[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Thirteenth Run
7:08 PM
THIRTEENTH RUN
Why can I still not give up on you?
I hold onto the withered memories.
Is it greed?
The lost seasons I try to restore,
I hold onto the withered memories.
Is it greed?
The lost seasons I try to restore,
I try to restore them
Terdapat
seorang anak laki-laki berdiri di luar rumah. Dia sedang menatap erat ke dalam
melalui jendela. Di dalam rumah, terdapat seorang remaja putra berusia sekitar
enam belas tahun dan seorang pria. Mereka sedang berteriak pada satu sama lain.
Anak laki-laki itu tidak dapat memahami apa yang sedang mereka perdebatkan. Sangat
mengganggu dan dia ingin menutup telinga.
Tiba-tiba
saja terdengar suara yang lebih keras. Seseorang terjatuh dan mendorong serta
furnitur besar ketika dia terjebab. Itu menyebabkan suara decitan yang sangat
berisik. Pemuda itulah yang tergeletak di atas lantai dengan setitik darah di
ujung bibirnya.
Situasi
berubah. Masih dengan anak laki-laki kecil itu di luar dan pemuda berusia enam
belas tahun di dalam rumah. Hanya saja kali ini, pemuda yang lebih tua itu
sendiri di dalam ruangan tersebut. Wajahnya menunjukkan jejak lebam yang sudah
nyaris pudar. Dia memegang sebuah pisau berbentuk lurus ke arah lengan kirinya.
Dan darah telah mengalir dari lengan satunya. Ada beberapa aliran yang mengalir
turun dari sekitar dua pertiga bagian di atas pergelangan tangan. Warna merah
di mana-mana.
Pemuda
yang lebih tua itu mendesiskan rasa sakit, mengeratkan gigi. Dia mengedarkan
pandangan matanya seakan dia sedang mengucapkan selamat tinggal pada
sekelilingnya. Itu adalah saat ketika mata mereka bertemu. Pemuda yang lebih
tua itu meletakkan satu jari di atas bibir sambil tersenyum sebelum dia berjalan
keluar dari ruangan. Dia menyuruh anak laki-laki yang lebih muda itu untuk
tidak mengatakan pada siapa pun.
Saat
itulah anak yang lebih kecil itu menyadari sesuatu yang salah telah terjadi. Pertemuan
pemikiran itu ke dalam benaknya mengirimkan sengatan dingin ke sekujur tubuh
anak kecil itu. Tubuh mungilnya bergetar hebat. Pandangannya mengabur. Dunia di
depan matanya bercampur aduk menjadi sesuatu yang tak lagi dapat dia identifikasikan.
Kenangan akan pertemuan mata dengan pemuda lebih tua itu terus berulang di
dalam benaknya.
Merah.
Adegan tersebut silih berganti dengan gambaran akan darah yang mengalir dari
pembuluh arteri pemuda tersebut.
Merah.
Kemeja putih yang pada hari itu dikenakan pemuda tersebut ternoda oleh warna
merah darah.
Merah.
Bercak-bercak darah kecil dan besar berserakan di atas lantai. Mereka ada di
mana-mana.
Anak
laki-laki itu merasakan ada gumpalan yang tertahan di tenggorokannya. Dia
dipenuhi oleh air mata. Dia ingin kabur dari tempat itu.
Taehyung terbangun dengan keringat dingin memenuhi
punggungnya. Dia menarik napas tajam selagi duduk tegak, mencoba menghilangkan
gambaran dari mimpinya. Dia terbatuk berkali-kali seakan air liurnya telah
mencegat saluran pernapasannya. Suara bising itu membangunkan Namjoon yang
tidur di tenda yang sama dengannya.
“Apa kau baik-baik saja, Taehyung?” Namjoon duduk
untuk membantu Taehyung menenangkan batuknya.
Taehyung menggerang rendah dan menggeliat hingga ke
ujung tenda. Matanya bergerak liar. Taehyung berteriak dengan sangat pilu selagi
mencoba membungkam suara tersebut dengan tangannya. Namjoon mencoba menyadarkan
pemuda tersebut namun Taehyung terlihat tidak menyadari sekelilingnya.
“Taehyung ... Kim Taehyung ....” Namjoon berteriak
keras namun tetap tidak ada respons. Tubuh Taehyung bergetar kuat seperti
sedang mengalami kejang. Namjoon memutuskan untuk berlari keluar dari tenda
untuk meminta bantuan dari tenda lain.
“Hyung,
Taehyung bersikap aneh.” Dia berlari ke tenda Hoseok di samping. Di sana
terdapat Jungkook dan Jimin pula. Mereka bertiga terbangun nyaris di saat yang
bersamaan. Mereka pun mendengar teriakan Taehyung.
Hoseok adalah yang pertama kali keluar dari tenda,
diikuti oleh Jungkook dan Jimin. Begitu mereka tiba di sana, mereka melihat
Taehyung telah menjadi tenang, jika sedang menangis dapat dihitung sebagai
kembali tenang. Hoseok mendekati pemuda yang sedang menangis tersebut dan
memeluknya. Taehyung tidak berhenti menangis.
“Apa yang terjadi di sini?”
Yoongi dan Jin adalah yang terakhir sampai di
tempat tersebut. Mereka terpaku ketika melihat Taehyung menangis di dalam
pelukan Hoseok. Pemandangan yang asing dari Taehyung yang menangis membuat
ngeri setiap orang yang hadir di tempat tersebut. Rasanya tidak biasa untuk mereka
melihat Taehyung bersikap seperti ini. Jika itu adalah Jimin, mungkin mereka
sudah dapat memahami situasinya. Namun mereka tidak dapat memecahkan apa yang
sesungguhnya terjadi pada Taehyung.
“Merasa lebih baik?” Hoseok bertanya pelan setelah
beberapa menit berlalu dan Taehyung melepaskan diri dari pemuda yang lebih tua.
Pemuda yang ditanya itu mengangguk sebagai jawaban.
“Apa yang terjadi?” Yoongi kembali bertanya.
“Taehyung mengalami mimpi buruk kurasa.” Kali ini
Hoseok menjawab pertanyaan Yoongi. Dia telah terbiasa dengan situasi seperti
ini di rumah. Sesekali Hani akan membangunkannya di tengah malam ketika dia
mengalami mimpi buruk. Itulah sebabnya Hoseok adalah orang yang paling tenang
dalam bereaksi terhadap situasi tersebut.
“Memangnya dia anak-anak?” Yoongi tidak dapat
mempercayai jawaban tersebut. Jin menyikutnya.
“Apa kau ingin bercerita?” Jin bertanya.
Taehyung menggeleng kuat. Dia tidak dapat
membiarkan dirinya kembali mengingat kejadian di dalam mimpinya lagi.
“Baiklah kalau begitu. Apa kau baik-baik saja
sekarang?” Jin kembali mengkonfirmasi.
“Aku baik-baik saja. Maaf telah membangunkan
kalian.” Suara Taehyung menjadi serak setelah menangis begitu lama.
“Sudah nyaris subuh. Kita bereskan saja tenda dan
pulang. Kurasa kalau lebih lama lagi berada di sini aku akan menjadi semakin
gila.” Yoongi menguap dan berpindah keluar dari tenda Namjoon dan Taehyung.
Begitu dia memasuki tendanya sendiri, Yoongi
mengusap wajahnya dan melemparkan barang-barang di dalam dengan frustrasi.
Yoongi mungkin terlihat sangat kuat di luar namun sesungguhnya dia pun merasa
kewalahan melihat seluruh situasi yang terjadi sejak semalam. Itu membuatnya
merasa sangat buruk ketika dia tidak dapat melakukan sesuatu untuk membantu
masalah setiap orang.
“Apa yang kau lakukan, Yoongi? Apa kau baik-baik
saja?” Jin yang memasuki tenda secara tidak sengaja melihat tindakan tersebut.
“Tidak ada.” Yoongi bangkit.
“Apa kau punya masalah yang kau ingin ceritakan
juga?” Jin mencoba menyentuh pundak Yoongi, namun pemuda tersebut memberontak
keras.
“Aku baik-baik saja. Kenapa aku harus punya masalah
untuk kukatakan?”
“Tapi kau terlihat pucat, Yoongi.”
“Aku memang
punya warna kulit yang pucat.”
“Ya sudah kalau tidak ada yang salah. Kenapa juga kau
merasa tegang hanya karena pertanyaan yang sederhana?”
Jin berpindah ke sisi lain dari tenda untuk
merapikan barang-barangnya. Sikap Yoongi membuatnya kesal pula.
Siapa yang menyangka sebuah cara jalan-jalan
sederhana yang mereka rencanakan akan menghasilkan sesuatu yang mengerikan
seperti ini. Setiap orang merasa lebih lelah daripada sebelumnya, secara fisik maupun
mental. Hal hanya semakin menjadi asing. Semua orang menyimpan rahasia. Sebuah
rahasia yang besar.
☆☆☆☆☆☆☆






















0 comments