[BookTalk] Maaf Aku Lagi Ingin Marah-Marah

11:26 AM



Maaf, aku lagi ingin marah-marah. Nampaknya judul ini sangat cocok untuk memulai review-ku tentang buku yang berjudul 'Maaf, Aku Lagi Jatuh Cinta'. 

Berhubung Tan Sis pengen baca review tentang novel yang sukses bikin aku emosi, akhirnya kuputuskan untuk posting review-nya. 

This is a serious problem. Baru kali ini selesai membaca buku yang kulakukan pertama kali adalah lempar tuh buku jauh-jauh. Untung buku ini adalah pemberian. Kalau beli sendiri, entahlah seberapa nyesek rasanya. 

Cliché. Bad Ending. No Conclusion.

Itu adalah tiga kata yang bisa merangkum seluruh isi novel tersebut. 
Sebelum aku melanjutkan review kenapa aku bilang tiga kata itu, aku mau nunjukkin part yang bikin aku tetap lanjutin baca novel ini sampe tamat. Well, not all of them are bad. Ada beberapa hal yang cukup menarik meskipun clichè.  

1. Gaya penceritaannya cukup menarik dan ringan. Ada humor-humor yang bisa bikin merasa terhibur. 
2. Perjuangan tokoh utama Rimba dan teman-temannya demi membayar uang kuliah sendiri itu inspiratif. Patut dicontoh.  
3. Buku ini diawali dengan kutipan yang merangkum isi bab. That's quite good
Quote yang paling kusuka dari semuanya: 
Jadikan kisah itu berbeda agar nantinya menjadi berkesan, jangan paksakan menjadi yang terbaik.

That's all the good points. 

Baiklah kita mulai secara resmi review ini. *Jadi dari tadi belom mulai jugaaaa???* *oops*

Penilaian masih tetap sama. 
1. Sinopsis / Deskripsi cerita.
2. Opening / First Impression
3. Karakterisasi tokoh
4. Story Line : Logika cerita, progress cerita, cara penceritaan, gaya penulisan, dll.
5. Ending/ Pesan

Sistem penilaian aku adalah 1-10. 1 untuk yang paling jelek dan 10 untuk yang terbaik. Poin akan kuberikan di bagian paling bawah setelah review selesai. Let's get start

Maaf, Aku Lagi Jatuh Cinta




Sinopsis/ Deskripsi Cerita

Sebelum kita bahas, aku mau menjabarkan sinopsis novel ini. 
Novel ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Rimba yang ingin kuliah di Jakarta, padahal bapaknya sudah sepuh. Meskipun awalnya orang tuanya tidak menyetujui keinginan tersebut namun Rimba tetap nekat. Pada awal kedatangannya ke Jakarta, Rimba yang bingung bagaimana caranya untuk membayar kuliah tanpa meminta orang tua bertemu dengan Brio. Kemudian ia menemukan ide untuk menghasilkan uang dari melakukan jajak pendapat pada mahasiswa di kampus mengenai produk tertentu. Usaha tersebut berkembang sangat pesat hingga Rimba dan Brio akhirnya memutuskan untuk memperkerjakan dua orang mahasiswa miskin seperti mereka, Soim dan Erdo.

Di awal masa kuliahnya, Rimba jatuh cinta pada pandangan pertama pada Brinita, kembang kampus yang merupakan model dan bintang iklan. Namun wanita itu tidak menggubris pernyataan cintanya sebanyak tiga kali, hingga akhirnya Rimba putus asa dan berpacaran dengan Nay yang juga merupakan kembang kampus. Meskipun bersama Nay, Rimba tak juga mampu melupakan Brinita hingga akhirnya Nay merasa pemuda itu tidak menyukainya. Nay memutuskan hubungan mereka. Rimba yang merasa sedih setelah putus, dinasihati oleh Brio, sahabat karibnya, bahwa dia memang tidak bisa melihat perasaan cinta Rimba pada Nay. Rimba masih mencintai Brinita. Rimba akhirnya memutuskan untuk mengejar Brinita kembali. *cerita tidak berhenti sampai sini, tapi saya lelah ngetik seluruh rangkuman ceritanya. Saya yakin kalian juga lelah membacanya Haha.*

Bagaimana? Sudah kelihatan belum keanehan cerita ini? Haha... ini adalah novel romance, tapi kenapa yang lebih banyak porsinya adalah cerita perjuangan hidupnya. Timeline penceritaan novel ini juga sebenarnya sedikit membingungkan hingga aku pun bingung mau merangkum kisah ini seperti apa. Mau ceritain perjuangan hidup atau perjuangan cintanya? 

Kuakui analogi mengenai orang pintar, ngeyel, jatuh cinta, dan ibu hamil itu menarik. But... that's not representing all the story about. 

First Impression

Cerita ini dibuka dengan analogi antara orang pintar, orang ngeyel, orang jatuh cinta versus ibu hamil dan bukti analogi cerita itu dalam rupa percakapan. 

Kemudian dilanjutkan Nay yang memutuskan hubungan dengan Rimba. Kemudian pembaca dibawa flashback dengan porsi perjalanan hidup Rimba untuk membangun LSK. Sama sekali tidak ada menyebutkan Britnita sejak awal, hingga tiba-tiba saja Brio menyebutkan tentang perempuan itu hingga akhirnya kisah cinta Rimba dan Britnita dimulai lagi (catatan: Brinita itu adalah cewe yang disukai Rimba sebelum pacaran dengan Nay. Ditembak tiga kali tapi nolak yang akhirnya bikin Rimba putus asa dan pacaran dengan Nay) 

Dari penjabaran timeline seperti ini, bisa kita simpulkan... alur penceritaan MALJC(disingkat aje ye.. XD) itu ga runut. Cenderung seperti angin puting beliung. Wush... ke kanan wush ke kiri... kalau ga konsen mungkin akan lost

Anyways, sebenarnya kesan pertamaku pada cerita ini cukup baik awalnya. Hal ini disebabkan oleh sinopsis yang menarik, hanya saja begitu masuk bab Nay memutuskan Rimba (notabene baru bab 2 sepertinya) dan dilanjutkan dengan flashback yang panjang hingga aku bingung benarnya kisah Nay dan Rimba itu berada di waktu yang mana, itu membuat aku merasa ini... cerita apaan sih. 


Karakterisasi

Sebelum kita membahas tentang karakter Rimba, aku mau mengutip sebuah paragraf dari buku ini. 
"Kamu sudah berbuat banyak, Rim. Kamu sudah berbuat lebih dari cukup dari kata sahabat. Kamu ada untuk Brio, kamu bisa ada untuk soim, dan kamu juga selalu ada untuk aku. Kamu sahabat terbaik yang pernah aku kenal, walau kadang kala arogansimu itu membuat bete," 
Arogansi. Jujur sepanjang cerita ini, selain dia tengil. Kesan arogansi yang membuat bete ini tidak aku menemukan kesan itu. 

Mengenai karakter tokoh-tokoh lain seperti Erdo, Soim, dan Brio. Ketiga tokoh ini bisa kukatakan terlalu mirip. Ga ada perbedaan yang jelas yang bahkan penulisnya aja bisa lupa sama karakternya sendiri saking miripnya. Contoh: 

"Gue sedih, Do. Gue dan Soim bener-bener sendiri sekarang. Gue nggak pernah tau siapa bokap dan nyokap gue, Brio juga nggak pernah ketemu dengan nyokap dan bokapnya...." 

Kutipan ini benar-benar kuketik apa adanya sesuai dengan apa yang tercetak di buku. Tidak perlu dibahas lebih lanjut ya, kita lanjut ke karakterisasi tokoh lainnya.

Untuk tokoh Saudah (tunangan Brio) pun tidak memiliki karakterisasi yang unik. Disini awalnya karakternya dikatakan adalah anak panti asuhan... ah aku semakin kesal untuk menjelaskannya. Terlalu banyak lubang dalam cerita ini hingga aku pun bingung bagaimana merunut dan menjelaskan karakternya. 

Fine, I'll try it. Saudah pada awalnya dikesankan sebagai sosok yang ayu dan manis tapi di ending, Rimba ngamuk pada Saudah karena kemanjaan dia untuk diperhatikan oleh Brio. Rasanya karakter ini tidaklah konsisten. 

Tentang Soim. Ada satu hal yang mengganggu tentang tokoh satu ini. Namanya. Soim adalah orang Kristen/Katolik (entahlah tidak jelas) yang merupakan anak kades yang korupsi. Disini saja sudah mulai ada kejanggalan logika. Nama Soim tidak mengesankan sebagai tokoh yang beragama Kristen.  Menurut aku, nama ini lebih cenderung Muslim karena orang Kristen itu cenderung menggunakan nama-nama khas. Seperti Nathaniel, Bernadus, Marcel, Joseph. Nama-nama orang Kristen kebanyakan diambil dari nama-nama yang muncul di Alkitab. Malah nama Brio lebih mirip orang Kristen daripada Soim. 
Kejanggalan lain adalah ini mungkin saja di beberapa tempat bisa terjadi, tapi... bukankah mayoritas posisi petinggi daerah itu Muslim? Terutama di Jakarta, apalagi dikatakan bapak Soim adalah Kades. 

Story Line

Berbicara tentang logika dalam cerita, ada hal yang menganggu. Tidak signifikan mengganggu cerita tapi ada beberapa kalimat yang membuat aq mempertanyakan logikanya. 
Let me quote them for you
"Tiga puluh persen untuk aset perusahaan. Lo dua puluh, gue sepuluh, biar gue ngerasa memiliki. Tiga puluh persen operasional. Empat puluh persen kita bagi per bulan. Persentasenya menyesuaikan, termasuk jika kita merekrut orang baru," 

30%+ 20%+10%+30%+40%=130%
Atau aku yang salah interpretasi? Mungkin maksudnya 20% dan 10% yang dimiliki mereka adalah dari 30% aset perusahaan? Bukanlah aset perusahaan itu artinya aset yang dimiliki oleh perusahaan? Tapi yang dimaksud dari kalimat itu(yang kutangkap) itu adalah saham yang mereka miliki. Hmhhh... sedikit ambigu kalimatnya. Correct me if I'm wrong. Aku sedikit bingung tentang hal ini. 

Part lain yang membingungkan. 
Mereka yang dikasih pasangan sempurna, eh seenaknya aja diselingkuhin, dibikin nangis-nangis, dikibulin. 
Siapa yang dikibulin, dibikin nangis-nangis, diselingkuhin? Yang dikasih pasangan sempurna?

Ending and Moral Story

Dari antara semua itu... yang paling menyebalkan adalah akhir ceritanya. Bayangkan, kita sudah diceritakan sejak awal tentang perjuangan hidup Rimba, trus akhirnya nyambung-nyambung ke Brinita yang akhirnya dikejar lagi oleh Rimba setelah putus dengan Nay. Setelah Rimba mendapatkan Brinita, tiba-tiba saja hadir kemelut Rimba dengan restu ortunya dan Brio yang dikatakan sahabat karibnya... ah sudahlah tak usah disebutkan. Saya masih kesal... 

Yang bisa kukatakan saat ini adalah... premisnya boleh tentang analogi orang jatuh cinta vs orang-orang lainnya tapi konklusi akhirnya itu tidak menutup semua itu. Ketika halaman terakhir itu aku bahkan tidak tahu kalau itu sudah berakhir karena ending-nya terjadi begitu saja. Tidak nyambung. 

Sudahlah kita akhiri saja review ini sebelum aku mulai membahas rasa kalimat. Terlalu banyak yang janggal. Kalian pasti sudah pada merasakan waktu baca kutipan-kutipan di atas. 
...

Oke... kukasih contoh... 
Setelah sebuah paragraf narasi yang panjang tentang kekaguman Rimba pada Brinita yang cuek, tiba-tiba saja dilanjutkan dengan kalimat ini. 
"Lo mikir apaan sih, Rim?"Aku kaget. Brio nyengir. 

O.o what the... 

Aku mengangguk, mengiyakan dengan tulus permintaan Brio. Aku haru. Aku bersyukur punya sahabat seperti Brio. 

Kalimat ini mungkin akan  terdengar lebih enak jika diubah menjadi: Terharu dan bersyukur punya sahabat seperti Brio,

Karena terlalu banyak kata aku ini... aku itu.. aku... lalalala... bubar yuk. Sebelum seseorang nimpuk aku gara-gara review ini terlalu banyak kritikan daripada saran dan juga masukan. :p


PENILAIAN: 

1. Judul: 3/10 
  Judul ini sangat-sangat tidak sesuai dengan isi ceritanya. 

2. Blurb/ Sinopsis: 5/10
   Sinopsis di halaman belakang novel sangat menarik dan menarik perhatian calon pembeli, tapi... aku merasa kecewa dengan isi novel ini yang tidak sesuai dengan analogi yang ingin disampaikan dalam novel.

3. Karakterisasi: 1/10
    Can I give this Zero? I really want to give it ZERO. Just thinking again about this novel make my anger rise again. 

4. Jalan cerita: 4/10 
   Seperti yang kukatakan sebelumnya, 3 kata. Clichè. Bad Ending. No Conclusion.  Ini adalah tiga hal yang paling menyebalkan buat aku ketika membaca novel. Terutama poin terakhir. PESAN CERITA.
Kenapa tidak kunilai 1 seperti karakterisasinya? Itu karena aku masih menyukai beberapa humor dan sisi inspiratif cerita ini, tentang perjuangan hidup Rimba, meskipun alurnya Clichè dan terkesan tanpa konflik yang real. 

5. Originalitas: 5/10



Overall Enjoyment : 18/50


Intinya, maybe someone will like this story for the entertainment aspects but for me, this book doesn't really entertain me at all. 
Btw... catatan terakhir. 

Karena buku ini diberikan oleh seseorang, aku tidak tahu apakah ini buku kesalahan cetak ataukah memang terbit seperti itu, tapiiiiii typonya banyak banget. Huruf-huruf yang dempet juga banyak. Belum lagi ada dua bab yang tercetak dua kali. Ini benar-benar butuh perjuangan untuk menyelesaikan bacaan dan review ini. 


You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide