[BookTalk] Partitur Dua Musim
9:59 PM
Well, it's been a long time not updating this blog *tiup sarang laba-laba yang menggelantung di pojok* .
Apa yang mau kubawa hari ini? Err... sebuah review untuk novel yang berjudul 'Partitur Dua Musim' by Farrahnanda.
Well, kujelaskan dulu kronologis awalnya bagaimana buku ini bisa hadir di antara koleksi novelku. It's a present, yey! Aku dapat buku ini dari admin Kampus Fiksi sebagai hadiah memenangkan acara mingguan, cerpen arisan, yang diadakan Kampus Fiksi angkatan 11. Hehe... It's really my first time got some present from a competition. Oh by the way, aku juga berhasil masuk dalam buku antologi yang dilombakan oleh panitia The Script 2 Writing Contest. Meskipun bukan juara pertama, setidaknya masuk 10 besarlah ya. Posisi ke berapa ya... *lupa* *hilang ingatan*
Anyways, let's start this review.
Masih dengan cara aku yang sebelumnya kalau nge-review. Poinku dalam mereview masih sama.
1. Sinopsis / Deskripsi cerita.
2. Opening / First Impression
3. Karakterisasi tokoh
4. Story Line : Logika cerita, progress cerita, cara penceritaan, gaya penulisan dll.
5. Ending/ Pesan
Sistem penilaian aku adalah 1-10. 1 untuk yang paling jelek dan 10 untuk yang terbaik. Poin akan kuberikan di bagian paling bawah setelah review selesai. Let's get start.
PARTITUR DUA MUSIM
The moment that bring me back to you
Sinopsis/ Deskripsi Cerita
Kalian bisa membaca blurb novelnya di sini. Aku hanya akan menjelaskan dikit tentang keseluruhan cerita. Intinya, cerita ini berkisah tentang dua orang anak kembar jenius musik yang menerima sebuah pesanan simponi bernilai sangat tinggi dari seorang milyuner untuk acara ulang tahun putrinya, namun mereka tidak menyadari bahwa ada bahaya yang datang dengan tawaran tersebut. Mereka terancam kehilangan hal yang berharga milik mereka.
Well, untuk sebuah blurb di halaman belakang sampul, deskripsi Farrah untuk cerita ini sesungguhnya kurang mencangkup keseluruhan isi cerita dan tidak terlalu menarik perhatian. Tapi, ini mungkin saja karena jenis cerita ini bukan style-ku.
Farrah menjelaskan tentang ada tokoh siapa saja di dalam novel ini, tapi ada dua hal yang miss antara sinopsis dan novel ini.
Aku akan mengutip part yang janggal.
Sosok itu mengejutkan The Red dengan dua permintaan yang di luar dugaan. Salah satunya adalah permintaan untuk sebuah simfoni dengan harga sangat tinggi. Simfoni pun berujung pada cinta seorang perancang terkenal dan Monique Barnabe pada dua musisi muda itu. Hingga membuka identitas Scarlet sebagai seorang aseksual. Merasa cintanya ditolak, si perancang busana pun mengincar Crimson yang memang menantikan momen itu.
Perhatikan dua hal yang kutandai di atas. Sekilas terlihat tidak ada masalah bukan? Well, masalah itu ada. Novel ini menceritakan POV siapa? Berkutat lewat tokoh mana?
Ketika aku membaca sinopsis ini sebenarnya aku merasa janggal, mengapa 'Perancang Terkenal' itu tidak disebutkan namanya di sinopsis sedangkan Monique Barnabe yang notabene adalah putri milyuner pemesan simfoni disebutkan namanya.
Mengapa tidak dikatakan Simfoni pun berujung pada cinta Elena Dvorakora, si perancang busana terkenal, dan putri M. Barnabe pada dua musisi muda itu? Soalnya pada kalimat berikutnya dan juga dalam cerita, lebih banyak diceritakan tentang Elena ini. Bahkan Elena memiliki pov sendiri, sedangkan Monique tidak.
Kejanggalan kedua, satu hal ini hanya bisa dimengerti jika kita sudah membaca novel ini. Scarlet yang aseksual, dalam cerita ini menurutku pribadi, karakteristik ini tidaklah terlihat dalam cerita.
Next
First Impression
Jujur, kesan pertamaku untuk novel ini ketika baru baca 2 halaman pertama sangatlah baik. Apalagi aku habis baca sebuah novel yang eughhhhh... *seumur-umur baru pertama kali selesai baca langsung kulempar tuh buku*
Kesan pertama novel ini: Wow...
Kesan ini tidak hanya berhenti pada dua halaman pertama saja, sepanjang novel ini aku merasakan kekaguman untuk penulisnya karena riset yang ia lakukan sangat terlihat dalam nadi cerita ini. Detil-detil setting, karakter, deskripsi semua tergambarkan dengan sangat baik.
Satu kalimat. It's really a glamour story. Apa yang akan kalian harapkan dalam cerita ini? Kalian akan bisa membayangkan suasana Montreal yang sangat indah dan klasik dipadu dengan musik yang luar biasa. It's real.
Novel ini berhasil bikin aku pengen pergi ke Montreal dan mencocokkan apakah apa yang kubayangkan dalam cerita ini lewat penggambarannya sesuai dengan kondisi aslinya. The city is just so beautiful inside my imagination.
Karakterisasi
Hal lain yang bikin aku terpukau saat membaca novel ini, karakterisasi tokoh.
Novel ini memiliki lima tokoh penggerak cerita. Scarlet dan Crimson Laroux sebagai tokoh utama cerita, Elena dan Monique sebagai love interest tokoh utama, dan M. Barnabe sebagai tokoh antagonis.
Aku bisa katakan... Far, loe gila banget. Hell, that's what we call as research. Karena aku kenal penulisnya secara personal jadi sedikit banyak aku mendengar bagaimana proses kreatif PDM ini, dan luar biasa. Kupikir aku sudah cukup gila dengan riset yang kulakukan untuk draft Frozen Time-ku, ternyata masih ada yang lebih gila lagi.
Riset yang dilakukan Farrah ini sangat menyatu dalam karakter cerita. Kita benar-benar bisa membayangkan tokoh Scarlet dan Crimson sebagai sepasang anak kembar keturunan campuran Ginger yang khas dengan rambut merahnya namun memiliki sifat yang jauh berbeda, Monique yang muda dan manis, Elena yang dinamis sekaligus melankonis, dan M. Bernabe yang misterius.
Satu hal yang perlu dipuji dari cerita ini juga adalah karakter Elena. Meskipun, setengah part pertama jujur aku kesal banget dengan Elena, soalnya seperti kuda liar. Sok banget dan merasa paling hebat sedunia, tapi begitu pertengahan kedua. Jeng jeng jeng jeng. Rasanya seperti ada sebuah bohlam yang menyala di dalam otakku.
Reaksiku... "Ah... ternyata dia..."
Kenapa reaksiku begitu? Itu karena di awal sebenarnya aku punya pertanyaan besar setelah membaca list ucapan terima kasih yang ditulis Farrah. Kupikir awalnya itu adalah Scarlet, namun ternyata sepanjang cerita aku sebenarnya sudah merasa janggal dan bertanya-tanya. Masa sih?
That's a good point.
Ada satu kritik untuk cerita ini, meskipun risetnya menyatu dengan karakterisasi tokoh cerita, tapi menurutku, integrasi tokoh masih kurang meresap dalam jalan ceritanya. Masih sebatas permukaan saja. Hal yang terpikir buat aku ketika membaca cerita ini, kalaupun cerita ini tidak memiliki tokoh A yang seperti itu juga tidak membawa pengaruh yang besar pada cerita.
Story Line
Karena ada beberapa hal yang harus dibahas alangkah baiknya jika aku memulai dengan cara bercerita penulis yang satu ini. Tapi pembahasan ini mungkin sedikit subjektif. Personally, karena aku baru baca novel Farrah satu ini saja dan terbiasa ngobrol dengan dia di chatroom, aku merasa gaya bercerita novel ini, sangat Farrah sekali.
Kita bisa melihat betapa dinamisnya pikiran dia, terutama sangat terlihat ketika penceritaan tokoh Elena.
Progress cerita, setelah berdiskusi dengan beberapa temanku, beberapa ada yang bilang novel ini terkesan jalannya sangat lamban. Ada yang bilang ceritanya menarik di paruh awal, sedangkan ke belakang tidak lagi menarik, cenderung monoton. Tapi menurutku, progress cerita ini cukup pas, karena jika lebih cepat lagi bisa jadi ceritanya jadi banyak yang tidak terungkap. Menurutku cerita ini kompleks, sekompleks teori musik yang terus hadir sepanjang novel ini hahaha. Butuh waktu untuk mengurai hal-hal yang ingin diungkapkan.
Mungkin kelambanan progress itu disebabkan oleh karakter Elena *lagi-lagi* yang di paruh kedua sangat mellow dan depresif.
Nah tentang logika cerita, ini adalah part tersulit untuk aku jabarkan. XD Karena aku membaca novel ini sudah cukup lama sebelum mengetik review, saat ini aku sedikit lupa-lupa ingat tentang logika apa saja yang terasa janggal.
Namun ada satu hal janggal yang masih sangat berkesan untukku. Mengapa Crimson bisa melupakan simfoni itu harus dimainkan oleh sebuah grup? Padahal bukankah untuk seorang musisi itu adalah teori paling dasar? Mungkin kita yang awam tidak akan menyadari perbedaan itu, tapi Crimson adalah musisi, meskipun saat itu dia sedang gelap mata karena uang masa sih dia ga inget sama sekali. Memang sih diceritakan bahwa Crimson itu adalah tipikal yang mudah teralihkan prioritasnya jika dihadapkan pada dua hal; uang dan perempuan, namun hal itu kurasa belum cukup kuat.
Itu cukup mengganjal untukku, apalagi alasan itulah yang membuat roda cerita ini bergerak. Cukup fatal sih ya.
