[Cerpen] Obsession

5:29 PM



Obsession
-Diinspirasi dari lagu The Script-No ‘Good’ in ‘Goodbye’-


Dia menatap sosok di dalam cermin. Sosok itu bukan dirinya. Siapa yang memiliki mata bulat seperti bola kelereng, berlipat dua pada kelopak? Hidungnya tidak pernah setinggi itu sebelumnya. Bentuk wajahnya tidak sesempurna itu. Rahangnya tidak setirus itu. Itu bukan dirinya!

Where’s the ‘good’ in ‘goodbye’?
***

Hari ini lagi-lagi ia memandangi sosok itu dari jauh. Untuknya, sosok itu adalah sesuatu yang tak akan pernah ia bisa gapai. Satu hal tentangnya yang membuat Rani menyukainya, ia selalu baik pada siapa pun tanpa memandang status dan jabatan dari orang yang dihadapinya.
“Pagi, Rani,” sapa sosok itu begitu berada di hadapannya.

“P-pagi, Aksel,” ia gelagapan membalas sapaan Aksel yang selalu terucap setiap kali mereka bertemu. Mendengar suaranya yang seperti tikus mencicit, wajah Rani segera memanas. Ingin sekali ia mencari lubang dan bersembunyi di sana.

Rani tahu dirinya bersikap sangat canggung pada Aksel. Namun ia tidak bisa memungkiri bahwa ia tidak punya nyali untuk menghadapi Aksel. Menatap matanya.

“Sel, buruan meeting sudah mau mulai.” Seorang perempuan memanggil Aksel yang terlihat ingin berbicara dengan Rani. Perempuan itu adalah staff lain dari acara J-O Radio ‘The Unspoken’, acara yang selalu ditunggu Rani setiap Sabtu malam karena acara itu dipandu oleh Aksel.

“Iya, bentar.” Aksel menoleh pada Rani. “Duluan ya, Rani.”
Apa Rani sudah mengatakan bahwa ia juga sangat menyukai suara Aksel? Sedikit dalam tapi lembut dan menenangkan.
“Iya.” Rani tersenyum lemah. Ia menatap punggung yang menjauh itu dan menghela napas.

***

Rani menghela napas ketika memandangi wajahnya di dalam cermin di salah satu toilet di gedung tempatnya bekerja. Setiap kali ia menatap sosok lainnya, setiap kali itu pula ia selalu memikirkan satu kata yang bisa diikuti berbagai pasangan kata lainnya.

Seandainya...
Seandainya tubuhnya lebih ramping.
Seandainya bentuk wajahnya lebih tirus.
Seandainya Rani memiliki fisik yang indah.


Rani sangat membenci penampilannya. Ia benci wajahnya. Ia tidak menyukai bibirnya yang tebal. Kulitnya yang sawo matang. Ia juga benci rambutnya yang ikal dan kelam.
***

“Gendut... gendut... Rani jelek!” Tawa canda anak kecil terus berulang.
Tidak!” Tawa itu tercampur dengan tangisan penolakan untuk ejekan tersebut.

Rani terbangun dengan peluh mencucur di sekujur badan. Tubuhnya bergetar hebat oleh emosi yang dirasakan. Rani membuka kepalan tangan dan melihat jejak kuku terukir dalam pada telapak tangannya yang kuning pucat.

Ranistop it! Rani terus mengucapkan kalimat itu dalam hati.

Ia tahu ia tidak boleh melakukan hal ini. Ia tahu pemikiran ini tidak baik untuk hati, tetapi itu tidak bisa dihindari. Ingatan tentang hari itu masih saja menghantui, bahkan lebih buruk dari sekadar mimpi buruk. Ini seperti neraka.

Rani menghela napas panjang setelah mampu mengendalikan diri. Ia melirik jam yang dipajang di atas lemari samping tempat tidur.

Pukul 07.00. Ia harus segera bersiap untuk pergi ke kantor.

***

“Sore, Rani,” sapa suara yang dalam nan lembut dan menenangkan itu. Rani yang sedang menikmati kopi sendiri di kafetaria kantor menoleh ke belakang.
Sreg... Brak... Rani nyaris terjatuh dari tempat duduknya karena terkejut melihat sosok di belakangnya.

“Loe nggak apa-apa?”
“Aksel... eh, nggak apa-apa.” Rani segera menyingkirkan tubuhnya dari sentuhan Aksel yang menahan agar Rani tidak terjatuh.
“Kayaknya sekarang setiap kali ketemu gue, loe selalu jatuh.” Aksel berkomentar sambil duduk di sebelah Rani. Ia menatap ke arah luar jendela kaca kafetaria yang terletak di lantai empat gedung.
Rani bergeser menjauh untuk menjaga debaran hatinya agar tidak semakin kencang. Ia takut. Takut kalau debaran itu akan terdengar oleh pemuda di sisinya.
“Nggak kok, cuma kebetulan.” Dengan susah payah, Rani akhirnya mampu menjawab celetukan Aksel.
“Jauh amat duduknya, Ran.” Aksel mendekatkan bangkunya pada Rani dan menatap Rani.

Ada apa? Rani merasa tatapan itu menyadarkannya akan keanehan dalam diri. Ia menyentuh wajah. “Gua pergi dulu ya.” Rani beranjak dari kursinya, dengan canggung segara memutus pertemuan tak disengaja itu.
Ia merasakan perasaan tidak nyaman kembali hinggap di hatinya.
“Buru-buru amat, Ran. Sudah mau siaran?”
Rani tidak menjawab pertanyaan Aksel. Rani setengah berlari menjauh dari Aksel, memasuki toilet perempuan terdekat. Ia menempelkan punggung di dinding toilet dan merosot hingga berjongkok.
Ia merasakan dadanya begitu sesak. Matanya terasa sangat panas.

I can take this mistake. But, I can’t take the ache from heartbreak.

Rani menatap sosok diri di dalam cermin. Matanya memerah. Lingkaran hitam di bawah mata terlihat mengerikan. Hidung tinggi dan bibir tipisnya seolah mengejek. Ia ingin menghancurkan pantulan dirinya. Ia tidak akan pernah bisa mengembalikan semua yang telah terjadi.  

***

Semua berawal dari saat itu.

"Kayaknya ada yang aneh dengan loe dan Rani." Rani mendengar namanya disebut ketika ia berjalan di koridor depan ruangan yang ditempati Aksel dan teman perempuan yang Rani kenal bernama Eileen.
"Apa yang aneh? Gue baik-baik saja sama dia." Aksel malah bertanya balik dengan gaya cueknya. Ia mengelap tempurung kura-kura betinanya agar terlihat bersih.
"Kelewat baik. Tiap ketemu selalu saja ngajak dia ngobrol dulu. Eh, loe sama Rani bukannya sudah kenal lama ya?"
"Hmh..." Aksel tidak menjawab dengan jawaban pasti. Hanya menggumam.
"Loe dan Rani pernah jadian?"
Aksel menatap dramatis pada Eileen. "Gue sama Rani? Amit-amit da’"
"Loh kenapa? Rani kan cantik, keren pula. Loe nggak pernah dengarin dia nge-DJ sih. Sukses bikin gue pengen jalan-jalan mulu." Temannya melirik. "Ah gue tahu. Loe sama Rani tipikal yang kucing-anjing waktu kecil ya? Eh tapi nggak benar juga, loe kayaknya baik sama Rani."

Aksel memukul bahu Eileen pelan, menghindar untuk menjawab. "Loe kebanyakan nonton drama Korea."
"Jadi loe sama Rani punya rahasia apa?" Eileen tidak menyerah untuk mengorek informasi tersebut. Rani yang berdiri di depan pintu ruangan juga masih mendengarkan.
Aksel menatap dinding ruangan yang berwarna abu-abu metalik tersebut. Terdiam selama beberapa saat. Detik-detik itu sangat menyiksa setiap orang yang ingin tahu sebuah jawaban. Rani pun sama.

"Gue... nggak suka cewe yang ber-make-up tebal, apalagi yang terlalu terobsesi dengan kecantikan luar dan mau melakukan apa pun demi jadi cantik."

Rani tahu. Ia selalu tahu Aksel tidak mungkin menyukainya. Ia tahu bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menjadi seseorang yang berbeda.

No matter how it falls apart.There’s an ‘art’ in breaking hearts.

***

“Aksel, main yuk.” Gadis kecil berusia tujuh tahun, dengan rambut diikat dua tinggi, menarik lengan anak laki-laki di sampingnya yang sedang sibuk sendiri dengan mainannya yang khas anak laki-laki.
“Ih... sana ah! Aku nggak mau main sama kamu.” Anak laki-laki itu mendorong anak perempuan itu keras hingga terjatuh.
Anak perempuan itu mulai menangis keras. “Kenapa? Kenapa Aksel nggak mau main sama Rani?”
“Karena kamu jelek!”

Rani terbangun dengan peluh membasahi dahi. Telinganya masih terus berdenging dan mengiangkan kalimat yang berasal dari suara yang selalu menghantui selama beberapa tahun.
Napas Rani tersengal. Rani berlari ke kamar mandi di dalam ruangannya. Ia menatap lurus pada cermin namun ia tidak dapat mengenali pantulan dalam cermin. Siapa sosok di dalam sana?
“Arghhhhh!!!!!!” Rani berteriak keras sambil berjongkok menutup telinganya. Ia tidak ingin mengingat apapun. Tidak dengan sosok di dalam cermin itu. Ia tidak tahu siapa sosok yang ada di dalam sana.

Where’s the ‘good’ in goodbye to myself?
***

Tok...Tok...Tok...
“Rani... Ran...” Rani mengangkat wajahnya, sontak bergerak mundur merapat pada kepala tempat tidurnya. Ia tahu suara itu. Untuk apa dia datang ke sini? “Buka pintu, Ran.”
Rani tidak menyahut.
Ketukan itu terus terdengar namun samar dan perlahan. “Ada apa sama loe? Kata nyokap loe, loe histeris malam-malam.”
“Pergi, Sel.”
“Loe bisa ngomong sama gue.”
Rani mengambil bantalnya dan melempar ke arah pintu. “Gue bilang pergi! Gue nggak mau ketemu sama loe!”
Rani terus melempar barang-barang yang bisa dijangkaunya. Ia tidak ingin mendengar apa pun yang dikatakan Aksel.
***

“Tada... Lihat donk muka gue. Cakep kan sekarang.” Rani berlari ke rumah Aksel, mendekati Aksel yang sedang membaca buku di sofa, hanya untuk memamerkan hasil terbaru dari usahanya mempercantik diri. Saat itu Rani masih merupakan mahasiswi dari salah satu universitas ternama di Depok, sama dengan Aksel.

“Dari mana saja loe seminggu ini?” tanya Aksel tanpa memandang Rani.
“Ih, lihat gue donk!” Rani memutar pundak Aksel paksa.
Aksel berdecak kesal. “Apa sih?”
“Bagus nggak?” Rani memainkan kedua tangannya di bawah dagu untuk mengarahkan fokus mata Aksel. Aksel menatapnya lama. Harapan Rani telah melambung tinggi saat ia melihat reaksi Aksel.

Ya, Rani akui. Ia memang sedikit... sangat terobsesi untuk membuat Aksel menarik perkataan sewaktu kecil. Ia ingin membuat Aksel melihatnya cantik.
Aksel mendengus dan membuang muka. “Jelek.”
Setiap kali Rani berpikir telah berhasil. Setiap itu pula, Aksel selalu mengatakan hal yang berlawanan dari yang Rani harapkan. Aksel selalu saja berhasil menghancurkan kepercayaan dirinya.

***

Rani, sekarang.

Tok... Tok... Tok...
“Rani.” Kali ini suara yang berbeda terdengar dari sebelumnya. Rani tahu itu adalah suara milik ibunya. “Kamu sama Aksel kenapa lagi?”
Rani terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan ibunya. Sejak awal hal ini memang hanya sepihak. Hanya ia saja yang terobsesi akan pengakuan Aksel.

“Rani, sayang. Nak..” Ibunya masih saja berusaha membujuk Rani untuk keluar.
“Biarkan aku sendiri saat ini, Bu.” Rani akhirnya menjawab. Ia tidak sampai hati mendengar ibunya terus memohon.
“Ya sudah kalau kamu maunya begitu.” Ibunya akhirnya mengerti keinginan Rani. “Aksel tadi titip pesan. Katanya nyalain radio.”

Rani tercenung mendengar pesan itu. Apa yang Aksel ingin ia dengar? Ia tidak ingin mendengar perkataan Aksel yang akan menyakitinya sekali lagi. Tapi, Rani ingin mendengar suara Aksel.
Rani bergerak untuk menyalakan radio di atas lemari kecil berwarna merah muda pastel di samping tempat tidur.

Suara musik samar terdengar dari speaker radio milik Rani.
“J-O Radio 99.9 FM, kembali lagi dengan gue Aksel. Sobat The Unspoken, tadi kita sudah dengarkan The Script dengan Never Seen Anything ‘Quite Like You’. Menyambung lagi dengan yang kita bicarain tadi, Admiration. Sobat The Unspoken, apakah kalian pernah mengagumi seseorang dalam bentuk apa pun? Baik dia itu cantik, baik, atau apa pun. Kalau gue sih pernah, pada Lucia, eh kalau itu sih nama kura-kura gue. 

Kekaguman yang tak terucapkan, hal itu membuat pikirannya otomatis tertuju pada Aksel. Ia masih bertanya-tanya apa yang ingin Aksel katakan lewat siaran ini. Yang jelas, kekaguman itu tentu saja bukan tentangnya. Aksel tidak mungkin mengatakan hal itu padanya. Ia bisa mengatakan hal itu pada semua orang kecuali padanya. Apakah ini yang dimaksud Aksel?

"Jika hal itu disimpan seorang diri saja, mungkin akan menyelamatkan loe dari a moment of embarrassment, tapi ketika diucapkan mungkin saja hal tersebut bisa saja menyelamatkan seseorang. Sekarang, gue akan bacain email satu ini.

“Ini dimulai saat gue masih kecil. Ada satu orang anak perempuan yang selalu gue ejek. Tiap kali ketemu, satu hal yang pasti gue lakuin. Itu adalah bikin dia nangis."

Rani menyimak isi surat yang dibacakan oleh Aksel. Ia merasa cerita surat tersebut tidaklah asing. Apakah ini yang Aksel ingin Rani dengar? Mengapa?

"Seandainya waktu itu gue sempat ungkapin apa yang dia pengen dengar, mungkin saat ini dia nggak akan berubah sedrastis ini. "
Kenangan masa kanak-kanaknya kembali terkilas di dalam benak.

"She is beautiful. I mean, she’s always beatiful even back then. Tapi, gue tahu kalaupun sekarang gue ngomong tidak akan merubah apapun."

Dan setetes airmata turun mendengar perkataan Aksel di radio.

If I could turn back time then I would re-write those scenes. Those decisions.

***
sumber foto: http://di9.in/view/headphone-800x600.html

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide