haksaeng terlibat dalam perkelahian. Kau
harus melaporkannya pada orang tuamu supaya mereka mendisiplinkannya. Mau jadi
apa dia kalau terus-terusan berkelahi? Preman?”
Hoseok mengernyit mendengar omelan dari guru
tersebut namun dia tidak mengatakan apa pun untuk menanggapinya. Dia malah
melirik ke arah adik laki-lakinya untuk melihat apakah adiknya terluka di suatu
tempat. Hoseok sudah terbiasa dengan omelan mengenai kelakuan buruk adik
laki-lakinya. Dia tidak terlalu mengambil hati mengenainya. Guru tersebut tidak
mengenal adik laki-lakinya. Hoseok mengenalnya. Dia tahu bahwa adik
laki-lakinya tidak akan berkelahi untuk hal yang tidak penting menurutnya.
Orang dewasa hanya akan melihat kulit luar dari suatu
masalah ketika hal tersebut terjadi pada seorang anak. Mereka hanya akan
berpikir bahwa anak tersebut berkelahi atau melakukan hal yang buruk karena
mereka memang buruk. Orang dewasa tidak akan membuang waktu untuk mencari tahu
alasan sesungguhnya. Mereka menghakimi secepat melihatnya, seperti mereka tidak
pernah berada dalam posisi seorang murid tersebut.
“Saya sungguh minta maaf, Sonsaengnim. Saya akan memastikan Howon tidak akan melakukannya
lagi. Apa dia mendapat hukuman?”
“Dia harus membersihkan toilet selama seminggu
dengan Jeon Jungkook Haksaeng.
Kuharap mereka bisa belajar untuk berteman dengan begitu.” Guru tersebut
menutup file kerjanya sambil membereskan barang-barangnya. Jam kerja sudah
berakhir sejak sejam setengah yang lalu. Dia terlihat sangat ingin segera
menyelesaikan masalah dan pulang.
“Saya akan membuat mereka paham dengan hal itu.
Terima kasih, Sonsaengnim. Apakah
Anda akan pergi sekarang? Orang tua dari anak ini tidak akan datangkah?”
Guru tersebut memandangi pemuda berwajah tampan di
sebelah Howon. “Ini adalah pertama kalinya dia berkelahi di sekolah dan dia
sudah berjanji tidak akan terlibat dalam masalah lain kalau aku tidak memanggil
ibunya.”
“Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan. Maaf
atas masalah yang Howon timbulkan.”
Guru tersebut mengucapkan perpisahan kepada mereka
dan meninggalkan ketiganya sendiri. Hoseok menatap ke arah kedua pemuda SMP
yang masih berada dalam posisi yang sama.
“Kalian sudah boleh berdiri loh. Gurunya sudah
pergi.”
Karena dia telah terbiasa dengan reaksi dari kakak
laki-lakinya untuk mengatasi masalahnya, Howon segera berdiri bahkan sebelum
Hoseok selesai dengan kalimatnya. Sementara itu, pemuda yang lain berdiri
secara perlahan dalam diam seakan menyesali perbuatannya.
“Kalau melihat kalian sepatuh ini bagaimana kalian
bisa terlibat dalam perkelahian tadi?” Hoseok terlihat terhibur oleh kedua
pemuda itu. Dia duduk di atas salah satu meja terdekat.
“Anak ini yang cari gara-gara duluan, Hyung.” Howon menunjuk pada pemuda di
sampingnya.
“Aku tidak melakukan apa pun. Kau yang memukulku
lebih dahulu.”
“Itu karena....”
Hoseok segera melerai keduanya sebelum mereka
memulai perkelahian lain.
“Aku tidak akan memarahi atau menghakimi kalian.
Aku tahu Howon tidak akan berkelahi dengan temannya kalau dia tidak merasa itu
hal yang penting.”
“Jadi kau pikir akulah masalahnya di sini?” Pemuda
yang lebih muda itu menyalang ke arahnya.
“Aku tidak berkata demikian. Aku percaya kau juga
anak yang baik. Jadi, ceritakan untuk alasan apa kalian bertengkar? Tidak usah
menunjuk satu sama lain. Ceritakan saja sudut pandang kalian tanpa emosi.”
Kedua pemuda itu terdiam untuk pertama kalinya.
Mereka memalingkan wajah terhadap satu sama lain. Hoseok menanti dengan sabar.
Dia berusaha untuk tidak melirik ke arah jam dinding. Tidak memikirkan bahwa
giliran kerjanya sebentar lagi dimulai.
Baiklah, dia kalah dalam pertarungan ini. Tidak ada
yang terlihat ingin berbicara. Hoseok akan benar-benar terlambat dan gajinya
yang sudah sangat sedikit itu akan semakin terpotong.
“Ayo pindah ke tempat lain.” Hoseok akhirnya
menyarankan hal tersebut.
Kedua pemuda itu segera meraih tas punggung mereka
dari atas lantai dan mengikuti Hoseok dengan patuh.
“Di mana Hara?” Hoseok bertanya ketika ia berjalan
melewati pintu.
Hoseok mendapati ekspresi meringis di wajah kedua
pemuda itu. Dia paham sekarang. Mereka bertengkar karena Hara. Mungkin Hara
melakukan sesuatu yang mengganggu Jungkook hingga membuatnya tidak nyaman dan
melakukan hal yang kasar padanya. Hal itu menyebabkan Howon berkelahi
dengannya. Meskipun Howon sering kali mengeluhkan kembarannya yang menyusahkan,
dia sangat peduli mengenai Hara. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti
Hara. Tapi di saat yang sama, Howonlah yang paling sering membuat Hara
menangis. Di antara mereka terdapat sebuah koneksi yang tidak dapat dimengerti
oleh Hoseok. Koneksi anak kembar terkadang adalah hal yang sulit dipahami.
Hoseok tidak ingin menghakimi dengan cepat seperti
orang-orang dewasa itu. Dia akan menanti hingga mereka menjelaskan alasan
sesungguhnya padanya.
☆☆☆☆☆☆☆
“Oleskan ini di wajah kalian jika kalian tidak
ingin besok luka-luka itu memburuk. Bersihkan dulu sebelumnya baru oleskan
salep pada luka dan es untuk mengompres lebam.” Hoseok meletakkan semangkuk air
es beserta handuk dan salep ke atas meja di pojok mini market. “Kalian saling
bantu untuk melakukannya. Aku harus mempersiapkan giliran kerjaku.”
Kedua pemuda itu saling memandang dan meringis. Hal
itu akan terasa aneh untuk dilakukan setelah berkelahi. Hoseok memahami hal
tersebut, namun dia membiarkan keduanya untuk menyelesaikan hal tersebut
sendiri sementara dia menyusun produk-produk ke rak pajangan. Membersihkan
tempat tersebut sebelum ada pelanggan masuk. Memastikan tempat itu terlihat
rapi.
Howonlah yang pertama kali mengalah. Dia meraih
handuk dari atas mangkuk dan menghadap ke arah pemuda lainnya. Namun temannya
itu hanya memelototinya ketika Howon mengulurkan handuk itu ke arahnya.
“Aku tahu. Ini juga membuatku merasa aneh. Aku
hanya ingin membantumu. Di sini tidak ada cermin. Kau tidak akan tahu di mana
saja letak lukamu.”
Jungkook meraih handuk dari Howon kemudian
mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. “Aku bisa melakukannya dengan
kamera depan ponselku, kau tahu?”
“Kau benar.” Howon menjawabnya dengan sarkastis.
Jungkook memutar matanya. Sementara itu Howon
mengambil handuk lain untuk membersihkan dirinya pula. Mereka mulai menangani
luka mereka masing-masing.
“Maaf karena sudah memukulmu.” Howon memulai
percakapan lagi setelah diam yang panjang terjadi.
“Tidak masalah. Aku juga memukulimu.”
“Tapi kau memang bersalah juga di sini. Kau
mendorong Hara terlalu keras sampai dia terjatuh. Dia itu perempuan, yah
meskipun terkadang lebih mirip laki-laki.” dia menambahkan di belakang.
“Aku tidak bermaksud membuatnya jatuh hanya saja
Hara sudah menggangguku selama berbulan-bulan. Aku tidak paham apa yang dia
inginkan dariku.”
“Dia menyukaimu, Bodoh! Bagaimana juara satu sepertimu
tidak memahami sikap yang sangat jelas itu?” Howon meletakkan handuknya untuk
memandangi Jungkook dengan serius. “Tapi aku peringatkan kau. Jangan pacaran
dengan saudaraku. Dia sangat aneh.”
Jungkook terkekeh.
“Apa? Aku serius di sini.”
“Kau sungguh lucu. Kau memukulku karena menolak
saudaramu, sekarang kau memperingatkanku untuk tidak menerimanya. Kau yakin
tidak memiliki kepribadian ganda?”
“Aku tahu ini tidak masuk akal tapi jangan
mendekatinya. Aku tidak ingin Hara terluka.”
“Bagaimana kau bisa yakin kalau aku akan melukai
saudaramu?”
“Memangnya kau percaya cinta monyet bisa bertahan
selamanya? Kau kan tidak tertarik padanya. Aku bisa lihat itu. Jangan buang
waktunya. Selain itu, aku juga tidak mau berada di posisi tidak menyenangkan
kalau suatu hari kalian berpacaran dan bertengkar.”
Jungkook menaikkan alis matanya dan menyeringai
tidak terlalu yakin dengan maksud Howon.
“Aku tidak ingin memilih antara teman dan saudara.
Biarkan aku hidup dengan damai, oke?”
“Apa kita teman?”
Howon terkesima ketika mendengar balasan tersebut. Untuk
sesaat terselip rasa malu di wajahnya namun dia segera menutupi hal tersebut.
“Baiklah, kita bukan teman sama sekali. Ini hanya membuatku merasa janggal.
Melihat saudara perempuanku berkencan dengan seseorang dari kelas yang sama
denganku. Bisakah kau berhenti memandangiku dengan pandangan mengejekmu itu?”
Howon melepaskan tinju ke arah lengan Jungkook
dengan canda. Dia memukul namun tidak sekeras sebelumnya. Jungkook hanya terkekeh.
“Aku anggap bahwa kalian berdua sudah berbaikan.
Ini terlihat lebih baik. Anak laki-laki boleh saja sering berkelahi satu sama
lain, tapi jangan buat itu menjadi alasan untuk saling membenci. Hidup terlalu
singkat untuk dihabiskan dengan membenci seseorang.” Hoseok menggantungkan
kedua lengannya di pundak kedua pemuda itu sesaat sebelum dia meletakkan dua
cup ramyeon di atas meja. “Makanlah sebelum kalian pulang ke rumah atau pergi
ke les privat.”
Hoseok tersenyum pada Jungkook. Dia tahu untuk anak
seperti Jungkook, dia pasti memiliki begitu banyak les privat yang harus
dihadiri setelah sekolah, tidak seperti Howon. Keluarga mereka terlalu miskin
untuk membiayai hagwon sementara
mereka harus memberi makan begitu banyak mulut di rumah.
“Apa aku boleh tinggal lebih lama di sini?” Jungkook
bertanya pada Hoseok. Dia terlihat sedikit ragu.
“Tidakkah kau harus mengikuti kelas di hagwon?” Hoseok hanya sekadar bertanya
namun hal itu segera membuat Jungkook kehilangan keyakinannya.
“Ngg... nggak jadi. Aku akan segera pergi setelah
selesai mengoles salep.”
Hoseok
menyadari sesuatu mengenai Jungkook namun dia tidak mengatakan apa pun selain,
“Kau bisa tinggal selama yang kau inginkan tapi aku beri tahu sebelumnya kau
akan bosan. Tidak ada hal yang bisa kau lakukan di sini. Dan untukmu, Jung
Howon, kau harus segera pulang ke rumah.”
“Aku harus pulang?” Hoseok menangguk menjawab
pertanyaan adiknya. “Kau tidak adil, Hyung!
Jungkook boleh tinggal tapi kau menyuruhku pulang.”
“Tidak ada berdebat denganku. Ini adalah hukumanmu
karena berkelahi dengan teman. Kau tidak boleh keluar rumah setelah jam sekolah
selama seminggu. Tidak ada video game
untukmu juga.”
“Tapi, kau tadi bilang kau tidak akan menghukumku
sebelumnya!”
“Berkelahi ya berkelahi, Jung Howon. Tidak semua
hal harus diselesaikan dengan tinju. Kau harus belajar hal itu.”
Howon merasa dikhianati. Dia menghempaskan kakinya
sambil meraih tas punggung dari atas meja.
“Sampai jumpa besok di sekolah. Sekarang aku harus
menerima penghargaan dari Yang Mulia dengan lapang dada.” Howon
tidak lupa mengeluarkan sarkasme ketika ia mengucapkan perpisahaan.
Hoseok tertawa kecil.
☆☆☆☆☆☆☆
Suka dengan cerita ini? Bisa lanjut baca di postingan dengan tag "Youth of Lily". Cerita ini sudah lama kubuat, dalam Bahasa Inggris. Kalau agak janggal, itu karena terjemahanku dari Bahasa Inggris dari ceritaku sendiri selalu terasa aneh. Wkwkwk. Aku belum selesai nerjemahin fan fic ini dan kalau di web ini sebenarnya sudah sampai chapter 12. Lanjutannya pelan-pelan akan kuupdate setelah kelar menerjemahkan Demian.






















2 comments
kalau bisa cepat lanjut yah ka.. hehe, suka banget sama ceritanya
ReplyDeleteMudah-mudahan bisa cepat. Tergantung mood nulis #heh
Delete