[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Eight Run

5:39 PM




EIGHT RUN
The curtain falls and I’m out of breath
I get mixed feelings as I breathe out
Did I make any mistakes today?
How did the audience seem?
I’m happy with who I’ve become
That I can make someone scream with joy.
Still excited from the performance,
I stand on the middle of the empty stage, still hot.


“Min Yoongi Haksaeng!”
Seseorang sedang memanggilnya ketika Yoongi berjalan bersama Jin di koridor di depan kelas. Mereka baru saja akan mengunjungi kafetaria sekolah untuk membeli jajanan. Ketika Yoongi membalik tubuhnya dia melihat seorang pria tua dengan rambut yang nyaris botak mengenakan baju olah raga hitam dan menggenggam stik kayu panjang. Itu adalah Park Sem, guru olahraga mereka, konselor, dan juga seseorang yang bertugas untuk mendisiplinkan murid mengenai peraturan sekolah.
Yoongi mendesah diam-diam. Tidak lagi. Apa ini adalah hari buruknya? Seorang guru menegurnya karena tertidur di kelas di pagi hari tadi, dan sekarang Park Sem yang menyebalkan memutuskan untuk bertemu dengannya.
“Ke sini.” Guru tersebut mengayunkan tangan untuk memanggil Yoongi.
Selagi menggaruk belakang kepalanya Yoongi berjalan menuju guru tersebut. Jin berdiri di tempatnya mengawasi temannya mendekati guru olahraga mereka. Yoongi tidak takut pada guru tersebut seperti para siswa lainnya. Dia hanya tidak menyukai sikap keji juga perlakuannya yang timpang terhadap siswa berdasarkan jenis kelamin. Pria tua tersebut bersikap sangat baik kepada perempuan, terutama pada siswi yang berwajah cantik.
“Apa yang bisa saya bantu, Park Sem?” Yoongi tidak benar-benar bermaksud mengatakannya namun dia hanya sekadar mengucapkannya.
“Berapa kali aku harus mengatakan padamu untuk memperbaiki warna rambutmu?” Guru tersebut mengayunkan stik kayunya hingga beberapa kali nyaris menghantam kepala Yoongi selagi dia berbicara.
Tentu saja Yoongi sudah menebaknya. Jika Park Sem memutuskan untuk melakukan pembicaraan dengannya, kemungkinan besar itu adalah mengenai warna rambutnya.
“Seperti tidak pernah sama sekali?”
Yoongi nyaris memutar matanya jika dia tidak mengingat bahwa pria tersebut hampir setua ayahnya. Dia mencoba menahan kesabarannya. Dia tahu tidak ada gunanya bertengkar dengan guru yang bebal. Dia, juga guru-guru lainnya, tidak akan pernah paham. Mereka hanya akan melakukan sesuatu berdasarkan peraturan-peraturan bodoh itu. Peraturan yang bahkan mereka pun tidak paham mengapa mereka dibuat. Mungkin ini dibuat dengan tujuan untuk membuat produk berstandarisasi. Tempat yang disebut sekolah ini lebih terlihat seperti sebuah pabrik untuk memproduksi robot yang disebut siswa. Mereka tidak mampu menghadapi perbedaan.
“Mau jadi apa kau besar nanti jika kau terus bersikap seperti ini?”
“Tidak usah khawatir mengenai hal itu. Saya tidak akan meminta bantuan Anda mengenai hal itu. Saya bisa menangani diriku sendiri.”
“Sikap macam apa ini, huh?” Guru tersebut mulai menusukkan ujung stik kayu kepada tubuh Yoongi.
“Saya hanya menyatakan sebuah fakta saja.” Yoongi mencoba menahan dirinya agak tidak terjatuh ke belakang karena dorongan tersebut. Pikirkan mengenai hal yang membuatmu bahagia, Yoongi.
“Kau berani mendebatku?”
Yoongi akan ingin menertawai kalimat tersebut jika saja Park Sem tidak terlihat seperti ingin menelannya hidup-hidup. Baiklah, tak peduli apa pun dia akan tetap melakukannya jika pria tua tersebut terus-terus mengatakan hal yang konyol. Yoongi sedang memikirkan betapa besarnya ego para orang dewasa. Mereka tidak akan pernah mau mendengar siapa pun yang lebih muda dari mereka mengatakan sesuatu yang akan mengempiskan ego mereka. Orang-orang dewasa tidak akan pernah mengakui bahwa mereka bisa saja salah pada suatu titik. Mereka tidak ingin melihat kenyataannya. Setiap kali seseorang yang lebih muda membuat mereka melihatnya, mereka akan mengatakan generasi itu tidak punya sopan santun.
“Mereka seharusnya sudah menghukummu atau menendangmu keluar dari tempat ini sejak lama. Kau ini contoh yang buruk untuk siswa lainnya.”
“Kalau Anda merasa itu adalah ide yang bagus, silakan saja lakukan hal tersebut.” Yoongi mengendikan bahunya. Bukan karena dia tidak lagi peduli dengan pendidikan atau masa depannya. Hanya saja dia tidak peduli dengan tempat ini.
“Hanya karena orang tuamu punya kekuasaan di sini bukan berarti kau bisa melakukan apa pun yang yang kau inginkan di sini.”
“Oh, jangan khawatir. Orang tua saya kali ini tidak perlu melakukan apa pun untuk membantu saya. Saya bisa mengatasi masalah saya sendiri.”
“Terus saja melawan perkataanku, aku akan memastikan kau mendapat hukuman berat dariku.”
“Coba saja, kalau Anda cukup berani melakukannya.”
Guru tersebut telah mengangkat tinggi tongkat kayunya. Dia hampir menghantam pemuda di hadapannya dengan benda tersebut. Yoongi tidak gentar sedikit pun ketika dia melihat hal tersebut. Pada akhirnya, dia tahu pria tersebut tidak akan berani untuk menyentuhnya. Pengaruh orang tuanya lebih besar daripada yang dapat pria tersebut lakukan. Yoongi merasa muak dengan sikap-sikap palsu itu. Di depan mereka yang memiliki kekuasaan, para orang-orang palsu itu bisa saja selicin lendir, namun di belakang mereka, orang-orang tersebut akan mengutuk mereka habis-habisan.
“PARK SEM!” Seorang pria tua lainnya meloncat masuk di tengah pertengkaran tersebut. Itu adalah Kepala Sekolah. “Apa yang Anda lakukan di sini?”
“Saya sedang memberi pelajaran untuk anak ini. Dia tidak mendengar saya apalagi mengikuti peraturan sekolah.”
“Anda tidak ingat dia siapa?” Pria tersebut berbisik gugup.
“Hanya karena orang tuanya adalah penyumbang terbesar untuk sekolah ini, bukan berarti dia bisa melakukan semua hal seperti yang dia inginkan. Sekolah punya peraturan. Saya sedang mendisiplinkannya.”
“Dan Anda sudah tidak mau lagi pekerjaan ini?”
Wajah guru tersebut berubah kaku sekejap ketika dia mendengar peringatan dari sang kepala sekolah.
Inilah kekuatan orang tuanya. Sebesar apa pun Yoongi membencinya, dia harus mengakui bahwa kekuasaan orang tuanya mengambil porsi besar dalam melindunginya untuk setiap kelakuan buruk yang dia lakukan.
“Yoongi, minta maaf pada Park Sem.” Pak Kepala Sekolah mengatasi situasi untuknya lagi.
Yoongi mengangkat alis matanya. Sang Kepala Sekolah kembali gentar.
“Baiklah, kau boleh pergi. Jangan terlibat dalam masalah lagi.”
Sesekali Yoongi diam-diam berharap bahwa mereka akan memperlakukannya seperti siswa-siswa yang lain. Tapi, apa artinya persamaan hak? Apa artinya keadilan? Tidak akan yang bersikap adil. Yoongi tidak dapat yakin bahwa diperlakukan seperti siswa lain akan membuatnya merasa lebih baik.
“Saya minta maaf karena sudah bersikap tidak sopan pada Anda, Park Sem.” Yoongi mengucapkannya meskipun Pak Kepala Sekolah tidak akan memaksanya untuk melakukan jika dia tidak ingin mengatakannya. Bukan karena dia menyesali yang telah dia katakan. Hanya saja, dia tahu bahwa dia telah melukai ego sang guru dan itu adalah segalanya untuk pria tua tersebut. Namun, bagaimanapun itu tidak berarti bahwa dia akan melakukan seperti harapan dari guru tersebut.
Yoongi berjalan pergi dari tempat kejadian tersebut dengan sikap cuek. Dia memandangi sekelilingnya. Beberapa siswa sedang menonton kejadian tersebut, seperti biasa. Menjadi spektator, kemudian setelah pertunjukan selesai mereka akan menyebarkan berita tersebut seakan semua orang harus mengetahuinya.
Yoongi memelototi mereka. Para siswa itu segera beranjak ke tempat lain atau melakukan kembali hal yang mereka lakukan sebelumnya. Tapi ada seorang siswa yang tidak melakukan hal yang sama. Pemuda tersebut berdiri dengan dua temannya, balas memandangi Yoongi seakan dia ingin menantangnya. Yoongi ingat pemuda tersebut dan para pengikutnya. Mereka adalah kelompok yang berpapasan dengannya di bawah tangga sebelum dia melihat Namjoon untuk kedua kalinya setelah pidato pembukaan semester baru.
“Ayo pergi.” Yoongi mendengus selagi memalingkan wajahnya dari pemuda tersebut kepada Jin yang masih menantinya.
“Apa yang kau pikirkan sebenarnya?”
Seperti biasa, Jin tidak menyukai ketika Yoongi menyebabkan masalah dengan Park Sem. Dia tidak dapat memahami mengapa Yoongi selalu melawan Park Sem setiap kali guru tersebut mencoba mendisiplinkannya. Yoongi tidak seperti itu sebelumnya. Itu dimulai pada awal periode SMA mereka.
Suatu hari Yoongi terlibat dalam perkelahian hebat dengan seorang guru yang menyebabkan pria tersebut harus dirumahsakitkan selama beberapa bulan. Sewaktu guru tersebut sembuh, tiba-tiba saja dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari sekolah. Kemudian, Yoongi muncul di sekolah dengan rambut merah terangnya dan tidak pernah mengatakan alasan sesungguhnya mengapa dia berkelahi dengan guru tersebut. Jin tahu bahwa Yoongi tidak akan pernah melakukan sesuatu seperti itu bahkan meskipun dia memiliki temperamen yang tinggi. Dia bukanlah tipe yang akan berkelahi dengan seseorang yang lebih tua, terlebih lagi seorang guru.
Tapi Jin tidak dapat mendapat jawaban tersebut dari Yoongi. Pemuda tersebut tidak akan mengatakan sepatah kata pun setiap kali Jin bertanya.
☆☆☆☆☆☆☆
           
“Kurasa Nami lebih cantik. Dia juga cerdik.”
“Tapi Purin lebih manis.”
Di suatu sudut di kiri terdapat Taehyung dan Jungkook yang sedang berdebat mengenai suatu karakter anime yang mereka sukai. Jin rasa dua orang termuda dari grup ini sedang membicarakan film terbaru dari One Piece yang baru saja dirilis namun topik segera beralih ke arah karakter perempuan di dalam anime tersebut. Mereka berbicara dengan sangat cepat. Jin tidak dapat memahami apa yang sesungguhnya mereka bicarakan.
“Berapa kali aku harus bilang padamu? Jangan gunakan terlalu banyak sumpah serapah.”
“Itu memberi kesan yang lebih kuat untuk lagi, Hyung.”
Di sisi lain, ada Yoongi dan Namjoon sedang bekerja dengan headphone di masing-masing telinga mereka. Headphone mereka terhubung pada dual jack untuk headphone jadi mereka bisa mendengarkan suara yang sama. Musik masih dapat terdengar dengan samar dari headphone.
Melalui pintu yang terbuka, di luar ruangan, di ruang terbuka, Jin dapat melihat Hoseok sedang menari diiringi musik yang dia mainkan melalui ponsel.
“Jimin, ayo, tunjukkan kemampuan dance-mu.”
Ada Jimin pula yang hanya memandang kosong pada Hoseok yang sedang menari. Sesekali dia terlihat berdebat dengan dirinya untuk melakukannya namun sesuatu menahannya untuk melakukannya. Jin bisa melihat diam-diam Jimin mengetukkan kakinya seirama dengan musik. Jin merekam aksi kecil itu di dalam kamera digital di tangannya.
“Dia punya tiga mata, satu di dahi. Itu terlihat sedikit mengerikan.” Jungkook dan Taehyung masih saja belum menyelesaikan perdebatan mereka.
“Kalau begitu, Nami itu....” Taehyung tidak dapat menemukan celaan lain untuk membalas. Dia menoleh ke sisi lain ruangan. Untuk mencari pertolongan. “Suga Hyung, yang mana yang kau rasa lebih menarik? Purin atau Nami?”
“Apa yang kau sedang bicarakan? Berhenti menggangguku. Aku sedang bekerja.”
“OP, Hyung. Jangan bilang kau tidak pernah mengikuti anime itu.”
“Aku nonton tapi kenapa aku harus merasa karakter dua dimensi itu menarik?”
“Hei, Jungkook, kau sudah istirahat terlalu lama. Ayo latihan lagi. Pelajari gerakan baru.” Hoseok memanggil dari luar.
Jungkook berdiri dan setengah berlari keluar.
“Tunggu, aku juga mau belajar.” Taehyung segera mengikuti Jungkook.
“Ngapain kau belajar juga, Hyung? Dance-mu terlalu buruk!”
“Itu artinya aku harus berlatih lebih banyak.”
“Menyerah sajalah.”
Jungkook dan Taehyung bercanda dengan saling mendorong satu sama lain selagi mereka melewati pintu. Mereka membuat keributan ketika melakukannya. Jin khawatir bahwa tetangga Namjoon akan membuat komplain mengenai mereka.
Jin tidak tahu sejak kapan kekacauan ini dimulai. Di sini, di kamar sewaan di atas atap milik Namjoon, tujuh dari mereka berkumpul di dalamnya. Mereka berpindah dari ruang musik di sekolah ke tempat Namjoon yang sempit karena Jungkook tidak bisa berkunjung ke gedung SMA terlalu sering tanpa dipertanyakan oleh penjaga gerbang sekolah. Di samping itu, Yoongi merasa untuk terus-terusan meminta izin kepada guru itu menyebalkan.
Bukannya Hoseok dan Jungkook secara resmi telah bergabung dengan kru ini namun itu hanya terjadi seperti itu. Setelah hari mereka melakukan pertunjukan, Hoseok dan Jungkook mulai lebih sering bergaul dengan kru. Hoseok mengajari Jungkook dan Taehyung untuk menari di tempat dan waktu yang sama. Di waktu lain, mereka tidak akan melakukan apa pun selain menikmati waktu kosong bersama. Tapi seringnya Jungkook dan Taehyung berdebat dengan satu sama lain. Perdebatan itu dimulai karena Taehyung memperlakukan Jungkook seperti bayi karena dia adalah yang termuda di dalam grup dan itu membuat pemuda yang lebih muda itu kesal.
“Dia hanya lebih muda setahun dari kita dan kita baru saja memasuki SMA tahun in. Kau tidak berbeda darinya.” Itu adalah komentar Namjoon untuk menghentikan perdebatan tiada akhir dari dua orang tersebut.
Semua hal menjadi lebih berisik ketika mereka berdua bertemu. Sepertinya Taehyung mendapat seseorang yang mampu mengimbangi keantikannya. Di luar penampilan penuh talenta dan cerdas yang Jungkook tunjukkan, dia masihlah seorang anak-anak. Tapi dia tidak suka diperlakukan seperti seorang bayi, meskipun dia adalah yang termuda. Sesekali dia akan mencela mereka yang lebih tua karena memperlakukannya seperti itu.
Dua tambahan terbaru dalam grup beradaptasi dengan sangat baik, tidak seperti seseorang yang merupakan anggota awal, Park Jimin. Jin mengkhawatirkan pemuda tersebut. Dia terlihat seperti kembali ke dirinya yang sebelumnya. Seseorang yang Jin lihat pertama kali. Menjadi kaku dengan sekelilingnya dan menjaga dirinya agar tidak terlihat oleh orang lain. Tapi, Jin dapat melihat diam-diam Jimin menginginkan untuk keluar dari kungkungan sempitnya. Hanya saja sesuatu di dalam kepalanya menahannya dari melakukan hal tersebut. Jin tidak tahu pasti apa itu. Dia tidak dapat menarik informasi tersebut dari Jimin. Pemuda tersebut sangat tertutup mengenai dirinya, terlebih lagi mengenai masa lalunya. Dia tidak pernah menceritakan pada kru mengenai alasan perpindahan sekolahnya di tengah semester, tapi Jin pikir mungkin saja sesuatu telah terjadi sebelum perpindahan itu. Sesuatu yang menyebabkan kerusakan berat pada Jimin. Sesuatu yang mengurungnya di dalam dunia kecilnya.
Hyung, ayo kita pergi ke pantai akhir pekan ini! Aku mau main ke pantai selatan.”
Tidak memakan waktu lama untuk Taehyung merasa bosan dengan latihan tarinya. Pemuda tersebut memiliki atensi yang singkat. Dia tidak dapat bertahan melakukan suatu aktivitas dalam waktu yang lama. Hal satu-satunya yang dapat dia lakukan untuk waktu yang lama hanyalah mencoret-coret di buku catatannya ketika tidak ada yang ingin menemaninya bermain.
Di saat itu, Jin merekamnya berlari masuk ke dalam ruangan untuk bertanya pada Jin dan Yoongi untuk menyetujui idenya.
“Apa kau sudah gila? Ini musim gugur.” Yoongi memuntahkan sumpah serapah.
“Kalau begitu kita semakin harus pergi ke pantai sebelum musim dingin datang. Laut musim dingin juga keren tapi suhunya terlalu dingin untuk bermain dengan air. Ayolah, Suga Hyung, Jin Hyung. Kita bisa pergi Sabtu pagi dan pulang sebelum Senin. Ayo kamping semalam di sana.”
“Pergi saja sendiri. Aku tidak akan menjejakkan kakiku di pantai di musim gugur.” Yoongi menunjukkan ekspresi kaku.
Jin terkekeh. Dia tahu itu karena Yoongi berpikir bepergian jauh itu menyebalkan. Jika mereka akan pergi ke pantai selatan seperti yang disarankan Taehyung, itu akan memakan waktu sekitar 4-5 jam dengan menaiki KTX. Yoongi akan berpikir itu membuang waktu ketika dia bisa melakukan hal lain daripada duduk di dalam kereta tanpa melakukan apa pun. Tapi, pada akhirnya Yoongi sesungguhnya tidak akan melakukan sesuatu yang penting selain tidur sepanjang waktu.
“Ayolah, Hyung. Kau setuju denganku, kan?” Kali ini Taehyung meminta dukungan Jin.
Mata Jin melebar. Dia tidak ingin menjadi orang yang menolak pemuda tersebut. Jin menatap Namjoon untuk pertolongannya, tapi pemuda tersebut hanya mengawati Taehyung melakukan hal yang dia inginkan.
“Ayolah, Hyung. Ayo main di Pantai Jinha.” Taehyung menatap Jin dengan pandangan mata sebulat anak anjingnya. Itu membuat Jin merasa tidak nyaman.
“Apa kau baru saja bilang ‘pantai’?” Hoseok berjalan masuk ke dalam ruangan bersama Jimin dan Jungkook.
“Iya, PANTAI! Hyung, kau juga mau bergabung?” Taehyung mengangkat tinggi kedua tangannya.
Jin bisa melihat Jimin berjengit ketika dia mendengar Taehyung mengatakan “PANTAI”. Jin tidak yakin apakah itu karena suara Taehyung mengejutkannya atau dia tidak menyukai ide untuk pergi ke pantai. Tapi, lagi-lagi pemuda tersebut tidak pernah mengutarakan pendapatnya.
“Aku mau pergi ke pantai. Ayo pergi!” Jungkooklah yang pertama kali setuju dengan ide Taehyung.
“Apa kau bisa?” Hoseok mengangkat alisnya. Dia mempertanyakan apakah Jungkook bisa mendapat persetujuan dari ibunya untuk bergabung dengan mereka.
Jungkook meragu. Rasanya seperti Hoseok selalu tahu sesuatu setiap kali Jungkook melakukan sesuatu. Seperti dia mengetahui kalau untuk Jungkook mendapatkan izin bermain itu adalah hal yang nyaris mustahil. Tapi Jungkook ingin bergabung dalam perjalanan ini.
“Tentu saja, aku boleh kok jalan-jalan.” Jungkook berbohong. Dia berharap kali ini Hoseok tidak menangkap kebohongannya. “Ayolah, Hyung. Aku juga butuh liburan. Aku bosan belajar terus. Ini tidak akan menjadi masalah untukku sama sekali. Kau juga bukan kakak laki-lakiku, kenapa kau terus saja bersikap seperti itu.”
“Untuk informasimu, kau baru saja memanggilku Hyung.” Hoseok membalasnya jeli. Mereka terdiam untuk sesaat, hanya sorot mata mereka yang melakukan pembicaraan. Tapi kemudian Hoseok menyerah. “Baiklah, ayo pergi. Tapi kau sungguh harus mendapat izin dari ibumu terlebih dahulu.”
“Oke.” Jungkook memutar matanya.
“Kalau begitu, sudah dipastikan Jungkook ikut. Jin Hyung dan Hoseok Hyung juga ikut. Semua orang harus ikutan. Semakin banyak semakin menyenangkan. Tidakkah kau harus membawa adik-adikmu juga?” Taehyung bertanya pada Hoseok, mengetahui bahwa pemuda tersebut tidak biasa meninggalkan keluarganya dalam situasi apa pun.
“Howon mungkin ingin ikut. Sementara Hara dan Hani, kurasa bukan ide bagus untuk membawa mereka. Mereka akan merasa tidak nyaman untuk berkumpul dalam kelompok yang hanya berisi anak laki-laki semua.”
“Kalau begitu, bawa Howon juga. Jadi Jungkook akan punya teman.”
Taehyung telah bersemangat lebih dahulu. Sementara Yoongi dan Namjoon bahkan tidak memedulikan percakapan tersebut. Mereka telah kembali ke pekerjaan mereka sebelumnya. Tapi seluruh kru percaya mereka akan ikut jika semua orang pergi. Dan Taehyung akan membuat setiap orang bergabung seperti yang dia inginkan. Dia tidak akan membiarkan siapa pun tidak ikut. Bahkan tidak untuk Jimin yang terlihat tidak ingin pergi. Taehyung bisa menjadi sangat keras kepala ketika dia menginginkan sesuatu. Sesekali itu membuat dia tidak menyadari ketidaksetujuan orang lain. Dia hanya memikirkan bahwa jika mereka akan melakukan hal yang menyenangkan, maka mereka harus melakukannya bersama-sama.
Semakin banyak semakin menyenangkan.
Itu adalah sesuatu yang Taehyung selalu katakan setiap kali. Semakin banyak orang bergabung akan semakin menyenangkan. Tidak ada yang akan menjadi kesepian atau merasa ditinggalkan.
☆☆☆☆☆☆☆

Pada penghujung malam, anggota kru satu per satu mulai meninggalkan tempat tersebut, mulai dari Hoseok dan Namjoon yang harus melakukan kerja sambilan mereka. Kemudian Yoongi dan Jin memutuskan tidak baik berada di tempat yang tidak ada pemiliknya. Begitu pula dengan Jimin dan Jungkook yang sudah harus pulang ke rumah. Ketika semua orang sudah memiliki tujuan masing-masing, tinggallah Taehyung sendiri yang tidak begitu menginginkan untuk pulang ke rumah. Dia mencoba untuk mengusir perasaan tersebut namun gagal dalam melakukannya.
Saat itu, semakin dia mendekati tempat tujuannya, di lorong rumah susun yang kumuh, di lantai tiga untuk lebih tepatnya, sesuatu yang berbeda dari Taehyung yang biasa kita ketahui terjadi. Dia sedang bersiul dengan bersemangat memikirkan apa yang harus dia lakukan di akhir pekan, dan kemudian setelah dia memasuki area lantai tiga ekspresi wajah Taehyung berubah 180 derajat, seperti koin yang dilempar dan terjatuh di sisi yang berbeda dari sebelumnya. Ekspresi wajahnya menggelap sementara langkah kakinya semakin terasa memberatkan.
Pertunjukan telah berakhir.
Tidak ada siapa pun di sekelilingnya. Itu aman untuknya untuk melepaskan topeng ceria yang selalu dia kenakan setiap kali bertemu dengan seseorang. Taehyung berjongkok, menenggelamkan kepalanya di antara dua siku lengannya. Dia merasa sangat lelah.
Pada saat itu, hanya ada dirinya dan pemikirannya sendiri.
Pada momen kesendirian itu, sebuah sosok akan menatapnya dari sudut di dalam benaknya, di dalam kepalanya. Itu membuatnya sangat tidak nyaman. Sebuah perasaan bersama menyeruak ke permukaan.
Pergi!
Taehyung menggeram padanya namun sosok kecil itu hanya berpindah ke samping dan kembali mengawasinya. Rasanya seperti dia sedang mengawasi dan menanti saat yang tepat untuk menyakiti Taehyung dalam berbagai cara yang mungkin diwujudkan.
Dasar Jalang! Kemarikan uangku!
Sebuah suara yang keras diikuti suara benda-benda terjatuh dari suatu ketinggian terdengar dari sebuah tempat di ujung koridor. Suara tersebut sangat berisik. Itu tidak memberikan Taehyung sedetik lagi untuk menjadi sendirian. Dengan tarikan napas dalam terakhir Taehyung kembali berdiri.
Kemudian, dia meluncur memasuki pintu.

☆☆☆☆☆☆☆

Suka dengan cerita ini? Bisa lanjut baca di postingan dengan tag "Youth of Lily". Kalau nggak sabaran menanti terjemahan bisa langsung mampir ke sini untuk versi Inggrisnya.  Versi wattpad bisa dicari di sini

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide