I was going to write something, but
I forgot once arrived at home. Hahaha.
There's so many things running
inside my mind. People inside here are so crowded. They talk to much to
the extent I think I need to write it. But I forget what I need to write. It
feels like you're just having a dream, a very lucid dream then once you're wake
up you forget it.The difference only you're experienced it wide awake.
That's what we call as daydreaming.
Hahaha.
Lately, I have been reading a very
good novel. Well, not that great, it's just somehow intrigued me inside.
Maybe this post also contain a
booktalk. I feel lazy to do review like usual.
The book I read is titled Fangirl
by Rainbow Rowell.
Dan kenapa aku nulis entri blog ini
dalam bahasa Inggris? X) Let's
switch it to proper Indonesian.
Mungkin ini adalah efek dari 4 hari
berturut-turut aku berurusan dengan bahasa ini; firstly aku akhir-akhir ini
mulai baca novel berbahasa Inggris lagi dan mengobrol memakai bahasa ini dengan
seseorang.
Karena aku adalah tipe yang mudah
terpengaruh oleh bahasa jadi yah seperti itu.
Nah buku yang akhir-akhir ini aku
baru selesaikan ini bercerita tentang seorang fanfic author yang baru lulus SMA
dan berjuang menghadapi level hidup yang baru, bertemu dengan orang baru, dan
harus beradaptasi dengan semua perubahan itu. Growing up, which is cerita ini sangat mirip dengan kehidupanku. Maybe, that's why aku merasa attached dengan novel ini.
Sosok Wren yang ingin menjadi
dewasa setelah lulus SMA dengan partying hard setiap malam, Cath yang menolak
untuk tumbuh dewasa, Reagan yang sophisticated,
dan Levi yang cerdas dan menyenangkan, karakter-karakter ini terasa cukup
hidup.
Terutama karakter Cath dan Wren.
Pertama-tama Cath, meski pun dunia mahasiswaku tidak jauh berbeda dari dunia
SMA, tapi aku benar-benar mengerti mengapa dia merasa sulit untuk move on dari dunia fanfiction yang
selalu bersamanya sejak kecil.
It's not about just change your character's name than boom we got a
novel. Trust me, rasanya sangat berbeda. Satu karena tokoh dalam
fanfiction itu hidup di dalam diri kami, para fangirl. Kami benar-benar
mencintai dan mengenal tokoh itu dengan sepenuh hati. Kami percaya dengan apa
yang kami ingin percayai itu nyata.
Everything will feel so different even if we just change one name. Karena ketika satu hal berubah, yang lain harus mengikuti perubahan itu. Sometimes for me it's annoying actually. Aku ga suka mengulang hal yang sama dua kali.
That's why I really adore people like Cath. Dia bisa
bikin outline dan punya beta reader yang siap untuk memberi masukan yang
berarti kemungkinan dia harus mengacak-acak ulang naskahnya lagi itu sangat
besar, dan itu artinya seperti kembali berjalan di jalan yang sama, meskipun
kesannya berbeda, atau bahkan arahnya berbeda.
Aku sangat tidak bisa melakukan
itu, setiap kali outline selesai, maka untukku cerita itu juga selesai dan aku
kehilangan minat untuk menuliskan draftnya karena endingnya aku sudah tahu.
Ini kebiasaan buruk sih, hanya saja
setidaknya aku mengakali dengan progres outline berbanding lurus dengan naskah.
Meski pun terkadang mereka bisa berloncat-loncatan dari alur. Like a puzzle piece wait to be clicked on
the right place.
Satu hal lagi yang mengagumkan dan
itu memang benar-benar terjadi dalam dunia fanfic, mungkin teman-teman
penulisku akan mengatakan: "Wow... gimana sih loe bisa nulis 10 halaman setiap
hari waktu ngerjain psa3?
It's really happened on us, fanfic writers. Kebanyakan
dari penulis fanfic akan meng-update
chapter demi chapter setiap minggu bahkan ada yang setiap hari dan itu tidak
pendek. Ada yang bahkan sekali mengupdate untuk beberapa cerita miliknya. It's always fascinating for me to think how
could their brain manages such as workload?
Buat aku saja 10 halaman setiap
hari seperti mengambil sebagian besar waktu luang dan terkadang waktu
istirahat, tapi kecepatan Cath dan penulis-penulis macam dia sangat
mengagumkan. Dan beberapa penulis itu memang memiliki kemampuan menulis dan
berpikir yang sangat baik. Chapter yang mereka tulis meskipun cepat itu bukan
berarti tanpa isi ataupun cemen. *ada juga sih yang penulis belum sampe ke
tahap itu, tapi itu tetap patut di apresiasi karena kecepatan menulisnya itu*
Namanya fangirl itu ternyata dimana-mana
sama. Kita punya culture yang sama.
Just like this quote.
“And I don’t have a weird thing with Simon Snow,” Cath said. “I’m just really active in the fandom.”
“What the fuck is ‘the fandom’?”
“You wouldn’t understand,” Cath sighed, wishing she hadn’t used that word, knowing that if she tried to explain herself any further, it would just make it worse. Reagan wouldn’t believe—or understand—that Cath wasn’t just a Simon fan. She was one of the fans. A first-name-only fan with fans of her own.
I feel you, Cath. TOTALLY! I know how you feel. Itu yang
selalu terjadi setiap kali kita membicarakan fanfic dengan orang-orang yang
tidak pernah berhadapan dengan dunia semacam ini.
Itu sebabnya penulis-penulis fanfic
seperti kami hanya bergaul dengan orang-orang yang mengerti karena kami tidak
ingin di-judge untuk hal yang mereka
tidak akan pernah mengerti.
Dan Wren, I totally feel you too. Aku mengerti bagaimana keinginan untuk
tumbuh dewasa seketika saat memasuki universitas. Yah meski pun aku tidak akan
melakukan hal yang sama dengan Wren ya, bahkan sesungguhnya aku bersikap sama
seperti Cath.
I also ever refused to grow up and start take thing real with real
fiction not fanfiction. Hanya saja, Cath lebih berani untuk tetap mengambil
jurusan Creative Writing, sedangkan aku melenceng ke arah yang lain karena
takut dengan beban nyata yang harus kuhadapi bahwa menulis tidak akan menjadi
sekedar menyenangkan hati tapi untuk keperluan tugas dan hidup, which is I'm not regret at all too.
Editing membuat aku belajar hal lain yang bisa diaplikasikan dalam cerita. I manage to move on from fanfiction dan
mulai menulis fiksiku sendiri sejak mungkin beberapa tahun belakangan, tapi
tidak sepenuhnya berhenti menulis fanfic sih. Baru awal tahun ini saja aku
benar-benar memutuskan untuk berhenti.
Pernah nonton drama Healer? Di sana
ada sebuah perkataan yang membekas dalam pikiranku. Itu adalah
Kita lebih baik memilih hal yang
kita sukai kedua sebagai pekerjaan sedangkan yang paling kita suka sebagai
hobi.
What I think is, it's maybe more like an escapade from heavy stuff, from real life, real money issues. Writing is my last resort to let my self free.
Anyway, pada intinya buku ini
membekas di dalam hati. Dia bercerita tentang growing pain. Namun, aku sebenarnya sedikit kecewa dengan ending
yang terkesan begitu saja. Berharap ada sesuatu yang lebih.
PENILAIAN:
1. Judul: 6/10
Tidak terlalu fresh tapi simpel dan
menarik
2. Blurb/ Sinopsis: 8/10
3. Karakterisasi: 7/10
4. Jalan cerita: 7/10
5. Originalitas: 6/10
Untuk kesegaran cerita
sesungguhnya, beberapa kali aku sudah pernah membaca fanfic semacam ini
sebelumnya, jadi tidak lagi terasa baru untukku.
Hanya saja aku cukup salut dengan
riset yang penulis lakukan, tidak mudah untuk bisa memasuki dunia kami karena
kami terkadang terlihat sangat terbuka dan di saat yang sama tertutup, tapi dia
berhasil mengekstrak hal-hal esensial dalam dunia fangirl dan menceritakan
ulang dengan sangat apik. BUT totally
failed di part fanfiction kecuali satu fanfic yang dibaca Cath untuk Levi.
Rainbow Rowell should just stick with
real fiction rather than trying to do fanfiction. Haha. That's the worst fanfic
I ever read probably. Maksudku untuk cut
scene dari fanfic yang diletakan di antara bab.
Aku lumayan suka dengan gaya dia
bercerita, terkadang terkesan lucu dengan dia harus mengoreksi apa yang ia
ceritakan di dalam kurung. (Nick, that I
talk about, not Levi) sesuatu seperti ini.
Novel ini cukup menyenangkan,
apalagi ketika aku harus membacanya dalam bahasa Inggris.
Overall Enjoyment : 28/50