Kejanggalan lain, di bagian bab agak belakang ketika Crimson dan Scarlet membahas penyakit Elena. Yang ini sih sudah dikonfirmasi oleh penulisnya kekeke. Tapi aku akan tetap membahasnya. Penggunaan dialog tentang membaca buku DSM V atau ICD X oleh Scarlet dan Crimson itu tidak konsisten dengan karakterisasi mereka yang seorang musisi.
Memang Scarlet adalah seorang aspeger spectrum ringan *menurutku dan teman*, tapi kurasa dia tidak akan pernah mengecek buku-buku kedokteran semacam itu.
Kejanggalan lainnya, ketika penulis menyampaikan apa sebenarnya yang terjadi pada Elena, kurasa bagian itu terkesan terburu-buru dan patah. Itu bikin progres cerita hingga ke akhir terkesan jadi dipaksakan. Tentang gelang penanda yang ditemukan Kathleen di dalam rumah Elena itu tidak terlalu kentara dan berefek hingga mengeluarkan fakta itu.
Ending and Moral Story
Err.... well, setelah semua poin menarik yang kujabarkan diatas, ada satu hal yang mengganjal untuk cerita ini. Sebelumnya di part story line aku sudah katakan kalau progres cerita menuju akhir terkesan terburu-buru dan hal lain yang cukup mengganggu adalah...
Aku merasa cerita ini tidaklah selesai. Belum ada hal yang kudapatkan dari cerita ini selain kesan keren. Novel ini sangat glamor tapi sayangnya keglamornya itu tidak diikuti dengan makna.
Aku merasa kesulitan untuk menyimpulkan pesan yang ingin disampaikan. Apakah hanya sekadar kesilapan mata akan uang dan wanita itu membawa petaka? Petaka dalam cerita ini konteksnya adalah materi. Hmhh... entahlah. Aku merasa harusnya ada sesuatu yang lebih dalam cerita ini karena detilnya yang padat.
Meskipun, rumor-rumornya akan ada sequel untuk cerita ini, menurutku seharusnya di buku inipun ada sebuah penyelesaian. Bahkan harpot series saja setiap bukunya punya pesan moral sendiri dan terkesan tamat. Konsep ini mengingatkan aku pada serial televisi barat, semacam Vampire Diaries, dll yang akhir seasonnya selalu mengantung tanpa pesan, hanya sekadar ingin membuat penonton kembali menonton season selanjutnya.
PENILAIAN:
Jujur aku sih suka dengan judul 'Partitur Dua Musim' mengesankan dua anak kembar yang bertolak belakang. Tapi yang kurang sreg buat aku adalah subtitlenya. The moments that bring me back to you. Sepanjang membaca novel ini, aku berpikir apa hubungan subtitle ini dengan ceritanya? Momen mana yang membawa tokoh kembali pada seseorang?
Kurasa alasannya sudah cukup jelas di atas. Kalau blurb-nya bisa lebih dipadatkan dan diperjelas menurutku akan lebih baik.
4. Jalan cerita: 6.5/10
Well, nilai ini sangat dipengaruhi oleh poin pesan moral. Menurutku sebuah cerita seglamor apapun konsep dan risetnya jika tidak bisa memberikan apapun pada pembaca, novel itu belum tuntas rasanya. Aku tidak bisa menemukan sesuatu yang sangat berkesan dalam cerita ini selain keglamorannya.
Catatan terakhir:
Menurut aku, mendetil itu keren. Tapi terlalu banyak istilah yang membuat aku sangat asing dan lost in translation. Terutama mengenai teori musik dan beberapa istilah fashion. Mungkin ini karena aku yang kurang gahoel kali ya. XD Tentang deskripsi yang sangat detail pun di satu sisi aku merasa kagum, tapi di sisi lain aku sempat bertanya-tanya apakah benar seperti itu? Beberapa terkesan berlebihan dalam imajinasiku. Terutama tentang dandanan Elena saat hendak pergi ke pesta ultah Monique.
Seperti itu kira-kira reviewku untuk PDM. Ah... ada satu hal lagi yang mau kutambahkan sebelum selesai.
Satu pertanyaan, dalam cerita ini bagian akhir menyebutkan tentang Mancore, aku penasaran saja. Apakah Mancore ini adalah organisasi yang sama dengan yang diceritakan dalam Find L.O.V.E? Hehehe
Sekian dari aku malam ini. Review ini akhirnya kelarrrrr... setelah aku berhari-hari mikir pengen nulis tapi waktunya tak ada. T_T But, anyway... buat yang sudah menikmati review ini, semoga anda merasa terhibur dan tidak sakit hati. #eh
Overall, jika kalian mencari sebuah hiburan, novel ini cukup menghibur dan menarik untuk diikuti. Terutama menjelajahi Montreal dalam balutan musik dan kisah novel ini. ^^
Let's dream big and make it real. ^^
Jakarta, 02 Juni 2015






















0 comments