[FF] Part Of My Life

8:00 PM

PART OF MY LIFE


Di tengah kesibukan di bawah stage, hampir seluruh orang di dalam ruangan bergerak tidak ada yang hanya diam di tempat.
          DEG!
Suatu perasaan tiba tiba datang menyergap pada diri Jaejoong. Jaejoong berhenti mengerjakan hal yang sebelumnya sedang dikerjakan yaitu berbicara dengan teman temannya.
       “Jaejoong a~ kenapa putus di tengah bicara?” Yunho bertanya heran karena tiba tiba Jaejoong menghentikan pembicaraannya yang amat panjang ditengah tengah.
         “Hyung~ kamu tampak pucat” Changmin mengamati wajah Jaejoong yang mulai memucat.
      “Jaejoong a~ Gwenchana? Wae?”Yoochun juga menyadari perubahan warna wajah Jaejoong menjadi lebih pucat daripada warna wajahnya yang biasa.
 Jaejoong menyeruak dari gerombolan untuk mencari tempat duduk. Yang lainnya berpindah mengikuti Jaejoong, kecuali Junsu yang memang tidak sadar karena sejak awal tidak ikut dalam pembicaraan itu.
        “Gwenchana?” Yunho mengulang pertanyaan Yoochun.
        “Anie~ aku tidak apa apa” Jaejoong menjawab dengan pandangan terpaku lurus ke depan. Ia menggeleng sedikit.
       “Tapi hyung wajahmu pucat sekali.. apa hyung merasa tidak enak badan?” Changmin mengkhawatirkan Jaejoong.
       “Aku tidak apa apa… Aku sehat” Jaejoong sekali lagi menggeleng. Ia mengusap wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. “Hanya tiba tiba aku merasa ada perasaan aneh”
        Yunho mengusap bahu Jaejoong. “Perasaan aneh seperti apakah?”
     “Molla.. aku tidak pernah merasakannya sebelumnya.. sangat aneh.. rasanya jantungku seperti sejenak berhenti berdetak” Jaejoong masih sedikit pucat, namun sudah mulai kembali seperti semula.
        “Sudah.. jangan dipikirkan” Changmin berusaha menyemangati hyungnya itu.
Jaejoong mengangguk.
        “Ayo.. ke posisi…cepat!” Seorang staf masuk ke ruangan itu dan setengah berteriak pada TVXQ.
TVXQ kecuali Junsu yang masih asyik dengan gamenya langsung siaga dan dengan segera berjalan menuju pintu.
        “Junsu ya~ ayo!” Yoochun menepuk bahu Junsu agar ia sadar dengan sekeliling.
Junsu mengangkat wajahnya dan segera berdiri.
       “Benar sudah tidak apa apa?” Yunho saat perjalanan menuju posisi mereka untuk naik ke stage bertanya sambil menjejeri langkah Jaejoong.
      “Nde~ aku tidak apa apa” Jaejoong.
…………………………
<Suara sirene ambulance>
Begitu ambulance berhenti di entrance sejumlah orang keluar dari dalam rumah sakit, perawat dan dokter.
         “Cepat dorong…” Seorang dokter memeriksa kondisi sang korban sekilas dan segera memegangi sisi kereta untuk mendorong kereta.
……………………………
 Jaejoong bergerak di atas panggung dengan penuh perasaan kalut, ia sesekali melirik pada teman temannya, begitu juga teman temannya melirik padanya karena merasa khawatir dengan keadaan Jaejoong.
      “Kaze ni natte zutto tsuzumitai kimi ga iru sekai ni sugutoun de yuki dai aitakutte mo aitakutte mo matteru kara tada Wasurenai de kokoro ni iru yo Wasurenai de” Jaejoong mengakhir performance mereka, masih dengan perasaan yang sama dengan sebelum naik ke atas stage.
Namun saat ia mengedarkan pandangan matanya, ia melihat mata sebagian dari penonton berkaca kaca. Sekali lagi Jaejoong memandang pada teman temannya. Teman temannya juga memandang Jaejoong dengan perasaan kaget.
Kemudian Yunho sadar pekerjaan mereka belum lah selesai. Sebagai leader, ia bertanggung jawab membuat performa mereka sempurna jadi mengambil alih untuk penutupan kemudian mereka semua kembali ke backstage.
       “Jaejoong a~ apa kamu sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis?” Yoochun yang pertama menanyakan mengenai kejadian di atas panggung. Ia memegangi bahu Jaejoong.
        “Tidak...Bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan?” Jaejoong bertanya dengan pandangan heran.
        “Tapi tadi itu caramu menyanyi benar berbeda dari biasanya” Junsu ikutan nimbrung.
        “Masa sih? Ah.. mungkin karena aku tadi masih merasa kalut akan perasaan yang tiba tiba datang itu” Jaejoong
        “Perasaan apaan?” Junsu tidak mengerti karena ia tadi tidak ikutan.
      “Jadi perasaan itu yang ada dipikiranmu saat kamu menyanyi tadi?” Yunho bertanya dari arah belakang.
Jaejoong menoleh dan mengangguk.
        “Hyung benar tidak sedang menjalin hubungan?” Changmin menimpali, sorot matanya tampak sedikit ketidakpercayaan.
        “Aku benar benar tidak sedang menjalin hubungan dengan cewe manapun! Kalau pun ada pasti sudah kuceritakan pada kalian!” Jaejoong menangkap ketidakpercayaan Changmin, ia menjadi kesal.
        “Begitu? Bukan kami tidak percaya.. hanya saja saat tadi kamu menyanyi, kamu benar benar membuat kami seperti melihat suatu gambaran di otak kami, kalau kamu kehilangan sesuatu yang berharga.. Kami pikir itu karena kamu sedang menjalin hubungan dengan cewe”Yunho
       “Bukannya bagus kalau menghayati lagu itu? Aku tidak tahu.. hanya saja aku merasa ada sesuatu yang amat terikat denganku yang akan terlepas” Jaejoong masuk ke dalam ruangan mereka tadi.
Jaejoong segera menyambar tasnya untuk mengambil handphonenya. Dengan segera setelah menemukan benda yang dicarinya, ia menelpon ke Seoul.
         “Yoboseyo~ Minkyung nunna...” ternyata Jaejoong menelpon kepada keluarganya di Korea.
         “Yoboseyo.. Jaejoong a~ ada apa? Bagaimana keadaanmu? Sehat?” Minkyung
         “Aku sehat saja.. jogi yo.. ehm.. apakah di sana terjadi sesuatu yang buruk?” Jaejoong menggigit bibir bawahnya.
        “Terjadi apaan maksudmu? Disini baik baik saja.. appa dan omma sehat sehat saja”
Manager mereka menyuruh mereka segera berganti baju karena mereka akan kembali ke Seoul setelah itu untuk persiapan tour konser ke 3 TVXQ.
        “Nunna yang lainnya?” Jaejoong bertanya sambil pergi mengganti bajunya.
       “Tidak ada masalah.. ada apa kamu tiba tiba menelpon untuk bertanya hal seperti ini?”
       “Tidak ada apa apa.. aku hanya merasa tidak tenang.. Baguslah kalau tidak terjadi apa apa disana” Jaejoong merasa sedikit lega sekaligus timbul kekhawatiran lainnya yang tidak ia mengerti; kalau keluarganya baik baik saja.. lantas apa yang membuatnya merasa kalut.
        “Hanya ingin bertanya itu saja?”
       “Nde.. hanya menanyakan kabar... sudah dulu nunna.. aku masih harus kerja.. jaga kesehatan ya” Jaejoong selesai mengganti bajunya.
       “Kamu juga... “ Minkyung mengakhiri telponnya.
............................................

TIT... TIT... TIT... suara alat pendeteksi detak jantung terdengar dengan ritme tetap, pelan tapi pasti.
Suara nafas samar samar terdengar.
       “Bagaimana keadaannya?” terdengar percakapan dari luar kamar.
       “Kata dokter dia masih belum melewati kritis”
......................................................
4 hari telah berlalu, namun perasaan kalut itu masih saja belum hilang dari hati Jaejoong. Terkadang di malam hari, saat tidur, Jaejoong bahkan mulai memimpikan sesuatu hal yang tidak bisa ia ingat dengan jelas. Hal ini membuat Jaejoong letih.
       ”Oppa... oppa.. aku hari ini baru saja membeli baju baru loh~ Lihat~ bagus tidak? Aku membeli ini khusus untuk menemuimu loh“
Jaejoong seperti melihat seorang gadis namun ia tidak jelas siapakah gadis itu. Namun Jaejoong merasa bisa merasakan keantusiasan sang gadis.
