[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Ninth Run
6:59 PM
NINTH
RUN
Pretending
not to be lonely,
Pretending
not to be in pain
Pointlessly
pretending to be okay,
Pointlessly
pretending to be strong
Don't climb
over the wall I've built in front of me
I'm the
island in this vast ocean. Don't abandon me
Taehyung
tidak datang ke sekolah.
Namjoon menyadari bahwa pemuda tersebut sering kali
tidak muncul di sekolah. Kali ini sudah selama tiga hari. Terkadang dia akan
absen untuk satu atau dua hari dan di hari lain untuk sepanjang minggu itu.
Setiap kali Namjoon bertanya padanya mengapa dia tidak datang sekolah, dia
hanya akan mengatakan bahwa dirinya sakit atau keluarganya sakit dan dia harus
mengurus keluarganya tersebut, kemudian dia akan beralih dari topik
pembicaraan.
Namjoon tidak terlalu tahu mengenai keluarga
Taehyung meskipun mereka adalah teman sebangku. Hal satu-satunya yang dia
ketahui hanyalah Taehyung tidak memiliki kakak laki-laki atau perempuan.
Taehyung adalah seseorang yang sangat ceria. Dia mampu membicarakan mengenai
banyak hal di sekitarnya tapi dia sangat jarang mengatakan sesuatu mengenai
keluarganya. Yah, bukan berarti Namjoon peduli mengenai hal tersebut.
Setidaknya pada waktu-waktu yang jarang terjadi
ini, Namjoon merasa lega bahwa dia tidak harus bertahan untuk mendengarkan
Taehyung berbicara. Sesekali Namjoon benar-benar ingin menyingkirkan pemuda
tersebut dari dunianya tapi tak jarang pula dia akan merasa bahwa rasanya cukup
baik untuk membiarkan Taehyung berada di sisinya dengan kebisingannya.
Setidaknya pemuda tersebut adalah sebuah pengingat untuk Namjoon bahwa dunia
ini tidaklah sepenuhnya buruk. Masih ada seseorang yang masih sangat murni
seperti Taehyung. Terkadang pemikiran pemuda tersebut mengejutkannya.
“Hei, Jimin.”
Namjoon mendekati Jimin yang duduk di baris tengah
di dalam kelas mereka, baris yang dekat jendela luar. Jimin terlonjak sedikit
ketika Namjoon memanggilnya. Mungkin karena dia tidak terbiasa dengan Namjoon
datang padanya. Biasa Taehyunglah yang akan melakukan hal tersebut. Namjoon pun
merasa janggal mengenai situasi ini. Mengapa dia mendekati Jimin? Bukankah dia
tidak bersosialisasi dengan siapa pun di sekolah? Mungkin ide mengenai kru yang
terus-terusan Taehyung cecarkan padanya mulai merasuki Namjoon. Dia menjadi
terbiasa dengan keberadaan anggota lain di sekitarnya.
“Mau pergi ke kantin?” Karena dia sudah terlanjut
memanggil pemuda tersebut, Namjoon memutuskan untuk melanjutkan percakapan dan
itu juga karena Jimin menatapnya dengan keingintahuan.
“Denganku?”
“Ck, tentu saja denganmu. Kenapa aku bertanya kalau
aku tidak mau pergi denganmu?” Namjoon mendecak lidah.
“Baiklah.” Jimin berdiri dari kursinya dengan
enggan, meskipun sesungguhnya dia tidak terlalu ingin makan.
Mereka berdua keluar dari ruang kelas dengan
berjalan bersisian. Rasanya terasa sedikit janggal untuk melihat mereka
bersama. Namjoon dan Jimin adalah dua orang yang memiliki kepribadian yang
sangat bertolak belakang. Tapi ada satu kesamaan antara mereka, itu adalah
mereka tidak berhubungan dengan orang-orang di sekolah. Namun itu membuat
kombinasi ini semakin aneh. Mereka bahkan tidak saling berbicara pada satu sama
lain ketika menuju kantin dan ketika mereka berbaris untuk pembagian makanan
dari koordinator makan siang.
Pada makan siang hari itu terdapat soft tofu stew, beberapa pasta dan
kentang, side dish kecambah, dan
dadar gulung. Namjoon tidak terlalu bersemangat mengenai menu hari itu. Tidak
ada daging di sana. Tapi setidaknya mereka memberikan susu.
BRAK!
Baru saja dia hendak berjalan menuju meja kosong
bersama Jimin, seseorang menjegal kakinya dan menyebabkan makanannya terjatuh
berserakan di lantai.
“Oops ... maaf mengenai kaki panjangku.” Itu adalah
Rahoon dan teman-temannya, menertawai jatuhnya Namjoon.
Namjoon tahu bahwa Rahoon sengaja melakukan itu.
Itu adalah salah satu yang Rahoon suka lakukan di sekolah. Ayo jegal Namjoon
ketika dia tidak siaga karena itu akan menyenangkan untuk ditonton dan mumpung
sedang tidak ada guru saat ini, beruntung!
Namjoon memutuskan untuk tidak bereaksi mengenai
hal ini. Dia mulai membersihkan makanan yang terjatuh dari nampannya.
“Lihat, makananmu jadi kotor semua. Kau tidak punya
makan sianng lain. Kau mau punyaku?” Rahoon masih belum selesai dengan
permainan kekanakannya. Dia mengangkat semangkuk soft tofu stewnya.
“Jangan pedulikan mereka.”
Namjoon berbisik pada Jimin yang terlihat terpaku
di tempat. Dia mencoba mengajak pemuda tersebut menyingkir dari tempat tersebut
sebelum sesuatu yang Jimin sembunyikan di dalam dirinya menyebabkan masalahnya.
Namun Jimin terdiam di tempatnya berdiri, dan sebelum Namjoon dapat menariknya
keluar dari tempat tersebut, Rahoon kembali bertindak. Dia menuangkan menu stew hari ini ke atas Namjoon.
Namjoon kehilangan kata-katanya karena terkejut.
Dan sebelum dia dapat bereaksi mengnai hal tersebut, sebuah jeritan lain
terdengar. Itu adalah suara Rahoon. Kali ini dialah yang basah oleh soft tofu stew dan pelakunya adalah
Yoongi yang berdiri di sampingnya, masih mengangkat mangkuknya.
“Apa ini menyenangkan?” Yoongi bersikap seakan dia
sedang melakukan percobaan, namun Namjoon dapat merasakan bahaya dari nadanya.
“Mengapa kau bersenang-senang dengan bermain dengan makanan? Aku tidak
menemukan menuang makanan ini kepada orang lain itu menyenangkan.”
Yoongi meletakkan mangkuk tersebut, terlihat tidak
acuh dengan tatapan sengit dari Rahoon. Rahoon menyeruak maju ke arah pemuda
lebih tua tersebut. Mencoba berkelahi dengannya, namun Yoongi masih bersikap
sama. Dia menatap pemuda tersebut seakan dia merasa bosan.
“Apa satu-satunya yang bisa kau nikmati hanyalah
membuat orang lain tersiksa? Dewasalah! Memangnya kalau kau yang jadi korbannya
kau akan masih bisa menikmatinya?” Yoongi menahan lengan Rahoon ketika pemuda
tersebut meluncurkan tinju ke arahnya. Dia tidak bergerak sedikit pun atau
bahkan melepaskan lengan Rahoon. Kedua pemuda tersebut saling memelotot seakan
mereka sedang mencoba mengetes sejauh mana kekuatan pihak lainnya.
“Apa kau baik-baik saja, Jimin?” Jin menatap pada
Jimin yang ketakutan. Pemuda tersebut terlihat seperti sedang memiliki sesuatu
yang sedang berlangsung di dalam benaknya. Tapi Jimin tidak mengatakan apa pun.
Malahan dengan perlahan dia menarik dirinya keluar dari tempat tersebut dan
kabur dari kantin ketika semua orang sedang menaruh perhatian pada Yoongi dan
Rahoon.
Jin tidak dapat menyalahkan pemuda yang ingin kabur
tersebut. Dia pun merasa memang lebih baik Jimin pergi sebelum semua orang
menaruh perhatian padanya karena dia bereaksi sangat janggal mengenai kejadian
tersebut. Yang terburuk yang dapat terjadi adalah dia pingsan seperti di taman
saat itu. Orang-orang seperti mereka akan sangat senang mengerjai seseorang
yang lebih lemah dari mereka. Kepribadian Jimin membuatnya terlihat seperti
target yang mudah.
“Yoongi, kau menyakiti anak itu. Jangan terlibat
dalam masalah lain.” Jin kembali memusatkan perhatiannya pada perkelahian yang
sedang terjadi. Dia mencoba memisahkan Yoongi dan Rahoon, begitu pula dengan
para pengikut Rahoon yang mencoba menyelamatkan ketua mereka. Tidak ada yang
mau saling melepaskan.
Momentum tersebut membuat semua orang di dalam
kantin sekolah menjadi hening selagi mereka menyaksikan keributan yang terjadi,
seperti biasa. Rasanya seperti semua orang menahan napas mereka agar mereka
tidak membuat suara apa pun, bahkan yang terpelan sekali pun. Mereka takut
menjadi pusat perhatian selanjutnya.
“Ada apa dengan ribut-ribut ini?” Sebuah teriakan
keras memecahkan suasana hening di sana. Adalah Park Sem yang berdiri di pintu masuk kantin.
Itu membuat baik Yoongi maupun Rahoon segera
melepaskan satu sama lain. Mereka menjadi terdiam untuk sesaat; tidak ada yang
berani mengucapkan sepatah kata pun mengenai kejadian itu. Namjoonlah yang
pertama kali bersuara.
“Maaf, Park Sem.
Tidak ada apa-apa, hanya kecelakaan kecil dan kesalahpahaman.”
“Kalau begitu kenapa kau dan siswa yang ini
dilumuri makanan seperti ini? Apa kalian berkelahi?” Kemudian sorot mata sang
guru berpindah ke arah Yoongi. Mempertanyakan porsi yang pemuda ini lakukan
dalam keributan ini.
“Tidak ada yang berkelahi. Tidak ada yang terluka.
Kita baik-baik saja, kan Rahoon? Kami akan membersihkan ini.” Namjoon masih
berusaha untuk menyelamatkan semua orang di sana dari tangan Park Sem.
“Baiklah. Jangan bikin masalah.” Park Sem memperingatkan mereka sekali
mengetukkan tongkat kayu di tangannya pada bahu. Dengan sekilas tatapan
terakhir, dia berjalan keluar dari tempat tersebut.
Namjoon menghela napas lega sebelum berbalik
menghadap kelompok tersebut.
“Sudah cukup dengan kekacauan ini. Ayo bersihkan.”
“Kau pikir aku akan berterima kasih padamu kalau
kamu menyelamatkanku darinya?” desis Rahoon pada Namjoon ketika dia berjalan
pergi dari tempat tersebut. Meninggalkan Namjoon untuk membersihkan kekacauan
yang dia ciptakan. Kedua temannya segera mengikutinya.
“Ya!
Bisa-bisanya kau kabur setelah membuat kekacauan!” Yoongi mencoba melakukan hal
lain.
“Hentikan, Yoongi. Jangan berkelahi lagi.” Jin
memperingatkannya sementara Yoongi mengedarkan pandangannya ke sekitar kantin.
“Apa yang kalian lihat? Pertunjukan sudah selesai.
Kembali ke urusan kalian sendiri!” Yoongi menyalak pada para penonton tersebut.
Kerumunan tersebut segera mengalihkan mata mereka.
Yoongi cukup yakin mereka mungkin saja berpikir betapa Yoongi senang membuat
masalah, dua kejadian besar dalam sehari. Rumor akan dua kali lebih besar
daripada apa yang sesungguhnya terjadi tapi Yoongi tidak peduli. Mereka hanya
bisa ngomong saja.
Yoongi menatap Namjoon yang sedang memunguti isi
dari soft tofu stew yang terjadi
berserakan di atas lantai.
“Kau selalu membiarkan dia melakukan hal seperti
itu?” Yoongi bertanya pada Namjoon.
“Seperti itu apa?”
Yoongi memutar matanya karena akting Namjoon.
Seakan dia tahu bahwa Namjoon melakukan apa yang baru saja dia lakukan untuk
sebuah alasan.
“Pahlawan tidak akan selalu datang untuk
menyelamatkanmu. Kau harus menjadi seseorang yang menyelamatkan dirimu.”
Daripada mengusik Namjoon dengan pertanyaan yang sama, Yoongi memutuskan untuk
memberikan saran yang dia harapkan dapat membuat pemuda tersebut mulai
menyadari hal tersebut. Kau tidak bisa terus-terusan melindungi seseorang hanya
karena kau tidak ingin terlibat masalah dengannya.
“Tidak ada yang namanya pahlawan dan aku tidak
pernah memintamu untuk menjadi dia.”
Namjoon mulai membersihkan kekacauan. Dia tidak
mengacuhkan pelototan Yoongi ke arahnya. Malahan, sesungguhnya dia tidak
menghargai bantuan pemuda tersebut, untuk yang terakhir kalinya dan juga yang
baru saja terjadi. Hanya karena pemuda tersebut memiliki rasa keadilan yang
sangat tinggi tidak berarti dia boleh mencampuri masalah setiap orang ketika
orang tersebut bahkan tidak meminta bantuan. Itu namanya kesombongan. Tidak
semua hal berlangsung sesuai yang dia pikirkan benar.
☆☆☆☆☆☆☆
Acara kumpul kru pada sore tersebut terasa sedikit
menegangkan setelah kejadian siang tadi. Terdapat Hoseok dan Jungkook yang
tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi namun juga menjadi korban dalam
suasana canggung ini. Kali ini Jimin tidak hadir. Dia mengatakan harus segera
pulang ke rumah setelah sekolah, tapi Jin mengkhawatirkannya. Pemuda tersebut
tidak terlihat dalam kondisi baik setelah kejadian tadi. Bahkan dia terlihat
lebih pucat daripada biasanya. Namun pemuda tersebut tidak mengatakan apa pun
ketika Jin menanyakan mengenai hal tersebut.
Namjoon dan Yoongi tidak saling berbicara atau
mengerjakan musik yang sama. Semua orang di dalam ruangan tidak tahu apa yang
seharusnya mereka lakukan. Pada saat seperti ini Jin sangat berharap bahwa
Taehyung ada di sini. Pemuda tersebut selalu menemukan hal yang diucapkan atau
dilakukan. Dia mampu memecahkan suasana dingin seperti yang terakhir kali dia
lakukan di taman. Kepribadian Taehyung yang ceria sering kali merupakan
penolong untuk kru. Dia mampu menyatukan semua orang dengan kepribadiannya yang
ramah.
“Ngomong-ngomong, di mana Taehyung? Aku tidak lihat
dia akhir-akhir ini.” Rupanya Hoseok pun merasakan hal yang sama dengan Jin.
Dia mulai merindukan kehadiran Taehyung.
“Dia sudah tidak masuk sekolah selama tiga hari.”
Namjoon menjawab.
“Ya kah? Apa Taehyung Hyung sakit?” Kali ini Jungkook yang bertanya.
“Apa kau sudah mengirim pesan padanya? Bertanya
mengenai kondisinya?” Orang-orang di dalam ruangan mulai mengkhawatirkan kondisi
pemuda tersebut. Satu persatu bertanya pada Namjoon, kecuali Yoongi.
“Itu bukan hal baru. Dia sering begitu.”
“Tapi dia tidak terlihat seperti orang yang mudah
jatuh sakit.”
Namjoon mengendikan bahu.
“Kalau begitu bagaimana dengan rencana ke pantai
kita? Batal ya? Aku kan ingin ke sana. Apa kita berangkat saja tanpa dia?”
“Kurasa Taehyung akan kecewa kalau kau lakukan itu.”
Hoseok berkata.
“Tapi ...”
“Kita lihat saja esok, apa Taehyung akan memberi
kabar untuk kita.”
Jungkook terlihat sedikit kecewa. Pada saat seperti
ini Jungkook membuktikan bahwa dia adalah yang termuda di antara mereka.
Namjoon baru menyadari hal ini pula. Kali ini
Taehyung tidak mengirimkan pesan padanya sama sekali. Dia biasanya setidaknya
akan mengirimkan pesan pada Namjoon untuk mengabarkan ketidakhadirannya. Apa
dia sakit parah?
☆☆☆☆☆☆☆
Apa kau
sakit?
Itu adalah pesan yang sangat singkat dari Namjoon yang
Taehyung terima di larut malam itu. Namun itu mampu memunculkan seringai tipis di
wajah Taehyung yang dipenuhi lebam yang nyaris sembuh. Itu adalah pesan yang
sangat langka dari Namjoon. Pemuda tersebut bukan tipe yang akan memedulikan
apakah kau masuk sekolah atau tidak. Dia bahkan tidak mau repot-repot membalas
pesan ketika Taehyung mengiriminya sebelumnya. Pesan ini menunjukkan bahwa
Namjoon mulai menerimanya di dalam lingkaran pertemanannya. Bahwa sesungguhnya
Namjoon cukup peduli mengenai Taehyung yang tidak hadir.
Diterima oleh seseorang membuat Taehyung merasakan
percikan perasaan kecil di dalam dirinya. Dia merasa sedikit senang namun juga
bersalah di saat yang bersamaan. Dia tidak sepatutnya menerima hal itu. Dia
adalah seorang pendosa.
“Taehyung a,
kau sudah makan malam?”
Taehyung sedang duduk di atas tempat tidurnya,
tidak melakukan sesuatu yang penting. Ketika dia hendak membalas pesan Namjoon,
ibunya masuk. Dia baru saja pulang dari pekerjaannya.
“Aku sudah makan.” Taehyung berbohong tapi itu
tidak masalah. Dia tahu ibunya tidak akan mempermasalahkan hal tersebut. Itu
hanya masalah Taehyung tidak berselera untuk makan.
“Sini biar Ibu lihat lukamu. Sudah sembuh semuakah?”
“Aku baik-baik saja. Sudah tidak sakit.” Taehyung
menepis tangan ibunya dari wajah. Kekhawatiran tersebut membuat Taehyung tidak
nyaman. Dia mencoba menghindari bertatapan mata dengan membalas pesan Namjoon.
Matanya terus menatap ke arah smartphone
miliknya.
Ibunya menghela napas dan menatap anak laki-lakinya
dengan ekspresi yang rumit.
“Kau tidak seharusnya ikut-ikutan dan berkelahi
dengan ayahmu.”
“Dan membiarkan Omma
menjadi kantung tinjunya?”
Dia tidak akan melakukannya.”
“Omma,
apa kau tidak bisa melihatnya? Dia selalu melakukannya setiap kali dia
minum-minum. Apa dia seorang ayah? Apa dia bahkan seorang manusia? Yang dia lakukan
hanya ....”
“Sudah, jangan dibahas lagi. Kau akan ke sekolah
besok? Wali kelasmu sudah bertanya mengenai absenmu.”
Taehyung tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya
ketika ibunya terlihat sudah kehilangan akal sehatnya setiap kali dia
menghadapi pria tersebut. Dia selalu menghindar setiap kali Taehyung mencoba
menyadarkannya. Tidak ada jalan keluar untuk situasi mereka. Taehyung menghalau
kekecewaannya dengan berbaring. Dia membuka sebuah pesan baru yang masuk ke
dalam ponselnya.
Hyung, kau baik-baik saja? Apa kau
sakit? Bagaimana dengan rencana ke pantai kita di hari Sabtu? Kau masih mau
ikut?
Kali ini pesan datang dari Jungkook.
“Ngomong-ngomong, kau ingatkan Sabtu ini ...”
Taehyung menyelimuti dirinya dengan selimut dari
ujung kepala hingga ujung kaki. Menunjukkan bahwa dia tidak lagi ingin
berbicara dengan ibunya.
“Baiklah, kau tidur saja.” Akhirnya ibunya menyerah
untuk berbicara dengannya. Dia berdiri dari tempat tidur Taehyung dan berjalan
ke pintu. Dia meninggalkan tempat tersebut setelah mematikan lampu kamar.
Setelah ibunya pergi, Taehyung membuka selimut dan
kembali duduk. Di dalam kegelapan pikirannya kembali berkelana. Dia dapat
melihat sosok kecil seorang anak laki-laki yang sedang menatapnya dari suatu
sudut benaknya sekali lagi. Meskipun anak tersebut tidak terlihat mampu melukai
seorang pun, Taehyung tahu pasti dia mampu melakukannya, sangat mampu. Taehyung
tidak akan membiarkan sosok tersebut mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sabtu.
Tentu saja dia ingat hal apakah itu. Itu adalah
alasan lebih untuknya kabur dari neraka ini.
Aku
baik-baik saja. Tentu saja, aku ikut. Ayo bersenang-senang!
☆☆☆☆☆☆☆






















0 comments