Harap dibaca ya! Catatan sebelum membaca:
MOHON MAAF SEBELUMNYA, KARENA ADA SUATU HAL, TERJEMAHAN INI HARUS KUHAPUS DARI BLOG.
Jangan tanyakan alasannya karena belum ada kepastian mengenai hal ini. Tapi tenang saja, aku akan usahakan agar kalian bisa membaca Omelas ini lagi, atau bahkan lengkap dengan kumpulan cerita pendek dari Ursula Le Guin yang lainnya. ^^ Sebagai ganti karena ceritanya harus kuhapus dari blog, aku akan menerjemahkan pembahasan mengenai cerpen Omelas ini.
Bagi yang belum tahu, The Ones who Walk Away from Omelas itu hanya berupa salah satu cerita pendek dari buku The Wind's Twellve Quarters: Short Stories. Nama Omelas ini sempat muncul di dalam MV Spring Day BTS. Tentang apa sih cerita pendek yang menjadi sumber referensi video terbaru BTS?
Pertama-tama, Mereka yang meninggalkan Omelas merupakan sebuah kisah fiksi pendek tanpa plot yang filosofis, hanya berupa deskripsi saja. Cerita pendek ini ditulis oleh Ursula Le Guin pada tahun 1973 dan sempat mendapat nominasi di Locus Award untuk kategori Best Fiction di tahun 1974 dan memenangkan Hugo Award untuk kategori Best Short Story di tahun yang sama pula.
Pada cerpen ini, narator mendeskripsikan mengenai festival musim panas pada sebuah kota yang utopis bernama Omelas yang keberuntungannya bergantung pada kemalangan seorang anak.
Cerita ini dimulai dari sebuah deskripi mengenai hari pertama musim panas di Omelas, sebuah kota yang berkilauan oleh kebahagiaan dan kesenangan. Di Omelas, musim panas solstice dirayakan dengan festival besar-besaran dan sebuah pertandingan yang diikuti oleh anak-anak di atas punggung kuda. Suasana cerita dari festival tampaknya merupakan karakter sehari-hari dari komunitas yang menyenangkan ini, yang masyarakatnya, meskipun teknologinya terbatas, namun semuanyamasih sangat cerdas, mutakhir, dan berkebudayaan. Di Omelas tidak ada raja, tentara, pendeta, atau bahkan budak. Pengaturan spesifik mengenai sosial-politik-ekonomi dari komunitas tersebut tidak disebutkan, namun narator hanya menjelaskan bahwa pembaca tidak bisa terlalu merasa pasti mengenai setiap hal.
Diakuinya sendiri, narator mengatakan bahwa "Di dalam penjelasanku, Omelas terdengar seperti sebuah negeri dongeng yang jauh pada suatu kala. Mungkin akan lebih baik jika kau membayangkannya sesuai imajinasimu sendiri."
Semua hal mengenai Omelas terasa sangat menyenangkan hingga narator memutuskan bahwa pembaca tidak terlalu meyakini keberadaan kota tersebut hingga akhirnya dia membongkar satu hal penting mengenai kota tersebut: satu kekejaman dari kota tersebut. Situasi damai dan megah itu memerlukan seorang anak yang tidak beruntung untuk dikurung dalam tempat yang kotor, gelap, dan penuh kesengsaraan.
Suatu kali ketika para penghuni kota sudah cukup tua untuk mengetahui kebenaran tersebut, kebanyakan dari mereka pada awalnya terkejut dan merasa jijik, namun akhirnya menyetujui bahwa satu ketidakadilan itu mengamankan kebahagiaan seluruh kota. Namun, beberapa orang, tua dan muda, diam-diam meninggalkan kota tersebut dan tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi. Cerita berakhir dengan "Tempat tujuan mereka pergi adalah sebuah tempat yang bahkan lebih sulit untuk diimajinasikan oleh kebanyakan orang daripada saat kita membayangkan kota penuh kebahagiaan. Aku tidak dapat mendeskripsikan semuanya. Mungkin saja itu tidak pernah ada. Tapi mereka terlihat mengetahui ke mana mereka sedang menuju, mereka yang meninggalkan Omelas.
Penulis, Le Guin menyatakan bahwa ide sentral mengenai mitos ini adalah mengenai 'kambing hitam', beliau mengatakan ide ini pernah muncul di buku Dostoyevsky - Brothers Karamazov, dan beberapa orang sempat menanyakan, mengapa beliau malah memberi kredit pada William James. Faktanya adalah, meskipun beliau sangat menyukai buku-buku Dostoyevsky, beliau sempat melupakan bahwa ide tersebut pernah digunakan oleh penulis tersebut. Namun ketika beliau menemukan esai William James yang berjudul "The Moral Philosopher and the Moral Life', beliau sangat terkejut.
Ada sebuah kutipan dari William James yang menginspirasi Le Guin:
Pertama-tama, Mereka yang meninggalkan Omelas merupakan sebuah kisah fiksi pendek tanpa plot yang filosofis, hanya berupa deskripsi saja. Cerita pendek ini ditulis oleh Ursula Le Guin pada tahun 1973 dan sempat mendapat nominasi di Locus Award untuk kategori Best Fiction di tahun 1974 dan memenangkan Hugo Award untuk kategori Best Short Story di tahun yang sama pula.
Pada cerpen ini, narator mendeskripsikan mengenai festival musim panas pada sebuah kota yang utopis bernama Omelas yang keberuntungannya bergantung pada kemalangan seorang anak.
Cerita ini dimulai dari sebuah deskripi mengenai hari pertama musim panas di Omelas, sebuah kota yang berkilauan oleh kebahagiaan dan kesenangan. Di Omelas, musim panas solstice dirayakan dengan festival besar-besaran dan sebuah pertandingan yang diikuti oleh anak-anak di atas punggung kuda. Suasana cerita dari festival tampaknya merupakan karakter sehari-hari dari komunitas yang menyenangkan ini, yang masyarakatnya, meskipun teknologinya terbatas, namun semuanyamasih sangat cerdas, mutakhir, dan berkebudayaan. Di Omelas tidak ada raja, tentara, pendeta, atau bahkan budak. Pengaturan spesifik mengenai sosial-politik-ekonomi dari komunitas tersebut tidak disebutkan, namun narator hanya menjelaskan bahwa pembaca tidak bisa terlalu merasa pasti mengenai setiap hal.
Diakuinya sendiri, narator mengatakan bahwa "Di dalam penjelasanku, Omelas terdengar seperti sebuah negeri dongeng yang jauh pada suatu kala. Mungkin akan lebih baik jika kau membayangkannya sesuai imajinasimu sendiri."
Semua hal mengenai Omelas terasa sangat menyenangkan hingga narator memutuskan bahwa pembaca tidak terlalu meyakini keberadaan kota tersebut hingga akhirnya dia membongkar satu hal penting mengenai kota tersebut: satu kekejaman dari kota tersebut. Situasi damai dan megah itu memerlukan seorang anak yang tidak beruntung untuk dikurung dalam tempat yang kotor, gelap, dan penuh kesengsaraan.
Suatu kali ketika para penghuni kota sudah cukup tua untuk mengetahui kebenaran tersebut, kebanyakan dari mereka pada awalnya terkejut dan merasa jijik, namun akhirnya menyetujui bahwa satu ketidakadilan itu mengamankan kebahagiaan seluruh kota. Namun, beberapa orang, tua dan muda, diam-diam meninggalkan kota tersebut dan tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi. Cerita berakhir dengan "Tempat tujuan mereka pergi adalah sebuah tempat yang bahkan lebih sulit untuk diimajinasikan oleh kebanyakan orang daripada saat kita membayangkan kota penuh kebahagiaan. Aku tidak dapat mendeskripsikan semuanya. Mungkin saja itu tidak pernah ada. Tapi mereka terlihat mengetahui ke mana mereka sedang menuju, mereka yang meninggalkan Omelas.
Penulis, Le Guin menyatakan bahwa ide sentral mengenai mitos ini adalah mengenai 'kambing hitam', beliau mengatakan ide ini pernah muncul di buku Dostoyevsky - Brothers Karamazov, dan beberapa orang sempat menanyakan, mengapa beliau malah memberi kredit pada William James. Faktanya adalah, meskipun beliau sangat menyukai buku-buku Dostoyevsky, beliau sempat melupakan bahwa ide tersebut pernah digunakan oleh penulis tersebut. Namun ketika beliau menemukan esai William James yang berjudul "The Moral Philosopher and the Moral Life', beliau sangat terkejut.
Ada sebuah kutipan dari William James yang menginspirasi Le Guin:
Atau jika kita ditawarkan sebuah hipotesa mengenai dunia, maka dunia utopis Fourier dan Bellamy dan Morris harus dimenangkan, dan berjuta-juta orang bertahan untuk terus bahagia dengan satu syarat simple bahwa sebuah jiwa yang tersesat di ujung dari semua hal harus menjalani penyiksaan hidup yang sepi. Kecuali, emosi seperti perasaan skeptis dan ingin mandiri itu yang akan dapat muncul akan membuat kita sekejap merasakan, meskipun hanya dari sebuah dorongan singkat yang bangkit di dalam diri kita, untuk meraih kebahagiaan yang ditawarkan. Betapa mengerikannya sebuah hal dapat menjadi kenikmatan ketika diterima secara sukarela sebagai hasil dari tawar menawar seperti itu.
Cerita pendek ini sempat dua kali dibukukan dalam "The Wind's Twelve Quarter" dan "The Unreal dan the Real, volume two". Le Guin menyatakan bahwa "Mereka yang meninggalkan Omelas" seringkali digunakan oleh banyak guru untuk membuat kecewa para siswa dan membuat mereka mendebat secara keras mengenai moralitas.
Nah, setelah membaca pembahasan dan latar belakang cerita ini terbentuk, apakah kalian sudah mulai memahami mengenai apa cerpen tersebut dan alasan BTS menggunakan ini sebagai referensi Spring Day?
Siapa anak ini, atau lebih tepatnya apa anak ini (kata ganti untuk menunjukkan the child ini menggunakan kata ganti penunjuk benda, bukan orang)? Kira-kira kenapa ya? Hmmm... Leave your comment below!
PS: ternyata setelah kubaca kumcer lengkapnya, ada satu cerpen lagi dalam The Wind's Twelve Quarter yang menyebutkan mengenai Omelas. Yang mana? Hehehe... tunggu kabarku selanjutnya.
- Diterjemahkan dan ditulis ulang dari halaman Wikipedia-
Siapa anak ini, atau lebih tepatnya apa anak ini (kata ganti untuk menunjukkan the child ini menggunakan kata ganti penunjuk benda, bukan orang)? Kira-kira kenapa ya? Hmmm... Leave your comment below!
PS: ternyata setelah kubaca kumcer lengkapnya, ada satu cerpen lagi dalam The Wind's Twelve Quarter yang menyebutkan mengenai Omelas. Yang mana? Hehehe... tunggu kabarku selanjutnya.
Buku fisik Demian dalam Bahasa Indonesia sekarang sudah ready stock! Info bisa cek ke line OA: @fsk5729i (Purple Land Shop). Biasakan membaca informasi terlebih dahulu sebelum bertanya. :)























