[FF] Save Me
7:11 PM
Orang
– orang berkata cinta itu buta, cinta itu selamanya, aku bisa hanya
berkata; ‘omong kosong’. Cinta juga punya masa habis berlaku seperti
sebuah produk, dibuat oleh hati. Saat kau jatuh cinta itu adalah tanggal
mulai produksi dan ketika suatu saat kau merasa muak dengan seseorang
yang pernah kau cintai, itu adalah masa habis berlaku.
Cinta tidak lebih baik daripada merupakan sebuah produk.
“Cukup.”
Ia menatap perempuan di hadapannya dengan sangat dingin. Tidak peduli
bagaimana pun perempuan itu meminta maaf dan meneteskan airmata, hatinya
tidak sedikitpun tergerak.
Ia memutar tumit sepatunya dan berjalan menjauh dari perempuan itu.
“Yongguk a... Bang Yongguk!” Perempuan itu masih memanggilnya dengan sepenuh hati, tetapi Yongguk tidak menoleh. Tidak sedikitpun.
..........................................
“Hyung, lagi-lagi?” Daehyun duduk di sofa sebelah Yongguk yang baru saja memasuki ruang latihan tari.
“Biarkan
aku sendiri.” Yongguk yang berada dalam suasana hati buruk mengayunkan
tangannya untuk mengusir Daehyun dari mengusiknya. Daehyun nyaris saja
jatuh dari sofa ketika menghindari tangan itu.
“Apa
kamu putus lagi dengan Jinmi?” Himchan yang baru saja menyelesaikan
mandi setelah latihan tarinya berjalan masuk dengan rambut basah dan
handuk di lehernya. Daehyun memberi kode; ‘JANGAN BERTANYA. Dia sedang
dalam mood yang buruk.’
“Jadi benar?” Himchan tidak mengacuhkan kode tersebut.
Yongguk berdiri dan berjalan pergi. Himchan mengikutinya dengan gigih hingga ke ruang kerja mereka.
“Kali ini apa lagi alasannya?” Himchan masih saja mencoba mengusik Yongguk hingga ia menjawab pertanyaannya.
“Dia
berbohong padaku.” Yongguk mencoret-coret kertas music kosongnya,
tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan benda tersebut.
“Bukan berita baru kalau begitu.” Himchan duduk di atas meja menghadap Yongguk.
“Kali ini benar-benar berakhir.” Yongguk memberikan nada suara untuk mengakhiri semua pertanyaan tersebut.
“Ada
apa denganmu akhir-akhir ini. Kau bersikap aneh semenjak persiapan
album pertama.” Himchan tidak mempedulikan peringatan tersebut. “Hanya
karena judul album kita First Sensibility, kamu tidak perlu menjadi
sensitif secara berlebihan.”
Yongguk terus menutup mulutnya. Ia tidak ingin menjawab.
“Mengapa kamu sangat membenci orang berbohong padamu?”
“Aku hanya membencinya begitu saja.” Sekali lagi Yongguk hanya menjawab dengan jawaban singkat.
“Aku
tidak pernah melihat orang membenci sesuatu tanpa alasan. Aku tidak
melihat ada masalah besar dengan Jinmi tidak mengatakan kemana ia pergi.
Dia bukan anak kecil. Kamu hanya bersikap berlebihan.” Himchan
menggelengkan kepalanya.
“Aku tahu apa yang aku lakukan.” Yongguk bergumam pelan.
“Ya
kuharap kau benar-benar mengetahui apa yang kau lakukan jika tidak
kau akan menyesalinya.” Himchan menyerah menasehati Yongguk. Ia berjalan
keluar dari ruangan.
Begitu
Himchan menghilang dari ruangan itu, Yongguk menghela nafas. Ia
menyadarkan punggung pada kursi. Menutup matanya dan berdoa dalam hati.
Save me, Cheonsa.
..............................................
Yongguk menyadari dengan jelas bahwa akhir-akhir ini ia bersikap sangat aneh. Apa yang terjadi padanya?
Bulan berapa sekarang?
Apakah sudah dengan tanggal peringatan itu? Ah, mungkin itu sebabnya.
Akhir-akhir ini banyak hal begitu mengingatkannya pada seseorang. Mulai
dari judul lagu utama albumnya. Sebuah nama panggilan yang telah begitu
lama tidak pernah ia pikirkan.
“Yongguk a... Mianhae. Ini salahku. Aku tidak akan berbohong padamu lagi.”
Yongguk
membaca sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya dan tidak
mengacuhkannya. Itu hanya satu di antara banyak pesan yang dikirim oleh
Jinmi.
“Jawab aku, jangan tidak mengacuhkan aku. Aku membenci saat kau bersikap seperti ini.”
Satu pesan lagi masuk. Kali ini Yongguk menjawabnya.
“Kalau begitu kau juga seharusnya tahu aku membenci kau berbohong.”
“Aku
tidak bisa mengerti mengapa kau begitu membencinya. Aku benar-benar
tidak mengerti dirimu. Kalau kau curiga kalau aku selingkuh darimu, aku
bisa katakan dengan jujur aku tidak melakukannya.”
“Bukankah
ini bagus kalau kita putus dengan begitu? Semuanya sudah berakhir. Kau
tidak perlu berurusan dengan orang sepertiku, seseorang yang terus
meminta kejujuran darimu.”
“Kau sungguh pendendam, Bang Yongguk. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu sebelumnya.”
Ini adalah masa habis berlaku diantara Yongguk dan Jinmi.
Yongguk tak berdaya menghadapi situasi ini. Ia juga merasa hancur namun juga tidak bisa menghindari situasi ini.
Save me, Cheonsa. Yongguk menyelusuri garis pintu dengan bersandar dan menggenggam erat ponselnya.
......................................................
“Yongguk a, apa kamu tahu mengapa aku dipanggil Cheonsa?” Seorang anak perempuan seumurannya mengenakan gaun berwarna putih sedang mencoba memotret langit dengan tangannya.
“Mengapa?”
“Karena
aku adalah milik langit. Sebenarnya aku adalah malaikat yang sedang
dihukum oleh Tuhan ke dunia. Tuhan menyuruhku untuk berteman denganmu
dan membantumu menjadi anak yang baik.”
“Sungguhan?” Yongguk menunjukan ekspresi bingung antara mempercayai fakta tersebut dan tidak.
“Kau selalu ingin tahu dimana aku tinggal, bukan?” Yongguk mengangguk.
“Tapi
kamu tidak akan pernah bisa mengunjunginya, karena rumahku ada di atas
langit.” Anak perempuan itu memberi ekspresi serius. “Apakah kamu mau
datang berkunjung ke rumahku?”
“Bagaimana bisa aku datang ke langit? Apa kamu bisa menerbangkan kita berdua ke langit?”
“Hmh...”
Anak perempuan itu berpura sedang menimbang pemikiran tersebut. “Ah,
aku lupa untuk bisa membawamu ke rumah, kau harus mati terlebih dahulu.
Apa kamu masih ingin datang?”
Yongguk
perlahan berjalan mundur. Meskipun saat itu ia masih seorang anak
kecil, namun ia bisa merasakan ada yang salah dengan tawaran tersebut.
Ia merasa takut dengan wajah serius anak perempuan itu. Seperti ia benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya dengan melihat ekspresinya.
“Aku
tidak pernah tahu kalau kau seorang malaikat. Tapi aku masih belum
ingin mati. Apakah kita bisa berkunjung ke rumahmu nanti saja?”
Anak perempuan itu menyeringai. “Bbongiya! Hahaha. Kau mempercayai ucapan bohongku, anak kecil.”
Itu
adalah saat dimana Yongguk masih mempercayai segalanya tidak peduli
berapa kali ia mempermainkannya dengan kebohongan-kebohongannya.
Setelah
bertumbuh pun, Yongguk dan dia masih berhubungan satu sama lain, sebagai
seorang teman. Tentu saja Yongguk sudah tahu Cheonsa bukanlah Cheonsa
seperti yang ia katakan. Itu hanya salah satu lelucon di antara selera
humornya yang aneh dan ia sudah mengetahui di mana ia tinggal, bukan
langit.
“Hey, Yongguk a.” Cheonsa memanggil Yongguk dari belakang. Yongguk duduk di balik meja belajarnya.
Cheonsa mengayun-ayunkan kakinya dengan bosan karena Yongguk tidak mau bermain dengannya.
“Hmhh?” Yongguk tidak juga menoleh padanya.
“Kalau kukatakan aku mencintaimu apakah kamu akan mempercayainya?”
Yongguk terdiam sejenak sebelum ia menggeleng kepalanya.
“Tidak,
kamu sudah pasti berbohong lagi. Aku tidak akan mempercayaimu lagi.”
Mengetahui kebiasaan buruk Cheonsa untuk mempermainkannya, Yongguk
bersikukuh untuk tidak mempercayai setiap kebohongannya apalagi ketika
ia mengatakan hal yang tidak masuk akal.
“Kau sudah tidak mempercayaiku lagi?”
“Tidak,” Yongguk menjawab dengan wajah datar dan melanjutkan menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
Gadis
yang duduk dengan menyanggah kedua lengannya di atas tempat tidur
berdiri dan berjalan mendekati Yongguk yang serius belajar.
“Aku
berhenti mempercayaimu ketika kau mengatakan kau adalah anak laki-laki
meskipun tampilanmu perempuan. Menggodaku untuk menyentuhmu dan membuat
ibuku menemukan kita di dalam situasi yang tidak seharusnya.”
“Kau masih saja mendendam untuk hal itu. Ayolah, itu kan cuma candaan saja.“ Cheonsa menyenggol siku Yongguk.
“Hentikan itu, aku harus belajar.” Yongguk mendesis marah. Ia kesal dengan sikap mengganggu Cheonsa.
“Kau masih saja berkutat dengan misi mustahil dari orang tuamu?” Cheonsa menarik sebuah kursi untuk duduk di samping Yongguk.
“Yeah, aku harus melakukannya dengan begitu mereka akan memperbolehkan aku melakukan apa yang kuinginkan.”
“Tapi
itu mustahil untukmu bisa mendapat peringkat pertama satu sekolah.
Kalau kau katakan kelas, aku masih akan mempercayaimu.” Cheonsa
menyanggah kepalanya di atas telapak tangannya.
“Tidak ada yang mustahil jika aku mencoba sekuat tenagaku untuk mencapainya.” Yongguk menjawab cepat.
“Apakah
itu benar? Tidak ada yang mustahil? Kurasa ada sesuatu yang mungkin
menjadi mustahil untuk dicapai tidak peduli bagaimana keras usahamu
untuk mencapainya.”
Tiba-tiba udara di sekitar Cheonsa terasa berbeda. Ekspresinya berubah menjadi gelap. Ia menyandar ke belakang.
Yongguk merasakan perubahan tersebut. Ia menoleh untuk memastikannya. “Apa maksudmu? Apa kau baik-baik saja?”
Ia mencoba melihat apa yang ada di dalam pikiran Cheonsa, namun gadis itu segera menutupinya dengan senyuman ceria.
Yongguk tidak bertanya lebih lanjut. Jika saja ia menunjukan sedikit lagi kepedulian padanya.
....................................................
“Berikutnya
akan menjadi giliranmu untuk difoto. Aku ingin kau memberikan kesan
misterius dan juga cobalah untuk menjadi berkarisma di saat yang sama.“
Pengarah gaya yang bertugas dalam pemotretan ini memberikan Yongguk
penjelasan singkat mengenai konsep.
Yongguk mendengarkannya dengan seksama hingga seseorang menepuk bahunya. Yongguk menoleh.
“Yongguk ssi, seseorang bernama Jinmi mencarimu, dia diluar.” Salah satu staf pemotretan adalah yang memanggilnya.
Sorot mata Yongguk tiba-tiba saja berubah. “Katakan padanya untuk pergi. Katakan aku sedang sibuk.”
“Aku sudah mengatakannya, tapi ia memaksa untuk bertemu. Kupikir ia berbohong mengenai mengenalmu secara pribadi, tapi Himchan ssi mengatakan wanita itu benar-benar mengenalmu. Makanya aku memberitahumu.”
Yongguk ragu untuk sekian saat. Ia terdiam tetapi tidak lama karena staf lainnya memanggilnya untuk memasuki set pemotretan.
“Ini giliranku. Maaf, tolong katakan padanya untuk pulang.” Yongguk berjalan pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Staf tersebut terpaku ditinggal begitu saja.
Yongguk
mengambil tempatnya di tengah set. Ia mencoba beberapa gaya dibawah
pengarahan fotografter. Meskipun tubuhnya begerak sesuai dengan arahan,
namun pikirannya melayang.
“Yongguk a, kau tahu aku benar bukan. Ada hal yang mungkin menjadi tidak mungkin. Itu adalah dia. “
Yongguk
tidak mengerti mengapa ia masih saja mengingat teman masa kecilnya
akhir-akhir ini. Itu hanya sebuah masa lalu, hal yang telah berlalu.
Tidak ada lagi, tetapi pikirannya tidak menyerah dengan alasan tersebut.
Ya,
itu adalah dia. Alasan terbesar yang membuat Yongguk membenci orang
berbohong padanya, gadis itu adalah alasannya. Yongguk sangat membenci
saat Cheonsa membohonginya. Jika saat itu ia mengetahui bahwa Cheonsa
sedang berbohong.
“Aku baik-baik saja, Yongguk a.”
Jika
saja Yongguk mengetahui bahwa kalimat itu merupakan panggilan SOS,
sebuah kalimat yang perlu diterjemahakan sebagai ‘Tolong aku.’. Jika
saja Yongguk menyadarinya daripada dengan keras kepalanya memutuskan
untuk tidak mengacuhkannya agar ia bisa berkonsentrasi meraih impiannya
sebagai seorang musisi.
“Sampai sini. Good job, Yongguk ssi.
Kau melakukannya dengan baik.” Fotografer itu terlihat puas dengan pose
Yongguk. Yongguk tersikap dari pikirannya yang melalang pergi. Ia tidak
menyadari apa yang telah ia lakukan selagi memikirkan Cheonsa dan juga
masa lalu mereka.
“Wow,
Hyung, aku tahu tahu kau selalu menjadi sosok yang misterius, tapi aku
tidak tahu kau bisa melebihi kemisteriusan biasa.” Daehyun yang menonton
pemotretan dari samping setelah gilirannya selesai berjalan mendekati
Yongguk.
“Huh?” Yongguk tidak berkonsentrasi mendengarkan perkataan Daehyun.
“Kau
luar biasa untuk menjadi sangat misterius. Bahkan aku tidak tahu apa
yang ada di dalam masa lalumu ketika aku melihat pose dan tatapan
matamu.” Daehyun bertepuk tangan.
“Apa
yang sedang kau bicarakan? Jangan berbicara omong kosong. Aku hanya
melakukan bagianku saja. “ Yongguk mendorong pelan Daehyun.
“Dia
benar, Yongguk. Kau memang menjadi misterius akhir-akhir ini dan
lebih lagi hari ini.” Himchan bergabung dengan percakapan itu dan
mengalungkan lengannya pada Yongguk.
“Tidak
kau juga.” Yongguk menggelengkan kepalanya dan menurunkan lengan
Himchan dari bahunya. Ia mengawasi giliran member BAP lainnya untuk
berfoto. Ya ini adalah bagian dari impiannya menjadi seorang musisi.
“Hey,
ngomong-ngomong Jinmi masih menunggumu di luar. Kau serius tidak mau
menemuinya? Di luar sedang hujan loh.” Himchan menyilangkan kedua
lengannya di depan dada sambil berdiri di samping Yongguk.
Yongguk mencuri pandang pada Himchan ketika ia mengatakan hal tersebut, tapi ia memutuskan untuk tidak mempedulikannya.
“Apa
akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan payung yang kuberikan tadi
atau tidak ya? Dia sama keras kepalanya dengan mantan pacarnya ini.”
Perkataan
terakhir itu memukulnya dengan tepat di dalam hati. Yeah, sekarang
label dirinya adalah mantan pacar, tidak lebih. Tapi mengapa dia masih
saja terus datang mencarinya. Apa di luar sungguh hujan? Deraskah?
“Oh,
kau sungguh basah. Di luar masih hujan?” Salah satu staf baru saja
kembali dari membeli beberapa keperluan, dan staf lainnya bertanya
karena melihatnya seperti seekor kucing yang baru keluar dari air. Basah
kuyup.
“Yeah, deras. Cuaca di luar sangat buruk,” jawab staf pria tersebut sambil membuka jaketnya.
“Tadi kan sudah kubilang bawa payung.” Staf lainnya menimpali. “Kau harus segera mengganti pakaianmu.”
“Tadi
kukira hujan kecil saja tidak masalah.” Staf pria itu berjalan masuk.
“Ngomong-ngomong di luar ada seorang wanita berdiri di bawah hujan.
Aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan di sana. Dia tidak mengatakan
apapun ketika kutanya. Apa dia fans BAP atau lainnya?”
Hal itu menarik perhatian Yongguk lagi. Apa dia Jinmi?
“Kau
seharusnya menemuinya sekali lagi, bro. Dia akan sakit kalau kau terus
tidak mengacuhkannya seperti ini.” Himchan berbisik pada Yongguk.
“Itu bukan masalahku lagi.” Yongguk berjalan menuju ruang ganti, tapi matanya terus mencoba melirik pada pintu keluar.
Ia tidak bisa untuk bersikap tidak peduli meski pun ia berpura tidak peduli mengenai hal itu.
“Yongguk, apa giliranmu sudah selesai?” Ia bertemu dengan manajer grup mereka ketika akan membuka pintu ruang ganti.
Yongguk hendak mengangguk, tapi kemudian ia memikirkan hal lain. “Hyung, apakah ini jadwal terakhirku hari ini?”
“Iya, kenapa?”
“Apa aku boleh pergi dulu? Aku harus pergi ke suatu tempat.”
“Okay...”
Dengan persetujuan tersebut dari manajernya, Yongguk segera berlari ke pintu keluar.
“Setidaknya ganti bajumu dulu!” Manajernya berusaha untuk mengingatkannya, tapi Yongguk tidak mendengarnya.
Di
luar, Yongguk berusaha mencari sosok wanita itu. Hujan sungguh turun
dengan sangat deras. Sulit untuknya melihat sekitarnya. Gelap dan
berbayang.
“Dimana dia?” Yongguk mengusap air dari wajahnya tapi sia-sia, hujan terus saja membasahinya. “Jinmi?”
Yongguk berusaha memanggil namanya, tapi ia tidak yakin apakah wanita itu bisa mendengarnya di antara suara hujan ini.
“Jinmi! Hyun Jinmi!” Ia memanggil lebih kencang dan mulai panik.
Apa dia sudah pergi? Atau sesuatu terjadi padanya kah?
Dia tidak bisa ditemukan dimanapun. Mungkin dia sudah pergi.
Yongguk
baru saja akan berhenti memanggilnya tepat ketika ia menangkap bayangan
sosok tersebut. Wanita itu mengigil di bawah siraman hujan. Wajahnya
terlihat pucat dan bibirnya mulai membiru.
“Wanita
bodoh satu ini... mengapa dia membuat segalanya sulit untukku?” Yongguk
merasakan hatinya tercengkram melihat kondisi wanita itu.
Tidak,
cerita cinta mereka bukanlah cerita fan fiction. Pertemuan mereka
tidaklah luar biasa atau tidak biasa seperti pertemuan kedua tokoh utama
dalam fan fiction. Tidak ada pemeran pria yang kurang ajar dan berubah
perlahan bersikap baik pada wanita yang dibencinya pertama kali. Tidak
ada pemeran wanita yang bersifat ceria berlebihan ataupun hidupnya
terlalu dramatis.
Pertemuan
mereka merupakan pertemuan yang sangat normal, jika pertemuan dengan
salah satu idol tidak terhitung luar biasa untuk Jinmi yang merupakan
orang biasa. Jinmi hanyalah adik kelas dari pacar kakak perempuannya di
sekolah. Tidak dekat, hanya kenalan biasa saja. Kau bisa katakan Seoul
sesungguhnya cukup kecil. Kau bisa bertemu dengan seseorang yang
memiliki hubungan dengan idol meskipun tidak sedekat yang kau bayangkan.
Tapi masih saja ada.
Cerita
di antara mereka cukup normal. Sangat biasa saja. Tapi Yongguk sungguh
mencintainya. Itulah mengapa ia masih saja mengkhawatirkan wanita di
hadapannya ini meskipun sikapnya dingin.
“Apa
kau begitu bodoh untuk berdiri di bawah hujan sederas ini? Atau kau
sedang mencoba menirukan salah satu fan fiction dari fansku?” Yongguk
menghampirinya.
“Yongguk...”
Jinmi menolehkan wajah dan menemukan Yongguk berdiri di sampingnya
membuatnya tersenyum lemah. “Akhirnya kau keluar juga.”
Tidak, dia tidak akan pingsan. Sekali lagi ini bukan sebuah fan fiction. *ups, ini memang fan fiction. haha*
“Apa yang kau inginkan? Pulanglah. Kau akan sakit kalau berdiri lebih lama lagi di bawah hujan seperti ini.”
“Aku sangat kuat, apa kamu masih tidak menyadarinya?” Wanita itu menunjukan lengannya yang kuat.
“Hentikan
itu, jangan bercanda lagi. Berteduh atau pulanglah. Tidak ada yang
perlu kita bicarakan lagi. Mengapa kau begitu keras kepala?”
“Bukankah
kamu bilang tidak ada yang mustahil jika aku mencoba sekuat tenaga
untuk mencapainya? Aku tidak ingin akhir kita seperti ini.”
Kata-kata itu. Hal itu tertera di dalam benaknya. Apakah memang tidak ada
yang mustahil? Ataukah seperti Cheonsa pernah katakan ada hal yang
mungkin menjadi mustahil?
“Akhir
seperti apa yang kau inginkah sesungguhnya? Apakah kita harus membuat
tontonan disini? Seperti adegan drama atau novel?” Tatapan Yongguk masih
sama dinginnya.
“Aku
tidak ingin kita berakhir. Aku mencintaimu, itu masalahnya. Mengapa kau
tidak bisa mengerti hal itu? Mengapa kau begitu membenci orang
berbohong padamu? Itu bukan hal besar. Tidak selamanya seseorang
mengatakan 100% kejujuran. Bahkan kaupun tidak.”
Kalimat itu mencekat Yongguk. Tidak ada yang mengatakan 100% kejujuran, bahkan kaupun tidak.
..............................................................
“Cheonsa,
apa yang terjadi padamu?” Yongguk berlari menuju beberapa pria yang
sedang mengangkat Cheonsa di atas tempat tidur ke dalam ambulans. Para
tetangga berbisik satu sama lain.
Apa yang terjadi padanya? Mata Yongguk membesar ketika ia melihat darah di pergelangan tangan temannya dan juga baju.
“Ajooshi, apa yang terjadi pada temanku? Siapa pun jelaskan padaku. Di mana ayahnya? Anda tidak boleh membawanya begitu saja.”
“Dia
mencoba bunuh diri. Ayahnya tidak terlihat dimanapun. Kau bisa ikut
dengan kami tapi jangan mengganggu pekerjaan kami.” Salah satu petugas
ambulans mendorong Yongguk masuk ke dalam mobil.
Percobaan bunuh diri? Perkataan itu mengguncang Yongguk. Mengapa Cheonsa mencoba bunuh diri? Dia tidak pernah mengatakan apa pun.
Pandangan
mata Yongguk beralih pada pergelangannya yang penuh darah. Tangan
Yongguk bergetar ketika ia mencoba meraih tangan itu. Ia tidak sanggup
menyentuhnya.
“Hyein a,
kenapa kau melakukan ini? Siapa yang mendorongmu melakukan hal bodoh
ini?’ Itu ada saat pertama kali Yongguk memanggil Cheonsa dengan nama
sesungguhnya. Ia tidak ingin Cheonsa menjadi cheonsa sesungguhnya.
Di rumah sakit beberapa jam kemudian.
“Kau boleh masuk, Nak. Pacarmu sedang mencarimu, tapi jangan terlalu lama.”
“Dia bukan pacarku.” Yongguk bergumam sambil berlari masuk ke dalam ruang gawat darurat.
“Hong
Hyein! Apa yang kau pikirkan?! Apa kau sudah gila?” Yongguk segera
mengomeli Cheonsa begitu ia memastikan temannya baik-baik saja.
Ia
telah mengetahui cerita lengkap di balik kejadian ini setelah gadis ini
masuk ke dalam ruang operasi, dari seorang polisi yang datang
bersamanya. Hal ini mengerikan. Untung saja salah satu bibi tetangga
berkunjung dan menemukan tubuhnya. Ayahnya tidak bisa ditemukan
di mana pun, mungkin sudah dalam pelarian karena polisi itu mengatakan ia
menemukan sebuah surat yang menceritakan apa yang terjadi dan lebam di
tubuh Cheonsa.
Yongguk
tidak pernah menyangka temannya akan mengalami hal seperti ini di dalam
rumahnya. Yongguk tidak pernah menyangka ayah Cheonsa sendirilah yang
menyiksa temannya sejak lama. Ia tidak pernah mengetahui hal itu karena
Cheonsa tidak pernah mengatakan apapun selain kebohongan.
Ia
membenci kenyataan bahwa ia sama sekali tidak membantu. Jika saja ia
cukup peduli untuk melihat lebam aneh yang muncul di tubuh temannya
akhir-akhir ini. Ia hanya peduli dengan impiannya.
“Mengapa
kau lakukan ini? Kau selalu bisa menceritakannya padaku. Aku pasti akan
membantumu.” Yongguk merasa hatinya pedih melihat pergelangan yang
terbalut perban itu. Ia mencoba menyentuhnya.
“Kau
tidak akan bisa, Yongguk. Seperti yang kukatakan sebelumnya, ada hal
yang mungkin menjadi mustahil. Itu adalah untuk mengubahnya. Tidak ada
yang bisa kau lakukan untuk merubah ayahku. Dia sudah seperti sejak
lama.”
Nafas Yongguk tercekat mendengar pengakuan itu.
“Tapi kau kan bisa meninggalkannya dan tinggal dengan keluargaku. Aku yakin orang tuaku tidak akan menolak.”
Cheonsa menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ingin menjadi beban di keluargamu.”
“Setidaknya kau bisa mengatakan hal sebenarnya padaku daripada berbohong setiap kali aku menanyakan lebam di tubuhmu.”
“Ada hal yang tidak selalu bisa kita katakan dengan jujur. Aku tidak ingin ayahku dipenjara.”
“Tapi kau sudah melakukannya sekarang. Cepat lambat dia akan dipenjara. Polisi sudah mencarinya.”
Cheonsa terlihat sedih ketika ia mendengar hal itu. Ia membuang pandangannya ke arah jendela.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Jangan katakan kalau kau ingin membebaskan ayahmu sekali ia tertangkap.”
Cheonsa tersenyum lembut. “Tentu saja tidak.”
“Baguslah, kau lebih baik tidak melakukannya.” Yongguk menepuk kepala Cheonsa ringan.
Beberapa minggu berikutnya...
“Hong Hyein, kau berbohong padaku lagi.” Yongguk menarik tangan Cheonsa ketika ia sedang berusaha menghindari Yongguk.
“Akhir-akhir ini kau selalu memanggil nama asliku. Apa Cheonsa sudah bukan
panggilan yang baik lagi kah?” Hyein bertanya dengan nada candaan.
Yongguk
menatap tajam. Cheonsa menahan nafasnya melihat tatapan tersebut.
Sangat menakutkan sehingga ia tahu Yongguk sedang serius.
“Tidak ada yang mengatakan 100% kejujuran, Yongguk a. Kaupun juga tidak. Kau berbohong di pengadilan.” Cheonsa tersenyum samar.
“Aku
melakukannya untukmu, dengan begitu ayahmu akan membusuk di penjara
karena telah melakukan hal ini padamu. Tidak ada bukti yang bisa
mengurung ayahmu. Ia akan bebas jika aku tidak mengatakannya.”
“Itu hal baik kalau begitu.”
“Ada
apa denganmu? Bukankah kau juga mengatakan tidak akan mengeluarkan
ayahmu dari penjara? Tapi kau melakukan hal yang berlawanan.”
“Dia
masih merupakan ayahku, keluargaku satu-satunya.” Cheonsa berbicara
dengan pelan. “Sebaliknya, kau sangat menakutkan, Yongguk. Aku tidak
tahu kau bisa menjadi begitu tidak berperasaan. Membusuk di penjara?
Yongguk kesal. Bagaimana Cheonsa masih saja bisa bercanda di dalam situasi seperti ini?
..............................................
“Jangan coba melewati batasanmu, Jinmi ya.
Kau tahu bukan hanya ini alasan satu satunya aku ingin berpisah.”
Yongguk menggeleng kepalanya setelah ia berhasil menghilangkan kenangan
tentang Cheonsa dari benaknya.
Seperti
memakan makanan yang telah habis masa berlakunya, terus berada di
sebuah cinta yang telah habis masa berlakunya membuatmu merasa mual.
Yongguk merasa sangat muak untuk terus mempedulikah hal itu. Mengapa ia
masih saja peduli? Mengapa ia tidak bisa mengakhirinya?
“Apa alasannya kalau begitu?”
“Ini
bukan satu-satunya saat kau berbohong padaku. Kau berbohong padaku
sering kali. Kau juga tidak pernah mengatakan apa yang terjadi ketika
aku melihat kau memiliki lebam di tubuhmu. Kau tidak berselingkuh tapi
kau berbohong padaku. Kau tidak pernah percaya padaku. Mengapa kita
harus terus berhubungan jika kau tidak lagi mempercayaiku?”
Itu
adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan Yongguk selain ketika
ia memperkenalkan album baru maupun melakukan rap pada lagunya.
Jinmi menatap frustrasi. “Karena memang tidak ada yang berarti mengenai lebam itu. Reaksimu berlebihan. Tidak ada yang menyiksaku.”
“Itu adalah perkataannya.” Yongguk menimpali dengan suara pelan. Ia takut.
“Apa?” Jinmi tidak bisa mendengar apa yang yang dikatakan Yongguk karena suara hujan terdengar lebih keras.
“Itu
juga yang dikatakannya padaku. Itulah alasan Cheonsa meninggalkanku.”
Emosi Yongguk meluap begitu saja setelah sekian lama berlalu sejak hari
itu.
Ia
selalu menumpuk segalanya di dalam hatinya, segala perasaan yang
dirasakannya mengenai hari itu. Ia selalu menempatkan rasa bersalah atas
perginya Cheonsa pada dirinya. Jika saja ia lebih memaksa Cheonsa untuk
berkata jujur, kalau saja ia lebih berusaha untuk menemukan
kebenarannya.
“Siapa Cheon...” Jinmi terdiam. Ia menemukan bahwa Yongguk masih mencoba untuk mengatakan sesuatu.
“Semuanya
telah berakhir.” Yongguk memutuskan untuk tidak mengatakan apapun lagi.
Ia tidak ingin terluka lagi. Lebih baik memutuskan segala perasaan
sebelum sesuatu yang buruk terjadi. karena wanita ini sungguh mirip
dengan Cheonsa yang senang menyimpan masalahnya di dalam diri. Ia tidak
ingin merasakan pengalaman buruk lagi dari seseorang yang dekat
dengannya.
Yongguk
memutar sepatunya dan berjalan pergi setelah ia mengatakan hal terakhir
padanya. “Pulanglah, Jinmi. Aku tidak ingin kau jatuh sakit.”
“Bang
Yongguk, kau tidak akan pergi ke mana pun sebelum aku selesai berbicara
denganmu.” Jinmi berusaha menahan Yongguk, namun pria itu terus saja
berjalan di bawah derasnya hujan turun.
Jinmi
mengikutinya dari belakang sambil terus memanggil dan berbicara
padanya. Dari berjalan pelan Yongguk mengubah kecepatan jalannya menjadi
jalan cepat. Berlari.
Jinmi masih saja mengikuti hingga tiba-tiba saja segalanya terdengar sepi.
Mengapa tiba-tiba saja menjadi sepi? Apakah aku berhasil menghindarinya?
Hujan
perlahan berhenti turun begitupula Yongguk memperlambat jalannya dan
merasa aneh dengan kesunyian yang tiba-tiba. Ia melihat ke belakang.
Tidak ada Jinmi di sana. Apakah dia benar-benar berhasil menyingkirkannya?
Yongguk menelusuri jalannya kembali. Ia tidak pergi sejauh yang dipikirkannya tadi.
“Mengapa disana orang berkerumun?” Sebuah perasaan buruk hadir di dalam hatinya.
Ia
tidak pernah suka melihat kerumunan di jalan. Hal itu selalu membuatnya
berprasangka buruk, namun ia masih saja berjalan ke arah kerumunan itu.
“Permisi...
permisi...” Ia berbisik pelan dengan suaranya yang sangat rendah.
Mencoba untuk memasuki kerumunan agar bisa mencari tahu apa yang
terjadi.
“Apa sudah ada orang menelpon ambulans?” Ketika ia sedang berusaha menyelinap masuk, ia mendengar seseorang berbisik di sekitar.
“Aku tidak yakin dia akan bertahan sebelum mencapai UGD. Dia terlalu banyak mengeluarkan darah.” Bisikan lainnya membuat jantung Yongguk berdetak semakin kencang.
Kumohon jangan sampai itu adalah Jinmi. Kumohon.
Hatinya berharap dalam diam.
Sekali lagi harapannya tidak terkabulkan. Seorang wanita dengan pakaian yang sama terbaring di atas trotoar. Yongguk bisa merasakan jantungnya seketika jatuh ke tanah melihat tubuh itu terbujur kaku di sana.
“Tidak...
jangan katakan itu kau, Hyun Jinmi.” Yongguk berlutut secara pelahan.
Tubuhnya berguncang begitu hebat. Sekali lagi ia merasa sangat buruk.
Kejadian ini tidak boleh lagi terulang.
Tidak lagi.
“Jinmi ya, sadarlah ku mohon. Jangan pergi.” Tangan Yongguk bergetar begitu hebat ketika ia mencoba untuk meraihnya.
Pikirannya memutar kembali kejadian yang sama. Mimpi terburuknya.
“Hyein a... Kau harus mendengarkanku. Jangan pergi. Tetap bersamaku. Ambulans akan segera datang. Kumohon jangan tutup matamu.”
“Aku lelah, Yongguk. Biarkan aku pergi.”
“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu.”
“Saranghae, Yongguk a.”
“Apa
belum ada yang menelpon ambulans?” Yongguk mencari ponselnya tapi tidak
bisa menemukannya. Ia meninggalkan segalanya di studio. “Seseorang
tolong panggil ambulans. Ia bisa meninggal. Siapapun tolong selamatkan
dia.”
Yongguk
perlahan kehilangan pikiran sadarnya. Mimpi buruknya terus terulang di
dalam benaknya, kejadian yang sama. Kepalanya berdenyut keras.
Selamatkan dia, Cheonsa. Jangan ambil dia.
“Yongguk
a... Yongguk a...” Mengapa Yongguk bisa mendengar suara Jinmi? Suaranya
terdengar cemas. Bukankah seharusnya ia yang mencemaskan wanita itu.
Jangan meninggal.
“Yongguk, apa kau baik – baik saja?” Sekali lagi suara itu terdengar.
“BANG YONGGUK, kau mendengarku kan?” Yongguk merasakan tubuhnya dihentakan secara keras.
Sekejap ia mendapatkan kembali kesadarannya.
“Jin-mi,
apakah ini benar kau?” Yongguk tidak bisa mempercayai apa yang
dilihatnya. Yang memanggilnya memang benar Jinmi. Dia terlihat khawatir
dan juga sehat.
Yongguk
kembali melihat sisi kanannya; tubuh yang ia lihat sebelumnya. Tidak,
itu bukan Jinmi. Ia hanya mengimajinasikan baju tersebut sama dengan
Jinmi. Dia bukan Jinmi.
Yongguk menatap Jinmi yang berdiri di hadapannya dan korban tersebut. Double checked.
Bukan Jinmi.
“Apa kau baik baik saja?” Jinmi menyentuh pipi Yongguk. Yongguk menyentuh tangan wanita di hadapannya untuk memastikan ia nyata.
Jinmi menarik Yongguk keluar dari kerumunan itu.
“Apa kau baik – baik saja? Kau terlihat sangat buruk ketika melihatnya. Apa kau kenal dia?”
Yongguk
masih belum mampu mengutarakan apapun. Ia mencoba untuk mengumpulkan
dirinya kembali. Daripada menjawab dengan perkataan, Yongguk memilih
untuk menyampaikannya dengan gerakan. Ia menarik Jinmi ke dalam
pelukannya.
Ia merasa sangat lega korban tersebut bukanlah Jinmi.
...................................................................
“Ada
apa denganmu di sana?” Jinmi menyerahkan coklat panas dan handuk untuk
mengeringkan diri kepada Yongguk setelah mereka berada di dalam
apartemen Jinmi.
Yongguk
mengambil handuk dan cangkir tersebut tanpa berkata apapun. Jinmi
menanti Yongguk untuk siap berbicara. Ia menatap gerakan lambat Yongguk
dalam mengeringkan rambutnya. Jinmi tidak mampu bertahan lebih lama
lagi.
“Biarkan
aku yang melakukannya. Kau minum saja coklatnya selagi masih panas.”
Jinmi memutuskan untuk menginterupsi ritme lambat Yongguk.
Yongguk
membiarkan Jinmi mengambil alih handuk tersebut dan menatap pada lantai
dalam diam. Ia mencoba menghirup aroma menenangkan dari apartemen
Jinmi. Itu adalah salah satu hal yang Yongguk suka lakukan di tempat
ini. Ruangan Jinmi selalu memiliki aroma yang menenangkan seperti ini.
“Siapa yang sedang kau pikirkan di tempat itu?” Jinmi bertanya pelan.
Ia tidak bisa untuk tidak cemburu ketika melihat Yongguk terlihat sangat mengkhawatirkan korban di jalan itu. Ia bisa merasakan bahwa siapapun itu adalah seseorang yang penting untuknya. Pada dasarnya Yongguk seperti kehilangan ketenangan pikirannya. Tetapi ia tidak bisa memaksa Yongguk untuk mengatakan apapun sebelum ia siap. Yang bisa ia lakukan hanyalah menanti..
Sekali lagi Yongguk menjawab pertanyaannya dengan sebuah aksi. Pria itu melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Jinmi, bagian tubuh terdekat. Jinmi berdiri di samping Yongguk.
Yongguk
menghela nafas kencang. Ia masih saja tidak mampu mengendalikan
pikirannya. Ini tidak biasa untuknya yang selalu terlihat tenang seakan
tidak memiliki emosi lainnya.
Jinmi memutuskan untuk duduk di samping Yongguk dan memeluk pria itu balik.
“Tidak apa, tidak apa. Kau akan baik-baik saja. Segalanya akan baik baik saja. “Jinmi menepuk punggung Yongguk lembut.
Yongguk
mengurai tubuhnya dari dalam pelukan Jinmi setelah beberapa saat. Ia
menatap ke dalam mata wanita di hadapannya untuk beberapa detik lamanya
sebelum perlahan mendekati bibir Jinmi.
Nafas
hangat Jinmi seakan meyakinkannya bahwa ia nyata. Yongguk menarik nafas
dalam. Seperti berada di bawah pengaruh sihir, Jinmi tidak bisa
berhenti menatap padanya. Itu adalah saat sebelum ia menutup matanya
ketika ia merasakan bibir Yongguk pada miliknya.
Ciuman
Yongguk terasa pelan dan cangguk awalnya. Sesuatu mengusik membuatnya
merasa tidak aman namun perlahan ia kembali pada gayanya yang biasa.
Yongguk menyentuh pinggang Jinmi dan mendorong wanita itu lebih mendekat
padanya. Memeluk dan menciumnya seakan tidak lagi hari esok. Ciuman itu
mulai beranjak turun.
“Yongguk,
sebentar...” Tiba-tiba saja Jinmi merasakan kekhawatiran melandanya
ketika ia merasakan tangan Yongguk di atas perutnya dan menanjak ke
atas. “Tunggu...”
Jinmi mendorong Yongguk menjauh darinya dengan lembut.
“Ada apa?” Nafas Yongguk tersenggal. Ia berusaha mendekatkan jarak di antara mereka sebelum Jinmi kembali menahannya.
“Kau
tidak akan menciumku lagi sebelum kau menjelaskan padaku apa yang
terjadi. Apa maksud dari ciuman ini?” Jinmi bertanya dengan wajah
serius.
“Aku hanya ingin memastikan kau benar – benar ada disini.” Ketika menjawabpun pandangan Yongguk masih terarah pada wajah Jinmi.
“Kau tidak perlu meyakinkan bahwa aku disini dengan menciumku. Bukankah kau sudah bilang kita berakhir tadi?” Jinmi
Yongguk mengubah posisi tubuhnya kembali menduduki tempatnya dengan benar.
“Baiklah, aku akan katakan. Aku mengira wanita tadi adalah kau. Melihatnya disana membuatku takut kalau aku akan kehilanganmu kali ini. Aku tidak ingin kehilangan dirimu kali ini.”
Jinmi mengerutkan dahinya. “Kau kehilangan siapa sebelumnya?”
Yongguk terdiam sejenak hingga akhirnya ia menjawab singkat “Tidak ada.” sambil menatap ke arah lain. Ya tidak ada orang lain selain Cheonsa.
“Apakah
ini masuk akal jika kau tidak kehilangan siapapun dan kau bersikap
seperti tadi. Kau juga bersikap sangat aneh sebelum itu juga. Katakan
padaku, apakah seseorang itu dan alasan kau membenci orang berbohong
padamu adalah orang yang sama?
Yongguk
mengigit bibirnya dan terus menghindari kontak mata dengan Jinmi. Jinmi
menyentuh pipi Yongguk dan memaksa pria itu untuk menatap dirinya.
“Ya.” Yongguk akhirnya mengakui hal itu.
“Apakah dia... sudah meninggal?” Jinmi berusaha untuk tidak menyakitinya.
Yongguk
mengangguk dengan kaku. Begitu ia melihat jawaban itu, Jinmi merasakan
di dalam hatinya perlahan menuju keretakan. Ia tidak ingin mendengar
jawaban dari pertanyaan yang selanjutnya ingin ditanyakan.
“Aku
turut berduka mendengarnya. Apakah....” Jinmi tidak sanggup untuk
bertanya lebih lanjut. Ia tidak ingin menanyakannya. Ia tidak lagi
menginginkan alasan di balik semua ini.
Keheningan melanda keduanya cukup lama hingga Yongguk memutuskan untuk memecahnya lebih dulu.
“Aku
tidak mencintainya seperti yang kau pikirkan. Dia adalah teman masa
kecilku, hanya seorang teman dekat. Hanya sebuah kenangan menyakitkan
yang berharga.“ Yongguk memainkan jemarinya terlihat gugup.
“Bagaimana kau bisa mengetahui apa yang ingin kutanyakan?” Jinmi bertanya balik.
Yongguk tertawa kecil. Itu adalah yang pertama sejak pagi ini.
“Aku
hanya kebetulan mengetahuinya.” Tawa ringan Yongguk dan jawabannya
membuat Jinmi tanpa sadar tersenyum. Yongguk ikut tersenyum balik ketika
ia melihat senyuman Jinmin.
“Jadi, apa aku boleh menciummu lagi sekarang?” Yongguk mendekatkan jarak di antara wajah mereka lagi.
“Hanya
jika kau setuju untuk menceritakan alasanmu begitu membenci orang
berbohong padamu setelah ini.” Jinmi menahan bibir Yongguk dengan jari
telunjuknya.
“Apakah aku harus menceritakan segala sesuatunya setiap kali aku ingin menciummu?” Yongguk menggeram frustrasi.
“Ya, kau harus. Kau selalu menuntutku untuk berkata jujur padamu, tentu saja aku juga harus memintamu melakukan itu juga.”
“Baiklah,
aku akan menceritakan segala yang ingin kau ketahui setelah ini. Jadi
apakah kita boleh berciuman sekarang?” Gerutuan Yongguk membuat Jinmi
tertawa ringan. Ia mengecup Yongguk lebih dulu sebelum pria itu bisa
melakukan hal itu padanya.
Mereka
melanjutkan ciuman itu panjang dan penuh kehangatan. Masih tersisa
banyak waktu tersedia untuk mereka sebelum mereka memulai penceritaan
kisah masa lalu itu.
………………………………………………………………
“Jadi, dia meninggal ketika kau kelas dua SMA?”
Jinmi
bertanya sambil memainkan jemari Yongguk. Ia berada di dalam pelukan
Yongguk dan mereka berbaring di atas tempat tidur Jinmi. Tubuh telanjang
mereka ditutupi oleh sebuah selimut. Nafas mereka terdengar bergerak
naik turun dengan irama yang sama dan stabil. Hal itu menenangkan bagi
Yongguk. Itu membantunya untuk menceritakan bagian terburuk dari
kenangannya.
“Ya, itu adalah hari terburuk untukku.”
“Dan kau selalu merasa bersalah atas kematiannya?”
Yongguk tidak menjawabnya. “Kau tidak perlu merasa bersalah. Itu bukan kesalahanmu. Itu adalah pilihannya.”
“Jika
saja aku lebih peduli padanya, ia tidak akan memutuskan untuk membunuh
dirinya sendiri. Ia tidak akan meninggal saat itu. Akulah yang telah
membunuhnya.”
“Ya,
itu adalah kesalahanmu. Jika saja kau lebih menunjukan kepedulian
padanya, kau bisa menghentikannya dari bunuh diri. Tapi semua sudah
terlanjur terjadi, tidak ada lagi yang kau bisa lakukan selain terus
melanjutkan hidup dan tidak melakukan kesalahan yang sama.”
“Aku sudah mencoba melakukan itu.”
“Tidak,
kau tidak mencobanya. Yang kau lakukan hanyalah melarikan diri dan
meletakan rasa bersalah pada dirimu sendiri. Kau harus mencoba memaafkan
dirimu. Cheonsa tidak akan menyukainya jika kau menyiksa diri atas
kematiannya. Itu bukan keinginan awalnya ketika ia memutuskan untuk
meninggalkanmu.”
“Kau
tidak akan mengerti apa yang dipikirkannya, kau bukan dirinya.” Yongguk
tidak bisa menerima saran tersebut. Masih saja ia merasa perlu untuk
meletakan beban kesalahan pada dirinya, dengan begitu Cheonsa akan
memaafkannya karena telah bersikap cuek padanya.
Jika
ia lebih keras kepala memaksanya untuk meninggalkan keluarganya yang
berantakan, masalah tidak akan terulang seperti lingkaran yang tak
putus.
“Bukankah dia mengatakan ‘Terima Kasih’ dan juga ‘Jaga diri’ padamu sebelum ia pergi?”
Yongguk terdiam kembali. Dia berbohong mengenai itu. Cheonsa tidak mengatakan dua kalimat itu. Melainkan ia mengatakan...
Ia teringat dengan perkataan terakhir Cheonsa sebelum ia menutup matanya. Saranghae, Yongguk a. Perasaan bersalah itu semakin kuat. Ia tidak pernah menyadari perasaan Cheonsa padanya.
Jinmi merasakan ketegangan Yongguk. Ia memutar tubuhnya dan memeluk kekasihnya.
“Tidak apa. Cheonsa akan memaafkanmu. Bukankah dia adalah cheonsa? Tentu saja dia adalah orang yang baik hati. Dia tidak akan menyimpan dendam terhadapmu, teman masa kecil terbaiknya.”
Yongguk menutup matanya. Di dalam dirinya terjadi perdebatan. Ia tidak mampu meyakinkan dirinya untuk berpikir seperti itu. Rasanya seperti ia akan mengkhianati Cheonsa. Yongguk tidak tahu apakah ia bisa melewati trauma ini.
“Tidak
apa-apa. Kau akan baik-baik saja. Kita akan melewatinya perlahan.
Aku akan berada di sampingmu untuk itu.” Jinmi mengusap punggung Yongguk
dengan lembut untuk membuatnya relaks.
Jinmi
menyentuh mata Yongguk yang tertutup dengan bibirnya, kemudian mengecup
tulang pipinya. Ia bisa merasakan bibirnya perlahan dibasahi oleh
airmata Yongguk.
Ini
adalah pertama kalinya Jinmi merasakan tangisan Yongguk. Ia bahkan
tidak menangis ketika dirinya memenangkan posisi pertama di acara musik.
Yongguk sungguh gagal dalam hal ini.
Yongguk
menatap ke dalam mata Jinmi. Yongguk tidak pernah menyadari perasaannya
yang seperti ini terhadap Jinmi sebelumnya. Hanya dengan bersamanya,
masalah terasa menjadi lebih ringat. Rasanya seperti ia bisa melakukan
apapun untuk itu.
Setiap
kali ia menatapnya, ada sebuah perasaan tumbuh di dalam hatinya; itu
adalah; Ia sangat ingin menjaga dan menghargai Jinmi.’
Meskipun
ia tidak pernah berniat melupakan Cheonsa, tapi ia pikir ini adalah
waktunya untuk me membiarkannya pergi. Sekarang atau tidak akan pernah
sama sekali. Cheonsa adalah masa lalu untuknya, sedangkan Jinmi adalah
masa sekarang. Bukankah orang-orang pernah berkata kau harus
menghargai setiap waktu di masa sekarangmu karena siapa tahu itu adalah
saat terakhirmu untuk bersama mereka.
Bersama Jinmi,
Ini
bukan masa habis berlaku di antara mereka, tetapi sebuah deposito
berjangka waktu panjang. Cinta mereka adalah seperti itu. Kau perlu
menyimpannya dengan hati-hati.
Bersamanya, ia merasa terselamatkan dan juga kembali pulang.
Aku sungguh menyesalinya. Apakah kau bisa memaafkanku, Cheonsa?
.................................................................................................................
Hehe... Lama juga ga OL. Well FF ini terinspirasi dari Save Me - B.A.P dan juga 1004. kekeke..
Maap kalau agak ga nyambung. Whatever. I'm not in my straight mind now. My head hurt so much. ^^
Cuma mau ngepost aja trus kabur kerja lagi. hehe.
By the way ini ENGLISH VERSION HERE






















0 comments