Ditulis untuk arisan cerpen putaran ke-4.
Tema: Bubuk Abate
“Tumbuhlah dengan baik anak-anakku,” ujarnya pelan. Ia
tersenyum, menatap penuh kasih pada genangan air di dalam wadah berbentuk
silikon panjang di hadapannya.
Tubuhnya yang semakin hari semakin melemah membuatnya
khawatir. Apakah ia bisa melihat anak-anaknya tumbuh dewasa?
***
“Jadi kita harus ekstra hati-hati. Jangan sampai
penyebaran virus ini semakin merajalela. Siapa pun yang terkena dilarang,
sekali lagi dilarang untuk berkeliaran!” Salah satu dari kerumunan itu
berbicara dengan nada lantang. Ia berada di tengah-tengah kerumunan seakan
dialah pemimpin mereka. Memang, jika dilihat dari reaksi yang lain, ia memang
paling dihormati di sana.
Kerumunan itu berdenging. Berbicara satu sama lain
membahas apa yang sedang terjadi akhir-akhir ini di sekitar lingkungan hidup
mereka.
“Kabar buruk! Kabar buruk!” Sesosok berbelang putih hitam
melayang melewati rintangan demi rintangan, memasuki ruang gelap di bawah kotak
berbentuk persegi panjang.
Teriakannya menggema seiring kemunculan di tempat itu dan
menambah kekeruhan dalam situasi pagi itu.
“Ada apa?”
“Kabar buruk! Akan ada penyemprotan besok,” jawab
pengacau pagi itu sambil terengah. Ia berusaha mengatur napas setelah sekuat
tenaga mencapai tempat ini.
“Ada apa tiba-tiba seperti ini?”
“Jupri dan beberapa anak manusia di sekitar sini terkena
virus itu. Para manusia itu mau melakukan pembasmian secara serempak.”
Kerumunan itu semakin bising. Beberapa terdengar cemas,
termasuk ia. Perlahan ia bergerak mundur meninggalkan kerumunan.
“Siapa yang terjangkit dan mengigit manusia-manusia
itu?” Obrolan itu masih berlanjut samar ketika ia beranjak pergi.
Tiga jantungnya saat ini sudah berdebar sangat kencang.
Ia tidak tahu harus melakukan apa. Gerakan itu tidak boleh terjadi atau
anak-anaknya akan berada dalam bahaya. Masih butuh tiga hari lagi untuk mereka
bisa terbang bebas. Ayah mereka telah pergi. Apakah kini ia harus kehilangan
mereka juga? Ia tidak bisa membiarkan mereka tewas begitu saja.
***
Semua bermula dari saat itu. Satu kejadian yang merubah
segalanya. Memporakporandakan kehidupan mereka. Semua karena satu hal. Tak ada
yang bisa lolos dari peristiwa itu. Ia sangat membenci mengapa ia harus
terlahir seperti ini. Ia membenci nasib yang membawanya. Kalau saja saat itu
nenek buyutnya tidak mengigit manusia yang terjangkit virus itu, mungkin saat
ini mereka semua, generasi ini tidak akan terancam.
***
“Apa yang kita harus lakukan?”
“Kita harus mencegah ini terjadi!”
“Benar! Anak-anakku sedang tumbuh. Satu hari lagi mereka
akan jadi dewasa.”
Kerumunan terus menyuarakan kekhawatiran mereka sore itu.
Mereka tidak lagi bergantian menyuarakannya melainkan bertimpa dengan suara
lain. Situasi tersebut sangat kacau. Membuat siapapun yang mendengar akan sakit
kepala.
“BERHENTI!!!” seru sang ketua. Ia sudah tak tahan lagi.
Sekejap keheningan terjadi. Hanya suara dengingan sayap
yang terdengar, namun itu hanya sejenak. Detik berikutnya keributan kembali
terjadi.
“Semua ini terjadi karena satu yang tidak menaati aturan
kita. Mengapa kita semua yang harus kena dampaknya?!” seruan tidak bisa
menerima ketidakadilan yang terjadi semakin keras.
Tidak ada satu pun yang bisa menerima nasib ini, namun
tidak ada yang mengambil tindakan. Mereka hanyalah bisa bersuara keras ketika
masalah terjadi. Hanya bisa protes tanpa tindakan nyata.
“Bagaimana kalau kita adakan demonstrasi?”
“Benar! Kita harus menyuarakan ketidakadilan ini.”
“Seperti yang dilakukan manusia-manusia itu di dalam
benda berbentuk kotak tipis itu?”
Mendengar rencana-rencana yang tidak masuk akal itu
tiba-tiba suara terkekeh serak terdengar.
“Siapa di sana?” seru salah satu dari kerumunan itu.
Suara langkah kaki cepat bersinggungan dengan serat-serat
kayu terdengar pelan. “Kalian itu aneh. Memangnya manusia-manusia itu akan bisa
dengar suara kalian?”
Sesosok berkaki enam muncul dari dalam sisi yang lebih
gelap.
“Benar juga. Kita kan juga tidak bisa menulis, bagaimana
bisa membuat coretan-coretan merah seperti manusia itu buat di atas kain putih
panjang.”
“Pak Laba-laba, kalau begitu anda punya saran apa?”
Sosok itu terdiam lama.
“Tidak ada,” jawab sosok tua itu. Gumaman penuh emosi
sontak terdengar ketika jawaban itu diucapkan. “Terima nasib saja lah, toh kita
ini cuma makhluk kecil yang nggak berarti dibanding makhluk-makhluk besar itu.”
Ya, memang dibandingkan mereka yang seakan berkuasa atas
dunia, kelompok kecil di bawah kolong benda besar ini hanyalah seonggok nyawa
yang tak berarti. Sebutir debu yang mengancam kekuasaan mereka jika dibiarkan
menumpuk begitu saja.
Kerumunan itu larut dalam suara diam. Apakah mereka
sungguh tidak berdaya menghadapi semua ini?
***
“Kelompok pengintai sudah mulai berjatuhan!” Pasukan satu
terbang cepat menghindari asap, melewati sisi-sisi yang tak terjamah oleh
cahaya.
“Pasukan gardu depan juga sudah terkena racun.”
“Bagaimana dengan anak-anak?!”
“Kelompok kelahiran sedang berusaha mengungsikan mereka!”
Hari itu semua terasa sangat kacau dan memilukan. Jerit
tangis terbaur dengan suara mesin yang terus menyemprotkan kabut putih yang
mematikan. Semua berusaha menyelamatkan yang terkasih untuk mereka.
Mereka tahu siklus hidup mereka tidak lama, namun apakah
mereka sungguh tak pantas hidup? Mereka juga adalah korban dari virus itu.
Bukan keinginan mereka terlahir seperti ini.
***
Tidak... tidak... Jangan di sana! Ia
terbang cepat ketika melihat sosok raksasa untuk mereka membawa bungkusan yang
sangat mereka kenali sebagai pembunuh masa depan.
“Aedes, kita sudah tidak bisa menyelamatkan yang lain
lagi. Kamu jangan ke sana. Manusia itu akan membunuhmu juga!” Salah satu
dari kelompok kelahiran menahannya untuk kembali ke tempat itu.
“Aku harus kembali. Anak-anakku belum satu pun
terselamatkan.” Ia memberontak dari cengkraman saudaranya.
“Kamu tidak boleh kembali ke sana. Ini perintah ketua.
Situasi sudah gawat. Kita tidak bisa mengorbankan lebih banyak lagi yang
jatuh.”
“Mudah bagimu untuk bilang seperti itu! Bukan anak-anakmu
yang masih di sana! Lepaskan aku! Kalau kamu tidak ingin membantu, biarkan aku
sendiri! Aku yang akan menyelamatkan anak-anakku sendiri!” Dengan itu, ia
mendorong keras saudaranya.
“AEDES!”
Aedes terbang dengan manuver yang lihai untuk segera
sampai di tempat itu, sebelum manusia itu membunuh anak-anaknya. Ia mencoba
segala cara untuk menghentikan makhluk raksasa itu menaburkan butiran mematikan
itu. Ia mencoba mengigit untuk menghentikannya, namun apa daya, virus ini
melemahkan kemampuan proboscis-nya untuk memberikan dampak pada kulit
manusia itu.
Pak Laba-laba memang benar. Mereka hanya sekadar makhluk
kecil. Mereka tak akan bisa memberikan perlawanan yang berarti menghadapi
raksasa penguasa dunia ini.
“Apa sih ini nyamuk? Ngeselin banget.”
Tamparan keras menghantamnya, mengakhiri siklus hidupnya.
Ia melayang perlahan menuju tempat kematiannya.
Setetes air mata yang sesungguhnya tak pernah ada,
mengalir menuruni ratusan mata yang dimilikinya. Tuhan sungguh tidak adil,
untuk apa ia menciptakan ratusan mata untuknya? Apakah hanya untuk menatap
serpihan bubuk jahanam itu menghentikan hidup anak-anaknya.
Dunia sungguh tidak adil! Hidup sungguh tidak adil untuk
makhluk kecil seperti mereka.
sumber foto: http://www.oxitec.com/wpcms/wp-content/uploads/Haedes-and-Aegypta-2.jpg
Tangerang, 15
Maret 2015





























