[FF] Love in Vain
11:12 PM
Seongyeol suka
bermain. Ia tidak pernah bersikap serius pada setiap hal. Ia selalu berpikir
semua adalah permainan. Sejak awal kedatangannya ke tempat Seongyeol, Gyuri
memiliki sesuatu dalam pikirannya.
“Hei, Yeol. Ayo
kita break.” Gyuri tiba-tiba saja
menyuarakan pikirannya setelah sedari tadi diam..
“Bukannya kita
sekarang lagi break?” Pria itu
bertanya balik dengan nada penuh candaan dan wajah tersenyum, seperti dirinya
yang biasa.
“Di hubungan kita.”
Gyuri menyelesaikan perkataannya dengan datar.
Seongyeol segera
mengurai pelukan di antara mereka. “Apa maksudmu?” Gyuri terdiam. “Apa kita memainkan ini lagi?”
Gyuri menatap balik
dan menghela nafas. “Yeah, aku bosan. Ayo kita mainkan game ini lagi!”
“Game ini sudah tidak seru lagi, Gyuri ya.” Seongyeol bergumam kesal. Ia tidak
senang dengan permintaan ini. “Jangan mainkan ini deh.”
Biasanya permainan
apa pun itu Seongyeol pasti akan menyetujui untuk ikut serta. Namun kali ini
entah mengapa perasaannya tidak tenang.
“Ayolah.” Gyuri
mengusap pipi Seongyeol.
Seongyeol menghela
nafas. “Baiklah, tapi kuharap ini terakhir kalinya kita main game ini. Kali ini berapa lama?”
“Ya, ini akan jadi
yang terakhir.” Wanita di hadapannya itu berbicara dengan ekspresi tak terbaca
dan gelap. Seongyeol menatap kekasihnya curiga.
Gyuri tersenyum dan
kembali berbicara dengan nada ceria. “Satu minggu. Seperti biasa, kalau kita
memutuskan untuk kembali, datang ke tempat pertama kali kita bertemu untuk
kencan. Jam sepuluh di hari terakhir.”
Seongyeol masih
menatap curiga tapi ketika ia melihat ekspresi Gyuri tidak berubah, Seongyeol
menghela nafas.
“Baiklah, aku pasti
akan datang.”
....................................................
Di hari terakhir,
Gyuri berdiri di
luar bangunan kafe, menatap melewati jendela kaca pada seseorang di dalamnya.
Ia sedang berpikir apakah ia harus memasukinya tempat itu atau tidak.
Seseorang pernah
berkata ‘perkataanmu adalah sebuah harapan’. Jika kamu pernah mengatakannya,
itu artinya kamu berharap mengenainya. Hubungannya dengan Seongyeol sudah
berjalan delapan tahun lamanya. Sudah terlalu banyak hal mereka lewati bersama;
tidak ada lagi yang perlu dibicarakan maupun diketahui.
Hubungan mereka
seperti makanan rumah sakit yang hambar. Bahkan ketika mereka mengatakan cinta
satu sama lain, Gyuri bertanya–tanya apakah itu benar?
..................................................
Beberapa hari
sebelum hari perjanjian mereka,
Gyuri berjalan
masuk ke dalam apartemennya ketika ponselnya bergetar karena pesan masuk.
Dari:
Yeol <3<3<3
Uri
Yeoshin[1],
sedang apa? Kamu tidak sedang bertemu pria yang lebih baik daripada aku kan
selagi kita bermain game ini?
Aku
merindukanmu. Kuharap minggu ini berjalan lebih cepat.
Gyuri membaca pesan
tersebut dan tertawa kecil. Itu adalah Seongyeol dan sikap kekanakan yang dulu
pernah ia suka. Setiap kali mereka mengambil jarak dalam hubungan mereka,
Seongyeol selalu saja mengirim pesan–pesan seperti itu padanya. Seongyeol tidak
pernah menganggap serius perkataannya. Ia selalu menganggap ini adalah sebuah
permainan.
Gyuri bersandar pada pintu di belakangnya.
“Semua akan baik –
baik saja.”
...................................................
Hari terakhir,
Ponsel Gyuri
bergetar oleh pesan masuk. Pesan tersebut adalah: ‘Kamu akan datang ‘kan?’
Gyuri mengigit
bibir bawahnya menimbang apakah ini akan baik-baik saja. Ia menatap
sekelilingnya dengan tidak nyaman. Jauh di dalam pandangan tersebut terlihat
sedikit perasaan yang terluka.
Jantungnya berdetak
kencang.
.......................................................
Satu hal yang
mengubah peraturan dalam permainan ini dan juga kepercayaan Gyuri.
Gyuri
terlihat sangat terpukul. Ia tidak percaya akan ada hari ini. Pandangannya
menusuk pada pasangan yang sedang duduk di meja yang agak jauh darinya di dalam
kafe. Pasangan tersebut sedang asyik bercanda dan tertawa. Lengan pria itu
bergelayut di sekitar pinggang wanita di sebelahnya.
Mata
Gyuri semakin melebar ketika ia melihat pria itu mengecup bibir pasangannya.
Gyuri segera berjalan keluar dari kafe sambil menahan rasa sakit di dalam
dadanya.
...................................
Ponsel Gyuri telah
bergetar untuk kesekian kalinya. Masih tipikal pesan yang sama.
Gyuri
ya, di mana kamu? Apakah kamu terjebak macet? Mengapa
kamu tidak membalas pesanku? Apakah kamu baik-baik saja? Aku sangat khawatir.
Pesan-pesan itu
datang bersama beberapa panggilan dari pengirim yang sama, namun Gyuri tidak
mengangkat.
Gyuri masih menatap
pria yang duduk di dalam kafe. Ia terlihat cemas dan tidak nyaman. Ia menatap
ponselnya sesekali. Sama dengannya, Gyuri juga merasa tidak nyaman. Gyuri tidak tahu
apakah ia bisa menyembunyikan kekecewaannya dan menghadapinya. Rasanya, pria itu
selalu terlihat tulus, tapi Gyuri sudah tidak tahu lagi bagaimana kenyataannya.
Ya, memang Gyuri
selalu berpegang tinggi pada harga diri. Ia selalu percaya diri dengan segala
miliknya, terutama wajah. Ia selalu membanggakan diri seperti seorang dewi,
seperti Seongyeol selalu memanggilnya begitu.
..........................................
Di penghujung hari
tersebut,
Gyuri melipat tubuh
dan memeluk pahanya di atas tempat tidur. Ia menempelkan dahi di atas lutut; berusaha
menahan air mata turun. Ponselnya kembali berdering untuk panggilan. Kali ini ia
memutuskan untuk menghadapinya.
“Jadi ini akhir yang sesungguhnya?” Suara
tersebut yang terdengar ketika panggilan tersebut diterima.
“Maaf, Yeol.” Gyuri
berbisik.
“Jangan mengatakannya, Gyuri a. Kamu tidak pernah mengatakannya
sebelumnya, jadi sekarang pun jangan katakan.” Seongyeol berkata pahit.
Di hari terakhir
mereka sebagai pasangan, hal terakhir yang ingin Seongyeol dengar adalah
kalimat yang Gyuri tidak pernah ucapkan sebelumnya.
“Jadi... karena hal itu kah?” Seongyeol
kembali berbicara. Sepertinya Seongyeol telah mengetahui alasan Gyuri bersikap
seperti ini.
“Ya, aku tidak
bisa.“ Gyuri masih berbicara dengan nada yang sama.
“Jadi ini akhir yang sesungguhnya untuk kita?
Aku mengerti, maaf.”
Tidak perlu banyak
penjelasan di antara mereka. Mereka memiliki pengertian yang hampir sama
mengenai hubungan mereka. Seongyeol telah mengetahui bagaimana Gyuri akan
bersikap. Semua hanya tinggal waktu.
“Yeah, benar.”
Gyuri berbicara dengan acuh.
“Aku serius.”
“Aku tahu, memang
benar.”
“Kalau kamu ingin putus katakan saja, jangan lakukan hal seperti ini. Aku
sungguh khawatir tadi kalau saja ada yang terjadi padamu.” Seongyeol
terdengar tulus, namun Gyuri tidak tergoyahkan untuk keputusannya.
“Apa kamu akan baik baik saja?”
“Tidak masalah,
tidak ada yang lebih buruk bisa terjadi.”
“Serius, Gyuri.”
“Kamu tidak sehebat
itu, Yeol. Aku yakin aku akan baik–baik saja.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Yeah.”
“Aku akan menelponmu besok.”
Gyuri tidak
mengerti mengapa Seongyeol masih bersikap seakan ia masih peduli. Apakah sekali
lagi ia berpikir ini adalah permainan?
Gyuri tidak bisa mengerti.
“Jangan, kita sudah
tidak ada hubungan lagi. Semua sudah berakhir. Jangan bersikap seperti kamu
masih peduli padaku.”
“Bagaimana bisa aku tidak peduli? Delapan
tahun bukan waktu yang singkat untukku. Apakah kamu sungguh akan baik–baik
saja? Bahkan ini tidak akan mudah untukku.”
“Kalau kamu peduli
padaku, seharusnya kamu tidak melakukan hal itu. Kamu mengenalku.” Amarah Gyuri
meningkat.
“Kamu juga tidak akan pernah memberiku
kesempatan lain. Apa sungguh semudah ini? Apa hubungan delapan tahun kita hanya
sebatas ini?”
“Semua sudah
berakhir, Yeol.” Gyuri memutuskan panggilan itu terlebih dahulu. Ya, ia sudah
memutuskannya.
Ini tidak akan
beranjak kemana pun ketika ia telah kehilangan kepercayaan. Tidak ada yang bisa
dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Ia selalu berpegang teguh
pada harga diri. Ia tidak suka merendahkan diri untuk hal yang tidak pantas
untuknya. Gyuri tidak bisa mentolerir perselingkuhan dalam hubungan.
Ia selalu mencoba
untuk tidak percaya pada perkataan temannya bahwa Seongyeolnya berselingkuh di
belakang. Sekali, ia berpura-pura
bahwa putus adalah candaan saja di antara mereka karena mereka juga telah
bersama terlalu lama. ‘Bosan’ adalah alasan untuk itu. Seongyeol menganggap hal
itu adalah ‘candaan’ yang sesungguhnya dan tidak mencurigainya.
Sejak saat itu,
Seongyeol selalu mengira semua adalah permainan setiap kali Gyuri meminta
putus. Pada akhirnya, Gyuri selalu mengalah dan mengatakan itu adalah permainan.
Sekali diucapkan
itu adalah harapan, hal itulah yang terjadi. Gyuri tidak menyangka candaannya
akan menjadi nyata suatu hari.
“Meskipun kita
putus, aku akan baik-baik saja.” Gyuri berbisik pelan pada panggilan yang telah
diputusnya.
Setetes air mata
turun menyusuri pipinya. Ini bukan hanya harga diri untuknya. Ini adalah segalanya. Seongyeol dulu
adalah segalanya untuknya.
Ini adalah versi Indonesia dari Love in Vain *udah tahu kali*
Yah untuk memperjelas aja sih, siapa tahu memang ada yang bingung sama grammarku yang sangat kacau. Haha.
Sudah sedikit di edit dari versi englishnya, karena awalnya mau dipake buat daftar #kampusfiksi sih, cuma ga jadi karena akhirnya aku milih untuk ngasih sequel nya. Hehe.
Buat yang sudah baca KOMEN!!!!! ^^
*Lirik ke atas, moga-moga ga ada typo.*






















0 comments