[FF] Save Me

7:11 PM


Orang – orang berkata cinta itu buta, cinta itu selamanya, aku bisa hanya berkata; ‘omong kosong’. Cinta juga punya masa habis berlaku seperti sebuah produk, dibuat oleh hati. Saat kau jatuh cinta itu adalah tanggal mulai produksi dan ketika suatu saat kau merasa muak dengan seseorang yang pernah kau cintai, itu adalah masa habis berlaku.

Cinta tidak lebih baik daripada merupakan sebuah produk.

“Cukup.” Ia menatap perempuan di hadapannya dengan sangat dingin. Tidak peduli bagaimana pun perempuan itu meminta maaf dan meneteskan airmata, hatinya tidak sedikitpun tergerak.

Ia memutar tumit sepatunya dan berjalan menjauh dari perempuan itu.

“Yongguk a... Bang Yongguk!” Perempuan itu masih memanggilnya dengan sepenuh hati, tetapi Yongguk tidak menoleh. Tidak sedikitpun.
..........................................

“Hyung, lagi-lagi?” Daehyun duduk di sofa sebelah Yongguk yang baru saja memasuki ruang latihan tari.
“Biarkan aku sendiri.” Yongguk yang berada dalam suasana hati buruk mengayunkan tangannya untuk mengusir Daehyun dari mengusiknya. Daehyun nyaris saja jatuh dari sofa ketika menghindari tangan itu.

“Apa kamu putus lagi dengan Jinmi?” Himchan yang baru saja menyelesaikan mandi setelah latihan tarinya berjalan masuk dengan rambut basah dan handuk di lehernya. Daehyun memberi kode; ‘JANGAN BERTANYA. Dia sedang dalam mood yang buruk.’
“Jadi benar?” Himchan tidak mengacuhkan kode tersebut.

Yongguk berdiri dan berjalan pergi. Himchan mengikutinya dengan gigih hingga ke ruang kerja mereka.
“Kali ini apa lagi alasannya?” Himchan masih saja mencoba mengusik Yongguk hingga ia menjawab pertanyaannya.
“Dia berbohong padaku.” Yongguk mencoret-coret kertas music kosongnya, tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan benda tersebut.
“Bukan berita baru kalau begitu.” Himchan duduk di atas meja menghadap Yongguk.
“Kali ini benar-benar berakhir.” Yongguk memberikan nada suara untuk mengakhiri semua pertanyaan tersebut.
“Ada apa denganmu akhir-akhir ini. Kau bersikap aneh semenjak persiapan album pertama.” Himchan tidak mempedulikan peringatan tersebut. “Hanya karena judul album kita First Sensibility, kamu tidak perlu menjadi sensitif secara berlebihan.”
Yongguk terus menutup mulutnya. Ia tidak ingin menjawab.

“Mengapa kamu sangat membenci orang berbohong padamu?”
“Aku hanya membencinya begitu saja.” Sekali lagi Yongguk hanya menjawab dengan jawaban singkat.
“Aku tidak pernah melihat orang membenci sesuatu tanpa alasan. Aku tidak melihat ada masalah besar dengan Jinmi tidak mengatakan kemana ia pergi. Dia bukan anak kecil. Kamu hanya bersikap berlebihan.” Himchan menggelengkan kepalanya.

“Aku tahu apa yang aku lakukan.” Yongguk bergumam pelan.
“Ya kuharap kau benar-benar mengetahui apa yang kau lakukan jika tidak kau akan menyesalinya.” Himchan menyerah menasehati Yongguk. Ia berjalan keluar dari ruangan.

Begitu Himchan menghilang dari ruangan itu, Yongguk menghela nafas. Ia menyadarkan punggung pada kursi. Menutup matanya dan berdoa dalam hati.

Save me, Cheonsa.
..............................................

Yongguk menyadari dengan jelas bahwa akhir-akhir ini ia bersikap sangat aneh. Apa yang terjadi padanya?
Bulan berapa sekarang?
Apakah sudah dengan tanggal peringatan itu? Ah, mungkin itu sebabnya.
Akhir-akhir ini banyak hal begitu mengingatkannya pada seseorang. Mulai dari judul lagu utama albumnya. Sebuah nama panggilan yang telah begitu lama tidak pernah ia pikirkan.

“Yongguk a... Mianhae. Ini salahku. Aku tidak akan berbohong padamu lagi.”
Yongguk membaca sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya dan tidak mengacuhkannya. Itu hanya satu di antara banyak pesan yang dikirim oleh Jinmi.

“Jawab aku, jangan tidak mengacuhkan aku. Aku membenci saat kau bersikap seperti ini.”
Satu pesan lagi masuk. Kali ini Yongguk menjawabnya.

“Kalau begitu kau juga seharusnya tahu aku membenci kau berbohong.”
“Aku tidak bisa mengerti mengapa kau begitu membencinya. Aku benar-benar tidak mengerti dirimu. Kalau kau curiga kalau aku selingkuh darimu, aku bisa katakan dengan jujur aku tidak melakukannya.”
“Bukankah ini bagus kalau kita putus dengan begitu? Semuanya sudah berakhir. Kau tidak perlu berurusan dengan orang sepertiku, seseorang yang terus meminta kejujuran darimu.”
“Kau sungguh pendendam, Bang Yongguk. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu sebelumnya.”

Ini adalah masa habis berlaku diantara Yongguk dan Jinmi.

Yongguk tak berdaya menghadapi situasi ini. Ia juga merasa hancur namun juga tidak bisa menghindari situasi ini.

Save me, Cheonsa. Yongguk menyelusuri garis pintu dengan bersandar dan menggenggam erat ponselnya.
......................................................

“Yongguk a, apa kamu tahu mengapa aku dipanggil Cheonsa?” Seorang anak perempuan seumurannya mengenakan gaun berwarna putih sedang mencoba memotret langit dengan tangannya.
“Mengapa?”
“Karena aku adalah milik langit. Sebenarnya aku adalah malaikat yang sedang dihukum oleh Tuhan ke dunia. Tuhan menyuruhku untuk berteman denganmu dan membantumu menjadi anak yang baik.”
“Sungguhan?” Yongguk menunjukan ekspresi bingung antara mempercayai fakta tersebut dan tidak.
“Kau selalu ingin tahu dimana aku tinggal, bukan?” Yongguk mengangguk.
“Tapi kamu tidak akan pernah bisa mengunjunginya, karena rumahku ada di atas langit.” Anak perempuan itu memberi ekspresi serius. “Apakah kamu mau datang berkunjung ke rumahku?”

“Bagaimana bisa aku datang ke langit? Apa kamu bisa menerbangkan kita berdua ke langit?”
“Hmh...” Anak perempuan itu berpura sedang menimbang pemikiran tersebut. “Ah, aku lupa untuk bisa membawamu ke rumah, kau harus mati terlebih dahulu. Apa kamu masih ingin datang?”

Yongguk perlahan berjalan mundur. Meskipun saat itu ia masih seorang anak kecil, namun ia bisa merasakan ada yang salah dengan tawaran tersebut. Ia merasa takut dengan wajah serius anak perempuan itu. Seperti ia benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya dengan melihat ekspresinya.
“Aku tidak pernah tahu kalau kau seorang malaikat. Tapi aku masih belum ingin mati. Apakah kita bisa berkunjung ke rumahmu nanti saja?”
Anak perempuan itu menyeringai. “Bbongiya! Hahaha. Kau mempercayai ucapan bohongku, anak kecil.”

Itu adalah saat dimana Yongguk masih mempercayai segalanya tidak peduli berapa kali ia mempermainkannya dengan kebohongan-kebohongannya.
Setelah bertumbuh pun, Yongguk dan dia masih berhubungan satu sama lain, sebagai seorang teman. Tentu saja Yongguk sudah tahu Cheonsa bukanlah Cheonsa seperti yang ia katakan. Itu hanya salah satu lelucon di antara selera humornya yang aneh dan ia sudah mengetahui di mana ia tinggal, bukan langit.

“Hey, Yongguk a.” Cheonsa memanggil Yongguk dari belakang. Yongguk duduk di balik meja belajarnya.
Cheonsa mengayun-ayunkan kakinya dengan bosan karena Yongguk tidak mau bermain dengannya.
“Hmhh?” Yongguk tidak juga menoleh padanya.
“Kalau kukatakan aku mencintaimu apakah kamu akan mempercayainya?”
Yongguk terdiam sejenak sebelum ia menggeleng kepalanya.

“Tidak, kamu sudah pasti berbohong lagi. Aku tidak akan mempercayaimu lagi.” Mengetahui kebiasaan buruk Cheonsa untuk mempermainkannya, Yongguk bersikukuh untuk tidak mempercayai setiap kebohongannya apalagi ketika ia mengatakan hal yang tidak masuk akal.
“Kau sudah tidak mempercayaiku lagi?”
“Tidak,” Yongguk menjawab dengan wajah datar dan melanjutkan menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
Gadis yang duduk dengan menyanggah kedua lengannya di atas tempat tidur berdiri dan berjalan mendekati Yongguk yang serius belajar.

“Aku berhenti mempercayaimu ketika kau mengatakan kau adalah anak laki-laki meskipun tampilanmu perempuan. Menggodaku untuk menyentuhmu dan membuat ibuku menemukan kita di dalam situasi yang tidak seharusnya.”
“Kau masih saja mendendam untuk hal itu. Ayolah, itu kan cuma candaan saja.“ Cheonsa menyenggol siku Yongguk.
“Hentikan itu, aku harus belajar.” Yongguk mendesis marah. Ia kesal dengan sikap mengganggu Cheonsa.

“Kau masih saja berkutat dengan misi mustahil dari orang tuamu?” Cheonsa menarik sebuah kursi untuk duduk di samping Yongguk.
“Yeah, aku harus melakukannya dengan begitu mereka akan memperbolehkan aku melakukan apa yang kuinginkan.”
“Tapi itu mustahil untukmu bisa mendapat peringkat pertama satu sekolah. Kalau kau katakan kelas, aku masih akan mempercayaimu.” Cheonsa menyanggah kepalanya di atas telapak tangannya.
“Tidak ada yang mustahil jika aku mencoba sekuat tenagaku untuk mencapainya.” Yongguk menjawab cepat.

“Apakah itu benar? Tidak ada yang mustahil? Kurasa ada sesuatu yang mungkin menjadi mustahil untuk dicapai tidak peduli bagaimana keras usahamu untuk mencapainya.”
Tiba-tiba udara di sekitar Cheonsa terasa berbeda. Ekspresinya berubah menjadi gelap. Ia menyandar ke belakang.

Yongguk merasakan perubahan tersebut. Ia menoleh untuk memastikannya. “Apa maksudmu? Apa kau baik-baik saja?”
Ia mencoba melihat apa yang ada di dalam pikiran Cheonsa, namun gadis itu segera menutupinya dengan senyuman ceria.
Yongguk tidak bertanya lebih lanjut. Jika saja ia menunjukan sedikit lagi kepedulian padanya.
....................................................

“Berikutnya akan menjadi giliranmu untuk difoto. Aku ingin kau memberikan kesan misterius dan juga cobalah untuk menjadi berkarisma di saat yang sama.“ Pengarah gaya yang bertugas dalam pemotretan ini memberikan Yongguk penjelasan singkat mengenai konsep.
Yongguk mendengarkannya dengan seksama hingga seseorang menepuk bahunya. Yongguk menoleh.

“Yongguk ssi, seseorang bernama Jinmi mencarimu, dia diluar.” Salah satu staf pemotretan adalah yang memanggilnya.
Sorot mata Yongguk tiba-tiba saja berubah. “Katakan padanya untuk pergi. Katakan aku sedang sibuk.”
“Aku sudah mengatakannya, tapi ia memaksa untuk bertemu. Kupikir ia berbohong mengenai mengenalmu secara pribadi, tapi Himchan ssi mengatakan wanita itu benar-benar mengenalmu. Makanya aku memberitahumu.”
Yongguk ragu untuk sekian saat. Ia terdiam tetapi tidak lama karena staf lainnya memanggilnya untuk memasuki set pemotretan.

“Ini giliranku. Maaf, tolong katakan padanya untuk pulang.” Yongguk berjalan pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Staf tersebut terpaku ditinggal begitu saja.

Yongguk mengambil tempatnya di tengah set. Ia mencoba beberapa gaya dibawah pengarahan fotografter. Meskipun tubuhnya begerak sesuai dengan arahan, namun pikirannya melayang. 
“Yongguk a, kau tahu aku benar bukan. Ada hal yang mungkin menjadi tidak mungkin. Itu adalah dia. “

Yongguk tidak mengerti mengapa ia masih saja mengingat teman masa kecilnya akhir-akhir ini. Itu hanya sebuah masa lalu, hal yang telah berlalu. Tidak ada lagi, tetapi pikirannya tidak menyerah dengan alasan tersebut.

Ya, itu adalah dia. Alasan terbesar yang membuat Yongguk membenci orang berbohong padanya, gadis itu adalah alasannya. Yongguk sangat membenci saat Cheonsa membohonginya. Jika saat itu ia mengetahui bahwa Cheonsa sedang berbohong.

“Aku baik-baik saja, Yongguk a.”
Jika saja Yongguk mengetahui bahwa kalimat itu merupakan panggilan SOS, sebuah kalimat yang perlu diterjemahakan sebagai ‘Tolong aku.’. Jika saja Yongguk menyadarinya daripada dengan keras kepalanya memutuskan untuk tidak mengacuhkannya agar ia bisa berkonsentrasi meraih impiannya sebagai seorang musisi.

“Sampai sini. Good job, Yongguk ssi. Kau melakukannya dengan baik.” Fotografer itu terlihat puas dengan pose Yongguk. Yongguk tersikap dari pikirannya yang melalang pergi. Ia tidak menyadari apa yang telah ia lakukan selagi memikirkan Cheonsa dan juga masa lalu mereka.

“Wow, Hyung, aku tahu tahu kau selalu menjadi sosok yang misterius, tapi aku tidak tahu kau bisa melebihi kemisteriusan biasa.” Daehyun yang menonton pemotretan dari samping setelah gilirannya selesai berjalan mendekati Yongguk.
“Huh?” Yongguk tidak berkonsentrasi mendengarkan perkataan Daehyun.
“Kau luar biasa untuk menjadi sangat misterius. Bahkan aku tidak tahu apa yang ada di dalam masa lalumu ketika aku melihat pose dan tatapan matamu.” Daehyun bertepuk tangan.
“Apa yang sedang kau bicarakan? Jangan berbicara omong kosong. Aku hanya melakukan bagianku saja. “ Yongguk mendorong pelan Daehyun.

“Dia benar, Yongguk. Kau memang menjadi misterius akhir-akhir ini dan lebih lagi hari ini.” Himchan bergabung dengan percakapan itu dan mengalungkan lengannya pada Yongguk.
“Tidak kau juga.” Yongguk menggelengkan kepalanya dan menurunkan lengan Himchan dari bahunya. Ia mengawasi giliran member BAP lainnya untuk berfoto. Ya ini adalah bagian dari impiannya menjadi seorang musisi.

“Hey, ngomong-ngomong Jinmi masih menunggumu di luar. Kau serius tidak mau menemuinya? Di luar sedang hujan loh.” Himchan menyilangkan kedua lengannya di depan dada sambil berdiri di samping Yongguk.
Yongguk mencuri pandang pada Himchan ketika ia mengatakan hal tersebut, tapi ia memutuskan untuk tidak mempedulikannya.
“Apa akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan payung yang kuberikan tadi atau tidak ya? Dia sama keras kepalanya dengan mantan pacarnya ini.”

Perkataan terakhir itu memukulnya dengan tepat di dalam hati. Yeah, sekarang label dirinya adalah mantan pacar, tidak lebih. Tapi mengapa dia masih saja terus datang mencarinya. Apa di luar sungguh hujan? Deraskah?

“Oh, kau sungguh basah. Di luar masih hujan?” Salah satu staf baru saja kembali dari membeli beberapa keperluan, dan staf lainnya bertanya karena melihatnya seperti seekor kucing yang baru keluar dari air. Basah kuyup.
“Yeah, deras. Cuaca di luar sangat buruk,” jawab staf pria tersebut sambil membuka jaketnya.
“Tadi kan sudah kubilang bawa payung.” Staf lainnya menimpali. “Kau harus segera mengganti pakaianmu.”
“Tadi kukira hujan kecil saja tidak masalah.” Staf pria itu berjalan masuk. “Ngomong-ngomong di luar ada seorang wanita berdiri di bawah hujan. Aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan di sana. Dia tidak mengatakan apapun ketika kutanya. Apa dia fans BAP atau lainnya?”

Hal itu menarik perhatian Yongguk lagi. Apa dia Jinmi?
“Kau seharusnya menemuinya sekali lagi, bro. Dia akan sakit kalau kau terus tidak mengacuhkannya seperti ini.” Himchan berbisik pada Yongguk.
“Itu bukan masalahku lagi.” Yongguk berjalan menuju ruang ganti, tapi matanya terus mencoba melirik pada pintu keluar.

Ia tidak bisa untuk bersikap tidak peduli meski pun ia berpura tidak peduli mengenai hal itu.
“Yongguk, apa giliranmu sudah selesai?” Ia bertemu dengan manajer grup mereka ketika akan membuka pintu ruang ganti.
Yongguk hendak mengangguk, tapi kemudian ia memikirkan hal lain. “Hyung, apakah ini jadwal terakhirku hari ini?”
“Iya, kenapa?”
“Apa aku boleh pergi dulu? Aku harus pergi ke suatu tempat.”
“Okay...”

Dengan persetujuan tersebut dari manajernya, Yongguk segera berlari ke pintu keluar.
“Setidaknya ganti bajumu dulu!” Manajernya berusaha untuk mengingatkannya, tapi Yongguk tidak mendengarnya.

Di luar, Yongguk berusaha mencari sosok wanita itu. Hujan sungguh turun dengan sangat deras. Sulit untuknya melihat sekitarnya. Gelap dan berbayang.
“Dimana dia?” Yongguk mengusap air dari wajahnya tapi sia-sia, hujan terus saja membasahinya. “Jinmi?”
Yongguk berusaha memanggil namanya, tapi ia tidak yakin apakah wanita itu bisa mendengarnya di antara suara hujan ini.
“Jinmi! Hyun Jinmi!” Ia memanggil lebih kencang dan mulai panik.
Apa dia sudah pergi? Atau sesuatu terjadi padanya kah?
Dia tidak bisa ditemukan dimanapun. Mungkin dia sudah pergi.

Yongguk baru saja akan berhenti memanggilnya tepat ketika ia menangkap bayangan sosok tersebut. Wanita itu mengigil di bawah siraman hujan. Wajahnya terlihat pucat dan bibirnya mulai membiru.
“Wanita bodoh satu ini... mengapa dia membuat segalanya sulit untukku?” Yongguk merasakan hatinya tercengkram melihat kondisi wanita itu.

Tidak, cerita cinta mereka bukanlah cerita fan fiction. Pertemuan mereka tidaklah luar biasa atau tidak biasa seperti pertemuan kedua tokoh utama dalam fan fiction. Tidak ada pemeran pria yang kurang ajar dan berubah perlahan bersikap baik pada wanita yang dibencinya pertama kali. Tidak ada pemeran wanita yang bersifat ceria berlebihan ataupun hidupnya terlalu dramatis.

Pertemuan mereka merupakan pertemuan yang sangat normal, jika pertemuan dengan salah satu idol tidak terhitung luar biasa untuk Jinmi yang merupakan orang biasa. Jinmi hanyalah adik kelas dari pacar kakak perempuannya di sekolah. Tidak dekat, hanya kenalan biasa saja. Kau bisa katakan Seoul sesungguhnya cukup kecil. Kau bisa bertemu dengan seseorang yang memiliki hubungan dengan idol meskipun tidak sedekat yang kau bayangkan. Tapi masih saja ada.

Cerita di antara mereka cukup normal. Sangat biasa saja. Tapi Yongguk sungguh mencintainya. Itulah mengapa ia masih saja mengkhawatirkan wanita di hadapannya ini meskipun sikapnya dingin.

“Apa kau begitu bodoh untuk berdiri di bawah hujan sederas ini? Atau kau sedang mencoba menirukan salah satu fan fiction dari fansku?” Yongguk menghampirinya.
“Yongguk...” Jinmi menolehkan wajah dan menemukan Yongguk berdiri di sampingnya membuatnya tersenyum lemah. “Akhirnya kau keluar juga.”
Tidak, dia tidak akan pingsan. Sekali lagi ini bukan sebuah fan fiction. *ups, ini memang fan fiction. haha*
“Apa yang kau inginkan? Pulanglah. Kau akan sakit kalau berdiri lebih lama lagi di bawah hujan seperti ini.”
“Aku sangat kuat, apa kamu masih tidak menyadarinya?” Wanita itu menunjukan lengannya yang kuat.

“Hentikan itu, jangan bercanda lagi. Berteduh atau pulanglah. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Mengapa kau begitu keras kepala?”
“Bukankah kamu bilang tidak ada yang mustahil jika aku mencoba sekuat tenaga untuk mencapainya? Aku tidak ingin akhir kita seperti ini.”

Kata-kata itu. Hal itu tertera di dalam benaknya. Apakah memang tidak ada yang mustahil? Ataukah seperti Cheonsa pernah katakan ada hal yang mungkin menjadi mustahil?
“Akhir seperti apa yang kau inginkah sesungguhnya? Apakah kita harus membuat tontonan disini? Seperti adegan drama atau novel?” Tatapan Yongguk masih sama dinginnya.
“Aku tidak ingin kita berakhir. Aku mencintaimu, itu masalahnya. Mengapa kau tidak bisa mengerti hal itu? Mengapa kau begitu membenci orang berbohong padamu? Itu bukan hal besar. Tidak selamanya seseorang mengatakan 100% kejujuran. Bahkan kaupun tidak.”
Kalimat itu mencekat Yongguk. Tidak ada yang mengatakan 100% kejujuran, bahkan kaupun tidak.
..............................................................

“Cheonsa, apa yang terjadi padamu?” Yongguk berlari menuju beberapa pria yang sedang mengangkat Cheonsa di atas tempat tidur ke dalam ambulans. Para tetangga berbisik satu sama lain.
Apa yang terjadi padanya? Mata Yongguk membesar ketika ia melihat darah di pergelangan tangan temannya dan juga baju.

“Ajooshi, apa yang terjadi pada temanku? Siapa pun jelaskan padaku. Di mana ayahnya? Anda tidak boleh membawanya begitu saja.”
“Dia mencoba bunuh diri. Ayahnya tidak terlihat dimanapun. Kau bisa ikut dengan kami tapi jangan mengganggu pekerjaan kami.” Salah satu petugas ambulans mendorong Yongguk masuk ke dalam mobil.

Percobaan bunuh diri? Perkataan itu mengguncang Yongguk. Mengapa Cheonsa mencoba bunuh diri? Dia tidak pernah mengatakan apa pun.
Pandangan mata Yongguk beralih pada pergelangannya yang penuh darah. Tangan Yongguk bergetar ketika ia mencoba meraih tangan itu. Ia tidak sanggup menyentuhnya.

“Hyein a, kenapa kau melakukan ini? Siapa yang mendorongmu melakukan hal bodoh ini?’ Itu ada saat pertama kali Yongguk memanggil Cheonsa dengan nama sesungguhnya. Ia tidak ingin Cheonsa menjadi cheonsa sesungguhnya.

Di rumah sakit beberapa jam kemudian.

“Kau boleh masuk, Nak. Pacarmu sedang mencarimu, tapi jangan terlalu lama.”
“Dia bukan pacarku.” Yongguk bergumam sambil berlari masuk ke dalam ruang gawat darurat.
“Hong Hyein! Apa yang kau pikirkan?! Apa kau sudah gila?” Yongguk segera mengomeli Cheonsa begitu ia memastikan temannya baik-baik saja.

Ia telah mengetahui cerita lengkap di balik kejadian ini setelah gadis ini masuk ke dalam ruang operasi, dari seorang polisi yang datang bersamanya. Hal ini mengerikan. Untung saja salah satu bibi tetangga berkunjung dan menemukan tubuhnya. Ayahnya tidak bisa ditemukan di mana pun, mungkin sudah dalam pelarian karena polisi itu mengatakan ia menemukan sebuah surat yang menceritakan apa yang terjadi dan lebam di tubuh Cheonsa.

Yongguk tidak pernah menyangka temannya akan mengalami hal seperti ini di dalam rumahnya. Yongguk tidak pernah menyangka ayah Cheonsa sendirilah yang menyiksa temannya sejak lama. Ia tidak pernah mengetahui hal itu karena Cheonsa tidak pernah mengatakan apapun selain kebohongan.
Ia membenci kenyataan bahwa ia sama sekali tidak membantu. Jika saja ia cukup peduli untuk melihat lebam aneh yang muncul di tubuh temannya akhir-akhir ini. Ia hanya peduli dengan impiannya.

“Mengapa kau lakukan ini? Kau selalu bisa menceritakannya padaku. Aku pasti akan membantumu.” Yongguk merasa hatinya pedih melihat pergelangan yang terbalut perban itu. Ia mencoba menyentuhnya.
“Kau tidak akan bisa, Yongguk. Seperti yang kukatakan sebelumnya, ada hal yang mungkin menjadi mustahil. Itu adalah untuk mengubahnya. Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk merubah ayahku. Dia sudah seperti sejak lama.”
Nafas Yongguk tercekat mendengar pengakuan itu.

“Tapi kau kan bisa meninggalkannya dan tinggal dengan keluargaku. Aku yakin orang tuaku tidak akan menolak.”
Cheonsa menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ingin menjadi beban di keluargamu.”
“Setidaknya kau bisa mengatakan hal sebenarnya padaku daripada berbohong setiap kali aku menanyakan lebam di tubuhmu.”
“Ada hal yang tidak selalu bisa kita katakan dengan jujur. Aku tidak ingin ayahku dipenjara.”
“Tapi kau sudah melakukannya sekarang. Cepat lambat dia akan dipenjara. Polisi sudah mencarinya.”
Cheonsa terlihat sedih ketika ia mendengar hal itu. Ia membuang pandangannya ke arah jendela.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Jangan katakan kalau kau ingin membebaskan ayahmu sekali ia tertangkap.”
Cheonsa tersenyum lembut. “Tentu saja tidak.”
“Baguslah, kau lebih baik tidak melakukannya.” Yongguk menepuk kepala Cheonsa ringan.

Beberapa minggu berikutnya...

“Hong Hyein, kau berbohong padaku lagi.” Yongguk menarik tangan Cheonsa ketika ia sedang berusaha menghindari Yongguk.
“Akhir-akhir ini kau selalu memanggil nama asliku. Apa Cheonsa sudah bukan panggilan yang baik lagi kah?” Hyein bertanya dengan nada candaan.
Yongguk menatap tajam. Cheonsa menahan nafasnya melihat tatapan tersebut. Sangat menakutkan sehingga ia tahu Yongguk sedang serius.

“Tidak ada yang mengatakan 100% kejujuran, Yongguk a. Kaupun juga tidak. Kau berbohong di pengadilan.” Cheonsa tersenyum samar.
“Aku melakukannya untukmu, dengan begitu ayahmu akan membusuk di penjara karena telah melakukan hal ini padamu. Tidak ada bukti yang bisa mengurung ayahmu. Ia akan bebas jika aku tidak mengatakannya.”
“Itu hal baik kalau begitu.”

“Ada apa denganmu? Bukankah kau juga mengatakan tidak akan mengeluarkan ayahmu dari penjara? Tapi kau melakukan hal yang berlawanan.”
“Dia masih merupakan ayahku, keluargaku satu-satunya.” Cheonsa berbicara dengan pelan. “Sebaliknya, kau sangat menakutkan, Yongguk. Aku tidak tahu kau bisa menjadi begitu tidak berperasaan. Membusuk di penjara?
Yongguk kesal. Bagaimana Cheonsa masih saja bisa bercanda di dalam situasi seperti ini?
..............................................

“Jangan coba melewati batasanmu, Jinmi ya. Kau tahu bukan hanya ini alasan satu satunya aku ingin berpisah.” Yongguk menggeleng kepalanya setelah ia berhasil menghilangkan kenangan tentang Cheonsa dari benaknya.

Seperti memakan makanan yang telah habis masa berlakunya, terus berada di sebuah cinta yang telah habis masa berlakunya membuatmu merasa mual. Yongguk merasa sangat muak untuk terus mempedulikah hal itu.  Mengapa ia masih saja peduli? Mengapa ia tidak bisa mengakhirinya?

“Apa alasannya kalau begitu?”
“Ini bukan satu-satunya saat kau berbohong padaku. Kau berbohong padaku sering kali. Kau juga tidak pernah mengatakan apa yang terjadi ketika aku melihat kau memiliki lebam di tubuhmu. Kau tidak berselingkuh tapi kau berbohong padaku. Kau tidak pernah percaya padaku. Mengapa kita harus terus berhubungan jika kau tidak lagi mempercayaiku?”
Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan Yongguk selain ketika ia memperkenalkan album baru maupun melakukan rap pada lagunya.

Jinmi menatap frustrasi. “Karena memang tidak ada yang berarti mengenai lebam itu. Reaksimu berlebihan. Tidak ada yang menyiksaku.”
“Itu adalah perkataannya.” Yongguk menimpali dengan suara pelan. Ia takut.
“Apa?” Jinmi tidak bisa mendengar apa yang yang dikatakan Yongguk karena suara hujan terdengar lebih keras.
“Itu juga yang dikatakannya padaku. Itulah alasan Cheonsa meninggalkanku.” Emosi Yongguk meluap begitu saja setelah sekian lama berlalu sejak hari itu.
Ia selalu menumpuk segalanya di dalam hatinya, segala perasaan yang dirasakannya mengenai hari itu. Ia selalu menempatkan rasa bersalah atas perginya Cheonsa pada dirinya. Jika saja ia lebih memaksa Cheonsa untuk berkata jujur, kalau saja ia lebih berusaha untuk menemukan kebenarannya.

“Siapa Cheon...” Jinmi terdiam. Ia menemukan bahwa Yongguk masih mencoba untuk mengatakan sesuatu.
“Semuanya telah berakhir.” Yongguk memutuskan untuk tidak mengatakan apapun lagi. Ia tidak ingin terluka lagi. Lebih baik memutuskan segala perasaan sebelum sesuatu yang buruk terjadi. karena wanita ini sungguh mirip dengan Cheonsa yang senang menyimpan masalahnya di dalam diri. Ia tidak ingin merasakan pengalaman buruk lagi dari seseorang yang dekat dengannya.
Yongguk memutar sepatunya dan berjalan pergi setelah ia mengatakan hal terakhir padanya. “Pulanglah, Jinmi. Aku tidak ingin kau jatuh sakit.”
“Bang Yongguk, kau tidak akan pergi ke mana pun sebelum aku selesai berbicara denganmu.” Jinmi berusaha menahan Yongguk, namun pria itu terus saja berjalan di bawah derasnya hujan turun.
Jinmi mengikutinya dari belakang sambil terus memanggil dan berbicara padanya. Dari berjalan pelan Yongguk mengubah kecepatan jalannya menjadi jalan cepat. Berlari.
Jinmi masih saja mengikuti hingga tiba-tiba saja segalanya terdengar sepi.

Mengapa tiba-tiba saja menjadi sepi? Apakah aku berhasil menghindarinya?
Hujan perlahan berhenti turun begitupula Yongguk memperlambat jalannya dan merasa aneh dengan kesunyian yang tiba-tiba. Ia melihat ke belakang.
Tidak ada Jinmi di sana. Apakah dia benar-benar berhasil menyingkirkannya?
Yongguk menelusuri jalannya kembali. Ia tidak pergi sejauh yang dipikirkannya tadi.
“Mengapa disana orang berkerumun?” Sebuah perasaan buruk hadir di dalam hatinya.
Ia tidak pernah suka melihat kerumunan di jalan. Hal itu selalu membuatnya berprasangka buruk, namun ia masih saja berjalan ke arah kerumunan itu.
“Permisi... permisi...” Ia berbisik pelan dengan suaranya yang sangat rendah. Mencoba untuk memasuki kerumunan agar bisa mencari tahu apa yang terjadi.
Apa sudah ada orang menelpon ambulans?” Ketika ia sedang berusaha menyelinap masuk, ia mendengar seseorang berbisik di sekitar.
Aku tidak yakin dia akan bertahan sebelum mencapai UGD. Dia terlalu banyak mengeluarkan darah.” Bisikan lainnya membuat jantung Yongguk berdetak semakin kencang.

Kumohon jangan sampai itu adalah Jinmi. Kumohon.
Hatinya berharap dalam diam.

Sekali lagi harapannya tidak terkabulkan. Seorang wanita dengan pakaian yang sama terbaring di atas trotoar. Yongguk bisa merasakan jantungnya seketika jatuh ke tanah melihat tubuh itu terbujur  kaku di sana.
“Tidak... jangan katakan itu kau, Hyun Jinmi.” Yongguk berlutut secara pelahan. Tubuhnya berguncang begitu hebat. Sekali lagi ia merasa sangat buruk. Kejadian ini tidak boleh lagi terulang.
Tidak lagi.
“Jinmi ya, sadarlah ku mohon. Jangan pergi.” Tangan Yongguk bergetar begitu hebat ketika ia mencoba untuk meraihnya.
Pikirannya memutar kembali kejadian yang sama. Mimpi terburuknya.

“Hyein a... Kau harus mendengarkanku. Jangan pergi. Tetap bersamaku. Ambulans akan segera datang. Kumohon jangan tutup matamu.
Aku lelah, Yongguk. Biarkan aku pergi.
Tidak, aku tidak akan membiarkanmu.
Saranghae, Yongguk a.”
“Apa belum ada yang menelpon ambulans?” Yongguk mencari ponselnya tapi tidak bisa menemukannya. Ia meninggalkan segalanya di studio. “Seseorang tolong panggil ambulans. Ia bisa meninggal. Siapapun tolong selamatkan dia.”
Yongguk perlahan kehilangan pikiran sadarnya. Mimpi buruknya terus terulang di dalam benaknya, kejadian yang sama. Kepalanya berdenyut keras.
Selamatkan dia, Cheonsa. Jangan ambil dia.
“Yongguk a... Yongguk a...” Mengapa Yongguk bisa mendengar suara Jinmi? Suaranya terdengar cemas. Bukankah seharusnya ia yang mencemaskan wanita itu. Jangan meninggal.
“Yongguk, apa kau baik – baik saja?” Sekali lagi suara itu terdengar.
“BANG YONGGUK, kau mendengarku kan?” Yongguk merasakan tubuhnya dihentakan secara keras.
Sekejap ia mendapatkan kembali kesadarannya.
“Jin-mi, apakah ini benar kau?” Yongguk tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Yang memanggilnya memang benar Jinmi. Dia terlihat khawatir dan juga sehat.
Yongguk kembali melihat sisi kanannya; tubuh yang ia lihat sebelumnya. Tidak, itu bukan Jinmi. Ia hanya mengimajinasikan baju tersebut sama dengan Jinmi. Dia bukan Jinmi.
Yongguk menatap Jinmi yang berdiri di hadapannya dan korban tersebut. Double checked.
Bukan Jinmi.
“Apa kau baik baik saja?” Jinmi menyentuh pipi Yongguk. Yongguk menyentuh tangan wanita di hadapannya untuk memastikan ia nyata.
Jinmi menarik Yongguk keluar dari kerumunan itu.
“Apa kau baik – baik saja? Kau terlihat sangat buruk ketika melihatnya. Apa kau kenal dia?”
Yongguk masih belum mampu mengutarakan apapun. Ia mencoba untuk mengumpulkan dirinya kembali. Daripada menjawab dengan perkataan, Yongguk memilih untuk menyampaikannya dengan gerakan. Ia menarik Jinmi ke dalam pelukannya.
Ia merasa sangat lega korban tersebut bukanlah Jinmi.
...................................................................
“Ada apa denganmu di sana?” Jinmi menyerahkan coklat panas dan handuk untuk mengeringkan diri kepada Yongguk setelah mereka berada di dalam apartemen Jinmi.
Yongguk mengambil handuk dan cangkir tersebut tanpa berkata apapun. Jinmi menanti Yongguk untuk siap berbicara. Ia menatap gerakan lambat Yongguk dalam mengeringkan rambutnya. Jinmi tidak mampu bertahan lebih lama lagi.
“Biarkan aku yang melakukannya. Kau minum saja coklatnya selagi masih panas.” Jinmi memutuskan untuk menginterupsi ritme lambat Yongguk.
Yongguk membiarkan Jinmi mengambil alih handuk tersebut dan menatap pada lantai dalam diam. Ia mencoba menghirup aroma menenangkan dari apartemen Jinmi. Itu adalah salah satu hal yang Yongguk suka lakukan di tempat ini. Ruangan Jinmi selalu memiliki aroma yang menenangkan seperti ini.
“Siapa yang sedang kau pikirkan di tempat itu?” Jinmi bertanya pelan.

Ia tidak bisa untuk tidak cemburu ketika melihat Yongguk terlihat sangat mengkhawatirkan korban di jalan itu. Ia bisa merasakan bahwa siapapun itu adalah seseorang yang penting untuknya. Pada dasarnya Yongguk seperti kehilangan ketenangan pikirannya. Tetapi ia tidak bisa memaksa Yongguk untuk mengatakan apapun sebelum ia siap. Yang bisa ia lakukan hanyalah menanti..

Sekali lagi Yongguk menjawab pertanyaannya dengan sebuah aksi. Pria itu melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Jinmi, bagian tubuh terdekat. Jinmi berdiri di samping Yongguk.
Yongguk menghela nafas kencang. Ia masih saja tidak mampu mengendalikan pikirannya. Ini tidak biasa untuknya yang selalu terlihat tenang seakan tidak memiliki emosi lainnya.
Jinmi memutuskan untuk duduk di samping Yongguk dan memeluk pria itu balik.

“Tidak apa, tidak apa. Kau akan baik-baik saja. Segalanya akan baik baik saja. “Jinmi menepuk punggung Yongguk lembut.
Yongguk mengurai tubuhnya dari dalam pelukan Jinmi setelah beberapa saat. Ia menatap ke dalam mata wanita di hadapannya untuk beberapa detik lamanya sebelum perlahan mendekati bibir Jinmi.
Nafas hangat Jinmi seakan meyakinkannya bahwa ia nyata. Yongguk menarik nafas dalam. Seperti berada di bawah pengaruh sihir, Jinmi tidak bisa berhenti menatap padanya. Itu adalah saat sebelum ia menutup matanya ketika ia merasakan bibir Yongguk pada miliknya.
Ciuman Yongguk terasa pelan dan cangguk awalnya. Sesuatu mengusik membuatnya merasa tidak aman namun perlahan ia kembali pada gayanya yang biasa. Yongguk menyentuh pinggang Jinmi dan mendorong wanita itu lebih mendekat padanya. Memeluk dan menciumnya seakan tidak lagi hari esok. Ciuman itu mulai beranjak turun.
“Yongguk, sebentar...” Tiba-tiba saja Jinmi merasakan kekhawatiran melandanya ketika ia merasakan tangan Yongguk di atas perutnya dan menanjak ke atas. “Tunggu...”
Jinmi mendorong Yongguk menjauh darinya dengan lembut.
“Ada apa?” Nafas Yongguk tersenggal. Ia berusaha mendekatkan jarak di antara mereka sebelum Jinmi kembali menahannya.
“Kau tidak akan menciumku lagi sebelum kau menjelaskan padaku apa yang terjadi. Apa maksud dari ciuman ini?” Jinmi bertanya dengan wajah serius.
“Aku hanya ingin memastikan kau benar – benar ada disini.” Ketika menjawabpun pandangan Yongguk masih terarah pada wajah Jinmi.
“Kau tidak perlu meyakinkan bahwa aku disini dengan menciumku. Bukankah kau sudah bilang kita berakhir tadi?” Jinmi
Yongguk mengubah posisi tubuhnya kembali menduduki tempatnya dengan benar.

“Baiklah, aku akan katakan. Aku mengira wanita tadi adalah kau. Melihatnya disana membuatku takut kalau aku akan kehilanganmu kali ini. Aku tidak ingin kehilangan dirimu kali ini.”
Jinmi mengerutkan dahinya. “Kau kehilangan siapa sebelumnya?”
Yongguk terdiam sejenak hingga akhirnya ia menjawab singkat “Tidak ada.” sambil menatap ke arah lain. Ya tidak ada orang lain selain Cheonsa.
“Apakah ini masuk akal jika kau tidak kehilangan siapapun dan kau bersikap seperti tadi. Kau juga bersikap sangat aneh sebelum itu juga. Katakan padaku, apakah seseorang itu dan alasan kau membenci orang berbohong padamu adalah orang yang sama?
Yongguk mengigit bibirnya dan terus menghindari kontak mata dengan Jinmi. Jinmi menyentuh pipi Yongguk dan memaksa pria itu untuk menatap dirinya.
“Ya.” Yongguk akhirnya mengakui hal itu.
“Apakah dia... sudah meninggal?” Jinmi berusaha untuk tidak menyakitinya.
Yongguk mengangguk dengan kaku. Begitu ia melihat jawaban itu, Jinmi merasakan di dalam hatinya perlahan menuju keretakan. Ia tidak ingin mendengar jawaban dari pertanyaan yang selanjutnya ingin ditanyakan.
“Aku turut berduka mendengarnya. Apakah....” Jinmi tidak sanggup untuk bertanya lebih lanjut. Ia tidak ingin menanyakannya. Ia tidak lagi menginginkan alasan di balik semua ini.
Keheningan melanda keduanya cukup lama hingga Yongguk memutuskan untuk memecahnya lebih dulu.
“Aku tidak mencintainya seperti yang kau pikirkan. Dia adalah teman masa kecilku, hanya seorang teman dekat. Hanya sebuah kenangan menyakitkan yang berharga.“ Yongguk memainkan jemarinya terlihat gugup.
“Bagaimana kau bisa mengetahui apa yang ingin kutanyakan?” Jinmi bertanya balik.
Yongguk tertawa kecil. Itu adalah yang pertama sejak pagi ini.
“Aku hanya kebetulan mengetahuinya.” Tawa ringan Yongguk dan jawabannya membuat Jinmi tanpa sadar tersenyum. Yongguk ikut tersenyum balik ketika ia melihat senyuman Jinmin.
“Jadi, apa aku boleh menciummu lagi sekarang?” Yongguk mendekatkan jarak di antara wajah mereka lagi.
“Hanya jika kau setuju untuk menceritakan alasanmu begitu membenci orang berbohong padamu setelah ini.” Jinmi menahan bibir Yongguk dengan jari telunjuknya.
“Apakah aku harus menceritakan segala sesuatunya setiap kali aku ingin menciummu?” Yongguk menggeram frustrasi.
“Ya, kau harus. Kau selalu menuntutku untuk berkata jujur padamu, tentu saja aku juga harus memintamu melakukan itu juga.”
“Baiklah, aku akan menceritakan segala yang ingin kau ketahui setelah ini. Jadi apakah kita boleh berciuman sekarang?” Gerutuan Yongguk membuat Jinmi tertawa ringan. Ia mengecup Yongguk lebih dulu sebelum pria itu bisa melakukan hal itu padanya.
Mereka melanjutkan ciuman itu panjang dan penuh kehangatan. Masih tersisa banyak waktu tersedia untuk mereka sebelum mereka memulai penceritaan kisah masa lalu itu.
………………………………………………………………
“Jadi, dia meninggal ketika kau kelas dua SMA?”
Jinmi bertanya sambil memainkan jemari Yongguk. Ia berada di dalam pelukan Yongguk dan mereka berbaring di atas tempat tidur Jinmi. Tubuh telanjang mereka ditutupi oleh sebuah selimut. Nafas mereka terdengar bergerak naik turun dengan irama yang sama dan stabil. Hal itu menenangkan bagi Yongguk. Itu membantunya untuk menceritakan bagian terburuk dari kenangannya.
“Ya, itu adalah hari terburuk untukku.”
“Dan kau selalu merasa bersalah atas kematiannya?”
Yongguk tidak menjawabnya. “Kau tidak perlu merasa bersalah. Itu bukan kesalahanmu. Itu adalah pilihannya.”
“Jika saja aku lebih peduli padanya, ia tidak akan memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri. Ia tidak akan meninggal saat itu. Akulah yang telah membunuhnya.”
“Ya, itu adalah kesalahanmu. Jika saja kau lebih menunjukan kepedulian padanya, kau bisa menghentikannya dari bunuh diri. Tapi semua sudah terlanjur terjadi, tidak ada lagi yang kau bisa lakukan selain terus melanjutkan hidup dan tidak melakukan kesalahan yang sama.”
“Aku sudah mencoba melakukan itu.”
“Tidak, kau tidak mencobanya. Yang kau lakukan hanyalah melarikan diri dan meletakan rasa bersalah pada dirimu sendiri. Kau harus mencoba memaafkan dirimu. Cheonsa tidak akan menyukainya jika kau menyiksa diri atas kematiannya. Itu bukan keinginan awalnya ketika ia memutuskan untuk meninggalkanmu.”
“Kau tidak akan mengerti apa yang dipikirkannya, kau bukan dirinya.” Yongguk tidak bisa menerima saran tersebut. Masih saja ia merasa perlu untuk meletakan beban kesalahan pada dirinya, dengan begitu Cheonsa akan memaafkannya karena telah bersikap cuek padanya.
Jika ia lebih keras kepala memaksanya untuk meninggalkan keluarganya yang berantakan, masalah tidak akan terulang seperti lingkaran yang tak putus.
“Bukankah dia mengatakan ‘Terima Kasih’ dan juga ‘Jaga diri’ padamu sebelum ia pergi?”
Yongguk terdiam kembali. Dia berbohong mengenai itu. Cheonsa tidak mengatakan dua kalimat itu. Melainkan ia mengatakan...
Ia teringat dengan perkataan terakhir Cheonsa sebelum ia menutup matanya. Saranghae, Yongguk a. Perasaan bersalah itu semakin kuat. Ia tidak pernah menyadari perasaan Cheonsa padanya.
Jinmi merasakan ketegangan Yongguk. Ia memutar tubuhnya dan memeluk kekasihnya.
“Tidak apa. Cheonsa akan memaafkanmu. Bukankah dia adalah cheonsa? Tentu saja dia adalah orang yang baik hati. Dia tidak akan menyimpan dendam terhadapmu, teman masa kecil terbaiknya.”

Yongguk menutup matanya. Di dalam dirinya terjadi perdebatan. Ia tidak mampu meyakinkan dirinya untuk berpikir seperti itu. Rasanya seperti ia akan mengkhianati Cheonsa. Yongguk tidak tahu apakah ia bisa melewati trauma ini.
“Tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja. Kita akan melewatinya perlahan. Aku akan berada di sampingmu untuk itu.” Jinmi mengusap punggung Yongguk dengan lembut untuk membuatnya relaks.
Jinmi menyentuh mata Yongguk yang tertutup dengan bibirnya, kemudian mengecup tulang pipinya. Ia bisa merasakan bibirnya perlahan dibasahi oleh airmata Yongguk.
Ini adalah pertama kalinya Jinmi merasakan tangisan Yongguk. Ia bahkan tidak menangis ketika dirinya memenangkan posisi pertama di acara musik.
Yongguk sungguh gagal dalam hal ini.
Yongguk menatap ke dalam mata Jinmi. Yongguk tidak pernah menyadari perasaannya yang seperti ini terhadap Jinmi sebelumnya. Hanya dengan bersamanya, masalah terasa menjadi lebih ringat. Rasanya seperti ia bisa melakukan apapun untuk itu.
Setiap kali ia menatapnya, ada sebuah perasaan tumbuh di dalam hatinya; itu adalah; Ia sangat ingin menjaga dan menghargai Jinmi.’
Meskipun ia tidak pernah berniat melupakan Cheonsa, tapi ia pikir ini adalah waktunya untuk me membiarkannya pergi. Sekarang atau tidak akan pernah sama sekali. Cheonsa adalah masa lalu untuknya, sedangkan Jinmi adalah masa sekarang. Bukankah orang-orang pernah berkata kau harus menghargai setiap waktu di masa sekarangmu karena siapa tahu itu adalah saat terakhirmu untuk bersama mereka.
Bersama Jinmi,
Ini bukan masa habis berlaku di antara mereka, tetapi sebuah deposito berjangka waktu panjang. Cinta mereka adalah seperti itu. Kau perlu menyimpannya dengan hati-hati.
Bersamanya, ia merasa terselamatkan dan juga kembali pulang.
Aku sungguh menyesalinya. Apakah kau bisa memaafkanku, Cheonsa?
.................................................................................................................
Hehe... Lama juga ga OL. Well FF ini terinspirasi dari Save Me - B.A.P dan juga 1004. kekeke..
Maap kalau agak ga nyambung. Whatever. I'm not in my straight mind now. My head hurt so much. ^^
Cuma mau ngepost aja trus kabur kerja lagi. hehe.
By the way ini ENGLISH VERSION HERE

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide