Hari ini pun, Bian tersenyum menatapnya. Alena tidak mengerti mengapa adik laki-laki tirinya bisa tersenyum seperti itu padanya setiap kali ia datang berkunjung. Apakah ia tersenyum karena senang melihat Alena terkurung dalam bangunan yang telah mengisolasinya dari dunia luar? Tapi senyuman itu sepertinya tidak menunjukkan ejekan. Ia terlihat tulus. Alena tidak menyukai senyuman itu.
“Jangan
tersenyum.” Alena berkata
muram pada pemuda berlesung pipit yang sedang duduk di sampingnya. Alena
memalingkan wajah ke luar jendela. Memandangi rintik hujan yang
mengetuk-ketuk kaca
yang melindungi ruangan itu dari terpaan hujan secara langsung.
Dari
pantulan kaca di jendela,
Alena melihat Bian masih saja tersenyum. Tak berniat sedikit pun untuk
menyimpan tarikan di sudut bibirnya untuk diri sendiri. Alena
membencinya namun ia hanya mampu untuk
tidak mengacuhkan keberadaan sosok itu di dekatnya. Kapankah terakhir
kali
Alena tersenyum? Rasanya ia sudah melupakan cara untuk melakukannya.
Senyumannya hilang. Tak bisa ia temukan di mana pun. Mungkin terkunci
bersama
dengan kenangan tentang Nathaniel di dalam Kotak Pandora yang ia simpan
di
salah satu sudut dalam hatinya. Bukan Alena tak pernah mencoba
menemukannya
lagi. Ia pernah mencoba, namun senyumannya terlihat sangat buruk. Ia
terlihat seperti badut di taman ria dengan mulut selebar wajah.
Mengerikan.
Alena duduk di salah sudut
ruangan yang berisi sepuluh orang lainnya. Tak ada satu pun yang mempedulikan
apa yang sedang terjadi pada yang lain. Mereka sedang asyik dengan dunia yang
mereka bentuk dalam pikiran. Meracau. Memang hanya itulah yang bisa mereka
lakukan ketika dunia telah memutuskan untuk membalikkan badan memunggungi
mereka. Dengan begitu, mereka bisa menjadi lebih bahagia dengan cara mereka
sendiri.
***
“Lena, tidak ada yang bisa
membantumu jika kamu sendiri tidak menginginkan pertolongan itu.” Untuk
kesekian kalinya setelah beberapa kali periode pertemuan, pria berjas putih
panjang itu mengatakan hal itu padanya. Alena tidak kooperatif, itu adalah
maksud yang lebih ringkas dari perkataannya.
Alena tak acuh. Ia tidak
membutuhkan siapa pun menolongnya. Ia merasa baik-baik saja. Seluruh anggota
tubuhnya berfungsi dengan baik. Ia mampu berpikir dengan jelas. Ia tahu siapa
dirinya dan apa yang sedang terjadi. Satu-satunya yang tidak berfungsi dengan
baik seperti dahulu hanyalah hatinya. Bagian itu telah direngut paksa darinya.
***
Alena
menjerit histeris.
Memberontak ketika seseorang berusaha menyentuhnya. Tak ada yang
menganggu sebelumnya. Tak seorang pun dalam ruangan itu berinteraksi
dengan gadis muda berpakaian kelabu yang suram itu. Hanya
kicauan di dalam kepala yang membuatnya kehilangan kendali atas dirinya.
Suara-suara itu berbicara padanya. Menuntutnya atas apa yang terjadi
pada Niel.
Mengatakan bahwa ia tak pantas untuk berada di sini saat ini. Ia telah
membunuh
satu-satu orang yang menyadari keberadaannya. Ia membunuh Niel. Alena
seharusnya sejak lama mati. Tak ada yang menginginkannya.
Hujan pun turun saat itu. Seakan
langit turut menangisi bahwa Alena masih memiliki eksistensi di dunia ini
hingga detik ini.
***
"Aku kebal air. Lihat dong, sakti 'kan?" Hujan turun gemericik siang itu, tiga anak perempuan berseragam merah
putih berlarian di bawah siraman air dari langit di lapangan sekolah seluas
10x30 meter. Tertawa riang. Mereka berakting seakan tubuh mereka tak
akan tembus oleh rintik-rintik air yang kini mulai semakin deras. Tak ingin
mengakui bahwa seragam putih mereka kini semakin tampak tembus pandang.
Begitulah permainan di bawah
siraman hujan yang sering ia mainkan. Ia tak peduli tubuhnya basah kuyup atau
besok ia akan jatuh sakit. Yang ia rasakan hanyalah kesenangan berlari di bawah
langit. Tawa tampak lepas. Begitu bebas.
Sejak kapan ia mulai melupakan
kesenangan sederhana seperti itu? Dahulu, bahagia itu terasa begitu sederhana. Kini,
kesenangan dan senyuman bukan lagi milik Alena. Mereka telah terkunci bersama
kenangan. Mengantikan isi Kotak Pandora miliknya. Kebahagiaan adalah hal
terlarang bagi Alena.
***
Tangerang,
28 Oktober 2015






















