[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Seventh Run
9:41 PM
SEVENTH RUN
As if every autumn leaf has fallen
As if everything that seemed eternal is going further away
You’re my fifth season
Because even if I try to see you, I can’t
Look, to me, you’re still green
Even if our hearts aren’t walking, it walks by itself
Our foolishness, like laundry, is being hung piece by piece
Only the bright memories are dirty, it falls on me
Even if I don’t shake my branch, it keeps falling.
Jika masa muda adalah musim, maka dia adalah musim
semi, sebuah momen kehidupan di mana seluruhnya terlihat hijau. Semua terlihat
sangat hidup dan penuh vitalitas. Orang-orang terlihat seperti memiliki segala
yang mereka butuhkan untuk melakukan segala hal. Mereka memiliki dunia. Dan
bahkan meskipun mereka tahu pasti bahwa momen tersebut akan segera layu, mereka
masih saja berharap agar dia berlangsung selamanya. Masih saja
mempertahankannya hingga titik penghabisan terakhir.
“Kalian siap?” Namjoon memandangi temannya satu per
satu.
Mereka membentuk segaris lurus dengan berdiri berdampingan.
Yoongi berdiri di ujung paling kiri. Jin kemudian Jimin berada di sebelahnya.
Di samping Jimin ada Namjoon yang berdiri dengan Taehyung berada di samping
kanannya. Sekelompok orang sedang berdiri di hadapan mereka dan Sohee pun
berdiri di antara kerumunan tersebut. Dia menggenggam digicam milik Jin
sementara melambai pada mereka dan menarik turun kepalannya untuk mengatakan: “Hwaiting dan semoga beruntung.”
“Ayo mulai.” Yoongi berkata pada Namjoon sementara
dia sendiri bertugas untuk menyalakan sound
system yang ada sisi kirinya. Semua itu adalah perlengkapan milik Yoongi.
Seorang teman yang lebih tua dari Yoongi membantu mereka untuk membawa
perlengkapan tersebut dari tempat Yoongi ke taman bermain Hongdae. Dia juga
mengantarkan kru ke Hongdae.
Namjoon memberi tanda siap pada Yoongi dan melirik
Jimin yang terlihat gugup. Pemuda yang satu itu terlihat akan ketakutan untuk
sesaat kemudian sesaat lainnya menjadi lebih tenang. Namjoon tidak yakin apa
yang harus dia lakukan mengenai pemuda tersebut, tapi dia segera memulai
pertunjukan.
"Hey you, what’s your dream?
Hey you, what’s your dream?
Hey you, what’s your dream?
Is that all your dream is?!"
☆☆☆☆☆☆☆
“Hyung,
aku boleh main skateboard saja kah?
Aku sedang tidak ingin latihan dance
sekarang.”
Howon segera meminta izin kepada Hoseok begitu
gerombolan tersebut sampai di tempat berlatih. Grup tersebut terdiri dari
Howon, Hara, Hani, Jungkook, dan Hoseok sebagai yang tertua. Hara memegangi
Hani untuk menjaganya agar tidak hilang di dalam kerumunan sementara Howon
membawa skateboard hitam polos
miliknya.
“Oke, tapi jangan pergi terlalu jauh. Pastikan
ponselmu selalu ada di dekatmu jadi aku bisa menghubungimu kapan pun.”
Howon mengangguk cepat dan segera berlari pergi
untuk mencari ruang yang lebih lapang agar bisa bermain. Kemudian Hoseok
menoleh ke arah Hara dan Hani.
“Aku ....” Hara terlihat ingin mengamati Jungkook
berlatih tari dari Hoseok tapi dia merasa ragu karena Hani. Gadis kecil itu
akan merasa bosan jika dia berada di dalam keramaian ini hanya untuk duduk
menatap seseorang melakukan sesuatu.
“Aku akan membawa Hani untuk membeli sesuatu yang
dia bisa nikmati kemudian kembali ke sini.” Hara memutuskan untuk menyogok Hani
terlebih dahulu.
“Oke. Jangan tersesat dan jaga adikmu.”
Kemudian grup tersebut terbagi ke dalam beberapa
aktivitas. Yang tersisa hanyalah Jungkook dan Hoseok.
“Haruskah kita mulai pemanasan terlebih dahulu?”
Jungkook bertanya.
Hoseok memutuskan untuk menunjukkan cara untuk
melakukan pemanasan yang tepat sebelum memulai. Dia menarik lengan kiri ke
samping untuk beberapa saat. Jungkook mengikutinya segera. Kemudian mereka
memulai latihan setelah selesai pemanasan. Hoseok menjelaskan beberapa langkah
dasar kepada Jungkook yang pemuda tersebut dapat ikuti dengan cepat.
Hoseok benar mengenai Jungkook yang memiliki
kemampuan yang baik untuk memahami ritme dan pemuda tersebut terlihat cukup
fleksibel.
☆☆☆☆☆☆☆
"That’s a lie, you such a liar. See me, see
me, ya you’re a hypocrite."
Jimin mengambil alih panggung setelah Namjoon
melakukan rap untuk bagian bridge
dengan repetisi yang sama dengan verse
pertama. Itu merupakan pertunjukan yang cukup meriah saat itu di sana.
Orang-orang terlihat menikmati lagu yang dibuat oleh Yoongi dan Namjoon bersama
salah seorang Hyung yang Namjoon
kenal. Jimin tenggelam dalam momentum tersebut. Dia merasa senang bahwa dia
mampu menyanyikan lagu tersebut meskipun matanya masih saja berkeliaran
menghindari bertatapan dengan mata orang lain. Dia mencoba untuk melakukan
pertunjukan semampunya, seperti saran Sohee padanya.
"Why are you
telling me to go a different path? Take care of yourself. Please don’t force me..."
Itu adalah saat ketika hal tersebut terjadi.
“Yah! Kau sedang bernyanyi? Apa ini yang kau sebut
lagu?” Seseorang dari kerumunan melempar sebuah botol ke arah kepala Jimin. Itu
adalah seorang laki-laki berjaket tudung berwarna merah.
Jimin terpaku di tempatnya. Dia berhenti
menyanyikan bagiannya dan membiarkan alunan musik terus berjalan. Tangannya
mulai bergetar keras. Matanya menangkap sorotan mata orang-orang yang sedang
memandanginya. Ingatan-ingatan mulai memasuki dirinya seakan mereka telah
menantikan momen yang tepat untuk menghancurkannya. Ini adalah waktu yang tepat
untuk melakukannya.
“Ayo kita
lihat babi melakukan pertunjukan. Kau sudah pernah menonton yang seperti itu?”
Orang-orang tertawa. Lampu kamera menyambar di
depan matanya. Mereka mencemoohnya. Orang-orang menatapnya seakan dia adalah
objek asing yang sedang dipertontonkan di atas podium. Mereka menunjuk ke
arahnya.
“Kau cari mati? Atau mungkin telingamu dipenuhi
kotoran.” Suara penuh amarah milik Yoongi menariknya kembali ke TKP saat ini.
Jimin melihat Yoongi melempar mikrofonnya hingga
benda tersebut menyebabkan timbal balik yang nyaring hingga membuat orang-orang
menutup telinga untuk sesaat. Pemuda berambut merah itu berderap maju ke arah
laki-laki tersebut. Jin mengikuti Yoongi untuk menghentikannya berkelahi dengan
laki-laki tersebut. Taehyung dan Namjoon mengikuti mereka dan meninggalkan
Jimin sendiri di tengah panggung. Perhatian orang-orang terbagi antara Yoongi
dan Jimin beberapa kali. Itu terlihat seperti mereka sedang membandingkan adegan
yang mana yang lebih menarik untuk ditonton, seorang pemuda berambut merah yang
sedang menggila ataukah babi ketakutan yang membeku di depan.
Hari itu adalah sebuah kekacauan besar. Jimin tidak
mengingat apa yang selanjutnya terjadi. Yang dia ketahui hanyalah dia melihat selingan
potongan antara perkelahian Yoongi dan kenangan orang-orang dari masa lalunya
yang menertawakannya. Ingatan itu menyatu menjadi satu kesatuan saat itu. Tanah
tempatnya berpijak mulai bergoyang di bawah kakinya.
Jimin kehilangan kesadarannya.
☆☆☆☆☆☆☆
"G-gom se mari ga han jib e isseo." Jimin berusaha keras
untuk tidak menangis. Dia terus menggerakkan tubuhnya sesuai arahan mereka.
“Ya! Memangnya kau seekor
beruang? Kau lebih mirip seekor babi! Ganti jadi babi, dasar kau babi.”
Seseorang dari grup tersebut melemparkan kotak karton susu kepadanya.
Jimin melakukan sesuai yang diperintahkan.
“Buat suara. Kau kan babi. Biarkan kami mendengar
suara babimu.”
"Dwaeji se mari ga han jib e isso..."
Jimin mengeluarkan suara “ngok” pada setiap
pengenalan mengenai keluarga babi. Tapi orang-orang dari grup tersebut tidak
membiarkannya pergi dengan mudah. Mereka terus-terusan menambah tugas untuknya.
Jimin terus melakukan hal tersebut berulang kali dari awal setiap kali mereka
melakukan komentar. Lagu tersebut tidak pernah mencapai akhirnya.
Pada saat seperti itu, sering kali Jimin akan
berharap bahwa dia dapat mati di tempat. Dia berharap bahwa tanah tempat dia memijakkan
kaki akan terbuka dan menelannya masuk. Tapi kemudian salah satu dari mereka
menghancurkan harapan yang tersisa tersebut dengan mengatakan bahwa bumi tidak
akan melakukan hal semacam itu karena itu akan membuatnya terlalu kenyang
hingga ingin memuntahkan Jimin kembali.
☆☆☆☆☆☆☆
“Jimin, Park Jimin, kau sudah sadar? Kau bisa lihat
aku? Kau ingat aku kan? Aku Kim Taehyung. Kau bisa lihat ini ada berapa?”
Taehyung mendirikan dua jemarinya di depan mata Jimin.
“Dia hanya kehilangan kesadaran bukan kehilangan
ingatannya, dasar bodoh.” Namjoon menyenggolnya dari samping.
“Aku tahu, tapi dia kan juga bisa saja kehilangan
ingatan jika kau lihat seberapa keras dia tadi terjatuh. Aku lihat orang-orang
di film dan drama selalu melakukan itu ketika seseorang mulai mendapatkan
kesadarannya kembali setelah pingsan.”
“Kau harus berhenti menonton sampah dan mulai mengisi
otakmu dengan hal-hal yang lebih berguna.”
“Kau terlalu sering bergaul dengan Suga Hyung hingga membuatmu mulai menirukan
sifatnya.”
Jimin merasa kepalanya berdenyut hingga terasa
sangat nyeri. Dan perdebatan Namjoon dan Taehyung membuatnya semakin buruk. Di
mana dia sekarang?
Jimin mulai bangkit dari kursi tempat mereka
meletakkannya untuk berbaring. Dia masih berada di Hongdae tapi tempat tersebut
lebih sepi dari sebelumnya.
“Kau baik-baik saja? Minum dahulu.” Jin muncul
bersama Yoongi dan sebotol minuman di tangannya.
Jimin meraih botol tersebut dari Jin.
“Cowok tadi itu idiot. Dia tidak tahu musik yang
bagus.” Yoongi berkata kepada udara. Dia tidak menghadap Jimin ketika dia
mengatakannya tapi Jimin mendapat firasat bahwa pemuda lebih tua tersebut
mengatakannya untuk menghibur Jimin.
“Aku minta maaf karena sudah mengacaukan
pertunjukan pertama kita.” Jimin menunduk.
“Kita bisa mencobanya lagi ketika kau sudah siap kapan
pun. Jangan merasa tertekan mengenai itu.” Jin berkata sambil meletakkan
tangannya di atas bahu Jimin.
Jimin tidak mengatakan apa pun. Dia tidak tahu
apakah dia akan pernah menjadi siap. Mungkin itu adalah sebuah ide buruk bahwa
dia mulai berpikir bahwa dia telah berubah. Dia masih orang yang sama seperti
sebelumnya. Jimin masih merupakan babi kecil dalam lagu yang orang-orang itu
selalu perintahkan padanya untuk nyanyikan setiap kali mereka memutuskan untuk
mencari hiburan dari Jimin.
“Ayo jalan-jalan di sekitar sini. Kita harus
melihat sendiri seberapa bagus orang-orang di sini hingga berani-beraninya
mengejek lagu kita.” Taehyung menyarankan sebuah ide.
Yoongi menyetujui hal tersebut. Terlebih lagi dia
sangat ingin membalas dendam jika dia menemukan seorang laki-laki seperti
laki-laki yang menghancurkan pertunjukan mereka itu mempertontonkan sampah
pula. Jin melarang Yoongi untuk membuat kekacauan lain.
“Di mana Sohee Nuna?”
Namjoon pertama kali menyadari grup mereka kehilangan satu anggota.
“Dia butuh toilet tadi katanya. Dia pinjam dari
toko kue tempat kami beli air untuk Jimin.” Jin menjelaskan. “Itu dia.”
Ketika grup tersebut hendak berpindah, gadis yang
mereka bicarakan muncul. Dia terlihat sedikit terburu-buru.
“Jimin, kau sudah sadar. Bagaimana kondisimu?”
Sohee berhenti di depan Jimin.
Jimin mengangguk sambil mengalihkan pandangannya.
Itu terasa tidak nyaman untuk bertemu pandang dengan gadis tersebut setelah apa
yang terjadi.
“Ayo pindah. Kita akan melihat-lihat seberapa
sempurnanya orang-orang di sini.” Yoongi masih saja terlihat menyimpan dendam
atas situasi tersebut.
Grup tersebut bergerak dari lokasi itu.
☆☆☆☆☆☆☆
“Di dalam
aliran sungai kecil, ada seekor kecebong.
Bergoyang,
bergoyang, bergoyang ke sekeliling.
Kaki
belakang tumbuh, kaki depan pun muncul. Hani di mana kaki-kakimu?”
Hoseok
sedang bermain dengan Hani saat itu. Mereka sedang menyanyikan bersama sebuah
lagu anak-anak Korea dari speaker ponsel Hoseok. Hani menjulurkan kakinya seperti
yang diminta. Mereka menari bersama sementara tiga murid SMP lainnya sedang
duduk di samping mengawasi yang tertua dan termuda dari grup bermain.
Latihan tari Jungkook bersama Hoseok tidak
berlangsung lama. Begitu Hara dan Hani kembali dari membeli camilan, Hani
langsung berlari ke arah Hoseok ketika dia mendengar sebuah musik dimainkan
dari ponsel Hoseok. Dia meminta lagu anak-anak yang dia sukai. Dan sebagai kakak
yang baik, Hoseok menghentikan latihan untuk bermain dengan Hani.
Jungkook duduk berdampingan dengan Hani sebelum
Howon kembali setelah bosan dengan skateboard-nya. Sebelum kembarannya kembali,
Hara terlihat seperti terbuat dari batu. Dia duduk tegak tanpa berani melirik
ke arah Jungkook. Hal tersebut sesaat cukup menghibur untuk Jungkook. Setelah
perkelahiannya dengan Howon dan pemuda itu memberitahu bahwa Hara menyukainya,
Jungkook mulai menyadari sikap gadis itu padanya. Sudah jelas, dia begitu
mengagumi Jungkook hingga dia tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan
pemuda tersebut. Jungkook terlalu tidak peka hingga tidak menyadarinya
sebelumnya. Kemudian dia tahu. Tapi meskipun itu terlihat manis untuk Jungkook,
itu tidak berarti bahwa dia akan menyukai Hara pula. Jungkook hanya melihat
Hara sebagai kembaran perempuan dari teman sekelasnya.
“Loncat,
loncat, dia menjadi seekor katak.
Bergoyang,
bergoyang, bergoyang, bergoyang, bergoyang, dan bergoyang, seekor kecebong.
Kaki
belakang keluar. Kaki depan keluar.
Loncat,
loncat, dia menjadi seekor katak.”
Hani sedang melompat ke sekeliling taman bermain,
berakting seolah-olah seekor katak. Hoseok tertawa melihat akting lucu Hani.
“Hyung!
Berhenti main dengan Hani. Ini Hongdae. Kau mempermalukan tempat ini dengan
memainkan lagu anak-anak. Ayo tunjukkan kemampuanmu yang sesungguhnya!” Howon
menjadi bosan menonton kakak laki-lakinya bermain dengan saudara perempuan
termuda mereka.
Hoseok menatap Howon untuk sesaat. Ketika itu Hara
sudah berlari ke arah Hani untuk menghentikan gadis kecil itu dari menari. Dia
berhasil membujuk Hani untuk membiarkan kakak laki-laki mereka untuk menari.
Malah, hal itu membuat Hani bertemu tangan dengan girang. Dia pun menyukai
pertunjukan kakak laki-lakinya. Jungkook menebak kalau Hoseok sering
mempertontonkan kemampuan menarinya di depan keluarganya.
Hoseok tidak punya banyak pilihan lain ketika Hani
telah berseru riang dan berkata ingin melihat tariannya. Hoseok mengambil
ponselnya dari tanah dan mengubah musik tersebut menjadi musik yang berirama
lebih kuat untuk menari.
Sekejap Jungkook dapat melihat perbedaan dari
Hoseok yang sedang bermain-main dan menari dengan sesungguhnya. Itu nyaris
membuat mulutnya menganga dengan lebar ketika melihat betapa kerennya pemuda
yang lebih tua tersebut menggerakkan tubuhnya. Maksudnya, Hoseok terlihat memiliki
kemampuan yang cukup baik ketika dia mengajarkan Jungkook bagaimana
menggerakkan tubuh dari dasar tapi saat ini dia terlihat berkali lipat lebih
luar biasa.
Empat menit yang panjang terasa seperti hanya satu
menit ketika dia melihat tarian Hoseok. Jungkook tidak menyadari bagaimana
waktu berlalu dengan cepat.
“Whoa! Hyung!
Kau keren sekali!” Ada orang lain yang berpikiran sama dengannya saat itu.
Ketika Jungkook menoleh ke arah suara tersebut berasal, ada seorang pemuda
dengan kelompoknya yang terdiri dari enam orang, empat pemuda yang terlihat
normal, satu gadis, dan satu pemuda berambut merah yang menakutkan.
Sepertinya pertunjukan Hoseok telah menarik
perhatian beberapa orang di Hongdae. Pemuda itu tidak memaksudkannya namun
kualitas dari kemampuan tarinya telah melakukannya dengan sendiri.
Hoseok menghentikan tariannya begitu mendengar
komentar tersebut. Grup tersebut berjalan mendekati dan menyapanya. Ternyata
mereka berasal dari sekolah yang sama. Jungkook tidak dapat mempercayai kalau
pemuda berambut merah yang menakutkan ini adalah siswa SMA. Apa dia tidak
mendapat masalah dengan warna rambutnya yang mencolok?
“Yo, Hoseok. Selalu keren seperti biasa ya.” Pemuda
berambut merah menyapa Hoseok dengan menarik lengan masing-masing mendekat dan
membenturkan dada mereka.
“Kau datang bersama keluargamu?” Pemuda yang lain
yang terlihat jauh lebih normal bertanya.
“Ya, aku datang bersama adik-adikku.”
“Aku tidak tahu kau punya satu adik laki-laki
lagi.” Perhatian beralih pada Jungkook.
“Bukan, dia teman Howon dan cinta pertama Hara.”
Hoseok menambahkan di belakang.
“Oppa!”
Hara berseru keras begitu mendengar hal tersebut. Wajahnya berubah merah padam.
Ketiga pemuda itu tertawa bersama.
“Jadi si kecil Hara sekarang sudah merasakan cinta
pertama?” Pemuda berambut mereka menggodanya dan Hara. Itu membuat Jungkook
merasa canggung.
“Sudah-sudah. Kita harus berhenti menggoda adik
perempuanku menjadi dia menjadi kepiting rebus.” Hoseok memberitahu
adik-adiknya dan Jungkook untuk menyapa teman-temannya. Dia juga memperkenalkan
mereka kepada Jungkook.
“Ini adalah Yoongi dan Jin. Mereka dulu teman
sekelasku saat SMP dan kelas satu SMA. Yang ini Sohee, temanku juga. Dan tiga
yang lainnya ....” Hoseok pun tidak mengenal sisa dari grup tersebut termasuk
pemuda yang memberinya apresiasi tinggi sebelumnya.
Mendengar dari nada pemuda asing tersebut, Jungkook
sempat mengira bahwa pemuda tersebut mengenal Hoseok tapi ternyata mereka sama
sekali tidak saling mengenal. Pemuda itu sepertinya orang yang sangat ramah.
“Hyung,
kau sangat keren.”
Jungkook rasa namanya adalah Taehyung. Dia
mengingat nama tersebut ketika mereka diperkenalkan padanya. Pemuda tersebut
memiliki sorot mata yang polos dan senyuman yang membentuk kotak.
“Terima kasih.”
“Apa kau bisa menarikan genre yang lain?”
Baru saja Hoseok hanya menunjukkan beberapa
kombinasi gerakan popping dan krumping.
“Aku tahu sedikit mengenai b-boying. Tapi tidak
terlalu dalam.”
“Keren! Kau tertarik untuk bergabung dengan kru
kami, Hyung?”
“Anak ini mulai lagi.” Pemuda berambut merah
mengerang seperti dia sudah terbiasa dengan sikap terlalu bersemangat Taehyung.
“Kru apa? Kau, Yoongi, dan Jin?” Hoseok menunjuk ke
arah seluruh orang di dalam grup.
“Iya. Kami dipanggil BTS. Anggota kami, Jimin yang
menyarankan nama itu. Keren kan?” Taehyung menunjuk ke arah pemuda yang
mengalihkan pandangannya dengan canggung yang berdiri samping. “Kami baru saja
mempertontonkan lagu pertama kami.”
“Benarkah? Responsnya bagus?”
“Itu bagus sebelum seorang laki-laki kasar
mengganggu momentum kami dan membuat Jimin jatuh pingsan.”
Hoseok mengalihkan pandangannya ke arah Jimin yang
terlihat ingin bersembunyi di suatu tempat.
“Ouch, itu terdengar buruk.”
“Ya, Suga
Hyung berkelahi dengan laki-laki itu sebelum semuanya terhenti karena kami
harus menyelamatkan Jimin.”
Hoseok merasa Taehyung sungguh seorang anak yang
polos ketika dia bercerita pada Hoseok. Mereka baru saja bertemu tapi dia sudah
bersikap seolah-olah mereka adalah teman baik. Hal tersebut terasa menghibur
untuk Hoseok. Dia tidak pernah menyangka Yoongi akan bekerja bersama orang
semacam Taehyung. Tapi sepertinya mereka bergaul dengan cukup baik.
“Jadi, Hyung,
apa kau tertarik bergabung dengan kami? Kau bisa mengajari kami menari. Aku
yakin itu akan membuat pertunjukan lebih sempurna. Sekarang kami hanya punya
Jimin yang bisa menari, tapi dia terlalu pemalu untuk mengajari kami, bahkan
untuk menunjukkan tariannya.”
Sekali lagi Hoseok menangkap Jimin yang terlihat
ingin melarikan diri dari tempat ini namun dia berusaha bertahan. Hoseok
berpikir betapa pemalunya anak itu. Mungkin kejadian tadi akan mengakibatkan
kerusakan yang cukup besar padanya. Dia berharap Jimin dapat bangkit.
“Aku sungguh ingin bergabung, tapi aku tidak yakin
bisa melakukannya.” Sebesar apa pun keinginannya, Hoseok tidak dapat melakukan
itu. Dia sudah memiliki begitu banyak tanggung jawab.
“Jangan paksa dia. Dia melakukan tiga kerja
sambilan sehari. Dia tidak punya waktu lebih untuk bermain denganmu.” Yoongi
maju untuk membuat Taehyung menghentikan pemaksaannya, namun dia gagal.
“Namjoon juga melakukan beberapa kerja sambilan
pula, tapi dia bisa bergabung dengan kru terlebih lagi membuat musik denganmu, Hyung.”
Hoseok menyadarinya baru saja. Tiga anggota yang
baru saja dia kenal hari ini seumuran jika menebak dari cara Taehyung memanggil
mereka.
“Aku minta maaf tapi aku sudah berjanji terlebih
dahulu pada Jungkook untuk mengajarinya dan aku tidak punya waktu kosong lagi
untuk melakukan yang lainnya.” Hoseok merasa tidak enak hati untuk menolak anak
polos seperti Taehyung.
“Kau juga boleh mengajak Jungkook masuk ke dalam
kru. Belajar bersama kan lebih menyenangkan.” Taehyung menoleh pada Jungkook.
“Apa kau tertarik untuk bergabung dengan kami? Apa kau bisa melakukan rap,
menari, atau menulis musik?”
“Aku-“ Jungkook baru saja hendak menjawab tapi
Hoseok memotongnya.
“Dia tidak bisa bergabung. Dia masih SMP.”
“Kenapa? Adik-adikmu pun boleh bergabung dengan
kami.”
“Kim Taehyung, cukup!” Yoongi tidak bisa membiarkan
Taehyung lebih lama lagi. Dia harus menghentikan pemuda tersebut sebelum dia
merekrut semua orang yang ada di Hongdae malam ini.
Taehyung terlihat ingin mengatakan sesuatu namun
ketika dia melihat ekspresi serius Yoongi, dia menghentikan usahanya untuk
membuat Hoseok bergabung dengan mereka. Namun dia masih merasa tidak puas.
“Aku hanya ingin lebih banyak orang bermain bersama
kita.” Dia mengatakan dengan suara yang teramat pelan namun Yoongi
mendengarnya.
“Kau pikir ide mengenai kru ini tempat bermainmu?
Dewasalah, kau kan bukan anak-anak lagi.”
Taehyung terlihat tersinggung dengan komentar
tersebut. Dia membuka mulutnya hanya untuk kembali menutupnya beberapa kali
sebelum memutuskan apa yang akan dia katakan.
“Aku- Kenapa kau begitu serius menanggapi ini, Hyung? Aku kan hanya pikir kita harus
menikmati momen ini dengan melakukan lebih banyak kesenangan.”
“Kalau begitu itu hanya kau saja yang berpikir
seperti itu, aku tidak. Aku sangat serius mengenai kru ini.”
Hoseok dapat merasakan bahwa suasana menjadi
semakin tidak enak dengan pertengkaran Yoongi dan Taehyung. Dia mulai
memikirkan bagaimana untuk meringankan suasana kembali. Setiap orang dari grup
tersebut pun merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut namun mereka tidak
berani untuk menghadapi Yoongi yang sedang marah. Hani pun sepertinya menyadari
situasi serius yang sedang terjadi. Ekspresi wajahnya mulai berubah. Hoseok
menyadari adik perempuannya akan mulai menangis jika dia tidak menghentikan
situasi ini.
“Baiklah. Jangan berkelahi lagi. Aku akan
mengajarimu menari juga.” Hoseok akhirnya menyerah. Dia menoleh pada Jungkook
untuk bertanya, “Jungkook, kau tidak masalahkah dengan lebih banyak orang
bergabung?”
Pemuda tersebut menggeleng kepala.
“Baiklah. Aku akan mengajari semua orang di grup
yang ingin belajar menari di waktu yang sama dengan Jungkook. Masalah selesai
kan? Mengenai kru, aku akan memikirkan ulang mengenai itu tapi hanya jika
Yoongi benar-benar menginginkan aku ada di sana.”
“Benarkah, Hyung?”
Ekspresi wajah Taehyung berubah dengan cepat. Dia terlihat seperti anak-anak
bertubuh besar yang akhirnya mendapatkan mainan yang dia inginkan.
“Yup. Apa kau oke dengan pengaturan ini?”
“Yey! Kau yang terbaik, Hyung!” Taehyung meluncurkan dirinya untuk memeluk Hoseok dengan
senang.
Hoseok tersenyum selagi dia melirik Yoongi. Dia
menyadari reaksi Yoongi mengenai ide tersebut. Pemuda tersebut tidak lagi
terlihat sekesal sebelumnya namun dia masih belum bisa melepaskan emosinya.
Hoseok tahu dia akan membaik nanti.
“Baiklah. Sudah larut. Tidakkah kita harus pulang
sekarang? Kurasa Hani sudah mengantuk.”
Hoseok mengedarkan pandangannya kepada semua orang.
Mereka setuju, hanya Taehyung yang terlihat sedikit ragu. Pemuda tersebut
mencoba untuk menyembunyikan keraguannya agar dia tidak mengucapkan hal lain
yang akan membuat Yoongi marah. Dia tidak ingin Yoongi menendangnya keluar dari
kru. Jika itu terjadi, Taehyung tidak akan memiliki tempat perlindungan lagi.
Dia akan kehilangan dirinya pada kegelapan.
☆☆☆☆☆☆☆
Bangunan tersebut terlihat tidak terurus. Beberapa
lampu di lorong sudah rusak. Puluhan brosur pengantaran makanan tertempel di
pintu, beberapa botol kaca dan sampah-sampah koran diletakkan di depan
masing-masing pintu yang dia lewati, dia sedang berjalan melalui koridor di
lantai tiga. Dia sedang menuju sebuah tempat yang seharusnya dia sebut sebagai
rumah, namun untuk saat ini dia lebih ingin memanggilnya sebuah neraka. Setiap
langkah kaki yang dia ambil terasa semakin berat ketika dia semakin mendekati
tempat tersebut.
Dia tidak ingin langsung berjalan memasuki tempat
itu begitu dia berhenti di depan pintu. Sebaliknya dia menempelkan telinga di
pintu untuk mendengarkan. Apakah ada suara dari dalam neraka ini?
Ya? Tidak? Tidak, kalau begitu ini aman untuknya
memasuki tempat tersebut.
Tempat tersebut terlihat gelap. Tidak ada lampu
yang dinyalakan selain satu di ruang tidur. Dia berjalan perlahan menuju ruang
tidur tanpa membuat suara apa pun. Dan di sana ada seorang wanita paruh baya
yang sedang berbaring di dalam ruangan. Mungkin dia tertidur selagi menantinya
pulang karena wanita tersebut tidak pernah tertidur dengan lampu menyala.
Pemuda itu berjalan mendekati wanita tersebut untuk
mengamati wajah lelah miliknya. Setelah beberapa saat, dia menghela napas
seakan berusaha menghalau isi pikirannya. Dia menarik selimut untuk menutupi
wanita tersebut kemudian berjalan keluar dari ruangan setelah memadamkan lampu
ruangan.
☆☆☆☆☆☆☆
Suka dengan cerita ini? Bisa lanjut baca di postingan dengan tag "Youth of Lily". Kalau nggak sabaran menanti terjemahan bisa langsung mampir ke sini untuk versi Inggrisnya.






















4 comments
Kapan nih kak update-annya? udah nggak sabar
ReplyDeletearghh... wkwkwk... belum sempat translate. baru dari luar kota.
Deleteka updatenya kapan ??? huaaa kangen ceritanya
ReplyDeletesecepatnya ya.
Delete