DEG!
Jaejoong lagi lagi terbangun pada saat dini hari, saat dia baru saja bisa terlelap selama 2-3 jam.
       “Lagi lagi memimpikan gadis itu.. siapa dia?” Jaejoong duduk dan mengusap wajah berusaha menghilangkan bayangan dari mimpinya itu. Meskipun sudah tiga malam berturut turut ini mimpi Jaejoong tidak pernah ada yang sama, namun ia merasa mimpi itu seperti terus berlanjut dengan orang yang sama.
Jaejoong merasa sakit kepala, ia berdiri dari lantai tempatnya tidur karena yang di atas tempat tidur adalah baju bajunya. Jaejoong melirik Junsu yang masih terlelap. Jaejoong memutuskan untuk ke dapur mengambil minum.
 TAP TAP TAP.. Jaejoong berjalan perlahan menuju dapur yang tampak gelap.
        “Lagi lagi tidak bisa tidur hyung?” dari kegelapan dapur tiba tiba terdengar suara seorang pria.
        “Ommo... Changmin a~ apa itu kamu?” Jaejoong kaget dan menyalakan lampu.
Ternyata memang Changmin, ia sedang duduk di meja makan dengan semangkuk ramen di tangannya.
       “Kaget ya?” Changmin merasa reaksi Jaejoong lucu.
       “Di dapur gelap gelap gitu tiba tiba ada suara yang berbicara denganmu siapa yang tidak kaget!” Jaejoong mengelus dada.
       “Mian.. aku malas menyalakan lampu sih” Changmin mengangkat bahunya “Tidak bisa tidur lagi, hyung?”
       “Nde~ Lagi lagi mimpi orang yang sama” Jaejoong berjalan ke kulkas untuk mengambil minum.
      “Coba cari saja orang itu... siapa tahu memang ada”Changmin dengan santai berkata.
      “Bagaimana mau carinya? Wajahnya saja aku tidak jelas.. aku mau cari kemana?” Jaejoong minum dan kemudian meletakan gelas yang dipakainya minum di bak cuci piring dan membasahinya dengan air keran. Kemudian Jaejoong mendekat pada Changmin dan merebut ramen Changmin.
      “Ya! Ramenku!” Changmin tidak sempat mempertahankan ramennya “Ikut kata hati hyung saja..”
Jaejoong mengembalikan mangkuk Changmin setelah memakan sesuap ramen.
    "Akan kucoba.. semoga saja aku bisa menemukan orang itu.. aku sudah letih tiap malam didatangi mimpi yang terus terusan berlanjut” Jaejoong mengelap bibirnya.
      “Nde~” Changmin menerima mangkuknya kembali dengan senang hati.
      “Aku pergi tidur dulu” Jaejoong
      “Good night” sahut Changmin saat Jaejoong sudah agak jauh.
.................................

TIT... TIT.. TIT...
Alat deteksi detak jantung masih saja berbunyi pasti.
       “Hyurim a~ kapan kamu sadar?” seseorang memandangi gadis yang terbaring di atas ranjang pasien dalam gelap.
       “Ugh...” jari telunjuk gadis itu bergerak.
       “Hyurim a~” orang itu segera mendekati tempat tidur.
Gadis itu seperti hendak mengatakan sesuatu. Orang itu segera mendekatkan telinganya pada bibir Hyurim agar ia bisa mendengar perkataan gadis itu.
       “Bu..ku.. ku” gadis itu terbata bata mengucapkan kata itu.
       “Buku apa?” orang itu bertanya. Namun Hyurim tidak menjawab.
 Tiba tiba alat deteksi berbunyi lebih cepat. Orang itu segera melihat pada monitor dan segera ia menekan tombol memanggil dokter.
Beberapa saat kemudian seorang dokter dan perawat masuk ke dalam kamar dan langsung berusaha menyelamatkan gadis itu.
Orang itu mundur ke samping untuk berpikir.
........................
       “Ommo..” Jaejoong tiba tiba menyadari ada sesuatu yang menetes dari matanya saat mereka sedang sarapan.
    “Jaejoong a~ kenapa kamu menangis?” Yunho mengangkat pandangan matanya dari piring dan menemukan Jaejoong sedang berusaha mengelap airmatanya.
     “Aku tidak tahu.. aku tidak sedang ingin menangis.. tapi airmata ini ga mau berhenti” Jaejoong kerepotan mengelap airmatanya karena tangannya sudah hampir seluruhnya basah.
Changmin segera menyambar kotak tisu dan menyerahkannya pada Jaejoong.
       “Gomawo..” Jaejoong menarik selembar tisu dari kotak itu dan menggunakannya. Dalam sekejap sudah 3 lembar tisu terpakai.
       “Aish~ bagaimana ini.. tidak mau berhenti airnya” Jaejoong.
      “Ya ditutup donk kerannya” Junsu menyeletuk tanpa tahu air apa yang tidak mau berhenti karena ia masih saja berkonsentrasi dengan makanannya. Changmin memukul kepala Junsu.
    “Aw! Ya!”Junsu memegangi kepalanya dan menatap Changmin dengan pandangan marah. Kemudian ia baru sadar kalau yang tidak bisa berhenti adalah airmata Jaejoong.
       “Hyung~ kamu kenapa menangis?” Junsu baru bertanya.
 Dua temannya yang lain hanya memutar matanya kesal sementara Jaejoong masih sibuk dengan airmatanya.
       “Kamu hari ini minta ijin istirahat saja” Yunho ikutan bingung karena melihat Jaejoong kesulitan seperti itu.
       “Sepertinya lebih baik begitu.. aku tidak bisa ikut latihan kalau begini” Jaejoong
TING TONG!
Bel apartment itu berbunyi.
Semua menoleh ke arah pintu. Lalu Changmin berdiri dari tempat duduknya.
      “Biar aku yang bukakan” Changmin berjalan ke depan.
Dan beberapa saat kemudian ada dua orang yang muncul bersama Changmin; Yoochun dan manager TVXQ.
     “Mengapa kamu menangis?” manager dan Yoochun hampir bersamaan menanyakan hal yang sama. Mereka heran melihat Jaejoong
     “Molla.. airmataku tidak bisa berhenti~ Hyung.. bisakah aku ijin hari ini?”  Jaejoong
     “Sebentar” Manager TVXQ tidak langsung memberikan ijin, ia mengecek jadwal dari PDAnya.
    “Hari ini jadwal kalian tidak banyak hanya latihan persiapan konser dan satu wawancara majalah.. baiklah.. kamu boleh ijin hari ini” Managernya memasukan kembali PDAnya.
      “Gamsahamnida, hyung” Jaejoong
Setelah selesai sarapan, keempat TVXQ dan manager pergi dari apartment, meninggalkan Jaejoong sendiri. Airmatanya sudah tidak mengalir begitu deras, hanya menetes perlahan.
 Sakit sekali.. Jaejoong berjongkok dan menelungkupkan kepalanya diantara dada dan lutut. Ia menyentuh dadanya, merasa kalau hatinya perih dan sedih.
      “Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu ya?” Jaejoong berdiri dan mengelap air matanya. “Aku harus mencarinya” Jaejoong pergi untuk mengganti bajunya.
 Beberapa saat kemudian Jaejoong telah keluar dari kawasan apartment itu dengan menggunakan mobilnya.
Jaejoong menyetir tanpa arah, ia merasa tidak tahu harus kemana. Jaejoong memandang ke kanan dan kiri jalan saat menyetir, entah mencari apa ia pun tidak tahu. Sesekali ia mengigit bibir atau jari jempolnya, menunjukkan kegalauan hatinya.
Ajaibnya air matanya tidak lagi mengalir, hanya saja hati Jaejoong makin resah. Ia merasa harus segera menemukan apa yang ia cari.
”Ah~ oppa.. jeongmal saranghae... kya.. saranghae oppa.. saranghae... rasanya aku ingin sekali terus terusan mengatakan kata itu saat menatap oppa..”
 CITT... Jaejoong mendadak menginjak rem mobilnya. Ia mendadak mendapatkan suatu gambaran. Gadis itu lagi lagi muncul di dalam otaknya.
TIN TIN.. bunyi klakson mobil di belakang mobil Jaejoong bersahut sahutan menyuruh Jaejoong segera melaju.
 Jaejoong segera sadar dan menjalankan mobilnya kembali.
”Oppa... aku hari ini merasa sedih sekali... apapun yang kulakukan selalu saja salah~ aku selalu saja menyusahkan orang lain..”
Di benak Jaejoong berkelebatan gambaran gambaran seperti suatu kenangan namun kenangan kenangan itu sama sekali bukan kenangan kenangan Jaejoong, Jaejoong tidak mengenal kenangan itu namun ia merasa akrab dengan itu.
 Jaejoong masih saja terus berusaha mencari apa yang hatinya ingin temukan.
Seorang gadis mendongak memandangi Jaejoong dengan pandangan sayu, tangannya terkepal di depan dada”Hari ini aku melihat oppa... dari tempat yang jauh sekali.. mungkin oppa tidak melihatku.. aku juga tidak berharap kalau oppa tahu sih~ aku sudah puas hanya melihat oppa dari jauh~ tapi otakku berkata lain.. aku masih ingin mendekat..” 
Jaejoong menoleh ke samping. Disana ada sebuah taman.
 Lagi lagi di dalam benaknya muncul suatu gambaran.. namun kali ini berbeda. Ia melihat gambaran dirinya sendiri sedang berjalan sambil menunduk dengan baju yang basah kuyup. Di gambaran itu tampak seperti sedang ada syuting dan dirinya pada gambaran itu tampak tidak peduli, mengelap wajah yang basah dan sedikit menggigil. Jaejoong merasakan kekhawatiran saat melihat hal itu. Mungkin itu adalah perasaan gadis itu saat itu.
Jaejoong tidak bisa lagi menahan gambaran gambaran itu menyerbu masuk ke dalam benaknya. Ia memilih menepikan mobilnya.
Jaejoong mencoba mengambil nafas panjang. Ia menyandarkan diri pada sandaran kursinya.
Sebenarnya apa sih yang kamu mau? Bisa kah kamu memberiku petunjuk dimanakah dirimu sekarang? Aku sudah letih~ bisa kita akhiri? Jaejoong memejamkan mata.
Jaejoong menunggu gambaran selanjutnya muncul. Namun tidak ada yang muncul. Jaejoong perlahan duduk tegak dan memegang setir kembali untuk melihat apakah akan ada yang muncul di benaknya.
Tidak ada..
Jaejoong menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya. Ia mencoba mereka reka dalam hati jalan manakah yang harus ia lalui.
“Rumah sakit?” Jaejoong berhenti di tempat parkir rumah sakit.
Apakah gadis itu ada disini?
Jaejoong mematikan mesin mobil dan keluar dari mobilnya setelah tadi menyambar topi dan kacamata untuk penyamarannya.
Jaejoong berjalan masuk ke dalam rumah sakit sambil memakai topi dan kacamatanya. Ia hanya mengikuti langkah kakinya berjalan menaiki eskalator.
Ia sampai di depan sebuah kamar bernomor 301. Jaejoong menatap nomor pintu tersebut.
Disinikah? Jaejoong terdiam membuka kacamata hitamnya.
Jaejoong merasakan sesuatu di dalam ruang kamar ini yang membuat dirinya sampai di sana semakin dekat. Jaejoong meraih kenop pintu kamar dan membuka pintu kamar itu.
Seorang pria muda yang duduk di dalam sana menoleh kepada Jaejoong. Ia berdiri dari kursinya yang berada di samping tempat tidur pasien.
TIT.. TIT.. TIT..
Suara alat detak jantung berbunyi perlahan. Nafas yang sedikit berat dari gadis yang berbaring di tempat tidur.
Mata Jaejoong beralih dari pria muda itu ke pada seorang gadis yang berbaring. Ia berjalan mendekat. Pria muda itu tidak bersuara, ia hanya diam dan tidak bertanya apapun. Ia membiarkan Jaejoong untuk mendekat.
Jaejoong menatap gadis itu lekat. Ia merasa tidak asing dengan gadis itu namun juga tidak mengenalnya.
 Ini dia gadis yang selalu muncul di mimpiku akhir akhir ini..
Jari telunjuk gadis itu bergerak. Perlahan Jaejoong bisa melihat mata gadis itu membuka. Gadis itu sejenak menatap Jaejoong. Tangannya meraih alat bantu nafasnya dan membukanya.
       “Op.. pa... wa...yo...” Gadis itu tersenyum pada Jaejoong. Jaejoong menoleh pada pria yang ada di dalam kamar itu juga.
Jaejoong menoleh kembali pada gadis itu, meraih tangan gadis itu.
        “Go.. ma.. wo” Gadis itu tersenyum untuk terakhir kalinya dan menutup matanya.
 Menatap mata yang tertutup itu, Jaejoong merasa sesuatu yang terikat di dalam hatinya dilepas dengan paksa dari tempatnya. Jaejoong menutup matanya dan airmatanya mulai mengalir kembali. Tangannya menggenggam erat tangan gadis itu.
Pria muda itu meraih tombol untuk memanggil dokter, sambil menyentuh pundak Jaejoong.
Pintu terbuka, seorang wanita setengah baya muncul.
       “Siapa dia? Apakah dia kenalan Hyurim?” wanita itu bertanya pada pria muda itu.
       “Anie omma... dia orang yang selama ini ditunggu Hyurim” pria itu berkata perlahan
       “Jadi Hyurim.... “ Wanita itu menjatuhkan seluruh barang yang dibawanya.
      “Hyurim telah pergi.. omma... “Pria itu meneteskan setitik airmata.
Jaejoong mendengar percakapan itu. Ia merasa tubuhnya menjadi lemas.
Ternyata dia sedang menungguku datang.. 
Tubuh Jaejoong merosot jatuh perlahan ke lantai dengan lutut menjadi penyangga. Ia menempelkan dahinya pada punggung tangan Hyurim. Jaejoong merasa hatinya menjadi kebas.
Dua orang dokter masuk ke dalam ruangan beserta perawat. Jaejoong terdorong menjauhi tempat tidur karena dokter dokter itu segera sibuk memeriksa kondisi gadis itu.
 Wanita setengah baya itu meskipun sedih namun ia terlihat tegar, seperti telah siap menerima kenyataan ini.
        ”Maaf.. kami sudah berusaha semampu kami.. harap kalian sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk yang terjadi pada anak anda” salah satu dari dokter yang berusaha menolong gadis itu berkata dengan ekspresi menyesal.
 Sekejap wanita itu tahu kalau Hyurim tidak akan bisa bertahan lagi.
      “Sepertinya ada yang ia tunggu..seharusnya ia tidak bisa hidup lagi karena sebenarnya hampir seluruh organ tubuhnya telah berhenti berfungsi”
Wanita itu terdiam saat menatap dokter itu pergi.
Wanita itu berjalan mendekati Jaejoong dan meraih tangan Jaejoong. Jaejoong menatap bingung pada wanita itu.
   “Gomawo.. telah mengakhiri penderitaan Hyurim” wanita itu memaksa tersenyum meskipun sulit rasanya. Jaejoong mengangguk tidak yakin. Ia menoleh pada pria yang tadi bersamanya di ruang ini.
Pria itu menyodorkan sebuah buku pada Jaejoong.
      “Ini?” Jaejoong menerima buku itu.
      “Buku harian Hyurim.. lebih baik kamu yang menyimpannya.. “ Pria itu berkata pelan.
Jaejoong merasa bingung. Ia tidak mengerti kondisi ini, pagi ini ia tiba tiba saja menangis tanpa mengerti sebabnya.. kemudian saat ia menemukan penyebabnya.. ternyata gadis itu meninggal.. dan sekarang keluarga gadis itu menatapnya seakan ia telah berbuat hal yang besar bagi keluarganya.
     “Aku tidak bisa menerimanya” Jaejoong hendak menyerahkan kembali buku itu kepada pria itu.
     “Hyurim memang menginginkan buku itu diserahkan padamu.. terima saja” Pria itu kembali menyerahkan buku itu pada Jaejoong.
     “Aku tidak mengerti...” Jaejoong akhirnya menerima buku itu.
     “Baca saja isi diary itu.. kamu akan mengerti...”
Jaejoong memandang diary itu tidak yakin.
      “A.. aku.. harus pergi... “ Jaejoong hendak beranjak pergi dari ruangan itu.
Pria itu dan wanita itu membiarkan Jaejoong pergi.
      “Kim Jaejoong...” Panggil pria itu sebelum Jaejoong keluar. Jaejoong menoleh “Aku hanya ingin menggantikan adikku mengatakan satu hal.. “
Jaejoong menunggu “Terima kasih telah mengisi hidupnya... setelah mengenalmu adikku menjadi lebih hidup”
Jaejoong mengangguk kemudian hendak pergi namun pria itu kembali menyahut mengatakan kalau Jaejoong hendak memberikan penghormatan terakhir untuk adiknya itu, Jaejoong bisa datang ke rumah duka. Jaejoong tidak merespon, ia menutup pintu kamar pasien itu dan berjalan pergi.
 Jaejoong berjalan sambil menatap buku diary itu.
"26 Desember 2003
Ah~ diary.. apakah kamu tahu... natal tahun ini.. adalah natal yang terindah...
Aku baru saja melihat seseorang yang amat menarik hatiku saat datang ke stasiun TV untuk menyaksikan acara natal... sorot matanya begitu polos.. suaranya begitu menawan... aku yakin dia pasti akan menjadi seseorang yang amat sukses... aku tidak tahu mengapa aku bisa berpikir demikian.. hanya feeling saja, dia pasti sukses
Apakah kamu tahu namanya siapa? Kuberitahu kau.. namanya Jaejoong.. aku tidak tahu apa marganya.. hanya tahu namanya Jaejoong karena teman temannya memanggilnya seperti itu..."
 Jaejoong memasuki mobilnya. Ia membuka diary itu dan terpaku saat membaca halaman pertama buku itu.
Diary... aku sudah tahu marganya apa.. ia bermarga Kim... Kim Jaejoong... ah~ ternyata diary.. ia anggota dari grup idola baru... TVXQ... ah~ mulai sekarang aku akan menjadi fansnya.... Aku fans nomor satu dari Kim Jaejoong~ Yey!
 Jaejoong membalik kertas kertas diary itu dan membaca secara acak.
Diary.. hari ini Jaejoong oppa akan pergi ke Jepang.. akh~ andwae... tapi tidak apa apa lah~ kalau itu untuk keberhasilan dirinya.. Jaejoong oppa hwating... semoga sukses disana...
 Jaejoong menyadari setiap halaman dari diary itu pasti berisi tentang dirinya..
 Akh~ diary... aku kok sebal ya pada fans fans lainnya.. mereka kok rasanya terlalu fanatik pada TVXQ... mengikuti grup itu kemana mana.. menelpon...pokoknya lengket banget deh~ kasian Jaejoong oppa.. pasti dia merasa risih.. yah~ meskipun dia juga tidak keberatan sekali sih~
 Jaejoong menghela nafas.
YEY! YEY! YEY! KIM JAEJOONG MANSE!! TVXQ MANSE! TVXQ sukses di Jepang.. ah~ aku merasa amat senang... aku sampai ikut meneteskan air mata loh~ saat tahu hal itu... senang sekali Jaejoong bisa sukses di sana.. ah~ mereka sudah bekerja keras.... mereka pantas untuk mendapatkan itu.. aku senang... yah~ meskipun jarak Jaejoong oppa dan aku semakin jauh.. dia semakin menanjak ke tingkat teratas.. sedangkan aku masih tetap ditempat.. tidak melakukan apapun... apa aku ini tidak berguna ya? Bisanya hanya menyusahkan sekelilingku saja?Akh~ aku tidak ingin seperti itu.. aku harus bisa bangkit!
 Sejenak Jaejoong merasa ikut merasakan kebahagiaan Hyurim, namun begitu membaca bagian terakhir dari lembaran itu, ia menjadi terpaku. Apa ini yang dimaksudkan kakaknya itu kalau Hyurim menjadi lebih hidup?
 Jaejoong mengerjapkan mata.
Diary.. seandainya aku bisa berkenalan dengan Jaejoong oppa... ah~ aku ingin sekali bisa mendekat pada sosok itu.. tapi... aku tidak bisa.. dia begitu jauh dariku... aku merasa tidak pantas untuk mendekat.. aku hanya bisa terus mendoakannya bahagia selalu.. aku ingin Jaejoong oppa bahagia.. Hari ini aku melihatnya sedang termenung sendiri sepertinya ia sedang ada masalah... apa ya masalahnya? 
 Jaejoong berkata dalam hati.. Seandainya aku bisa berkenalan denganmu juga, Hyurim a~ sayang sekali kamu telah pergi Jaejoong merasa bersyukur memiliki Hyurim sebagai fans.. gadis itu begitu memikirkan dirinya.. sungguh perhatian.. yah... meskipun fans fansnya yang lain juga seperti itu.. tapi ia merasa Hyurim itu berbeda.
Diary.. apa sih cinta itu sebenarnya? Yong dae oppa hari ini memarahiku karena aku terlalu memperhatikan Jaejoong oppa sehingga aku tidak peduli pada sekitarku... katanya aku tidak boleh terlalu mencintai Jaejoong oppa.. dia berada di dunia yang berbeda denganku.. Aku tahu sekali.. memang Jaejoong oppa itu jauh dari jangkauanku.. tapi tetap saja.. aku boleh kan menatapnya.. aku bukannya menjadi tidak peduli dengan sekitarku.. aku tetap berjuang untuk hidupku.. aku hari ini sudah bisa melawan sekumpulan gadis gadis menyebalkan yang selalu mengganggu hidupku sejak kelas satu... hingga aku telah lulus dari SMA itu...
Jaejoong tanpa sengaja membalik buku diary itu ke halaman paling akhir..
Diary.. jika aku hari ini akan mati... aku ingin sekali sebelum aku meninggal, bertemu dengan Jaejoong oppa dan mengatakan terima kasih telah mengisi hidupku... dia telah mengubah hidupku yang semula hanya ada warna hitam saja.. menjadi berwarna... karena dia, aku bisa menemukan tujuan hidupku..
Jaejoong menutup buku diary itu.
Terima kasih juga karena telah memperhatikanku sejak awal hingga akhir.. terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku.. meskipun aku tidak mengenalmu sebelumnya.. namun aku bisa merasakan kamu begitu dekat denganku 
..................................
Hampir sejauh  mata memandang hanyalah warna putih yang bisa dilihat.. awan putih... serba putih dimana mana.. dan tak ada seorangpun yang terlihat disana..
Gadis itu duduk dan mengerjap ngerjapkan matanya merasa tidak percaya akan penglihatannya.
     “Selamat datang Lee Hyurim” seseorang berbaju putih seperti malaikat berdiri di hadapan gadis itu.
     “Kamu siapa? Aku ada dimana?” Hyurim berkata dengan bingung.
     “Kamu berada di alam perbatasan antara dunia kehidupan dan dunia kematian”
     “Ah! Jadi aku telah meninggal? Andwae... masih banyak yang aku belum lakukan.. aku tidak ingin meninggal sekarang.. “ Hyurim langsung panik.
     “Tidak bisa.. kamu memang sudah meninggal”
     “Tapi aku belum bertemu Jaejoong oppa..  ada hal yang belum aku katakan.. ayolah.. apakah anda tidak bisa memberiku kesempatan sekali lagi untuk bisa mengatakan hal itu pada Jaejoong oppa..itu saja yang aku inginkan“ Hyurim memegangi ujung baju malaikat itu.
       Malaikat itu tampak berpikir “ Baiklah.. karena kamu meninggal juga karena telah berbuat kebaikan.. aku akan memberimu kesempatan sekali saja.. untuk hidup.. tapi nyawamu hanya sampai kamu bertemu dengan orang yang ingin kamu temui itu datang dan kamu bisa mengatakan apa yang ingin kamu katakan..”
       “Gamsahamnida” 
...........................
Jaejoong berjalan masuk dengan mengenakan baju serba hitam dan kacamata hitam. Begitu datang, ia segera berjalan menuju altar.
 Jaejoong menatap foto yang terpajang di altar.
Hyurim a~ semoga kamu bahagia di alam sana.. terima kasih atas perhatianmu selama ini padaku.. aku senang bisa memiliki fans seperti dirimu.. aku pasti akan berkembang menjadi lebih baik lagi. Demi diriku..keluargaku.. teman temanku.. dan juga demi dirimu
Jaejoong memberikan penghormatan terakhir pada foto Hyurim.
      “Sudah puas kah kamu? Keinginanmu telah tercapai” dua orang berdiri dekat altar mengenakan jubah putih.
      “Sudah.. terima kasih telah memberiku kesempatan” salah satu dari orang itu mengangguk sambil menatap kepergian Jaejoong.
     “Kalau begitu.. ayo kita pergi..”
Sebelum pergi salah satu dari orang itu, tepatnya gadis itu, menoleh ke belakang dan menatap punggung Jaejoong yang hampir menjauh.
Semoga kamu bahagia oppa.. aku akan selalu menyayangimu sebagai fans nomor satumu... 
 Jaejoong menegakkan kepalanya merasa mendengar suara Hyurim lagi di dalam kepalanya. Ia tersenyum dan kembali berjalan.
Nde.. gomawo

The End
created in : 2009

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide