Hello, I'm back. Kali ini bukan dengan update masalah kulitku *yang ga selesai-selesai. Ugh...-_-'''* melainkan dengan review fanfic (refer to my dream board point 10).
Pertama - tama, aku harus klarifikasi berhubung review fanfic pertamaku adalah fanfic EXO
Aku bukan fans EXO. Hehehehe. Tapi terkadang aku suka baca fanfic Exo karena banyak yang menarik.
Ini adalah review pertamaku. Poin yang akan aku bahas disini:
1. Sinopsis / Deskripsi cerita.
2. Opening / First Impression
3. Karakterisasi tokoh
4. Story Line : Logika cerita, progress cerita, cara penceritaan, gaya penulisan dll.
5. Ending
Sistem penilaian aku adalah 1-10. 1 untuk yang paling jelek *which is ga mungkin, karena kalau ga menarik sama sekali kemungkinan besar ga akan kubaca.* dan 10 untuk yang terbaik. Point akan kuberikan di bagian paling bawah setelah review selesai.
Mungkin review ini akan sedikit keras, karena tuntutan aku untuk cerita itu biasanya besar apalagi untuk karya yang lumayan menarik perhatianku. So, if you are the author of this story, maybe it's not your lucky day to meet my review, but if you want to get some constructive opinions, you're welcome to continue reading this review. ^^
Baik penulis ataupun pembaca cerita yang pernah membaca cerita yang ku-review, kalian juga bisa membuat pembelaan mengenai poin yang kusampaikan. Aku kan nggak selalu benar, namanya juga masih belajar. ^^
So, yuk kita mulai reviewnya.
Ludos
"John Lee, a psychologist in his book The Colours of Love, compared styles of love to the color wheel.
Just as there are three primary colors, he suggested that there are three primary styles of love.
The first one is called Eros, a love so romantic, so passionate.
Second is Storge, a friendship love that grows over time.
And third, is a love known as Ludos, a love that is played as a game.
And with that, their story begins. "
Her :
Because when your bestfriend betrays you, the only way to get back at her is to make her crush yourboyfriend.
Him :
Because when you’re the biggest Casanova in school, the only way to stay as one is to get the targeted junior as your girlfriend.
Them :
If it is not obvious enough, they are starting to fall for each other, hard.
When he asks her to be his girlfriend, she is well aware of the game he’s playing.
When she says yes, he realizes there’s another game she's playing on her side.
They both comprehend they’re not in love, they both understand the risk of putting their hearts on the line.
They both realize that this would probably end in a mess.
They know, it’s just that they don’t care.
_________________________________________
"If I let you in, promise me one thing."
"What?"
"Dont break anything."
__________________________________________
Sinopsis/ Deskripsi Cerita
Bisa kubilang, deskripsi cerita ini sangat menarik karena penulis disini menggunakan teori dari John Lee untuk membuka deskripsinya.
Untuk yang penasaran soal kecocokan teori yang disampaikan bisa cek di link ini
REVIEW THE COLORS OF LOVE
ARTICLE THE COLORS OF LOVE
Aku suka cara penulis ini membuka dengan teori yang kemudian bisa dibilang jadi kunci inti yang membawa cerita ini. Trus juga deskripsi mengenai tokoh utama dan cerita yang simpel tapi bikin kita penasaran banget meskipun yang dia sampaikan itu obvious. Kita sudah tahu, oh jalan ceritanya akan begitu, tapi inti dari deskripsi ini adalah
They know, it’s just that they don’t care.Kalimat ini yang membuat cerita ini menjadi berbeda dari cerita tipe love games yang berasal dari taruhan dan revenge.
Satu hal yang membuat point deskripsi ini menjadi sedikit berkurang adalah:
Quote dari cerita ini yang bisa dibilang itu berasal dari tokoh utama cerita ini, Violet Lee. Quote yang dipilih bukannya tidak bagus, tapi terlalu panjang. Kurasa pembaca juga tidak membaca hingga bawah, setelah kalimat 'They know, it's just that they don't care.'
Dan apa poin menyampaikan kalimat yang sepanjang itu dalam deskripsi cerita? Apakah untuk memperlihatkan seberapa besar kekaguman Violet pada sosok Kai dan Kris?
Secara artistik, mungkin jika dua quote deskripsi mengenai kekaguman Violet pada Kai dihilangkan maka quote percakapan itu akan terasa timpang, tapi secara keseluruhan bagian ini juga tidak terlalu diperlukan.
Jika bagian quote ini tidak diletakan pun rasanya tidak mempengaruhi ketertarikan pembaca pada cerita ini. Malah dengan adanya quote ini, menunjukan dari awal posisi Violet tidaklah seimbang dengan Kai dalam ludos yang mereka mainkan.
Opening / First Impression
First impression dari cerita ini cukup baik jika dilihat dari deskripsinya. Kesan yang didapat; okay cerita ini akan ringan tapi berbobot karena penulis ini punya sesuatu yang ingin disampaikan. Tidak hanya sekedar cerita taruhan yang mereka lakukan. Dari cara penulis menuliskan deskripsi terlihat bahwa cara dia menulis tidak akan seperti teenlove biasanya, ada kesan kedewasaan dan juga kecerdasan. The author is witty.
Dan satu hal lagi yang menangkap perhatianku saat pertama membaca chapter 1: Nama tokoh utama perempuan cerita ini, Violet Marie Lee. Personally, aku kurang suka dengan nama tokoh utama cewe Korea tapi namanya sangat Eropa/Barat seperti ini.
Tapi mungkin ada alasan mengapa nama Violet akhirnya digunakan. Karena selanjutnya pada cerita ini, tidak terasa bergitu janggal.
Hanya saja untuk nama tokoh original lainnya juga menggunakan nama barat, buat aku it's no no. Mereka tinggal di Korea kan? Mengapa menggunakan nama Barat? Seberapa banyak sih orang di Korea yang menggunakan nama Barat? Kecuali mereka adalah Kyopo (tinggal lama di luar negri) atau berdarah campuran.
Untuk masalah karakter akan dibahas lebih dalam di bagian karakter.
Lanjut, dari chapter 1 penulis membuka cerita ini cukup baik, langsung pada pengenalan tokoh utama dan pertemuan mereka. Langsung pada inti cerita.
Karakterisasi
Kembali pada masalah nama tokoh, setiap kali membaca nama seluruh tokoh original di dalam cerita ini membuat aku berpikir cerita ini tidak bersetting di Korea Selatan tetapi di sebuah negara lain.
Violet Marie Lee
Kimberly Khoo
Amylia Yoo
Kaleb
Valerie
See?
Untuk nama Violet sebelumnya aku merasa ada apa dengan nama ini, apakah hanya sekedar nama saja? Memang ada beberapa hubungan antara nama ini dengan karakternya dan juga jalan cerita ini. Seperti ketika Kai memberi hadiah berupa kalung Violet, kemudian dia mencoba menjelaskan perbedaan warna ungu dan violet. Well, warna ini dan nama Violet Lee cukup masuk akal. Penulis ini menggunakan karakteristik warna ini kedalam karakter tokoh.
Awalnya aku sedikit curiga, apakah nama Violet ini juga ada kaitannya dengan teori warna cinta dari buku John Lee? Karena di salah satu tipe cinta ada tipe cinta yang menggunakan warna violet.
Mania (VIOLET) "Eros + Ludus" Jealousy, envy, and control are the hallmark traits of manic lovers. Manic love is frenzied, agitated, hectic, and chaotic. The highs are very high and the lows are very low making the relationship like a roller coaster ride of emotions. When a manic relationship ends, the manic lover is unable to think about anything but their lost love.
Secara ga langsung aku merasa seperti karakter Violet ini sedikit mirip dengan tipe cinta yang ini, tapi tetap fokus utama cerita ini adalah tipe cinta Ludos.
Tentang karakterisasi dua tokoh utama,
Penulis ini cukup apik dalam membuat karakterisasi Kai, yang easy going, flirty, tapi ternyata thoughtful dan punya ketakutan masa lalu yang bikin dia haus perhatian. Karakter Kai dengan background masa lalunya sangat terkait satu sama lain, sehingga kita bisa merasa Kai ini adalah sosok nyata.
Sementara Violet, sebenarnya aku sedikit bingung dengan karakter Violet. Di awal dia terlihat seperti sosok yang mudah sekali jatuh cinta pada penampakan luar seperti di chapter satu hal pertama yang dilihat dari Kris adalah sosok ganteng dia, kemudian ketika dia melihat Kai, hal yang sama juga terjadi.
Karakter Violet terasa abstract.
Seperti yang diberi tahu, Violet itu temperamental tapi wujud nyata dalam karakter dia kurang jelas. Seakan hanya berupa penjelasan dari penulis saja setiap kali dia ingin menjelaskan alasan aksi Violet ketika dia merencakan pembalasan atas artikel di berita nasional yang Amy sebabkan.
Karena itu kesan karakter Violet sedikit tidak konsisten.
Story Line
Satu hal yang paling mencolok dalam cerita ini yang kurasa juga pembaca lain sempat berkomentar mengenai hal ini, yaitu : Perasaan Kai di separuh awal cerita.
Kalau berdasarkan klaim dari penulis, tidak seru dong langsung menjelaskan bagaimana perasaan Kai di awal. Oleh karena itu di chapter awal lebih banyak perasaan Violet yang dimunculkan.
Itu tidak salah, malah aku setuju. Perasaan Kai di separuh awal cerita itu adalah misteri yang perlu ditata dengan rapi sebelum ia benar-benar diketahui, seperti melalui aksi, ucapan.
Tapi yang tidak kusetujui adalah di chapter 25, tiba-tiba saja penulis memulai dengan isi perasaan Kai. Hal ini terasa sangat drastis. Perubahan itu sangat mendadak jadi aku sebagai pembaca merasa kaget karena sebelumnya kita hanya dibuat bertanya tanya bagaimana perasaan Kai.
Alangkah baiknya jika pada awal cerita, setidaknya ada beberapa kali diselipkan perbedaan tersebut.
Sebenarnya penulis juga bukannya tidak pernah menyelipkannya, ada sekali ketika Violet mengikuti pertemuan pertama untuk memasuki klub dance yang dipimpin Lay dan Kai. Tapi hal itu tidak terlalu kentara, jika orang membacanya tidak teliti mungkin tidak akan menyadari reaksi tersebut.
Atau jika memang pada awalnya penulis benar-benar ingin membuat pembaca meraba-raba bagaimana perasaan Kai, lebih baik jika di paruh akhir cerita perasaan tersebut dibuka satu-satu dengan jelas dan dengan impact. *apa sih bahasa gue*
Seperti contohnya nih; Awalnya Kai tidak suka kalau Violet itu melihat dia waktu nge-dance karena dia merasa tidak sempurna. Okay, penulis di bagian belakang cerita menjelaskan alasan tersebut. Tapi kita di bagian awal tidak dibuat memperhatikan hal tersebut, seakan Kai hanya bersikap menyebalkan saja sehingga ketika penulis menjelaskan bagian itu di belakang, jujur reaksiku hanya 'Oh? Gitu ya?' bahkan aku hampir tidak terlalu ingat kalau Kai pernah melakukannya.
Overall, gaya penceritaan penulis cukup baik dan membuat pembaca hanyut dalam kalimat romantis yang dibuatnya. Terumata ketika dia mendeskripsikan sosok karakter utamanya, hal itu dilakukan tetap dalam konteks cerita sehingga deskripsi tersebut tidak terasa seperti reportase. Seperti yang kukatakan sebelumnya dibagian impresi pertama, penulis memiliki kecerdasan dalam membuat kalimat. Beberapa kalimat dalam cerita ini cukup menyentil seperti pada bagian percakapan ini:
“What is it? That draws you into me? Why do you asked me out? Why me?” Violet asks. She knows the answer. She knows it so damn well. It’s the bet. But she wants to hear what Kai would make up to tell her.
“I don’t know, I think I just did.” Kai answers. “And what about you? What makes you say yes?” He asks. He knows the damn well answer too, but he couldn’t help but to ask as well.
“I don’t know, I think I just did.” Violet quotes him and then they both break into a small laughter.
“How long do you think we will last?” Violet asks once they stop laughing and Kai blinks at her, clearly not expecting her to ask this.
“C’mon, we’re in highschool. We’re not going to stay together forever. We’ll go to college, living different lives.” Violet tells him and then he nods. It’s not the college, Violet thought. It’s the bet and the revenge.
He understands her question, but why does it feel so painfully hurt when he thinks of the ending of them? He knows so damn well that this well end sooner or later, and he hates it.
“Why? You think forever is impossible?” Kai asks her.
“Forever only exists in fairy-tale, Kai.” She answers him.
Beberapa penulis lain mungkin tidak akan memasukan hal ini ketika menulis mengenai teenlove. Terkadang, dari beberapa fanfiction yang kubaca, rasanya seperti cinta di saat SMA itu last forever banget di cerita mereka. Tapi thebaroness membuat perbedaan itu, dia menyadari hal itu.
Mengenai logika cerita, ada beberapa hal yang perlu diperiksa kembali.
1. Wanita Korea tidak mengganti nama keluarga mereka setelah menikah. Sehingga ketika Jongin menamai Violet di kontak handphone sebagai VIOLET KIM tidak masuk akal.
2. Danau? Tempat Kai membuat Violet menjadi pacarnya. Hal ini sedikit perlu dipertanyakan. Kunang - kunang sudah sangat jarang ada dan danau ini terletak di tengah kota Seoul???
Mengapa ketika membaca bagian itu yang kubayangkan itu bukan Kota Seoul ya? Melainkan salah satu negara bagian Amerika. Deck kayu, ilalang, danau, kunang-kunang?
Dan di jam 10 malam, danau tersebut sepi? Apakah mungkin di tempat yang dideskripsikan seindah itu? Mungkin jika danau itu terletak di salah satu tempat wisata, dan malam hari Kai menyewa tempat itu supaya sepi, mungkin itu bisa saja terjadi, tapi dia kan hanya anak SMA.
Intinya adalah, aku tidak bisa membayangkan ada tempat seperti itu di Korsel. Memang korsel punya hutan dalam kota seperti Seoul Forest tapi tempat itu kan punya jam buka/tutup, atau taman kota untuk piknik seperti Olympic Park, Yeouido Park, Seoul Grand Park, Han River Trail. Tapi tidak ada satupun yang sepertinya mendekati suasana yang disebutkan penulis, rasanya.
3. Untuk mendapatkan SIM mobil di Korea minimal usia adalah 20 tahun *kalau tidak salah*. Anak sekolah tidak boleh bawa mobil ataupun motor ke sekolah. Yah pengecualian di The Heirs Lee Minho nyetir mobil sendiri ya, *aku nggak nonton sampai tamat jadi ga tau di Korea dia nyetir sendiri atau tidak, tapi adegan yang kulihat itu dia di Amerika.* Untuk motor sih masih boleh sebenarnya, tapi lebih sering sekolah melarang. Kalau mobil, seingatku tidak ada anak SMA yang menyetir mobil sendiri di Korea.
Untuk progress cerita, fanfic ini punya 50 chapter dimana biasa aku akan mengeluh panjanggggggg banget ceritanya. Aku biasa paling malas kalau baca fanfic di atas 30 chapter, tapi progress cerita ini tidak bikin aku merasa bosan. Bisa dibilang penulis menjaga ritme cerita dengan baik, tidak terlalu banyak drama tapi juga tidak terlalu sedikit.
Interaksi tokoh utama dengan teman merekapun cukup terlihat baik.
Di chapter terakhir-akhir, ketika penulis di ending chapter sempat bertanya kira-kira kalian bisa ga menebak ada masalah apa sih dengan Kai? Kenapa dia tidak begitu suka untuk disentuh? Jujur sih jawabannya langsung kutebak dengan benar. Hahaha..
*jawabannya cek saja di cerita, ga mau spoiler.*
Tapi entah kenapa pas bagian masalah Kai itu, bikin aku teringat dengan 50 Shades of Grey. I'm not into that kind thing. -_-'''
Untuk originality, mungkin tipe cerita ini cukup banyak, tapi cara pengemasan penulis cukup baik sehingga membawa kesan segar pada cerita ini.
Ending
Hemh... bagaimana cara untuk membahas point ini tanpa memberikan spoiler ya? Hahaha sepertinya ini sangat sulit.
Intinya saja deh, keterkaitan antara ide cerita, deskripsi dan akhir cerita sangat bersinggungan. Meskipun ending cerita ini tentu saja sudah bisa ditebak dari awal, tapi yang menjadikan cerita ini tetap menarik untuk diikuti adalah progress hubungan keduanya.
Pada dasarnya cerita ini memang sangat mencerminkan tipe cinta Ludos.
This love is playful, flirtatious and carefree. Ludus lovers do not care much about commitment as having fun and being spontaneous. Variety is the spice of life and for them the more partners the better. Ludus lovers do not share intimacy; love for a Ludus person is fun, easy, and nonchalant.
Cerita ini ringan, lucu, dan sangat spontan. Meskipun terdapat drama di dalamnya, tapi kedua tokohnya terasa sangat menikmatinya seperti berada dalam sebuah permainan. Dan cukup senang dengan ending ketika tipe cinta Ludos tersebut perlahan menjadi tipe cinta lain, Ludos + Agape.
Ada perkembangan di dalam cerita ini. Semua elemen di dalamnya berkembang ke arah yang lebih baik.
Hanya saja untuk dua epilog terakhir yang diberikan rasanya sedikit tidak pas. Epilog pertama di buka dengan Point of View Kai terasa janggal apalagi tiba-tiba saja beberapa tahun kemudian, tanpa ada informasi waktu dan pada epilog tersebut banyak hal yang diceritakan sekaligus.
Karena selama ini lebih banyak cerita berkembang dari sisi pov Violet. Kurasa alangkah baiknya ketika cerita diakhiri dengan pov Violet juga.
Untuk epilog II, bagian ini lebih aneh lagi. -_-''' di epilog pertama mereka sudah berlangsung beberapa tahun kemudian, di epilog kedua malah di mulai dari waktu antara setelah chapter final sebelum epilog I.
Kurasa bagian ini tidak diperlukan. Kalau ingin memasukannya, lebih baik pilih salah satu saja, epilog kan seharusnya sudah bagian paling akhir, tetapi jika masih dibagi dua??? Apa fungsinya?
Atau lebih baik tidak usah digunakan. Chapter finale dari cerita ini sudah cukup baik.
PENILAIAN:
1. Judul: 10/10 *Aku nggak bahas, karena memang nggak ada yang perlu dibahas. Pas banget.*
2. Deskripsi: 8.9/10
3. Karakterisasi: 7/10
4. Jalan cerita: 8/10
5. Originalitas: 8/10
Overall Enjoyment : 41.9/50
Untuk yang mencari cerita ringan tapi berisi, cerita ini boleh dipertimbangkan.
* Catatan untuk penulis:
Jika penulis ingin mengembangkan kemampuan menulis ke arah yang lebih serius, alangkah baiknya bila penulis mempertimbangkan logika lokasi, budaya setempat dalam cerita yang digunakan.
Poin plusnya adalah penulis cukup baik dalam menunjukan bagaimana perasaan yang dialami tokohnya. Sehingga pembaca bisa merasakan bahwa perasaan itu nyata. ^^ Hanya saja dalam hal menunjukan karakter masih kurang.
Pertahankan konsistensi karakter dan pewujudannya dalam aksi karakter tersebut. Alangkah lebih baiknya jika misalkan sifat temperamental Violet lebih diwujudkan dalam percakapan, ataupun aksinya daripada penulis menyebutkannya secara langsung.
Show but don't tell. *Ini adalah salah satu tips menulis dari Wattpad yang kubaca.* Hehehe.
Showing allows your readers to build up a 3D image in their mind which in turn has them feeling involved in the novel as they deduce the facts for themselves without simply being told.
Showing membuat pembacamu membangun imajinasi 3D di dalam pikiran mereka dan membuat mereka terlibat secara emosional dalam cerita.
Sekian review mengenai Ludos, maaf kalau ada salah dalam persepsi maupun pendapat. Namanya juga masih belajar me-review. ^^ Semoga kalian menikmati review-ku dan semoga review pertama ini tidak menyinggung siapapun. ^^
Maaf juga kalau aku masih belum bisa memberikan contoh yang lebih tepat. Kalau ada yang tidak dimengerti bisa ditanyakan.
Untuk link cerita yang ku-review bisa dicek di:





















