“Nggak! Bukan begitu harusnya. CUT! NG! Take ulang.”
Rasti terus saja bergumam ketika memandangi adegan penuh drama yang sedang
berlangsung di hadapannya. Mata bulat besarnya khusyuk memperhatikan sepasang
kekasih yang sedang bertengkar di depan kafe tempat kami sedang duduk bersantai
sore itu. Seakan tidak ingin kehilangan satu momen pun.
“Lo lagi ngapain sih, Ras?” tegurku karena bingung
dengan ocehannya yang semakin mirip racauan. Begitulah Rasti ketika sudah larut
dalam suatu hal. Hal-hal di sekelilingnya seakan tak lagi penting. Aku pun tak
nampak lagi di matanya.
Rasti menurunkan kedua tangannya yang tadi ia
bentuk seakan frame kamera yang membingkai
adegan pertengkaran tersebut. Menyesap ice
caffe latte yang dipesannya setengah jam lalu dan kini sudah menjadi sangat
encer karena es-esnya mencair.
“Gue pengen hidup dalam dunia film, nyusun plot yang sesuai keinginan gue,” Rasti
bergumam pelan sambil menopang kepalanya memandang ke arah jalan raya yang
dipadati oleh ratusan mobil dan motor berlalu lalang. Matanya memandang jauh.
Jauh ke depan seakan jiwanya tidak berada di tempat ini. Tidak bersamaku.
Aku sering kali cemburu dengan obsesi Rasti
terhadap dunia film.
Karena aku tidak pernah paham dengan obsesi yang ia
inginkan.
Karena ia tidak mengacuhkanku.
Karena aku mulai kehilangan dirinya.
***
“Dunia film itu asyik! Gue bisa
komandoin untuk cut, retake, action. Buang
part-part adegan yang gue nggak suka. Gue bisa membangun dunia sesuai apa yang
gue mau. Gue bisa bikin rumah ini berdiri dengan atap di bawah. Gue bisa bilang
dunia manusia saat ini sebenarnya dikuasai oleh alien-alien pemakan jiwa, otak
manusia dikendalikan makanya mereka bersikap semaunya sendiri tanpa memikirkan
satu sama lain. Atau ada sebuah dunia di mana orang-orang di dalamnya nggak
akan pernah dewasa. Seperti Neverland di film Peter Pan. Gue pengen terus jadi
anak kecil. Bebas. Nggak ada beban. And
they will live happily ever after.”
Rasti dengan imajinasinya yang liar.
***
Rasti sejak kecil memang sedikit
kekanakan dan manja. Ia selalu memiliki segudang keinginan yang harus segera
dipenuhi. Jika tidak, ia akan mengambek hingga berminggu-minggu dan tidak mau
berbicara denganmu. Terkadang sedikit candaan yang bersifat menyindir. Yah,
layaknya seorang anak kecil. Hanya sebatas itu.
Namun, kian lama, kini
sindiran-sindiran yang awalnya hanya candaan, menjadi semakin menjadi.
Komentar-komentar mengenai ketidakpuasan tentang apa yang terjadi dalam
kehidupannya semakin dalam. Rasti selalu merasa hidupnya adalah sebuah drama.
Namun, cerita dalam drama itu harus berjalan sesuai dengan keinginannya. Akhir
dari drama tersebut haruslah bahagia. Ia memegang kekuasaan penuh atas segala
hal. Obsesi Rasti untuk menyunting kehidupannya bermula dari sana.
“Aku nggak mau dijodohin, Ma! Aku
belum mau nikah!” Rasti berteriak histeris pada suatu malam. Hari itu seluruh
keluarga inti Rasti berkumpul, namun ada dua orang asing yang ikut bergabung
dalam pertemuan keluarga tersebut. Seorang wanita berusia paruh baya dan
seorang lagi pria yang Rasti sebenarnya sudah tidak asing.
Mas Hadi, begitu Rasti selalu memanggilnya. Ia adalah anak dari kawan lama keluarga
Rasti. Ia mengenal pria bercambang tipis itu sejak remaja. Mas Hadi baik, sopan,
dan selalu sabar menghadapi sikap kekanakannya. Rasti merasa cukup nyaman
ngobrol dengannya. Tapi hanya sebatas itu, Rasti tidak menyimpan perasaan apa
pun pada Mas Hadi.
Pengumuman yang diberikan oleh ayah Rasti malam itu
sukses membuat Rasti jengkel. Apa-apaan ini? Padahal belum lama ia baru saja
putus dari pacar sebelumnya. Luka itu masih menganga dengan lebar. Masih segar.
Dan kini ia dipaksa untuk menerima seseorang yang baru dalam kehidupannya. Tak
hanya itu, ia harus mengikatkan diri selamanya.
Mau dikemanakan hidupnya?
Impiannya?
Ia masih sangat muda. Memiliki jutaan keinginan,
layaknya manusia-manusia berjiwa muda yang penuh dengan vitalitas. Usianya
belum mencapai dua puluh lima tahun, belum waktunya ia dikubur oleh realitas.
Namun, takdir itu tidak dapat ia tolak. Kini ia
telah mati, dan menanti untuk dikubur dalam tanah ketika usianya mencapai lima
puluh tahun, jika beruntung.
***
“Aku nggak bisa hidup serumah dengan
kamu, Mas. Kita memang sudah menikah, tapi, jiwaku tetap ingin bebas. Aku belum
bisa menerima Mas sepenuhnya.”
Paras tenang Mas Hadi menyuram mendengar perkataan
ketus Rasti seusai semarak pernikahan yang habis-habisan digelar oleh kedua
keluarga yang baru bersatu ini. Usia pernikahan mereka belum mencapai satu
hari, namun Rasti telah menetapkan jarak sejak awal.
“Baiklah, kalau itu maumu, Ras.”
Setelah hari itu Mas Hadi dan Rasti tidak tinggal
serumah. Mas Hadi di luar pulau Jawa dengan segudang pekerjaannya, sedangkan
Rasti masih dengan kesendiriannya di kamar kost-an berukuran 3X6 meter. Berkhayal
seakan pesta pernikahan itu tidak pernah ada. Rasti menyunting hari sakral itu dari lini masa kehidupannya.
***
Tentang mantan kekasih Rasti, ia adalah seseorang
yang pandai berbicara dan cerdas. Hanya saja, kekurangannya adalah ia terlalu
takut untuk terikat. Bukan takut pada ikatan itu, hanya saja ia tidak percaya
diri bahwa ia akan terus bisa berada dalam hubungan tersebut. Bagaimana jika
suatu hari ia merasa bosan?
“Lo tuh jahat banget, Rak! Sadar nggak sih lo!” Rasti
pernah membencinya hingga ke tulang sumsum.
Setiap kali pria itu berucap mengenai petualangan
dan imajinasi ideal akan suatu sosok wanita, amarah Rasti langsung menembus ke
ubun-ubun. Ketika Rasti naik pitam, pria itu bukannya diam. Hal itu malah
membuatnya semakin menikmati untuk mengiris hati Rasti sedikit demi sedikit.
“Gue cukup jadi cowo jahat saja. Dunia perlu
orang-orang kayak gue supaya cewe-cewe bisa melihat cowo baik yang ada di sisi
mereka.” Sangat egois. Harga diri seorang pria yang ia tukarkan dengan menggantung
hati rapuh seorang perempuan pada sebuah tali tipis yang sewaktu-waktu akan
putus. Menanti saat jatuh hingga ia retak berkeping-keping.
Rasti mengutuk pria itu karena melakukan hal tersebut
padanya. Hingga saat ini pun masih. Tapi, sesekali ia akan merindukan sosok
yang kini bukan miliknya. Sesekali ia masih mengungkit tentang apa yang pria
itu lakukan padanya, pada orang lain, yang berujung mendapat komentar usil,
“katanya sudah move on.”
“Siapa yang belum move on? Bukan aku tapi dia,” begitu selalu elakan sewot Rasti
setiap kali Mas Hadi berkomentar demikian.
Take it for granted. Rasti tahu ia tidak
seharusnya melakukan itu. Ia tidak memikirkan perasaan Mas Hadi setiap kali
mengungkit pria lain di depan pria itu. Ia mengira apa pun yang dirinya lakukan
Mas Hadi akan menerimanya dengan lapang. Toh sejak awal mereka sudah tahu bahwa
mereka menikah bukan karena ingin menikah. Ini hanyalah sebuah kewajiban yang
harus dipenuhi. Rasti tidak peduli.
Rasti memang perempuan yang sama jahatnya dengan
mantan kekasihnya. Dalam dunia layaknya sebuah film yang ia rancang, Mas Hadi
tidak akan pernah mendapat peran. Rasti terus mengatur scene-scene dalam kehidupannya yang akan datang tanpa Mas Hadi di
dalamnya. Yang Rasti inginkan adalah memotong keluar bagian kehidupan yang
menjadi borok dalam skenario kehidupan miliknya. Namun, ia tidak tahu kalau
suatu hari itu menjadi bumerang baginya.
Rasti tidak melihat bahwa di salah satu scene kehidupannya yang akan datang ia
mulai kehilangan kendali atas segalanya.
***
“Ternyata suami gue kadang suka merhatiin gue pas
tidur.”
“Kalau aku pulang kantor, masku sering iseng-iseng
mijitin pas lihat aku capek banget.”
“Si Adit...”
Ketika semua orang mulai membanggakan pasangan
hidupnya masing-masing, komentar Rasti hanya satu, “Suami gue kok nggak gitu
ya?”
Kasih sayang dan perhatian yang teman-temannya
dapatkan dari pasangan hidup masing-masing terasa jauh dari kehidupan Rasti. Perempuan
bertubuh mungil itu merasakan sebuah perasaan yang asing merasuk dalam jiwanya.
Iri. Ia memiliki segalanya dalam hidup, kebebasan, ‘suami’ yang pengertian,
harta yang tidak pernah kekurangan, namun jiwanya terasa kosong. Ia tidak tahu apa yang sesungguhnya ia
cari.
Drama itu pun ditayangkan.
***
“Gue suka gaun itu. Duh lucu banget ya? Gue pengen punya suami lagi,” katanya
dengan berbinar-binar ketika para anak gadis asyik meributkan gaun-gaun
pengantin yang cantik.
“Mbak, kan udah nikah. Masa mau dua kali,” celetuk
salah satu dari para gadis itu.
“Ih, tapi kan gue suka. Gue pengen pake gaun itu.”
“Terserah lo dhe, Mbak.”
“Lo kok gitu sih sama Mbak.” Rajukan itu pun
dimulai. Berakhir dengan derai tangis yang tak pernah dimengerti alasannya oleh
orang-orang.
***
“Aku bosan, Mas. Pengen jalan-jalan.
Di sini nggak ada kerjaan,” keluh Rasti suatu malam pada Mas Hadi lewat jalur
sambungan telepon. Mas Hadi seperti biasa hanya bergumam untuk merespon keluh
kesah Rasti mengenai semua hal yang ia alami.
“Ras, kamu nggak mau pindah ke sini?” lagi-lagi itu
yang menjadi komentar Mas Hadi untuk ke sekian kalinya.
Namun, Rasti tak acuh. Ia bilang bahwa masih belum
ingin untuk hidup serumah dengan suaminya itu. Ia bukan tipikal istri rumah
tangga yang akan bangun pagi hanya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk sang
suami. Ia punya kehidupan.
“Aku nggak minta kamu untuk melakukan apa pun buat
aku, Ras. Cuma berada di sini saja. Itu saja, nggak bisa?”
“Apa bedanya kalau begitu? Aku di sini dan di sana.
Toh aku tidak harus melakukan apa pun untukmu, Mas.”
“Tentu saja berbeda. Di sini kamu dekat dengan
suamimu. Aku suamimu, Ras.” Nada suara Mas Hadi terdengar semakin gusar. Tidak
biasanya ketenangan itu terusik.
“Mas Hadi memang suamiku secara hukum. Tapi hanya
itu. Itu tidak berarti segalanya.” Lagi-lagi Rasti dengan logikanya yang sulit
untuk dimengerti.
“Terserah kamu dhe, Ras,” Mas Hadi menandaskan
pembicaraan itu agar tidak berkembang menjadi sebuah pertengkaran yang
akhir-akhir ini selalu terjadi. Ia terdengar sangat lelah.
“Kamu kok jadi marah sih, Mas?”
“Aku nggak marah.”
“Kamu loh marah, Mas! Mas Hadi nggak pernah ngerti
perasaanku.”
“Aku kurang ngerti apa lagi, Ras?”
Rasti meraung dengan akting yang luar biasa
seakan-akan ialah yang tertindas. Ia mengatakan lelah dengan situasi ini.
Mas Hadi pun lelah.
Teman-teman Rasti pun lelah.
Siapa yang tidak lelah dengan semua drama ini? Aku
pun lelah.
***
Hari itu layaknya sebuah twist dalam sebuah film, Rasti mendapati isi kepalanya melompong
layaknya sebuah gudang penyimpanan yang telah lama ditinggalkan.
“Mas Hadi kok tega sih ngelakuin itu ke aku?!”
Mas Hadi datang ke kamar kos-kosan berukuran 3x6 m
milik Rasti dengan membawa segenggam halilitar yang menghanguskan kepercayaan
diri Rasti akan skenario yang telah ia rencanakan.
“Aku lakuin ini supaya kamu bisa bebas sepenuhnya. Toh
kamu tetap tidak mau tinggal sama aku. Untuk apa kita tetap menikah? Lebih baik
cerai saja.” Halilitar terakhir dijatuhkan.
“Mas Hadi BOHONG! Ini pasti hanya demi hubunganmu
dengan perempuan lain.”
“Perempuan apa?”
“Mas nggak usah ngeles deh. Mas kira aku tidak
pernah tahu?”
“Nggak semua hal menyangkut itu saja. Kamu nggak
pernah mau coba paham.”
“Mas Hadi yang nggak pernah paham sama
masalahku!”
Hati Rasti gosong. Harga diri Rasti tersakiti. Ia
merasa begitu terkhianati. Rasa ini lebih buruk daripada saat mantan kekasihnya
menggantung hati Rasti pada seuntas benang tipis. Semua tak akan bisa
diperbaiki lagi.
Apa yang harus Rasti lakukan?
Ia tidak bisa bercerita pada siapa pun. Mengumbar cacat
dalam skenario yang ia rancang. Ia tidak ingin siapa pun untuk tertawa atas
akhir yang ia dapatkan.
***
“Kalian tuh nggak pernah hargain gue! Gue
capek-capek ngelakuin ini-itu buat kalian, tapi balasannya apa?” Rasti hilang
kendali. Ia butuh tempat untuk melampiaskan segalanya.
“Kalau gue bisa
ngulang semua ini, gue pengen ngulangin hidup gue. Gue benci kehidupan seperti
gini. Nggak ada yang ngertiin gue. Kehidupan ini benar-benar bullshit!” Aku bisa merasakan air mata
Rasti mulai meleleh. Ini membuatku ikut merasakan rasa sakitnya.
Sebuah tamparan keras seakan
menghantam Rasti. Bukannya merasa prihatin dengan apa yang Rasti, teman-teman
Rasti hanya memandangnya tanpa empati.
Mereka tidak paham rasa sakitmu.
Tidak ada yang mengerti dirimu, Ras.
Aku lah yang paling mengerti dirimu.
“Sadar, Ras! Kami cuma teman lo, Ras. Bukan tugas kami untuk menghadapi semua
dramamu. Dewasa dikit. Lo bukan hidup
di dunia kanak-kanak. Nggak semua bisa berjalan seperti yang lo mau.”
“Hanya
karena lo pernah disakiti, bukan berarti lo berhak untuk nyakitin orang lain.
Kalau Mas Hadi akhirnya mutusin buat pergi, itu sepenuhnya kesalahan lo.”
Mereka tahu.
Mereka tahu itu.
Dunia Rasti runtuh.
Tatapan teman-teman Rasti terasa
sangat menusuk. Mereka seakan menghakimi dan memojokkan. Rasti bingung. Ini harusnya tidak seperti ini. Isi
kepala Rasti terasa berputar. Aku pun merasa kehilangan pijakanku. Dunia yang kulihat
seakan berbayang dua.
Mengapa tatapan itu tertuju
kepadaku?
Rasti itu...
Aku?
***
Author's Note:
Sebuah cerpen yang pernah menjadi fenomenal di grup Kampus Fiksi dan di tempat lain yang katanya kok mirip cerita seseorang ya. *ke-pede-an. lol* Based on true story or not, tulisan ini dibuat hanya sekadar ingin memenuhi panggilan memeriahkan ulang tahun Kampus Fiksi ke tiga. Dibuat pukul 8 pagi di hari deadline terakhir pengumpulan. Haha. Kalau nggak bagus ya pasti, wong dadakan.
Just take it easy. No hard feeling.























