[BookTalk] The (Un) Reality Show

11:22 AM

Judul: The (Un) Reality Show 
Penulis: Clara Ng
Penerbit: Gramedia
Terbit: Juni 2012
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-979-22-8402-7


Hello, sudah lama nggak ngulas buku di website ini. Haha. Kalau biasa aku hanya ngobrol ngalor-ngidul saja tentang buku, kali ini aku mau review secara serius seperti ulasan Partitur Dua Musim dan Me Before You.

Seperti yang sebelumnya, poin yang ingin kusampaikan dibagi menjadi lima bagian

1. Sinopsis / Deskripsi cerita.

2. Opening / First Impression

3. Karakterisasi tokoh

4. Story Line : Logika cerita, progress cerita, cara penceritaan, gaya penulisan dll.

5. Ending/ Pesan
 Nah, tanpa harus bertele-tele, let's get started. 


Sinopsis/ Deskripsi Cerita



Untuk sinopsis buku ini bisa dibuka langsung di sini




Secara sinopsis ini sangat menarik. Bikin penasaran. Apa sih delapan orang yang biasa-biasa saja hidup dalam satu rumah? Sewaktu baca ini, wah, kupikir nih, novelnya akan seperti Penghuni Terakhir yang dulu pernah ditayangkan di tipi, atau Roommates, yang acara Korea Selatan gitu *I like this one*.


Tapi menuju akhir dari sinopsis ini, ada sesuatu yang mengusik. 


as the reality did not out exactly as it had been expected.
Karena pada akhirnya ini adalah
THE (UN) REALITY SHOW



Bagian ini membuat aku memikirkan, apa sih The (Un) Reality Show? Sebuah acara kenyataan yang tidak sesuai kenyataan tapi ternyata sebuah kenyataan kah? Nah loh ribet. Semacam paradoks. Kenyataan tapi bukan kenyataan. Bukan kenyataan tapi kenyataan.
Berbagai spekulasi mulai muncul di benak. Hmmh.. apakah ternyata konsep acara itu sesungguhnya telah diatur sebelumnya dalam sebuah skrip tapi kepada publik itu disebut sebagai realita, tanpa skrip? Kan banyak tuh tayangan-tayangan di televisi yang dikatakan reality show, tapi sebenarnya semua itu sudah dikonsep sejak awal. Yang muncul di televisi pun hanyalah seorang pemain. :') 

Tapi ternyata... seperti kutipan-kutipan komentar atas buku ini. 

@Tamamhe Wow, aku suka kejutan! The (Un) Reality Show selalu punya kejutan di setiap bagiannya. Dan kejutan terbesar di ending 

Well, kupikir itu benar. Something big is coming at the end

First Impression



Mengenai kesan pertama saat membaca novel ini, hmmmh... *pasang pose mikir* Apa yah... Ada kalimat yang menyentil di sini.


"Bagaimana kalau kita nyontek sedikit?" kata Jason bersemangat, tidak mau kalah. "Bagaimana kalau kita juga membuat program yang kurang-lebih sama? Pakai nama program yang berbeda, ubah sana-sini, lalu langsung on air? Pasti televisi lain bakalan kelabakan kalau tahu acaranya ditantang sama kita." 
"Itu namanya bukan kreatif, tapi niru." 
"Loh, katanya tadi menyontek sedikit tidak apa-apa." 

"Bukan menghina idemu, tapi setahuku memang itulah yang dilakukan TV swasta lainnya. Kita justru harus mencari yang tidak dilakukan oleh mereka."



Sebagai salah satu lulusan jurusan Film dan Pertelevisian dan juga praktisi pertelevisian, haha, bagian ini sesungguhnya sangat menyindir orang-orang yang bekerja di balik layar acara-acara yang disinggung. Meskipun aku tidak pernah melakukan hal tersebut secara langsung *I mean, menjadi bagian dalam perencanaan program baru*, tapi secara kasat mata sajalah kita bisa melihatnya. Banyak acara-acara yang serupa ditayangkan di TV swasta, hanya beda talent dan judul program. Bahkan beberapa acara serupa di  TV yang berbeda pernah memakai talent yang sama. Hidup di dunia pertelevisian sangat keras, hmmm...


Dengan membaca bagian ini aku mulai berpikir, wah okay nih. Asyik kayaknya. Konsep seperti apa yang ingin ditawarkan oleh penulis kali ini. Apakah ini akan berbeda? 

Namun, baru beranjak beberapa kalimat saja dari bagian itu, aku sudah merasa sedikit kekecewaan. Ternyata konsep acara yang digembor-gemborkan berbeda itu, rasanya tidak masuk akal. Sebuah acara tentang delapan orang yang hidup bersama, ditayangkan secara LIVE 24 jam. Belum lagi ada hadiah satu milyar untuk pemirsa televisi. *kening langsung berkerut*

WOW! Secara konsep, ini idealis sekali. Tapi secara realitas, haha. It's sound totally impossible. Bayangkan stasiun televisi mana yang mau nayangin acara yang sama selama 24 jam, yah meski setiap kali tayang cuma 15 menit sih. Belum lagi hadiahnya. Wow... *kemudian para marketer duduk di kursi panas tiap hari cuma buat nyari sponsor untuk satu program saja, belum lagi ditambah dengan program-program lain? RIP Marketer.*

Baiklah, kita pindah dulu dari konsep yang tidak masuk akal. Maybe, ternyata eksekusinya tidak seperti itu. Maybe. Dengan harapan itu, aku melanjutkan membaca novel ini. 

Sebagai penutup poin kesan pertama, pada bagian akhir prolog, harus kuakui itu sangat membuat penasaran sekaligus semacam bocoran besar banget untuk ending. Sewaktu baca adegan seseorang  duduk di sebuah ruangan dengan televisi dan merasa isi kepalanya sangat bising seperti sebuah acara televisi saja. Aku berpikir. "hmmh... what is this? Ini pasti punya sesuatu dalam cerita."

Ada televisi yang masuk di kepalanya. Atau kepalanya yang masuk ke dalam televisi?

Karakterisasi


Novel ini memiliki banyak sekali tokoh. Ada delapan orang yang menjadi pusat cerita dengan karakter dan latar yang bertolak belakang. Ada kru televisi yang mengatur jalannya show

Ada beberapa bagian yang *lagi-lagi* membuat kening ini berkerut. Karakter Pak Indra yang katanya adalah produser utama dari program The (Un) Reality Show. Karakter yang satu ini rasanya tidak mencerminkan seorang penanggung jawab gitu.

Hal yang paling mengganggu untukku adalah ketika berulang kali tokoh Indra ini memperingatkan krunya agar tidak tampak di televisi. Sewaktu belum selesai membaca buku ini aku berpikir, "Huh? Ini apaan banget sih produser." dan juga mikir, tidak muncul di televisi itu memang harusnya sudah diketahui oleh semua kru sejak awal. Tidak boleh mencampuri jalannya reality show. Tapi perlukah ngotot seperti itu. Di sisi lain aku berpikir, apakah ini ada hubungannya dengan kejutan di akhir cerita?



Story Line

Jujur, ide cerita yang ditawarkan oleh Clara Ng ini adalah salah satu genre kesukaanku. Karena kejutan itu, dan konsep pertelevisian juga akrab buatku, ini bikin aku semakin bawel rasanya sewaktu membaca buku ini. Terutama mengenai konsep acara The (Un) Reality Show ini. Banyak hal yang bikin aku ingin menutup buku ini dan tidak melanjutkan baca, tapi pada akhirnya aku baca juga sampai tamat. Karena penasaran 'kejutan' apa sih yang dibicarakan.  

Novel ini terkesan seperti: 

1. Konsep acaranya aneh dhe.
2. Ini apa sih karakter-karakternya? Random banget.
3. Banyak dialog-dialog yang janggal. Terutama mengenai Pak Indra. 
4. Selipan masa lalu masing-masing penghuni rumah itu rasanya kurang menyatu dengan jalan cerita. Terkesan random. 
5. Menuju bagian akhir cerita, beh... ini kok makin ngalay sih ceritanya. Maksud script-script iklan bikinan para tokoh itu apa? Sepertinya ngabisin halaman doank. Panjang pula. Mau nambah-nambahin halaman aja nih?
6. Detik-detik sebelum kejutan. Serius. Alay nih cerita. *nyaris nutup buku* 
7. Jder! WHAT? What's just happened? *balik ke halaman-halaman sebelumnya* 

Well, ya itu semua adalah kesan-kesan aku sepanjang membaca buku ini. Sepintas, jika kita membacanya dengan tidak cermat, kesannya  novel ini tidak well-done gitu. Kayak kurang riset tentang dunia pertelevisian *yang aku sangat ragukan untuk penulis sekelas Clara Ng gitu*. Tapi ternyata di balik itu semua. Wow...

Ada banyak pointer menuju kejutan yang jika kita nggak cermat rasanya akan melewatkan itu dengan mengira ini sebuah kejanggalan yang nggak penting. Ada banyak simbolisasi pula, yang jika kita cukup memahami mengenai konsep dari bagian 'kejutan' dari penulis, kita baru akan menyadari. Ah, ternyata itu toh maksud-maksud kejanggalan selama ini. Keren juga idenya!

Tapi, untuk aku sih sebagus apa pun planting information yang dilakukan oleh penulis, fakta bahwa konsep acara The (Un) Reality Show itu tidak cukup meyakinkan itu tetap menjadi salah satu hal yang sulit dihindari. Nggak semua pembaca sesabar aku *cih* untuk terus melanjutkan baca novel ini hingga akhir. Bisa jadi mereka akan menutup buku ini tepat ketika baru membaca prolog saja karena sudah menyimpulkan ini acara tidak make sense.


Menurut aku sih, jika konsep acara The (Un) Reality Show itu lebih di-real-kan, kejutan besar di akhir itu akan lebih terasa halus karena rasanya perpindahan antara sebelum dan sesudah kejutan itu rasanya terlalu kasar dan patah. Aku paham sih mau penulis bagaimana tapi yah... that's not the best one.



Ending and Moral Story



Akhir dari cerita ini. Sesungguhnya aku tidak merasa mendapatkan sesuatu yang 'bermakna' sih dalam cerita ini. Itu masih bisa dimaklumi lah, untuk aku sih, novel pop hanya sekadar untuk bacaan hiburan saja. 

Tapi, menurutku nih, masa lalu dari para penghuni rumah itu, jika dieksekusi dengan lebih dalam, rasanya punya potensi untuk memberi makna lebih dalam cerita. Daripada cuma selipan latar belakang tokoh saja. 

Dan bagian penutup cerita, haha. Itu adalah bagian yang paling tidak menarik untuk aku. Aku membacanya dengan mengangkat satu alis sepanjang bagian itu. Mikir, "Ini apa ya?" 

Tapi secara keseluruhan, novel ini terkesan absurd tapi ternyata tidak. Semua ternyata punya alasan di baliknya. 

"Astaga! Jacky Chan kecemplung di kolam renang!"
*lol bagian ini sukses bikin aku ngakak banget. Yang sudah baca pasti tahu apa alasannya.*



Nah sekarang let's get into the hardest part. 


PENILAIAN: 




1. Judul: 8/10
Judulnya memang sangat mencerminkan isi. Pada akhirnya semua ini adalah The (Un) Reality Show


2. Blurb/ Sinopsis: 8/10

3. Karakterisasi: 6/10
Well, meskipun sebelumnya kukatakan kalau aku paham dengan maksud-maksud karakter itu dibuat, tapi buat aku rasanya karakter-karakter ini kurang menonjol. Alasan-alasannya pun kurang greget. 


4. Jalan cerita: 6/10 

5. Originalitas: 7/10
 
Overall Enjoyment: 35/50

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide