Seseorang pernah mengatakan seperti ini padanya; ‘Penyesalan selalu datang terlambat’. Kamu boleh tidak setuju; kamu boleh memilih untuk tidak mempercayainya, tapi Seongyeol rasa hal itu benar.
Berdiri sendiri di ballroom pesta perayaan tahunan, menikmati minuman sambil memperhatikan orang-orang menari mengikuti irama musik seperti ini membuat Seongyeol merasa sepi. Satu hal yang terus menganggu pikirannya sejak awal pesta dimulai. Tahun lalu, ia menghadiri pesta ini bersama Gyuri. Seongyeol menghela nafas.
Pesta yang meriah ini
sama sekali tidak menghiburnya. Seongyeol mencoba membuat dirinya terhibur
dengan berjalan-jalan. Hanya saja,
apa yang dilihatnya malah membuka kembali luka lamanya.
“Gyuri...”
Seongyeol berbisik pelan. Nama tersebut kembali dengan lautan kenangan
bersamanya. Hal itu menyakitinya lagi.
Pemandangan di
hadapannya pun tidak membantu sama sekali pula. Gyuri, wanita yang ia pernah ia
cintai selama delapan tahun sebelumnya, saat ini sedang berbicara dengan pria lainnya. Caranya tertawa
membuat Seongyeol merasa lega namun juga di saat yang sama sedikit
mematahkan kepingan hatinya.
“Paling tidak dia menepati janjinya untuk baik–baik saja.” Seongyeol tersenyum pahit.
“Paling tidak dia menepati janjinya untuk baik–baik saja.” Seongyeol tersenyum pahit.
Seongyeol ingat Gyuri sangat menyukai pesta seperti ini. Gyuri menyukai menjadi pusat perhatian pesta oleh wajahnya yang luar biasa cantik seperti seorang dewi. Gyuri juga suka berdansa. Tetapi Seungyeol adalah penari yang buruk. Ia selalu menolak berdansa dengan Gyuri tanpa usaha mencoba.
Kalau saja Seongyeol mengetahui sebelumnya, ia akan lebih berusaha menemani Gyuri berdansa sebanyak yang ia inginkan. Seongyeol akan mengambil waktu lebihnya untuk mempelajari dansa lebih awal kalau saja ia tahu semua ini akan segera berakhir, untuk Gyuri yang selalu mempercayainya bagaimana pun buruknya ia berdansa.
Tetapi semua sudah terlambat. Sekarang tangan Gyuri bergandengan dengan pria lain. Ia berdansa dengan pria lain. Gyuri terlihat sangat senang. Tentu saja, pria itu tidak menginjak kakinya seperti yang Seongyeol lakukan.
.............................................
“Apa ini masih ranjang yang sama milikku?”
Seongyeol mengusap sisi kosong dari tempat tidurnya sambil berbaring di atasnya. Ia menatap kosong; terlalu banyak berpikir. Sudah sekian hari dan minggu Seongyeol terus memikirkan hal tersebut.
“Mengapa rasanya lebih lebar daripada biasanya?”
Tempat tidur ini pastinya terasa lebih luas daripada sebelumnya untuk Seongyeol. Selama delapan tahun ia terbiasa dengan Gyuri yang sering datang menginap di sana.
Seongyeol menghela
nafas. Delapan tahun, tentu saja hal itu bukan hal yang mudah untuk dilupakan.
Seongyeol sudah terlalu terbiasa dengannya. Ia tidak bisa melakukan apapun
tanpanya. Keberadaan Gyuri bagi Seongyeol seperti sebuah keharusan. Ia adalah
zona nyaman Seongyeol.
Mengapa ia
berselingkuh dari Gyuri sebelumnya? Ia tidak tahu mengapa ia melakukan hal
tersebut pada Gyuri.
......................................
“Hei, Yeol. Kurasa Gyuri bersikap aneh akhir-akhir ini.” Myungsoo menepuk bahu Seongyeol untuk mendapatkan perhatiannya.
Seongyeol memutar
lehernya untuk menatap teman baiknya. Myungsoo meletakan barangnya di atas meja
kerja Seongyeol dan duduk di hadapan pria tersebut.
“Kamu rasa dia
tahu?” Seongyeol terlihat khawatir. Myungsoo mengangkat bahu.
“Uhm, rumor
bertebaran di mana-mana. Kalau dia ga tahu, mungkin dia terlalu cuek atau bodoh.
Aku tidak tahu.”
“Tapi Gyuri selalu
cuek dengan sekitarnya. Dia tidak pernah mendengarkan sesuatu yang tidak
dibuktikan sendiri.”
“Kalau begitu
berdoalah dia belum memastikan rumor itu.” Myungsoo menatap ke dalam mata
Seongyeol. “Kenapa kamu lakukan
itu?”
“Aku tidak tahu,
itu terjadi begitu saja.” Seongyeol menghela nafas. “Ya Tuhan... Aku tidak
tahu.” Seongyeol duduk diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
Myungsoo berdiri
dan menepuk bahu temannya sebelum pergi.
“Jangan sampai
tertangkap basah. Lebih baik kalau kamu berhenti sebelum terlambat.”
.............................................
Seongyeol seharusnya sudah mengetahuinya sebelum semuanya terjadi. Ia seharusnya berhenti sebelum terlambat. Itu yang seharusnya dilakukannya, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Sekali lagi ia jatuh pada godaan.
Sekali merupakan
kesalahan, namun kali kedua dan seterusnya ia tidak tahu mengapa. Seongyeol
harus mengakuinya delapan tahun adalah waktu yang sangat lama. Ada saatnya ia
merasa bosan dengan hubungan jangka panjangnya dengan Gyuri. Dengan Gyuri,
semua hal sudah terlalu nyaman hingga ia tidak menyadari betapa berharganya hal
itu untuknya.
Semua pria seperti
itu. Semua orang memang seperti itu, begitu juga dengan Seongyeol. Dia bukan
pengecualian.
...................................................
“Satu Iced Caffe Americano.” Seongyeol memesan
morning coffee-nya seperti kebiasaan coffee
holic-nya sebelum ia berangkat kerja.
“Satu Hot Cappucino ya. Ah, jangan lupa hias
yang cantik ya seperti kemarin. Aku sangat suka itu, makasih.” Suara riang
tersebut membuat Seongyeol memalingkan wajahnya pada sumber.
Gyuri sedang berdiri di sampingnya. Seongyeol tidak menyadari telah menatap wanita itu begitu lama hingga seseorang menegurnya.
“Tuan, tolong menyingkir dari barisan.” Penjaga kasir menegurnya.
Seongyeol segera berpindah dari barisannya sambil mencoba mencuri pandang padanya. Namun ia menemukan Gyuri telah memandanginya. Seongyeol menghindari tatapan tersebut dengan canggung. Ia meraih nomor antriannya dan mencari tempat duduk untuk menunggu.
Sialnya, Gyuri mengikuti dan duduk di hadapannya. Seongyeol menahan nafasnya ketika ia melihat wajah penuh percaya diri Gyuri, masih seperti seorang dewi seperti biasa Seongyeol senang memanggilnya begitu. Seongyeol tidak pernah merasa begitu tak berdaya di hadapan Gyuri semenjak terakhir kali mereka putus dan juga ketika ia melakukan kesalahan.
“Bagaimana kabarmu, Yeol?” Gyuri menyapanya dengan melipat kedua lengan.
“Baik, masih
hidup.” Seongyeol menjawab terlalu cepat tanpa berpikir.
“Bukan itu
maksudku. Tentu saja aku bisa melihat kamu masih hidup sekarang.” Gyuri tertawa
kecil karena jawaban kocak Seongyeol seperti biasa.
Seongyeol menegakkan
punggungnya. “Yah, sedikit sibuk akhir-akhir ini. Kerjaan numpuk, deadline.”
“Jadi itu alasan
lingkaran hitam di bawah matamu begitu
besar? Kamu harus jaga diri donk.”
Seongyeol
menatapnya dalam diam. Bukan karena
pekerjaan, tetapi karena kamu. Aku sangat merindukanmu.
“Jangan lupa minum vitamin kalau lembur. Aku sering bilang ‘kan?”
Tatapan intens dari
Seongyeol membuat Gyuri menyadarinya.
“Aku harusnya tidak bicara seperti itu lagi. Kebiasaan, sulit dihilangkan
dalam waktu dekat. Maaf mengganggumu dengan itu.”
Seongyeol segera
menggelengkan kepalanya. “Tidak apa.”
Malah seharusnya aku berterima kasih padamu untuk mengatakannya. Tidak ada yang mengatakannya lagi setelah kamu pergi.
Gyuri mengamati wajah Seongyeol seksama. Ia mengerutkan dahinya namun kemudian tersenyum.“Kamu terlihat lebih dewasa, Yeol.”
Seongyeol mengusap
leher belakangnya dengan canggung dan tersenyum balik. “Yah orang kan berubah.”
“Aku tidak pernah
mengira orang yang seperti anak kecil sepertimu bisa berubah.”
Aku berubah karena kamu. Karena dulu aku terlalu bodoh dan kekanakan untuk menyadari sikapku menyakitimu.
“Apakah ini buruk?” Seongyeol bertanya dengan khawatir.
Gyuri menggelengkan
kepalanya. “Tidak, aku suka semuanya.”
Seongyeol terkejut
oleh komentar itu.
Kalau beginipun kamu menyukaiku, apakah kamu mau kembali padaku? Aku bisa lebih banyak berubah seperti yang kamu mau.
“Ah, aku mengatakan hal yang tidak perlu lagi.”
Komentar itu
membuat gelembung harapan Seongyeol pecah. Seongyeol hanya bisa tersenyum dan
berdiri dari tempat duduknya. Nomor antriannya telah dipanggil.
“Aku harus mengambil pesanan kopiku.” Seongyeol menunjuk pada kasir. Gyuri mengangguk dan ikut berdiri.
“Uhm... sampai
jumpa.” Seongyeol menggumam pelan sambil berlalu ke kasir.
Seongyeol sungguh
pernah berharap ia bisa memperbaiki kekacauan yang ia perbuat. Ia pernah
berharap ia bisa memperbaiki hati Gyuri untuknya. Namun ia tahu semua sudah
terlambat. Gyuri bukanlah miliknya lagi.
“Penyesalan memang benar–benar selalu datang terlambat.” Seongyeol berbisik pada dirinya sendiri; mempertahankan hatinya yang hancur sambil berjalan keluar dari kafe.
Ia berjongkok dekat kafe untuk menahan air matanya. Selama bertemu dengan Gyuri tadi, Seongyeol terus menahannya. Ia tidak ingin Gyuri merasa dirinya lemah. Bahkan Gyuri saja bisa menyelesaikan perasaannya, bagaimana ia tidak bisa?
Seongyeol sungguh ingin memeluk Gyuri, memohonnya kembali ketika ia melihat wanita itu. Tapi Seongyeol telah mengetahuinya, semua itu sia-sia. Keputusan telah dibuat.
Ini adalah
kesalahannya.
“Seharusnya
aku memperlakukannya lebih baik dulu.”
***********
Hehehe... *malah ketawa* Well, ini adalah versi Indonesia After Love setelah kemarin Love in Vain versi Indonesia kuposting juga. ^^ Versi Inggrisnya pernah kuposting di AFF. HERE
Hope you'll enjoy it.
Hmhh... I was thinking about making the third season of Love in Vain. But I dunno if it will be good or not. Belum selesai juga sih diketiknya. Menggalau soalnya saia. hahaha.
Mungkin suatu hari kalau aku sudah berhasil menamatkan cerita ketiga Love in Vain, aku pasti akan nge-post kok. Siapa yang mau cerita part 3 Love in Vain??
No one? Well I will not update it then. kkkk
***********
Hehehe... *malah ketawa* Well, ini adalah versi Indonesia After Love setelah kemarin Love in Vain versi Indonesia kuposting juga. ^^ Versi Inggrisnya pernah kuposting di AFF. HERE
Hope you'll enjoy it.
Hmhh... I was thinking about making the third season of Love in Vain. But I dunno if it will be good or not. Belum selesai juga sih diketiknya. Menggalau soalnya saia. hahaha.
Mungkin suatu hari kalau aku sudah berhasil menamatkan cerita ketiga Love in Vain, aku pasti akan nge-post kok. Siapa yang mau cerita part 3 Love in Vain??
No one? Well I will not update it then. kkkk























