Obsession
-Diinspirasi dari lagu The Script-No ‘Good’ in
‘Goodbye’-
Dia menatap sosok di dalam cermin. Sosok itu bukan
dirinya. Siapa yang memiliki mata bulat seperti bola kelereng, berlipat dua
pada kelopak? Hidungnya tidak pernah setinggi itu sebelumnya. Bentuk wajahnya
tidak sesempurna itu. Rahangnya tidak setirus itu. Itu bukan dirinya!
Where’s the ‘good’ in ‘goodbye’?
***
Hari ini lagi-lagi ia memandangi sosok itu dari jauh.
Untuknya, sosok itu adalah sesuatu yang tak akan pernah ia bisa gapai. Satu hal
tentangnya yang membuat Rani menyukainya, ia selalu baik pada siapa pun tanpa
memandang status dan jabatan dari orang yang dihadapinya.
“Pagi, Rani,” sapa sosok itu begitu berada di hadapannya.
“P-pagi, Aksel,” ia gelagapan membalas sapaan Aksel yang
selalu terucap setiap kali mereka bertemu. Mendengar suaranya yang seperti
tikus mencicit, wajah Rani segera memanas. Ingin sekali ia mencari lubang dan
bersembunyi di sana.
Rani tahu dirinya bersikap sangat canggung pada Aksel.
Namun ia tidak bisa memungkiri bahwa ia tidak punya nyali untuk menghadapi
Aksel. Menatap matanya.
“Sel, buruan meeting sudah mau mulai.”
Seorang perempuan memanggil Aksel yang terlihat ingin berbicara dengan Rani.
Perempuan itu adalah staff lain dari acara J-O Radio ‘The Unspoken’,
acara yang selalu ditunggu Rani setiap Sabtu malam karena acara itu dipandu
oleh Aksel.
“Iya, bentar.” Aksel menoleh pada Rani. “Duluan ya,
Rani.”
Apa Rani sudah mengatakan bahwa ia juga sangat menyukai
suara Aksel? Sedikit dalam tapi lembut dan menenangkan.
“Iya.” Rani tersenyum lemah. Ia menatap punggung yang
menjauh itu dan menghela napas.
***
Rani menghela napas ketika memandangi wajahnya di dalam
cermin di salah satu toilet di gedung tempatnya bekerja. Setiap kali ia menatap
sosok lainnya, setiap kali itu pula ia selalu memikirkan satu kata yang bisa
diikuti berbagai pasangan kata lainnya.
Seandainya...
Seandainya tubuhnya lebih ramping.
Seandainya bentuk wajahnya lebih tirus.
Seandainya Rani memiliki fisik yang indah.
Rani sangat membenci penampilannya. Ia benci wajahnya.
Ia tidak menyukai bibirnya yang tebal. Kulitnya yang sawo matang. Ia juga benci
rambutnya yang ikal dan kelam.
***
“Gendut... gendut... Rani jelek!” Tawa canda anak
kecil terus berulang.
“Tidak!” Tawa itu tercampur dengan
tangisan penolakan untuk ejekan tersebut.
Rani terbangun dengan peluh mencucur di sekujur badan.
Tubuhnya bergetar hebat oleh emosi yang dirasakan. Rani membuka kepalan tangan
dan melihat jejak kuku terukir dalam pada telapak tangannya yang kuning pucat.
Rani, stop it! Rani terus mengucapkan kalimat itu dalam hati.
Ia tahu ia tidak boleh melakukan hal ini. Ia tahu
pemikiran ini tidak baik untuk hati, tetapi itu tidak bisa dihindari. Ingatan
tentang hari itu masih saja menghantui, bahkan lebih buruk dari sekadar mimpi
buruk. Ini seperti neraka.
Rani menghela napas panjang setelah mampu mengendalikan
diri. Ia melirik jam yang dipajang di atas lemari samping tempat tidur.
Pukul 07.00. Ia harus segera bersiap untuk pergi ke
kantor.
***
“Sore, Rani,” sapa suara yang dalam nan lembut dan
menenangkan itu. Rani yang sedang menikmati kopi sendiri di kafetaria kantor
menoleh ke belakang.
Sreg... Brak... Rani nyaris terjatuh dari tempat duduknya
karena terkejut melihat sosok di belakangnya.
“Loe nggak apa-apa?”
“Aksel... eh, nggak apa-apa.” Rani segera menyingkirkan
tubuhnya dari sentuhan Aksel yang menahan agar Rani tidak terjatuh.
“Kayaknya sekarang setiap kali ketemu gue, loe selalu
jatuh.” Aksel berkomentar sambil duduk di sebelah Rani. Ia menatap ke arah luar
jendela kaca kafetaria yang terletak di lantai empat gedung.
Rani bergeser menjauh untuk menjaga debaran hatinya agar
tidak semakin kencang. Ia takut. Takut kalau debaran itu akan terdengar oleh
pemuda di sisinya.
“Nggak kok, cuma kebetulan.” Dengan susah payah, Rani
akhirnya mampu menjawab celetukan Aksel.
“Jauh amat duduknya, Ran.” Aksel mendekatkan bangkunya
pada Rani dan menatap Rani.
Ada apa? Rani merasa tatapan itu menyadarkannya akan
keanehan dalam diri. Ia menyentuh wajah. “Gua pergi dulu ya.” Rani beranjak
dari kursinya, dengan canggung segara memutus pertemuan tak disengaja itu.
Ia merasakan perasaan tidak nyaman kembali hinggap di
hatinya.
“Buru-buru amat, Ran. Sudah mau siaran?”
Rani tidak menjawab pertanyaan Aksel. Rani setengah
berlari menjauh dari Aksel, memasuki toilet perempuan terdekat. Ia menempelkan
punggung di dinding toilet dan merosot hingga berjongkok.
Ia merasakan dadanya begitu sesak. Matanya terasa sangat
panas.
I can take this mistake. But, I can’t take the
ache from heartbreak.
Rani menatap sosok diri di dalam cermin. Matanya memerah.
Lingkaran hitam di bawah mata terlihat mengerikan. Hidung tinggi dan bibir
tipisnya seolah mengejek. Ia ingin menghancurkan pantulan dirinya. Ia tidak
akan pernah bisa mengembalikan semua yang telah terjadi.
***
Semua berawal dari saat itu.
"Kayaknya ada yang aneh dengan loe dan Rani."
Rani mendengar namanya disebut ketika ia berjalan di koridor depan ruangan yang
ditempati Aksel dan teman perempuan yang Rani kenal bernama Eileen.
"Apa yang aneh? Gue baik-baik saja sama dia."
Aksel malah bertanya balik dengan gaya cueknya. Ia mengelap tempurung kura-kura
betinanya agar terlihat bersih.
"Kelewat baik. Tiap ketemu selalu saja ngajak dia
ngobrol dulu. Eh, loe sama Rani bukannya sudah kenal lama ya?"
"Hmh..." Aksel tidak menjawab dengan jawaban
pasti. Hanya menggumam.
"Loe dan Rani pernah jadian?"
Aksel menatap dramatis pada Eileen. "Gue sama Rani?
Amit-amit da’"
"Loh kenapa? Rani kan cantik, keren pula. Loe nggak
pernah dengarin dia nge-DJ sih. Sukses bikin gue pengen jalan-jalan mulu."
Temannya melirik. "Ah gue tahu. Loe sama Rani tipikal yang kucing-anjing
waktu kecil ya? Eh tapi nggak benar juga, loe kayaknya baik sama Rani."
Aksel memukul bahu Eileen pelan, menghindar untuk
menjawab. "Loe kebanyakan nonton drama Korea."
"Jadi loe sama Rani punya rahasia apa?" Eileen
tidak menyerah untuk mengorek informasi tersebut. Rani yang berdiri di depan
pintu ruangan juga masih mendengarkan.
Aksel menatap dinding ruangan yang berwarna abu-abu
metalik tersebut. Terdiam selama beberapa saat. Detik-detik itu sangat menyiksa
setiap orang yang ingin tahu sebuah jawaban. Rani pun sama.
"Gue... nggak suka cewe yang ber-make-up tebal,
apalagi yang terlalu terobsesi dengan kecantikan luar dan mau melakukan apa pun
demi jadi cantik."
Rani tahu. Ia selalu tahu Aksel tidak mungkin
menyukainya. Ia tahu bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menjadi seseorang
yang berbeda.
No matter how it falls apart.There’s an ‘art’ in breaking hearts.
***
“Aksel, main yuk.” Gadis kecil berusia tujuh tahun,
dengan rambut diikat dua tinggi, menarik lengan anak laki-laki di sampingnya
yang sedang sibuk sendiri dengan mainannya yang khas anak laki-laki.
“Ih... sana ah! Aku nggak mau main sama kamu.” Anak
laki-laki itu mendorong anak perempuan itu keras hingga terjatuh.
Anak perempuan itu mulai menangis keras. “Kenapa?
Kenapa Aksel nggak mau main sama Rani?”
“Karena kamu jelek!”
Rani terbangun dengan peluh membasahi dahi. Telinganya
masih terus berdenging dan mengiangkan kalimat yang berasal dari suara yang
selalu menghantui selama beberapa tahun.
Napas Rani tersengal. Rani berlari ke kamar mandi di
dalam ruangannya. Ia menatap lurus pada cermin namun ia tidak dapat mengenali
pantulan dalam cermin. Siapa sosok di dalam sana?
“Arghhhhh!!!!!!” Rani berteriak keras sambil berjongkok
menutup telinganya. Ia tidak ingin mengingat apapun. Tidak dengan sosok di
dalam cermin itu. Ia tidak tahu siapa sosok yang ada di dalam sana.
Where’s the ‘good’ in goodbye to myself?
***
Tok...Tok...Tok...
“Rani... Ran...” Rani mengangkat wajahnya, sontak
bergerak mundur merapat pada kepala tempat tidurnya. Ia tahu suara itu. Untuk
apa dia datang ke sini? “Buka pintu, Ran.”
Rani tidak menyahut.
Ketukan itu terus terdengar namun samar dan perlahan.
“Ada apa sama loe? Kata nyokap loe, loe histeris malam-malam.”
“Pergi, Sel.”
“Loe bisa ngomong sama gue.”
Rani mengambil bantalnya dan melempar ke arah pintu. “Gue
bilang pergi! Gue nggak mau ketemu sama loe!”
Rani terus melempar barang-barang yang bisa dijangkaunya.
Ia tidak ingin mendengar apa pun yang dikatakan Aksel.
***
“Tada... Lihat donk muka gue. Cakep kan sekarang.” Rani
berlari ke rumah Aksel, mendekati Aksel yang sedang membaca buku di sofa, hanya
untuk memamerkan hasil terbaru dari usahanya mempercantik diri. Saat itu Rani
masih merupakan mahasiswi dari salah satu universitas ternama di Depok, sama
dengan Aksel.
“Dari mana saja loe seminggu ini?” tanya Aksel tanpa
memandang Rani.
“Ih, lihat gue donk!” Rani memutar pundak Aksel paksa.
Aksel berdecak kesal. “Apa sih?”
“Bagus nggak?” Rani memainkan kedua tangannya di bawah
dagu untuk mengarahkan fokus mata Aksel. Aksel menatapnya lama. Harapan Rani
telah melambung tinggi saat ia melihat reaksi Aksel.
Ya, Rani akui. Ia memang sedikit... sangat terobsesi
untuk membuat Aksel menarik perkataan sewaktu kecil. Ia ingin membuat Aksel
melihatnya cantik.
Aksel mendengus dan membuang muka. “Jelek.”
Setiap kali Rani berpikir telah berhasil. Setiap itu
pula, Aksel selalu mengatakan hal yang berlawanan dari yang Rani harapkan.
Aksel selalu saja berhasil menghancurkan kepercayaan dirinya.
***
Rani, sekarang.
Tok... Tok... Tok...
“Rani.” Kali ini suara yang berbeda terdengar dari
sebelumnya. Rani tahu itu adalah suara milik ibunya. “Kamu sama Aksel kenapa
lagi?”
Rani terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan
ibunya. Sejak awal hal ini memang hanya sepihak. Hanya ia saja yang terobsesi
akan pengakuan Aksel.
“Rani, sayang. Nak..” Ibunya masih saja berusaha membujuk
Rani untuk keluar.
“Biarkan aku sendiri saat ini, Bu.” Rani akhirnya
menjawab. Ia tidak sampai hati mendengar ibunya terus memohon.
“Ya sudah kalau kamu maunya begitu.” Ibunya akhirnya
mengerti keinginan Rani. “Aksel tadi titip pesan. Katanya nyalain radio.”
Rani tercenung mendengar pesan itu. Apa yang Aksel ingin
ia dengar? Ia tidak ingin mendengar perkataan Aksel yang akan menyakitinya
sekali lagi. Tapi, Rani ingin mendengar suara Aksel.
Rani bergerak untuk menyalakan radio di atas lemari kecil
berwarna merah muda pastel di samping tempat tidur.
Suara musik samar terdengar dari speaker radio
milik Rani.
“J-O Radio 99.9 FM, kembali lagi dengan gue Aksel.
Sobat The Unspoken,
tadi kita sudah dengarkan The Script dengan Never
Seen Anything ‘Quite Like You’. Menyambung lagi dengan yang kita bicarain
tadi, Admiration. Sobat The Unspoken, apakah
kalian pernah mengagumi seseorang dalam bentuk apa pun? Baik dia itu cantik,
baik, atau apa pun. Kalau gue sih pernah, pada Lucia, eh kalau itu sih nama
kura-kura gue. ”
Kekaguman yang tak terucapkan, hal itu membuat pikirannya
otomatis tertuju pada Aksel. Ia masih bertanya-tanya apa yang ingin Aksel
katakan lewat siaran ini. Yang jelas, kekaguman itu tentu saja bukan
tentangnya. Aksel tidak mungkin mengatakan hal itu padanya. Ia bisa mengatakan
hal itu pada semua orang kecuali padanya. Apakah ini yang dimaksud Aksel?
"Jika hal itu disimpan seorang diri saja, mungkin
akan menyelamatkan loe dari a moment of embarrassment, tapi ketika
diucapkan mungkin saja hal tersebut bisa saja menyelamatkan seseorang.
Sekarang, gue akan bacain email satu ini.
“Ini dimulai saat gue masih kecil. Ada satu orang
anak perempuan yang selalu gue ejek. Tiap kali ketemu, satu hal yang pasti gue
lakuin. Itu adalah bikin dia nangis."
Rani menyimak isi surat yang dibacakan oleh Aksel. Ia
merasa cerita surat tersebut tidaklah asing. Apakah ini yang Aksel ingin Rani
dengar? Mengapa?
"Seandainya waktu itu gue sempat ungkapin apa
yang dia pengen dengar, mungkin saat ini dia nggak akan berubah sedrastis
ini. "
Kenangan masa kanak-kanaknya kembali terkilas di dalam
benak.
"She is beautiful. I mean, she’s always beatiful
even back then. Tapi, gue tahu kalaupun sekarang gue ngomong tidak akan
merubah apapun."
Dan setetes airmata turun mendengar perkataan Aksel di
radio.
If I could turn back time then I would re-write
those scenes. Those decisions.
***
sumber foto:
http://di9.in/view/headphone-800x600.html





















