[Booktalk] Fangirl World and I

10:31 PM


I was going to write something, but I forgot once arrived at home. Hahaha.

There's so many things running inside my mind. People inside here are so crowded.  They talk to much to the extent I think I need to write it. But I forget what I need to write. It feels like you're just having a dream, a very lucid dream then once you're wake up you forget it.The difference only you're experienced it wide awake.

That's what we call as daydreaming. Hahaha.

Lately, I have been reading a very good novel. Well, not that great, it's just somehow intrigued me inside.

Maybe this post also contain a booktalk. I feel lazy to do review like usual.


The book I read is titled Fangirl by Rainbow Rowell.





Dan kenapa aku nulis entri blog ini dalam bahasa Inggris? X)  Let's switch it to proper Indonesian.

Mungkin ini adalah efek dari 4 hari berturut-turut aku berurusan dengan bahasa ini; firstly aku akhir-akhir ini mulai baca novel berbahasa Inggris lagi dan mengobrol memakai bahasa ini dengan seseorang.

Karena aku adalah tipe yang mudah terpengaruh oleh bahasa jadi yah seperti itu.


Nah buku yang akhir-akhir ini aku baru selesaikan ini bercerita tentang seorang fanfic author yang baru lulus SMA dan berjuang menghadapi level hidup yang baru, bertemu dengan orang baru, dan harus beradaptasi dengan semua perubahan itu. Growing up, which is cerita ini sangat mirip dengan kehidupanku. Maybe, that's why aku merasa attached dengan novel ini.

Sosok Wren yang ingin menjadi dewasa setelah lulus SMA dengan partying hard setiap malam, Cath yang menolak untuk tumbuh dewasa, Reagan yang sophisticated, dan Levi yang cerdas dan menyenangkan, karakter-karakter ini terasa cukup hidup.

Terutama karakter Cath dan Wren. Pertama-tama Cath, meski pun dunia mahasiswaku tidak jauh berbeda dari dunia SMA, tapi aku benar-benar mengerti mengapa dia merasa sulit untuk move on dari dunia fanfiction yang selalu bersamanya sejak kecil.

It's not about just change your character's name than boom we got a novel. Trust me, rasanya sangat berbeda. Satu karena tokoh dalam fanfiction itu  hidup di dalam diri kami, para fangirl. Kami benar-benar mencintai dan mengenal tokoh itu dengan sepenuh hati. Kami percaya dengan apa yang kami ingin percayai itu nyata.

Everything will feel so different even if we just change one name.
Karena ketika satu hal berubah, yang lain harus mengikuti perubahan itu. Sometimes for me it's annoying actually. Aku ga suka mengulang hal yang sama dua kali.

That's why I really adore people like Cath. Dia bisa bikin outline dan punya beta reader yang siap untuk memberi masukan yang berarti kemungkinan dia harus mengacak-acak ulang naskahnya lagi itu sangat besar, dan itu artinya seperti kembali berjalan di jalan yang sama, meskipun kesannya berbeda, atau bahkan arahnya berbeda.

Aku sangat tidak bisa melakukan itu, setiap kali outline selesai, maka untukku cerita itu juga selesai dan aku kehilangan minat untuk menuliskan draftnya karena endingnya aku sudah tahu.

Ini kebiasaan buruk sih, hanya saja setidaknya aku mengakali dengan progres outline berbanding lurus dengan naskah. Meski pun terkadang mereka bisa berloncat-loncatan dari alur. Like a puzzle piece wait to be clicked on the right place. 

Satu hal lagi yang mengagumkan dan itu memang benar-benar terjadi dalam dunia fanfic, mungkin teman-teman penulisku akan mengatakan: "Wow... gimana sih loe bisa nulis 10 halaman setiap hari waktu ngerjain psa3?

It's really happened on us, fanfic writers. Kebanyakan dari penulis fanfic akan meng-update chapter demi chapter setiap minggu bahkan ada yang setiap hari dan itu tidak pendek. Ada yang bahkan sekali mengupdate untuk beberapa cerita miliknya. It's always fascinating for me to think how could their brain manages such as workload? 

Buat aku saja 10 halaman setiap hari seperti mengambil sebagian besar waktu luang dan terkadang waktu istirahat, tapi kecepatan Cath dan penulis-penulis macam dia sangat mengagumkan. Dan beberapa penulis itu memang memiliki kemampuan menulis dan berpikir yang sangat baik. Chapter yang mereka tulis meskipun cepat itu bukan berarti tanpa isi ataupun cemen. *ada juga sih yang penulis belum sampe ke tahap itu, tapi itu tetap patut di apresiasi karena kecepatan menulisnya itu*



Namanya fangirl itu ternyata dimana-mana sama. Kita punya culture yang sama.

Just like this quote.


“And I don’t have a weird thing with Simon Snow,” Cath said. “I’m just really active in the fandom.”


“What the fuck is ‘the fandom’?”


“You wouldn’t understand,” Cath sighed, wishing she hadn’t used that word, knowing that if she tried to explain herself any further, it would just make it worse. Reagan wouldn’t believe—or understand—that Cath wasn’t just a Simon fan. She was one of the fans. A first-name-only fan with fans of her own.

I feel you, Cath. TOTALLY! I know how you feel. Itu yang selalu terjadi setiap kali kita membicarakan fanfic dengan orang-orang yang tidak pernah berhadapan dengan dunia semacam ini.

Itu sebabnya penulis-penulis fanfic seperti kami hanya bergaul dengan orang-orang yang mengerti karena kami tidak ingin di-judge untuk hal yang mereka tidak akan pernah mengerti.


Dan Wren, I totally feel you too. Aku mengerti bagaimana keinginan untuk tumbuh dewasa seketika saat memasuki universitas. Yah meski pun aku tidak akan melakukan hal yang sama dengan Wren ya, bahkan sesungguhnya aku bersikap sama seperti Cath.

I also ever refused to grow up and start take thing real with real fiction not fanfiction. Hanya saja, Cath lebih berani untuk tetap mengambil jurusan Creative Writing, sedangkan aku melenceng ke arah yang lain karena takut dengan beban nyata yang harus kuhadapi bahwa menulis tidak akan menjadi sekedar menyenangkan hati tapi untuk keperluan tugas dan hidup, which is I'm not regret at all too. Editing membuat aku belajar hal lain yang bisa diaplikasikan dalam cerita. I manage to move on from fanfiction dan mulai menulis fiksiku sendiri sejak mungkin beberapa tahun belakangan, tapi tidak sepenuhnya berhenti menulis fanfic sih. Baru awal tahun ini saja aku benar-benar memutuskan untuk berhenti.

Pernah nonton drama Healer? Di sana ada sebuah perkataan yang membekas dalam pikiranku. Itu adalah

Kita lebih baik memilih hal yang kita sukai kedua sebagai pekerjaan sedangkan yang paling kita suka sebagai hobi. 

What I think is, it's maybe more like an escapade from heavy stuff, from real life, real money issues. Writing is my last resort to let my self free. 


Anyway, pada intinya buku ini membekas di dalam hati. Dia bercerita tentang growing pain. Namun, aku sebenarnya sedikit kecewa dengan ending yang terkesan begitu saja. Berharap ada sesuatu yang lebih.


PENILAIAN:

1. Judul: 6/10
Tidak terlalu fresh tapi simpel dan menarik

2. Blurb/ Sinopsis: 8/10

3. Karakterisasi: 7/10

4. Jalan cerita: 7/10

5. Originalitas: 6/10

Untuk kesegaran cerita sesungguhnya, beberapa kali aku sudah pernah membaca fanfic semacam ini sebelumnya, jadi tidak lagi terasa baru untukku.

Hanya saja aku cukup salut dengan riset yang penulis lakukan, tidak mudah untuk bisa memasuki dunia kami karena kami terkadang terlihat sangat terbuka dan di saat yang sama tertutup, tapi dia berhasil mengekstrak hal-hal esensial dalam dunia fangirl dan menceritakan ulang dengan sangat apik. BUT totally failed di part fanfiction kecuali satu fanfic yang dibaca Cath untuk Levi. Rainbow Rowell should just stick with real fiction rather than trying to do fanfiction. Haha. That's the worst fanfic I ever read probably. Maksudku untuk cut scene dari fanfic yang diletakan di antara bab.

Aku lumayan suka dengan gaya dia bercerita, terkadang terkesan lucu dengan dia harus mengoreksi apa yang ia ceritakan di dalam kurung. (Nick, that I talk about, not Levi) sesuatu seperti ini.

Novel ini cukup menyenangkan, apalagi ketika aku harus membacanya dalam bahasa Inggris.


Overall Enjoyment : 28/50





You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide