[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Fifth Run
11:00 AM
FIFTH RUN
Breathe or dream
Row the oars along with your heartbeat
if you are trapped in the other’s thin judgments
then the sun will set on your life like a court
Row the oars along with your heartbeat
if you are trapped in the other’s thin judgments
then the sun will set on your life like a court
What am I doin’ with my life
this moment won’t ever come again
I’m asking myself again, am I happy right now?
this moment won’t ever come again
I’m asking myself again, am I happy right now?
"Oh good-bye days
Imakawarukigasuru
Kinou made ni so long
Kakkoyokunaiyasashisaga soba niarukara
~With you."
Sebuah musik terdengar samar dari earphone.
Bersamaan dengan itu, pendengar dari musik tersebut ikut bersenandung pelan
bersamanya. Tidak ada seorang pun di sana saat itu, di tangga yang dapat
membawamu ke atap gedung. Itulah mengapa dia dapat merasa sedikit tenang untuk
sesaat. Tidak akan ada yang menatapnya. Tidak ada pula yang menghakiminya. Dia
aman berada sendirian.
Sesungguhnya itu adalah sebuah ironi. Dia
menggumamkan lagu yang menceritakan padanya mengenai sesuatu yang berubah tapi
pada kenyataannya dia tidak pernah berubah. Tidak ada yang berubah di dalam
sana. Jimin mendengar lagu tersebut berulang kali dengan harapan bahwa lagu
tersebut dapat membantunya merasakan hal yang sama. Dia berharap bahwa lagu
tersebut dapat menguatkannya. Persis seperti lirik selanjutnya dari lagu
tersebut. Kesedihan dan ketakutan akan datang bagaimanapun caranya bahkan meski
dia tidak menginginkannya. Dia tidak dapat melakukan apa pun dengan itu.
Jika saja dia dapat mengucapkan “halo” dan
tersenyum pada pemikiran-pemikiran tersebut. Namun yang dia lakukan adalah
kabur darinya. Dia mengurung dirinya setiap kali mereka datang.
“Aku tidak mengira itu adalah kau.”
Sebuah nada ceria dari suara yang sedikit serak
mengejutkan Jimin ketika dia mendengarnya. Dia melihat teman sekelasnya dari
hari ketika dia memiliki momen ketakutan di dalam toilet.
Sekejap dalam benaknya, Jimin hendak kabur dari
sana namun pemuda itu menahannya terlebih dahulu. Dia memintanya untuk tinggal.
“Untuk informasi saja, aku tidak punya penyakit
menular apa pun. Kenapa kau terus-terusan kabur dariku? Aku bukan orang jahat.
Ah, di toilet, aku minta maaf jika sudah mengatakan hal kasar padamu yang tidak
kumaksud seperti itu. Aku hanya bercanda. Kau bereaksi berlebihan terhadapnya.
Aku Kim Taehyung. Kau tahu aku berasal dari kelas yang sama denganmu, kan?”
Jimin melihat senyuman berbentuk kotak yang dia
kenali setiap kali pemuda itu tertawa ketika berbicara dengan temannya di
kelas. Kim Taehyung, tentu saja Jimin tahu nama teman sekelasnya.
“Kau punya suara yang enak didengar. Kau suka
mendengarkan musik? Aku membuat kru dengan temanku dan beberapa kakak kelas.
Kalau saja kau ingin bergabung.” Ada jejak keraguan pada kalimat terakhir yang
diucapkan Taehyung. Dia tidak tahu apakah pemuda yang satu ini akan setuju tapi
dia sangat ingin untuk berteman dengannya.
“A-aku minta maaf. Aku tidak tertarik untuk
bergabung dalam sebuah kru.”
Jimin sesungguhnya tidak mengerti maksud dari kru
tersebut. Apa yang dimaksud pemuda itu? Tapi saat itu dia hanya berpikir bahwa
dia harus pergi dari tempat ini. Orang-orang akan mulai memperhatikannya. Itu
akan menjadi buruk.
“Kenapa? Mereka orang-orang yang menyenangkan.
Baiklah, Suga Hyung memang sedikit
kasar dan menakutkan tapi dia baik. Dia punya selera musik yang bagus. Jin Hyung tidak banyak bicara tapi dia akan
mendengar dan menjawabmu. Namjoon, kau tahu Namjoon, kan?” Jimin mengangguk
gugup. Taehyung memulainya lagi. Berbicara tanpa henti. “Dia itu siswa
terpandai di kelas, uhm terpandai seangkatan maksudku. Dia terlihat akan tidak
mengacuhkanmu pertama kali tapi sesungguhnya dia merespons pada ucapanmu.
Mereka semua teman-temanku. Kau juga bisa menjadi temanku juga. Semakin banyak
semakin menyenangkan. Jangan jadi anti sosial. Ini kan SMA. Kau harus
menikmatinya selagi kau bisa lakukan itu. Momen ini tidak akan datang untuk
kedua kalinya dalam kehidupanmu.”
Jimin kehilangan kata-kata. Dia terlihat terkejut
dengan kecepatan Taehyung berbicara dan banyaknya jumlah kata-katanya.
“Baiklah, ini akan lebih meyakinkanmu kalau kau
bertemu dengan mereka langsung. Ikut aku.” Taehyung mulai memegang tangan Jimin
lagi. Pemuda tersebut memberontak sesaat tapi Taehyung kembali mengatakan hal
lain padanya. “Mereka tidak akan menggigitmu, kau tahu. Kau sudah menghadiri
sekolah ini lebih dari sebulan, bagaimana bisa kau tahan untuk tidak
bersosialisasi dengan yang lain?”
Jimin tidak ingin membicarakan hal tersebut. Dia
mencoba melepaskan diri dari Taehyung tapi pemuda itu cukup kuat. Dia tidak
membiarkan Jimin pergi.
“Dari mana kamu berasal sebelumnya? Kau bukan dari
Seoul, kan? Aku bisa mendengar aksenmu.” Taehyung mencoba memulai percakapan
dengan Jimin selagi mereka berjalan ke ruang musik yang kosong yang kebetulan
diisi oleh tiga orang lainnya.
“Busan.” Jimin menjawab dengan enggan. Lagi pula
dia tidak dapat mengabaikan pemuda yang terus-terusan berbicara padanya.
“Oh, Busan! Aku suka laut. Kau sering main di
laut?”
“Tidak terlalu.”
“Kenapa kau pindah di tengah semester? Kenapa tidak
sejak awal semester?”
Jimin terpaku pada pertanyaan tersebut. Dia
berhenti melangkah. Tangannya mulai bergetar memikirkan alasan tersebut. Dia
harus menenangkan diri. Mengalihkan pikirannya dari kenangan yang mengancam
untuk menyeruak ke permukaan di dalam benaknya.
“Apa itu sesuatu yang tidak dapat kau bicarakan?
Maaf, aku tidak akan menanyakannya lagi. Yang lain akan berada di ruang musik.
Ayo pergi ke sana sebelum jam istirahat berakhir.”
Untuk
kabur. Jimin menjawab pertanyaan
tersebut di dalam benaknya selagi mengikuti Taehyung masuk ke dalam ruang
musik. Dia tahu bahwa dia tidak boleh kabur dari masalah tapi dia lemah. Dia
telah kalah dalam pertarungan dengan dirinya dan orang-orang.
Suga Hyung!
Aku bawa anggota lain untuk bergabung dengan kru kita!” Taehyung terlihat
sungguh-sungguh dengan perkataannya. Dia tidak mengusik Jimin untuk
memberitahunya lebih jauh, malahan dia membuka pintu dengan tingkah yang
berlebihan. Menyapa tiga orang lainnya yang sedang duduk di dalam ruangan melakukan
hal yang tidak Jimin ketahui.
Apa anak ini selalu melakukan seperti ini?
Salah satu dari siswa itu mengerang sebagai respons
pada Taehyung. Itu membuat Jimin berjengit. Pemuda itu terlihat kesal dan
rambutnya merah. Apa dia ketua di sini? Dia mungkin Suga Hyung yang tadi Taehyung katakan. Pemuda ini memang terlihat sangat
mengintimidasi, seperti orang-orang dari sekolah lamanya.
“Kurasa tadi aku minta kau beli air dan camilan
bukan untuk mengajak orang aneh lainnya ke dalam kru.” Si Rambut Merah
meletakkan beberapa kertas yang dia pegang ke atas kursi/meja kecil di tengah
tiga orang tersebut.
“Kenapa? Lebih banyak kan lebih menyenangkan, Hyung. Kita bisa punya lebih banyak
kesenangan dengan lebih banyak orang.” Taehyung membuat Jimin kagum karena
sikapnya yang tidak gentar terhadap kakak kelas yang menakutkan itu. Itu sudah
pasti adalah salah satu sifat dasarnya.
“Kemari, Jimin. Aku akan memperkenalkanmu pada yang
lainnya.” Taehyung menarik Jimin untuk mendekat.
“Seseorang tolong ingatkan aku mengapa aku setuju
untuk berhubungan dengan anak gila ini?” si pemuda berambut merah menggeram
sambil mengusap wajahnya.
“Kau telah menyetujui kegilaan ini ketika kau
memintaku bergabung dengan kru. Taehyung tidak akan membiarkan siapa pun pergi
sekali dia telah memutuskannya.” Siswa yang tidak asing untuk Jimin mengatakan
dengan dalam kepada Suga. Dia adalah Kim Namjoon. Jimin mengenalnya, siswa yang
pandai di kelas.
Suga menggeram sekali lagi. Itu membuat nyali Jimin
semakin ciut. Dia berpikir dia datang tak diundang di tempat ini. Dia ingin
segera keluar dari kekacauan ini tapi Taehyung memeganginya.
“Jangan takut pada Suga Hyung. Dia hanya terlihat kasar di luar, tapi di dalam dia sangat
baik hati.”
“Kapan kau lihat aku berbaik hati padamu, Bocah?”
Suga menyalak ke arah Taehyung.
“Ini Jin Hyung.
Hyung, ini Park Jimin, teman
sekelasku. Siswa pindahan baru.” Taehyung tidak merespons pertanyaan tersebut
malahan memperkenalkan orang lainnya yang Jimin tidak sadari keberadaannya
sejak awal. Dia duduk dengan diam di samping. Pemuda itu menatapnya, itu
membuat Jimin kembali gentar.
Tidak
apa-apa. Tidak ada yang salah, Park Jimin. Beranikan dirimu.
“Halo, aku Seokjin. Kau bisa memanggilku Jin.”
Pemuda itu mengulurkan tangan pada Jimin. Dengan ragu-ragu Jimin menjabatnya.
“Ini Namjoon, kau mungkin sudah mengenalnya.” Jimin
menunjuk pada siswa lain. “Tapi dia tidak mengenalmu. Dia itu anti sosial.
Jadi, biarkan aku memperkenalkanmu padanya.”
Namjoon mengerang karena komentar tersebut tapi dia
menatap Jimin, seperti dia sedang mempelajarinya.
“Dan yang terakhir, ini Suga Hyung.”
“Yoongi. Jangan panggil aku seperti itu di sekolah.
Harus berapa kali aku bilang itu?”
“Baiklah, Min Yoongi Hyung. Suga adalah nama rappernya. Kau nge-rap juga? Suga Hyung sangat suka hip-hop.”
“Aku tidak bisa nge-rap.”
“Kalau begitu, apa kau bisa menari?” Taehyung
sedang mengulangi alur pertanyaan Yoongi sebelumnya pada Jimin.
“Aku bisa menari.” Jimin terlihat ragu.
“Kau menulis lagu?”
“Huh?” Jimin merasa bingung dengan pertanyaan
tersebut.
“Kalau begitu sangat bagus. Hyung, dia lebih baik daripada aku. Dia bisa menari. Dia juga punya
suara yang bagus. Dia bisa bergabung dengan kru.” Taehyung berkata pada Yoongi.
“Apa aku memintamu untuk melakukan audisi? Di mana
minuman dan camilan yang kuminta kau belikan?”
Taehyung menyengir lebar.
“Bocah ini memang gila. Aku bersumpah kalau dia
merekrut orang aneh lainnya aku akan membunuhnya dengan tangan kosong,” Yoongi
mengomel. Jin tertawa sebagai respons sementara Namjoon terlihat cuek.
“Itu berarti dia menerimamu, Jimin. Selamat datang
di kru.” Taehyung mengedipkan mata pada Jimin kemudian mendekati Yoongi untuk
memberikan kantong plastik yang berisi makanan dan minuman yang dia minta.
Jimin merasa bahwa dia baru saja menjejakkan kaki
ke dalam sebuah dimensi dunia yang berbeda; pemuda pendiam yang lebih tua
darinya, kakak kelas berambut merah, siswa terpandai di kelas, anak gila yang
hiperaktif, dan dirinya. Kombinasi dari kelompok ini mungkin adalah sesuatu
yang tidak terbayangkan oleh Jimin.
Apakah ini akan menjadi seperti “selamat datang di pertunjukan orang-orang
aneh”?
Jimin berharap dia tidak akan punya masalah dengan
anggota yang lainnya.
☆☆☆☆☆☆☆
“Datang dan
belajarlah dengan kami.
Ayo
persiapkan masa depan.
Masa
depanmu akan menjadi lebih cerah ketika kau belajar.
Jangan takut,
kami akan membimbingmu.”
Samar terdengar sebuah lagu dari speaker yang
tergantung di depan gedung. Gedung tersebut bertuliskan “Agensi Les Privat
Hope” yang tertempel di jendela gedung.
Jungkook sedang berdiri di depan gedung tersebut di
tengah malam. Menatap bangunan tiga lantai bercat keabu-abuan. Sesungguhnya itu
adalah waktunya untuk murid-murid masuk ke dalam kelas. Ada beberapa murid yang
berjalan memasuki gedung. Mereka berlarian kecil ke dalam gedung dengan cepat
seakan tidak sabar lagi untuk memulai pelajaran segera. Hanya Jungkook yang
tertinggal di depan gedung. Pemuda itu tidak terlihat memiliki keinginan untuk
bergabung dengan kelompok tersebut. Malahan dia berputar dan mulai berjalan
pergi dari sana.
“Kau datang lagi hari ini.” Hoseok menyapanya
dengan senyuman ketika pemuda yang lebih muda itu berjalan memasuki mini
market. Dia sedang menyusun produk-produk ke dalam rak masing-masing.
Jungkook mengernyit mendengar sapaan tersebut. Kalau
saja pemuda yang lebih tua tersebut tahu bahwa Jungkook bolos dari kelas hagwon-nya. Apa dia akan mengomeli
Jungkook untuk itu? Dia tidak akan mengusirnya keluar jika dia tahu, kan?
Jungkook tidak punya tempat untuk pergi selain rumahnya. Dia tidak ingin pulang
lebih awal. Ibunya akan bertanya mengapa dia pulang secepat ini.
“Apa aku mengganggumu bekerja, Hyung? Aku akan membantumu. Jangan usir aku.” Jungkook mengambil
beberapa bungkus camilan dan menyusunnya di rak.
Hoseok menahan tangannya. “Tidak, tidak, kau tidak
seharusnya membantuku. Ini adalah pekerjaanku. Manajerku akan memecatku jika
dia tahu aku membuat pelanggan melakukan pekerjaan.”
“Tapi....”
“Kau boleh tinggal di sini selama yang kau inginkan
tapi tolong beli sesuatu supaya manajerku tidak akan memarahiku karena ini.
Sekarang, pergi duduk di mana pun kau inginkan dan biarkan aku melakukan
pekerjaanku.”
“Oke, Hyung.
Terima kasih.”
Dengan ragu Jungkook memutar kakinya ke arah salah
satu meja bar di pojok toko. Dia mengambil beberapa camilan dan sebotol air
mineral bersamanya setelah dia meletakkan beberapa uang kertas di meja kasir.
Setelah meletakkan mereka ke atas meja, dia tidak menyentuhnya. Malahan, dia
menarik keluar ponselnya dan melihat-lihat media sosialnya. Dia memainkan
ponsel selama lima menit kemudian kembali merasa bosan. Kemudian, dia
memutuskan untuk menyalakan musik dan mendengarnya melalui headphone merah
miliknya. Tapi rasanya hari ini mendengarkan musik pun tidak membantunya untuk
melewati malam. Hingga waktunya dia pulang, Jungkook tidak tahu apa yang harus
dia lakukan.
Jungkook menyadari bahwa Hoseok sesekali melirik ke
arahnya tapi pemuda yang lebih tua itu tidak mengatakan apa pun. Jungkook
sangat menghargai hal tersebut. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan jika Hoseok
bertanya padanya.
Apa dia kabur dari rumah? Tidak, dia tidak kabur.
Apa dia bolos dari kelasnya? Ya, dia melakukan itu.
Mengapa?
Mengapa... itu adalah pertanyaan yang Jungkook tidak
pernah miliki jawaban terhadapnya. Dia tidak tahu mengapa dia harus belajar
hingga hidungnya mimisan setiap kali dia melakukannya terlalu keras. Dia tidak
mengerti alasan dia harus menghadiri beberapa pelajaran di luar pelajaran
sekolah yang dia tidak minati. Apa yang menjadi alasan dari keberadaannya di
dunia? Akhir-akhir ini dia merasakan kekosongan.
Oh, Jungkook memulainya lagi. Dia harus berhenti
berpikir seperti ini tapi dia tidak dapat mengendalikannya. Pemikiran-pemikiran
itu selalu menemukan jalan mereka kembali ke dalam benaknya setiap kali
Jungkook berusaha membuangnya.
Sepanjang hidupnya, Jungkook hanya tahu bagaimana
untuk belajar. Selain hal itu, dia tidak tahu. Apa lagi yang harus dia lakukan?
Ibunya tidak membiarkannya bermain di luar. Bahkan untuk bermain di dalam rumah
pun dibatasi dua jam sehari di akhir pekan. Dia masih cukup beruntung memiliki
ponsel dan laptop untuk dia simpan sendiri.
“Kau akan jadi botak kalau berpikir terlalu banyak,
kau tahu?” Tiba-tiba saja Hoseok memutuskan untuk memotong arus pikiran
Jungkook. Dia muncul untuk berdiri di samping Jungkook.
Jungkook menatap pemuda tersebut. Dia tersenyum
pada Jungkook, seakan tidak hal yang mengganggunya saat itu. Itu membuat
Jungkook bertanya-tanya apakah pemuda lebih tua ini benar-benar tidak pernah
merasa terusik oleh apa pun ataukah dia pernah merasakannya namun dia berhasil
untuk mengusir pergi pemikiran buruk tersebut. Jika dia dapat melakukannya,
bagaimana cara dia melakukannya? Jungkook sangat ingin mengetahuinya.
“Apa? Mengapa kau menatapku seperti itu?” Hoseok
menyentuh wajah dengan sedikit horor.
“Hyung,
apa kau tahu apa yang kau ingin lakukan di masa depan? Apa kau punya mimpi?”
Hoseok terdiam untuk sesaat. Dia terlihat sedang
memikirkan jawabannya. “Aku tidak terlalu suka bermimpi. Itu tidak nyata. Aku
lebih suka mengatakan apa yang ingin kulakukan di masa depan sebuah tujuan
hidup.”
Jungkook bergerak dari posisinya. Dia memberikan
pemuda yang lebih tua itu perhatian lebih banyak. “Apa tujuan hidupmu?”
Hoseok menggaruk dagunya pelan. “Aku punya banyak.
Pertama, aku ingin Howon menjadi manusia, bukan berarti aku bilang dia sekarang
bukan manusia, tapi yah begitulah, kau tahu. Kedua, aku harap Hara dan Hani...”
“Hani?” Jungkook memotong.
“Adikku yang paling kecil. Dia masih dua tahun.
Sampai mana aku? Oh, aku berharap Hara dan Hani dapat bertemu pria yang baik
untuk menghabiskan hidup bersama. Kemudian, aku berharap Halmoni dapat hidup panjang jadi dia akan hidup bersama kami untuk
waktu yang sangat lama. Orang tuaku, semoga mereka dapat pulang ke rumah lebih
sering jadi mereka tidak akan melewatkan masa pertumbuhan Hani.”
“Hyung,
kau berbicara seperti pria tua.”
“Ya kah? Yeah, Howon sering bilang kalau aku lebih
mirip ayahnya daripada kakak laki-laki.”
“Semua tujuan hidupmu adalah mengenai orang lain.”
“Aku tidak bisa mengelak darinya. Aku tumbuh besar
di dalam keluarga besar dan aku adalah anak tertua. Kami tidak kaya. Setiap
hari itu penuh perjuangan tapi ketika aku melihat makanan disajikan di atas
meja kami, aku merasa sangat lega bahwa keluargaku punya sesuatu untuk
dimakan.”
“Tidakkah kau punya tujuan hidupmu sendiri? Sebuah
harapan untuk dirimu?” Jungkook tidak dapat memahami seorang altruis seperti
Hoseok. Bagaimana bisa dia tidak memiliki sedikit pun keegoisan?
Hoseok berpikir sejenak. “Tentu saja aku punya.”
“Apa itu?” Jungkook sangat ingin mendengarnya.
“Menarik. Aku sangat ingin dapat menari sepuas
hati.”
“Kalau begitu, apa kau ingin menjadi penari atau
koreografer?”
Hoseok menyentuh alisnya. Dia terlihat ragu untuk
sesaat. “Sesungguhnya aku tidak tahu. Aku hanya ingin menari. Aku tidak
berpikir sejauh itu mengenainya.”
Jungkook tidak menanyakan pertanyaan lain. Dia
malah terdiam.
“Hei, Jungkook. Kau tahu cara menari?”
“Aku? Menari?” Jungkook terlihat setengah geli.
Bagaimana bisa dia, si siswa kutu buku, menari? Jika kau memintanya untuk
menarikan tangannya di atas buku catatan untuk mencatat, maka kau akan
mendapatkan jawaban ya.
“Kau mau belajar? Aku bisa mengajarimu. Kulihat kau
menikmati mendengar musik sepanjang hari setiap kali kau datang ke sini.
Kupikir kau pasti memiliki kepekaan terhadap ritme yang bagus.”
“Kau sungguh serius, Hyung?” Jungkook tidak terdengar terlalu yakin. “Tidakkah kau punya
pekerjaan yang harus dilakukan? Apa kau punya waktu luang?”
“Tentu saja aku punya. Aku bukan robot. Aku juga
butuh beberapa jam istirahat. Biasanya aku tidak bekerja setelah Sabtu siang.
Aku mendedikasikan waktu itu untuk bersama adik-adikku. Sesekali aku juga akan
mengajari Howon menari.”
“Tidakkah aku mengganggu waktu keluargamu?”
“Ayolah. Kau teman Howon dan orang yang ditaksir
Hara. Mereka tidak akan mengatakan apa pun jika kau bergabung malahan mereka
akan sangat senang.”
Jungkook merona ketika Hoseok mengatakan Jungkook
adalah seseorang yang adik perempuannya sukai.
“Jadi? Jika kau setuju, kau bisa bergabung dengan
kami Sabtu ini. Kita akan pergi ke Hongdae untuk berlatih di sana.”
“Kenapa Hongdae? Tidakkah di sana terlalu padat
untuk berlatih? Itu juga Sabtu.”
“Tidak, itu latihan yang bagus. Kau tidak akan
pernah belajar dari yang terbaik jika kau tidak ingin menunjukkannya pada
orang-orang.” Hoseok mulai bergerak dari meja ketika dia melihat seorang
pelanggan menantinya untuk menghitung barang yang ingin dia beli. “Sabtu siang.
Jam tiga, kita bisa bertemu di depan gedung sekolahmu untuk naik bus dari
sana.”
“Ba...iklah.” Jungkook tidak terlalu yakin.
“Kalau begitu, sekarang kau harus pulang. Ini sudah
larut dan jangan bolos kelas lagi besok. Ibumu akan kecewa jika dia tahu dia
membayar kelasmu dengan sia-sia. Kalau kau tidak mau, berhenti saja. Lebih baik
menyimpan uang itu daripada membuangnya sia-siang.”
Hoseok mengetahuinya.
☆☆☆☆☆☆☆
Suka dengan cerita ini? Bisa lanjut baca di postingan dengan tag "Youth of Lily". Kalau nggak sabaran menanti terjemahan bisa langsung mampir ke sini untuk versi Inggrisnya.






















5 comments
huaaaa.... kerreennn... nggak sabar nunggu lanjutannya. aku udah baca yang eng ver nya tapi nggak tau kenapa nggak terlalu dapet fell nya wkwk. di tunggu lanjutannya ka.. Hwaiting !!
ReplyDeleteKok malah kamu kebalik sih. Wkwkwkwk... biasa orang-orang malah bilang tulisan versi terjemahanku yang feelnya janggal, lebih suka versi inggrisnya.
Deletewkwk... nggak tau juga haha... mungkin karna lebih menghayati kalau pake bahasa sendiri haha..
ReplyDeletemau nanya yang eng ver nya udah update lagi nggak ? hehe bener" nunggu updatean eng dan indo ver nya wkwk
cepet update yah ka.. fighting !!
Mungkin. Hehehe.
DeleteVersi Inggris akan diupdate setelah terjemahan Demian kelar. Nggak bisa mikir kalau lagi nerjemahin gini.
Kalau yang versi Indonesia, pelan-pelan nanti kuterjemahkan di sela-sela nerjemahin Demian.
oh... okay hehe... fighting ka..
Delete