[Cerpen] What is Happiness?

8:10 PM




Malam hari itu Alena duduk di dalam mobil berwarna putih kecil, memandangi kerlip lampu jalanan yang berderet di hadapannya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan kembali menemukan pemandangan yang sama. Macetnya kota Jakarta tidak pernah membaik, bahkan semakin memburuk tiap tahunnya.

Alena menghela napas. Mengetuk-ngetukan jemari di atas roda kemudi mobilnya dan berpikir kapan jalanan ini akan terurai. Jam digital yang tertera di pemutar musik mobil telah menunjukan pukul 22.15. Sekali lagi ia menghela napas dan memutuskan untuk menyalakan radio.

"JO Radio 99.9 Fm. Masih bersama gue, Aksel, dan Helena, nama kura-kura gue hari ini." Sayup-sayup suara dari radio terdengar mengisi kekosongan dalam benda kecil yang membawa Alena menembus kegelapan malam. "Sobat The Unspoken, menyambung tentang surat tadi. Ada dua tipe manusia ketika menghadapi hal seperti ini, yang satu akan menjadi emosional karena ingin segera melupakannya, sedangkan tipe yang lain akan terus berpegang pada kenangan lama, takut bahwa mereka akan melupakan. Keduanya normal terjadi, tapi hanya satu alasan untuk semuanya, mereka merasa sendiri." 

Alena menyandarkan punggung lebih dalam pada kursi pengemudi. Menikmati suara berat namun terdengar hangat milik penyiar radio yang baru saja didengarnya.

"Sobat The Unspoken, gue pengen tanya satu hal. Menurut kalian, apa itu kebahagiaan?"
Alena terpaku mendengar pertanyaan yang diucapkan penyiar radio itu. Hal itu membuatnya mengingat kenangan yang dengan susah payah ia kubur. Kenangan yang telah merenggut waktunya sebanyak sepuluh tahun.
***

Be happy for yourself not for other people.”  

Kata-kata itu kembali terngiang dalam benak Alena pagi itu. Sekali lagi ia masih saja berusaha menggengam kenangan.
Ini sulit untuknya melepaskan hal yang selama sepuluh tahun ini menjadi satu-satunya pusat rotasi kehidupannya.

Di pagi itu, ia duduk ruang rekreasi bagi para pasien rumah sakit tempat ia tinggal selama beberapa bulan ini untuk memperbaiki jejak yang ditinggalkan peristiwa beberapa tahun lalu, hari yang merengut segala miliknya terjadi. Alena duduk di dekat jendela sementara para pasien lainnya menikmati waktu senggang mereka.

Sekali lagi air mata kembali menetes di pipinya.
“Hari ini kamu lagi-lagi melanggar janjimu.” Seseorang berjubah putih duduk di sampingnya tanpa bertanya lebih dahulu. Alena sudah tahu siapa dia tanpa perlu menoleh. Pria itu bernama Jason, dokter yang telah merawatnya selama beberapa bulan belakangan.

Alena menoleh dan tersenyum tipis hendak mengusap jejak air mata di pipi, namun Jason telah mendahului mengulurkan tangan untuk mengusapnya.

“Kamu tidak lelah?” Jason bertanya, entah apa yang dimaksudnya. Apakah ia bertanya Alena lelah dengan kegiatan hari ini ataukah hal ini tentang Alena yang masih saja tidak bisa melepaskan sosok yang kini hanya bisa hadir sebagai kenangan.

Alena terdiam. Alena tahu ia sungguh tidak dapat dipercaya. Ia telah berjanji untuk kembali menjalani hidupnya namun sekali lagi ia melanggarnya, dengan terus mengenang sosok bermata  cokelat yang pernah mengisi ruang dalam benaknya.

“Kamu ingin kembali ke kamar?” 
Alena mengangguk ketika mendengar pertanyaan Jason lagi. Mungkin memang benar ia sudah sangat lelah dengan semua ini.

Jason berdiri dan mengulurkan tangan kanan pada Alena. Wanita itu meraih tangan yang terangkat di hadapannya. Untuk saat ini saja, ia membiarkan seseorang menjangkaunya sebelum ia kembali tenggelam dalam lautan kenangan.
***

Alena berjongkok di dekat kubangan air yang terbentuk selekas hujan tadi pagi. Ia menatap pantulan dirinya. Sudut bibirnya berkedut. Ia berusaha menarik garis samar pada bibirnya. Ia berusaha untuk tersenyum. Untuk bahagia. Namun bagaimana caranya untuk bahagia?

Sosok yang tersenyum memandangnya itu terlihat sangat tidak bahagia. Rupanya senyuman pun tidak bisa membohongi ekspresi yang ditunjukan oleh mata. Genangan itu terlihat menyedihkan.

“Lagi lihatin apa, Kak Len?” Suara tenor yang tiba-tiba mampir di telinga segera mengejutkan Alena. Alena terlonjak dan nyaris terjatuh ke samping. Pria itu menahan tangan Alena. “Gak papa, Kak? Kayaknya kaget banget.”

Alena memandangi sosok pria yang lebih muda darinya dua tahun yang berjongkok di sisinya. Ya, itu adik laki-laki tirinya, Alvian atau Alena lebih sering memanggilnya Bian.

Alena segera meluruskan kaki, begitu pula dengan adiknya. Senyuman tidak pernah lepas dari wajah Bian. Alena bertanya-tanya apa yang membuat pria itu tersenyum? Mengapa ia tersenyum? Apakah ia bahagia seperti yang ditunjukan senyumannya?

“Ada apa, Kak?” Bian menyentuh wajahnya dengan canggung ketika menyadari Alena terus menatap ke arahnya.
Alena segera menggeleng dan melangkah memasuki bangsal yang telah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa bulan belakangan.
“Kak, kakak masih belum mau keluar dari sini?” Bian menjejeri langkah kakak tirinya. Alena terdiam sejenak kemudian menggeleng. Alena berjalan lebih cepat meninggalkan Bian yang biasa datang menjenguk di jam-jam seperti ini.
Bian hanya bisa menggeleng dan menghela napas.

***

How to be happy?” Pertanyaan itu pernah Alena ucapkan padanya. Ia pernah mengetahui jawabannya. Ia pernah tahu bagaimana menjadi bahagia, namun kini tidak.
Apa jawaban yang pernah dikatakan sosok itu dulu? Bagaimana cara menjadi bahagia?

“Suster, Lena kumat!” Para pasien berteriak-teriak ketika melihat salah satu dari mereka bersikap lain daripada biasanya. Di antara mereka yang kondisinya sudah membaik, hal ini hanya sesekali terjadi. Namun ketika sesuatu terjadi, seluruh pasien yang saat itu berada di sana dan sedang dalam kondisi baik akan saling membantu.

Beberapa perawat segera menyeruak ke dalam kerumunan dan melihat Alena sedang berjongkok dan menangis tersedu memegangi dadanya.
“Lena, Len...” Alena seakan tidak mendengar namanya dipanggil ia hanya terus memukul dada. “Di mana yang sakit?”

Salah seorang perawat memeluk bahu Alena berusaha menenangkannya. Alena tidak menggubrisnya, lebih tepatnya ia tidak menyadari usaha itu. Yang ia rasakan hanyalah dadanya begitu sesak hingga terasa sangat sakit. Ia tidak mampu bernapas.

Niel...
***

“Apa yang kamu pikirkan tadi?”

Sore itu Alena duduk di hadapan Jason lagi untuk memulai sesi konseling mereka. Seperti biasa, sesi itu dibuka dengan Jason menanyakan dan mengatakan beberapa hal. Barulah setelah itu pria itu mulai menelusuri lebih dalam. 

Alena terdiam.
Be happy for yourself not for other people. Perkataan itu kembali terngiang di benak Alena.

“Lena?” Jason sekali lagi bertanya karena wanita yang duduk di hadapannya tidak mengatakan apa pun, hanya memandanginya seperti biasa.
Alena memainkan jemari di atas pangkuan.
Jason ikut terdiam, menanti Alena untuk berbicara. Detik jarum jam di dinding mengisi ruang hampa yang diciptakan Alena di dalam ruangan minimalis serba putih ini. 

“Aku... tidak bisa mengingat apa yang Niel pernah katakan. Rasanya, hari  demi hari sosoknya semakin kabur.” Alena angkat bicara setelah terdiam selama beberapa detik.

Jason mengulurkan tangan untuk mengurai tangan Alena yang saling menggenggam erat hingga melukai dirinya. Seakan ingin memberikan kekuatan pada Alena untuk terus berbicara.
Alena menggeleng kuat. “Aku seharusnya bisa mengingatnya. Setelah semua yang Niel lakukan untukku, bagaimana bisa aku mulai melupakannya?”
Alena kembali terdiam, memandangi Jason yang masih saja tidak menunjukan emosi lain selain simpati. Sejenak hal itu memicu Alena untuk menyergah pria itu. “Bagaimana caramu untuk melupakan seseorang?”

“Melupakan siapa?” Jason balik bertanya.
“Melupakan Niel. Selama sepuluh tahun, hanya beberapa bulan lalu kau mencari kabar tentangnya. Tidak pernah terpikir olehmu sedikit pun 'kah bagaimana kabarnya jika ia tidak hadir dalam mimpimu?” Alena selalu ingin mengetahuinya. Mengapa Jason memilih untuk muncul saat ini? Padahal selama sepuluh tahun belakangan, hidupnya baik-baik saja, dengan atau tanpa Nathaniel. “Bagaimana caramu untuk melupakan sepupumu?”

Ekspresi yang berubah dari wajah Jason sejenak membuat Alena merasakan sedikit kepuasan. Namun detik berikutnya, semua berubah dengan gelengan dari Jason.

“Hanya karena aku tidak pernah menunjukan, bukan berarti aku telah melupakannya. Kalau begitu aku akan bertanya padamu, bagaimana caramu untuk tidak melepaskan seseorang yang telah pergi selamanya? Apakah dengan berhenti menjalani hidupmu dan hidup dalam kenangan dengannya?”

Alena bangkit dari tempat duduknya cepat. Kemarahan terlukis pada ekspresi wajahnya. Alena merasa terserang dengan pertanyaan Jason.

Jason masih saja terlihat tenang, padahal ia baru saja melanggar etika konseling yang seharusnya diterapkan pada pasien dengan masalah seperti Alena. Tapi, Jason memang selalu seperti itu sejak awal. Alena tidak lagi terkejut dengan sikapnya.

Jason pula yang mengajukan cara yang sempat menjadi pertentangan di antara psikater di rumah sakit ini kepada Alena. Ia juga bahkan melanggar peraturan tak tertulis yang menyarankan psikater yang memiliki keterkaitan langsung tidak boleh menangani pasien itu.

"Apa aku mengatakan hal yang salah?" Jason bertanya kembali seakan mengingatkannya lagi pada janji yang pernah Alena ucapkan sebelum memulai pertemuan ini. “Apa kamu masih tahu bagaimana cara untuk tersenyum?”
***

TIIIINNN!!

Bunyi klakson dari arah belakang sontak menyentak Alena kembali pada kerumitan jalanan Jakarta di malam minggu itu. Alena segera menjalankan mobil untuk mengisi ruang kosong di depan mobil yang ia ciptakan, hasil dari lamunannya.

“... Untuk bahagia, cara paling simpel yang bisa loe lakuin adalah menarik dua ujung bibir ke atas dan tersenyumlah,“ suara penyiar radio itu masih saja terdengar.

Bullshit. Alena mencibir pernyataan itu. Untuknya, menarik garis pada bibir itu adalah hal terumit. Bahkan hingga saat ini pun, ia masih saja tidak tahu bagaimana cara untuk tersenyum tanpa terlihat canggung.

Senyumannya tidak pernah sama lagi.
***

“Hepain hak...” Alena seakan sedang mengucapkan bahasa alien karena kedua pipinya ditarik melebar, namun pelakunya hanya terkikik geli tanpa berniat untuk melepaskan Alena meskipun gadis itu sudah menatapnya marah. “Hiel!”

Alena melayangkan tangan untuk membalas pemuda di hadapannya. Pemuda itu mengelak namun Alena tidak menyerah untuk balas dendam. Ia terus mengejar.
"Loe sumpah jelek banget, Niel." Alena tertawa terbahak ketika berhasil membalas apa yang dilakukan Nathaniel padanya. Pemuda itu membuat ekspresi wajah aneh menambah volume tawa Alena.  "Stop... stop it, Nathaniel."

Alena tertawa hingga jatuh terduduk di atas rumput. Entahlah, sesungguhnya apa yang dilakukan Nathaniel tidaklah selucu itu, hanya saja Alena terus saja tertawa tanpa mampu berhenti.

Setelah beberapa saat Nathaniel berhenti dan menatap Alena yang masih tertawa hingga terhenti. Ia tersenyum ketika Alena menatapnya bingung. "See, you can smile actually. It’s just that simple. Not hard at all, right?"
Mungkin hanya dengan bersama Nathaniel saja bisa membuatnya bahagia.

Alena mengamati wajah pemuda bermata coklat itu. Bentuk matanya mengingatkan Alena pada kacang almond yang ia sukai dan senyumannya, itu adalah salah satu hal yang paling mengesankan dari Nathaniel. Dua gigi taring yang sedikit runcing dan lebih panjang daripada gigi lainnya membuat senyumannya terlihat unik. Alena bisa mengatakan bahwa Nathaniel tampan, hanya saja orang lain tidak sependapat dengannya. Penampilan pemuda itu yang terlihat seperti kutu buku membuat orang-orang berpikir demikian.

Atau mungkin memang hanya Alena saja yang mampu menyadari sosok asli di balik kacamata tebal itu. Seperti Nathaniel yang berhasil menemukan sosok asli Alena di balik penampilan tanpa ekspresinya. Di negeri yang sama sekali asing untuknya, kota tanpa ada seseorang yang benar-benar peduli padanya, Niellah yang pertama kali menyadari rasa sakit yang Alena rasakan selama ini. Ia pula yang mengulurkan tangan pertama kali padanya.

***

"...Tersenyum dan berbahagialah karena itu adalah cara terbaik untuk membalas orang-orang yang membuatmu merasa buruk." Kalimat yang diucapkan penyiar radio itu mampir di indera pendengaran Alena. Hal itu membuatnya kembali tertegun. Rasanya kalimat itu tidak asing.

Ya tentu saja kalimat itu tidak asing. Itu adalah kalimat yang Alena tidak akan pernah lupakan sepanjang hidupnya. 

"You should become stronger and fight to endure it. The things and people who make you suffer, they will always be there to distress you. As they do, the wisest revenge is to be happy. Just for you to know that.

Itu adalah kalimat pertama yang Nathaniel ucapkan pada Alena. Kalimat pertama yang menarik perhatiannya dan membawa mereka pada pertukaran kalimat selanjutnya.

Alena masih mengingat jelas setiap kata yang terucap oleh Nathaniel saat itu. Hanya saja, apa yang harus ia lakukan ketika sosok yang membuatnya merasa buruk adalah orang yang pernah mengatakan hal itu padanya?

Alena tidak pernah bisa mengerti bagaimana ia bisa membalas setiap perasaan buruk yang diakibatkan oleh kepergian Nathaniel dari hidupnya.

Air mata kembali menggenang di sudut mata Alena hingga ia harus segera menepikan mobil yang dikendarainya karena pandangannya semakin kabur.

Alena mengerti ia harus terus berjalan ke depan bukannya menghadap pada jalan yang telah dilalui. Ia paham bahwa untuk bisa melepaskan seseorang yang telah pergi, tidak boleh terus berpegang pada kenangan. Ia tahu pasti bukan ini yang Nathaniel inginkan darinya. Ia pun berusaha keras untuk memenuhi hal itu, bahkan ketika dirinya pun masih belum bisa menemukan jawaban dari pertanyaan yang terus mengisi benaknya semenjak kembali dari lautan kenangan yang menyelubunginya.
***

Alena menatap pintu putih dengan gagang panjang berwarna emas di kedua helai pintu. Untuk kesekian kalinya ia melatih tarikan senyuman kecil di bibirnya. Ia harus bisa melakukannya.

Tidak usah memaksakan dirimu. Pada saatnya kamu pasti bisa mengingatnya.” Perkataan Jason dulu sempat kembali hadir dalam benak Alena. Itulah yang menyakinkan Alena untuk tersenyum meski pun ia tidak tahu senyuman seperti apa yang ia perlihatkan.

Setelah yakin dengan senyuman yang akan ia perlihatkan, Alena membuka pintu yang menghadang di hadapannya.

“Mama…” Seorang anak perempuan berusia sekitar dua tahun mengenakan gaun pink berlari menyambut wanita berpakaian formal itu dengan senyuman lebar.

Secara otomatis tanpa ia sadari, kedua sudut bibir Alena sontak terangkat melihat sosok mungil yang masih sangat menggemaskan dalam setiap caranya bergerak. Alena merentangkan kedua tangannya menyambut langkah kecil yang menghambur ke arahnya.

Apakah ini yang dinamakan kebahagiaan? Hanya dengan menatap sosok kecil dalam pelukannya saja mampu menghalau segala perasaan buruk yang ia rasakan di jalan.

Alena sekali lagi menatap sosok yang membuatnya tersenyum tanpa harus memaksakan diri. Sepertinya ini adalah efek dari mendengarkan suara penyiar radio itu. Setiap perkataannya mengingatkan Alena pada sosok itu. Atau mungkin akhir-akhir ini ia lelah karena terlalu banyak bekerja, kejenuhan yang terjadi oleh karena kerasnya kota Jakarta.

Apa pun itu, Alena masih harus melangkah ke depan.
***

I don’t get it.” Sosok gadis remaja yang sedang duduk di sebelah pemuda yang sedang sibuk membaca buku tebal di atas meja.

Alena membalik buku itu hingga menutup. Ekspresi wajahnya sangat tidak menyenangkan. Ia kesal, tentu saja. Pemuda itu telah mengacuhkan kehadirannya sejak satu jam lalu.
What is it again, Lena? What’s bother you now?” Pemuda berkacamata itu mendongakkan kepala dari atas buku.
Is it fun? Are you happy?” 

What’s wrong with you?” Pemuda itu tersenyum geli melihat ekspresi wajah Alena.
Are.You.Happy?” Alena mendekatkan wajahnya hingga bertatapan dengan mata cokelat pemuda itu. “Apa buku-buku ini bisa membuatmu bahagia?”

Did something happen at your home or someone bother you again?” Pemuda itu terdengar khawatir. Alena hanya mendengus mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pemuda itu. Ia memutar posisi tubuhnya dan menyandarkan dagu di atas meja. “I’m just wondering about what is happiness? Apa yang membuatmu berpikir bahwa kamu bahagia?”

Hening. Alena tidak mendapatkan jawaban dari pemuda yang sebenarnya mampu berbahasa Indonesia dengan baik itu. Alena memutar posisi kepalanya untuk menatap pemuda itu
Pemuda itu mengulurkan tangan. Alena bergerak mundur mencurigai apa yang hendak dilakukan pemuda ini.

“Arghhhh!!” Alena sontak menjerit ketika menyadari pemuda itu hendak mengelitikinya. Mereka tertawa hingga penjaga perpustakaan tempat mereka berada menegur dari kejauhan.            
“Ssttt.... Be quiet!” Keduanya mendesiskan hal yang sama bersamaan sambil menahan tawa karena melihat tampang sok galak yang ditunjukan ibu penjaga perpustakaan. 

Are you happy now?” Pemuda itu kembali menanyakan hal yang sebelumnya Alena tanyakan. Alena terdiam. “Kamu terlalu banyak berpikir, Len. Being happy is just being happy. No need reason.
“Tapi bagaimana caranya untuk bahagia?”

Just like before. Laugh.” Melihat cara pemuda itu tersenyum membuat sudut bibir Alena sontak ikut terangkat. Senyumannya memiliki pengaruh yang seperti itu. Membuat orang yang melihat ikut tersenyum bersama. Sebuah senyuman yang tulus.
“Kamu punya senyuman yang indah, kamu tahu?” Pemuda itu menatap Alena sambil menyentuh pipi kanannya. Alena mengalihkan pandangan dan menepis tangan yang menyentuh pipinya.

“Loe tuh terkadang aneh, El. Ada saatnya loe tuh serius banget, tapi untuk hal-hal seperti ini kayaknya loe cenderung jalanin aja tanpa banyak berpikir. Like about being happy.”

“Huh?”
Never mind.” Alena memutuskan untuk tidak menjelaskan lebih lanjut.
“Untuk orang kayak aku yang terlihat biasa saja dan nggak akan pernah bisa menjadi seseorang yang sangat popular atau pun berbuat besar untuk dunia, daripada membebani diri dengan banyak pikiran, bukankah yang lebih penting adalah merasa bahagia?” Pemuda itu menyanggah kepalanya pada lengan yang bersinggungan tegak lurus pada meja. “Tertawa seperti ini setiap hari kurasa cukup.”

Alena menatap wajah pemuda itu lekat. Kebahagiaan dulu pernah terasa sangat simpel untuk mereka. Untuk Alena. Dan mungkin saat ini ia telah melupakannya.


Ditulis pada
Jakarta, 13 April - 3 Mei 2015
sumber foto: https://www.flickr.com/photos/franckmichel/3968237289

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide