Serpihan Kenangan Kampus Fiksi

11:09 AM


Akhir tahun 2013, itu adalah waktu yang paling menyenangkan buat aku. Semua kenangan terbaik terjadi di akhir tahun itu; wisuda, terlaksananya impianku ke Korea Selatan setelah diundur dari yang semula rencananya awal tahun, dan yang terakhir adalah yuhuuuu… berita diterima di Kampus Fiksi.

Oh God, rasanya itu di luar dugaan sekali. Seumur hidup aku nggak pernah memenangkan sesuatu. Bayangin aja, waktu SMP pertama kali ikut lomba fisika, jangankan masuk semi final, perempatan saja sudah tidak ada harapan. Ikut lomba mading hasil sama saja. Ikut lomba nulis cerpen di majalah Gaul *kalau nggak salah inget nama majalahnya.* *yah dengan cerpen yang sekarang aku nggak akan pernah mau baca ulang lagi haha* hasilnya KALAH. Intinya, aku dengan perjurian dan lomba seperti tidak pernah bersahabat.

So far, cuma ada tiga momen aku memenangkan sesuatu yang kuingat:
  1. Lolos masuk IKJ. Ingat banget tuh pas ditelepon TU IKJ dibilang “Selamat kamu lulus masuk IKJ.” Setelah tutup telepon langsung loncat di kamar nggak karuan. Pasalnya waktu itu *sebelum setengah menyesali pilihan ini haha.* pengen banget bisa kuliah jurusan perfilman. Dulu banget, aku ingin menjadi penulis skenario. Yah akhirnya tetap saja banting setir jadi Editor.
  2. Beasiswa Kuliah dari IKJ. Seumur-umur kalau dibandingkan dengan teman-teman lain, baru kali ini aku dapat beasiswa. It just feels so fascinating.  
  3. Yang ketiga, ini yang paling membuat aku senang, karena akhirnya aku bisa selangkah lebih maju untuk mencapai impianku menerbitkan novel; KAMPUS FIKSI!

Untuk yang belum tahu, Kampus Fiksi itu semacam pelatihan menulis fiksi untuk semua orang yang ingin belajar. Dan salah satu program yang paling menarik dari Kampus Fiksi adalah Bimbingan Online dimana kita dibimbing menulis novel one-by-one dari awal hingga novel itu terbit dalam waktu 4 (empat) bulan. Well, untuk seseorang yang ingin sekali namanya terpampang di cover buku, ini tawaran yang sangat menarik sekali bukan?

Awal saat ingin mengirimkan cerpen untuk seleksi masuk aku bingung banget. Mau kirim cerpen apa??? *tampang melas dan galau* Mana seleksinya dari seluruh kota di Indonesia pula. Jujur sih sudah pasrah saja waktu mengirim cerpen After Love.

Eh... nggak tahunya di akhir tahun 2013, keluarlah pengumuman peserta Kampus Fiksi. Listnya sangat panjang. Bayangin saja, aku daftar 2013 baru kebagian di tahun 2015. Hehe. Ini akan menjadi penantian yang sangat panjang. Tapi aku senang sih bisa jadi bagian dari list panjang itu.


Di hari terakhir dari bulan pertama, di tahun 2015, akhirnya Kampus Fiksi 11 tempat aku diterima pun dimulai. Awalnya aku agak ragu mau mengirimkan surat pernyataan kesanggupan mengikuti acara. Pengen mundur ke angkatan berikutnya. Tapi, kemudian aku berpikir, kalau dimundur lagi kapan aku bisa nerbitin novel??? Target aku dalam waktu 4 tahun harus sudah terwujudkan. Dan akhirnya kuberanikan diri untuk mengisi surat ini.

Dan untuk pergi ke Yogyakarta yang tidak pernah kukunjungi sendirian ini membuatku sedikit takut. Sebelumnya aku tidak pernah berpergian sendiri. Apalagi aku buta arah akut. Hahaha. Bisa-bisa bukan sampai ke Yogyakarta. Untungnya ada yang bisa diajak berangkat bareng.



Pas pulang tetap saja sendiri, pagi buta di Stasiun Tugu.


Tiga kata untuk Kampus Fiksi:

SERU.GOKIL.MANTAP.

Aku sebenarnya bukan tipe yang senang bergaul dengan orang lain. Bahkan cenderung sulit untuk didekati. Kalau temanku dulu bilang, "Wajahmu itu loh galak banget, Des." Tapi dengan para peserta di Kampus Fiksi ini, aku bisa dengan mudahnya akrab dan ngobrol panjang lebar. Terutama teman-teman yang sekamar denganku; ada Mbak Danik yang kalau sudah mulai mendongeng itu selalu saja mengundang tawa, simpati dan juga rasa penasaran apa ceritanya selanjutnya, ada Mbak Pipit yang ga kelihatan kalau anaknya sudah dua *sumpah kaget banget pas tahu.*. Trus ada Mbak Naelis, Gyta, dan Mega. Dan ada juga Suci yang jadi idaman di angkatan ini dan ternyata eh suka drakor juga. Drama Korea ya, Tante, bukan Draco Malfoy ataupun drakula Hehe.


Peserta lainnya pun juga nggak kalah seru. Ada Tante *eh?* Siska yang wajahnya masih awet muda banget tapi ternyata dokter dan ngakunya baru dua kali nulis cerpen tapi cerpennya WOW! Ada Ricky yang kalau bicara tanda seru semua dan kayak pernah nelen microphone, ada Rizky juga yang kata-kata penutupannya asli dalem banget dan bikin beban buat aku yang juga diamanatkan untuk menyampaikan kesan acara. Asli nge-blank pas sudah megang microphone, mau ngomong apa lagi, semua sudah diucapkan Rizky dan teman-teman sebelumnya.

Tante Anggi, Mas Khoirul, Joko, Ajar, Ucup, Nasrul, Ghina, Refa, Anis meskipun waktu acara aku sepertinya ga pernah ngobrol bareng, tapi ternyata kalian di group WA ramai sekali. Dan cepol pramugari Ajar sungguh luar biasa. Masih membekas sekali momen Ajar praktikan membuat cepol. Sebagai cewe, saya merasa tersaingi karena tidak bisa cepol rambut sendiri. Haha.

Oh ya, seumur-umur baru kali ini aku melihat sekumpulan orang selfie dengan berbagai angle dari dalam ruangan dan posenya tetap sama. Pasang wajah senyum dan yang penting masuk frame. Hehehe.  Mungkin karena aku juga jarang selfie. 



Kasian Dek Gara mau ikutan foto tapi ga diajak. XD

PS: Lain kali kalau ikutan acara Kampus Fiksi lagi, aku pasti ikutan main poker dhe.

Pokok selama 3 hari 2 malam ini momen ini adalah salah satu momen yang berharga buat aku. Selain menambah teman dan keluarga baru, juga menambah pengalaman dari cerita yang disampaikan Pak Edi, juga Pak Arif dari Jawa Pos yang sudah menyempatkan diri mampir untuk sharing pengalamannya dengan berbagai penulis besar Indonesia. Dan tak lupa juga, dari obrolan dengan para peserta lain dan para mentor Kampus Fiksi. Pokoknya seru banget bisa bertemu banyak orang dari berbagai macam profesi, jenjang usia, dan daerah. 



 Sesi Cara Mengirimkan Cerpen ke Media, materi diberikan oleh Pak Arif dari Jawa Pos


Jujur, ada hal yang sangat memberatkan ketika acara, yaitu membuat cerpen selama 3 jam. Aku bisa mengerti tujuan dari tantangan tersebut dan ingin sekali bisa melakukan yang terbaik. Mungkin ini semua terdengar hanya seperti sebuah excuse *memang*, tapi aku sangat jarang membuat cerpen dan apalagi tema yang diberikan adalah Indonesia Jaman Kolonial Belanda.

Mak... sejarah! Aku saja waktu sekolah  nilainya nyaris pas-pas-an dan sewaktu kuliah sejarah film dan televisipun adalah hal membuat aku tertidur di kelas, apalagi kalau sudah diputarkan film hitam putih dari abad awal permulaan film; Melias–Trip to The Moon... trus... apalagi ya.. hahaha yang paling diingat cuma film ini saja, sisanya sepertinya aku tertidur setelah beberapa menit film dimulai. XD

Selama ini setiap kali aku menulis selalu saja bertema Korea. I know, mungkin ini terdengar sangat freak. Tapi memang Kpop itu sudah jadi bagian yang tak terpisahkan dari aku. Bayangin aja kayak kalau pacaran 9 tahun, bagaimana mendarah dagingnya. XD. Buat aku, Kpop itu penolong hidup, sebelum kenal KPOP aku sangat berbeda dari saat ini dan lebih anti sosial -_-'''. Karena aku suka kpop, jadi bisa punya teman dan melakukan banyak hal yang sebelumnya ga pernah aku lakukan.  Bahkan aku mulai suka menulis pun karena KPOP padahal sewaktu SD dan SMP aku hanya suka membaca saja.

Tapi aku sangat sadar, kalau aku ingin melangkah lebih maju dari saat ini; aku harus bisa keluar dari zona nyamanku. Apalagi di akhir acara, Mbak Rina juga sudah katakan KPOP saat ini juga sudah turun. Sebagai pengamat dan veteran KPOP *ceileh bahasanya* tentu saja aku sudah sadar hal itu. Aku saja nggak pernah beli novel KPOP, masa mau nulis KPOP. Dari awal juga aku berpikir jika aku menerbitkan novel, aku ingin novel yang bukan cerita KPOP. Oleh karena itu, saat ini aku sedang dalam tahap peralihan dari menulis yang selalu tentang Korea menjadi Indonesia. Sangat sulit. Apalagi jika dihadapkan dengan tema lokalitas yang menjadi tema ultah KF mendatang ini. Dalam hati ingin sekali ikut serta, tapi sampai saat ini aku tidak pernah begitu tertarik dengan lokalitas Indonesia. Aku suka novel Indonesia, tapi selama ini novel bertema lokalitas tidak pernah menarik minatku.

Dalam hati sangat ingin bisa menaklukan tantangan ini, tapi di sisi lain... excuse terus saja berdatangan. Ga ada idelah, bingung milih kearifan lokal mana yang mau diangkat, ketika ide sudah ada konfliknya apa ya? Idenya sesuai dengan tema nggak ya. Bahkan hingga muncul pertanyaan “Kearifan lokal apa sih?” Haha.

Hingga saat ini aku masih saja berpikir, apakah aku harus memacu *setengah memaksa* diri untuk mencoba hal baru ini? Tapi kita lihat saja. Aku ga akan menyerah begitu saja. Ikut atau tidak dalam lomba cerpen kali ini, aku akan terus mencoba keluar dari zona nyaman ini.


Yogyakarta, 30 Januari - 2 Februari 2015



You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide