[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Fourteenth Run

10:39 AM



FOURTEENTH RUN
Insecure again, dangerous again
so bad (why?) us, yeah
Enduring more, holding out
so hard (hard), we can’t


Para anggota kru tiba di pemberhentian bus di depan gedung sekolah Jungkook. Tidak ada yang berbicara. Mereka bahkan tidak saling melihat kepada satu sama lain. Setiap anggota tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing dalam perjalanan dari Ulsan menuju distrik Ssangmun, dari perjalanan menggunakan KTX hingga mengenakan bus. Sekali mereka tiba, mereka hanya mengucapkan selamat tinggal yang canggung kepada satu sama lain. Jimin tidak turun dari bus. Dia lanjut menuju pemberhentian bus di dekat rumahnya. Jungkook dan Hoseok pergi bersama. Sementara Yoongi dan Jin juga berjalan bersama karena rumah mereka searah, namun suasana yang beredar di antara mereka terasa lebih janggal.
Yang tertinggal hanyalah Taehyung dan Namjoon. Mereka masih berdiri di pemberhentian bus.
“Ayo pulang,” Namjoon yang pertama kali mengatakan sesuatu. Situasi ini terasa membingungkan untuknya. Dia pun tidak tahu apa yang akan terjadi pada seluruh anggota kru setelah acara jalan-jalan yang singkat ini. Setiap orang merasa lelah karena deretan kejadian yang terjadi, dari kejadian Jimin hingga perang dingin Jin dan Yoongi yang tidak diketahui sebabnya.
“Apa aku boleh pergi bersamamu?”
“Apa?”
Namjoon kembali berbalik setelah beberapa langkah. Taehyung masih berdiri di tempatnya. Dia terlihat memiliki kesulitan hingga membuat Namjoon tidak tega padanya. Setelah apa yang dia lihat di subuh hari, Namjoon tidak dapat mengabaikan perasaan khawatirnya mengenai sikap aneh Taehyung yang sudah semakin jelas.
Tidak ada yang melihat apa yang Taehyung lakukan sejelas Namjoon. Dari ketakutan untuk berada sendirian yang membuatnya berinteraksi dengan begitu banyak orang, keengganan untuk pulang, sesekali tidak masuk sekolah, hingga mimpi buruk yang dia tidak ingin bagikan. Namjoon tidak dapat mengira-ngira apa yang Taehyung sembunyikan di balik topengnya. Namun Namjoon pun tidak ingin mengetahuinya. Dia takut bahwa jika dia mengetahuinya dia akan tertarik masuk ke dalam kekacauan tersebut. Sudah cukup dengan kekacauan dari Jimin. Namjoon tidak memiliki keberanian untuk mencari tahu lebih, namun meskipun begitu dia tidak dapat mengabaikan pemuda ini.
Namjoon menghela napas sebelum mengendikan kepala ke samping. “Baiklah, ayo jalan. Kurasa aku butuh tidur sebelum pergi ke kerja sambilanku. Kau boleh tinggal untuk sesaat.”
Taehyung berjalan ke sisi Namjoon. Mereka berjalan berdampingan hingga tempat Namjoon.
“Apa kau pernah menyaksikan seseorang mati di hadapanmu?” Taehyung tiba-tiba saja memulai percakapan setelah beberapa menit berjalan dalam diam.
Namjoon menoleh untuk melirik sekilas ke arah pemuda tersebut.
“Aku pernah menyaksikan satu.”
Taehyung menahan sebuah batu kecil di bawah kakinya yang dia gunakan untuk memainkan tendangan-tendangan kecil selagi dia berjalan. Dia sepintas terkekeh selagi mengingat kenangan tersebut. Pemandangan tersebut terlihat memilukan. Senyuman yang terpapar di wajahnya dapat meretakkan hati seseorang yang melihatnya.
Namjoon dapat merasakan organ di dalam tubuhnya mulai melilit erat. Dia tidak menyukai arah percakapan ini.
“Kakak laki-lakiku mati di hadapanku (Kita hentikan saja percakapan ini).” Taehyung dan Namjoon berkata di saat yang bersamaan.
Taehyung terhenti dan menatap Namjoon yang terlihat tidak nyaman sekaligus terkejut di saat yang bersamaan.
Kakak laki-lakinya? Namjoon mengingat informasi yang baru saja dia interupsi. Taehyung tidak pernah cerita kalau dia memiliki seorang kakak laki-laki.
“Maaf, apa aku membebanimu? Ah, lupakan saja.”
Pemandangan dari senyuman pahit Taehyung membuat Namjoon merasakan sengatan rasa bersalah yang tajam di dalam hatinya. Dia menggigit bibirnya untuk mencegah dirinya berkata sesuatu lebih banyak yang akan mengakibatkannya terlibat lebih dalam. Namun pada akhirnya dia tidak dapat mengabaikannya. Dia telah melihat terlalu banyak.
“Nanti. Kau boleh menceritakan padaku lagi, mungkin besok. Maaf, hanya saja hari ini aku merasa seperti ....”
“Tidak masalah. Tidak ada hal yang begitu penting mengenai itu.”
Mendadak Namjoon merasa sangat buruk karena telah menghentikan pemuda tersebut menceritakan kisahnya ketika dia sangat membutuhkannya saat ini. Namun, hanya saja Namjoon merasa menjadi pendengar di posisi seperti ini sangat menyiksa. Itu membuat Namjoon merasa sangat buruk karena dapat mempengaruhinya dalam suatu hal. Rasanya seperti memindahkan beban sang pencerita kepada pendengarnya. Namjoon pikir dia sudah mendapatkan cukup banyak hal itu dalam dua hari ini. Lebih banyak lagi rahasia yang terbongkar maka dia pikir dia akan kehilangan akal sehatnya.
Sial, pemikiran ini membuatnya semakin merasa bersalah.
☆☆☆☆☆☆☆


SLAP!
Itu terjadi begitu cepat bahkan sebelum Jungkook dapat memahami situasi yang terjadi. Hanya dalam jarak beberapa mili detik setelah matanya bersitatap dengan mata ibunya, tangan ibunya melayang ke arah pipinya. Jungkook tidak pernah melihatnya semarah ini. Tubuh ibunya bergetar karena amarah yang dia rasakan.
“Di mana kau semalam?”
Jungkook tidak menjawab namun dia menyadari bahwa kebohongannya telah terbongkar.
“Kepala tempat les privatmu menelepon rumah dan bilang kau sudah banyak sekali bolos kelas. Apa kau tidak menyadari seberapa banyak uang yang kuhabiskan untuk pendidikanmu? Apa yang kau sesungguhnya ingin lakukan, Jeon Jungkook?”
Jungkook masih tidak mengatakan apa pun. Dia tahu pada saat seperti ini, tidak ada yang dapat dia katakan untuk membenarkan tindakannya. Jadi, dia membiarkan ibunya melanjutkan ocehannya, seperti yang Jungkook telah tidak lagi asing.
Mengenai masa depan, untuk hidup yang lebih baik, bayaran yang lebih layak. Jungkook tidak paham mengapa hanya karena dia tidak belajar atau mengikuti rencana ibunya itu berarti dia tidak dapat mendapatkan kesuksesan sendiri? Mengapa dia harus mendapatkan hidup yang lebih baik daripada yang ayahnya telah berikan? Apakah itu memang jauh lebih baik daripada yang ayahnya lakukan? Bahkan Jungkook pun telah merasa muak, tumbuh besar menyaksikan apa yang ayahnya lakukan. Bekerja hingga larut malam dan sesekali pula bekerja di akhir pekan. Tidak ada hari untuknya beristirahat. Apakah itu untuk hal yang lebih baik? Apa yang lebih baik itu sesungguhnya? Mengapa uang menjadi parameter untuk mengukur kesuksesan?
“Apa kau sekarang berteman dengan anak-anak nakal sekarang? Itu sebabnya kau mulai bertingkah. Jawab aku!”
“Jika aku mengatakan sesuatu, apakah Omma akan pernah mengerti diriku?”
Jungkook menatap ke arah ibunya. Sedalam apa pun dia mencintai ibunya, dia membenci saat ketika ibunya terus-terusan mengatakan hal yang harus dia lakukan. Memaksanya untuk belajar. Mengeceknya setiap kali. Rasanya seperti dia tidak akan pernah memiliki kebebasan untuk memilih apa yang lebih baik untuk dirinya. Dia muak dengan situasi ini.
☆☆☆☆☆☆☆


“Yo! Sepertinya ini adalah pemandangan yang asing untuk melihat kalian bertiga berangkat sekolah bersama.” Jin berpapasan dengan Namjoon, Taehyung, dan Jungkook di persimpangan jalan. Dia datang dari kiri sementara tiga yang lainnya, Jin cukup yakin datang dari arah tempat Namjoon.
“Jangan bahas itu, Hyung. Aku pun merasa aneh dengan situasi ini.” Namjoon tidak terlihat baik pagi itu. Dia menggeramkan perkataannya seakan dia sudah terlalu lelah berurusan dengan dua yang lainnya.
“Apa yang terjadi?” Jin melihat ke arah dua pemuda lainnya untuk mengetahui apa yang terjadi. Namun, dua pemuda tersebut tidak terlihat ingin berbicara. Mereka terus terdiam dan memalingkan matanya dari Jin.
“Taehyung pulang bersamaku setelah kita tiba dari Ulsan. Dia tidak ingin pulang, jadi kubiarkan saja dia tinggal. Kemudian, ketika larut malam, Jungkook mengetuk pintuku dan bertanya apa dia boleh menginap. Dia bilang baru saja bertengkar dengan ibunya di rumah.”
Tidak hanya mereka berdua, Rahoon pun sempat datang dengan wajahnya yang penuh jejak luka. Sepertinya pemuda tersebut baru saja berkelahi dengan seseorang atau terjatuh dari motornya. Namun sebelum Namjoon dapat bertanya, Rahoon telah meninggalkan tempat itu segera setelah dia melihat ada orang lain di sana. Terkadang Namjoon tidak dapat memahami tindakan pemuda tersebut.
Semakin Namjoon pikirkan mengenai hal ini, rasanya dia terlalu banyak berurusan dengan orang-orang akhir-akhir ini. Dia merasa seperti kamar sewaannya berubah menjadi penampungan untuk anak-anak bermasalah belakangan ini. Dia tidak dapat mengatakan bahwa dia menyukai perubahan ini.
Jin menepuk pundak Namjoon untuk memberi simpati padanya. Dia dapat membayangkan betapa beratnya kemarin untuk pemuda yang lebih muda. Tidak heran kalau dia sudah terlihat sangat lelah sepagi ini. Mereka berempat berjalan bersama menuju arah sekolah.
“Apakah itu Suga Hyung?” Taehyung mengatakannya begitu mereka nyaris sampai di area sekolah. Matanya menyipit untuk dapat lebih fokus melihat pemuda yang sedang berjalan di dekat gerbang itu. Ada sesuatu yang berbeda dengannya hari itu.
Rambut Yoongi kembali menjadi warna hitam. Itu adalah hitam eboni yang terlihat sangat kontras dengan kulit pucatnya. Dia terlihat seperti putri salju dalam versi laki-laki.
“SUGA Hyung!” Taehyung telah berlari kecil ke arah pemuda yang lebih tua tersebut. Yoongi berhenti berjalan untuk menoleh. “Hyung, rambutmu!”
Yoongi mendengus. Taehyung terlihat terkesan dengan perubahan Yoongi sementara Jin mengalihkan pandangannya. Dia bahkan tidak menyapa sahabat baiknya, begitu pula dengan Yoongi.
Sepertinya perang dingin masih berlangsung. Apa alasan terjadinya pertengkaran ini? Dia tidak paham; mungkin semuanya selelah dirinya. Semua orang menjadi terlalu sensitif sejak kemarin. Namjoon menghela napas dalam ketika memikirkannya. Kemudian dia merasakan seseorang mencolek pundaknya. Itu adalah Jungkook.
Hyung, aku akan pergi ke sekolahku. Terima kasih sudah membiarkanku menginap.”
Namjoon mengangguk cepat. Jungkook memisahkan diri dari kelompok ke arah gedung SMP. Kelompok tersebut menjadi semakin canggung setelah Jungkook pergi. Namjoon memutuskan untuk pergi bersama Taehyung menuju kelas mereka.
Hyung, kau terlihat bagus dengan warna hitam.” Taehyung mengangkat kedua jempolnya kepada Yoongi selagi berjalan mundur karena ditarik oleh Namjoon.
Yoongi mengabaikan komentar tersebut dan kembali berjalan. Jin mengikuti dari belakang hanya karena mereka menuju arah yang sama, kelas mereka. Namun setelah beberapa langkah sebelum mencapai kelas, Jin menemukan Yoongi berhenti untuk sesaat. Ketika Jin mengikuti arah Yoongi menatap dengan garang, di sana terdapat Sohee yang sedang berbicara dengan pemuda lain di koridor sekolah dekat kelas mereka.
Sepertinya gadis itu menyadari seseorang memperhatikannya. Ketika dia menoleh dan melihat Yoongi, dia segera meninggalkan pemuda yang berbicara dengannya.
“Yoongi! Apa yang terjadi dengan rambutmu? Kau mengecatnya kembali!”
“Minggir deh.” Yoongi sekali lagi mendengus. Nada suara tersebut membuat gadis itu terkejut. Rasanya Yoongi memiliki suasana hati yang sangat buruk pagi itu.
“Kenapa kau angot-angotan sepagi ini?”
“Bukan urusanmu.”
Yoongi berjalan pergi, meninggalkan Sohee yang terlihat kesal dengan sikap tersebut. Jin maju. Dia menahan pundak Yoongi.
“Apa kau harus sekasar itu pada Sohee? Dia hanya mencoba untuk memperlihatkan kalau dia peduli padamu.”
“Aku tidak butuh perhatiannya.”
“Itu tidak berarti kau boleh berbicara seperti itu padanya.”
Yoongi mendesiskan kekesalannya namun dia tidak mengatakan hal lain. Dia berjalan pergi.
“Apa masalahmu sebenarnya! Kau sudah bersikap menyebalkan sejak kemarin.”
Jin hendak menyeruak maju ke arah pemuda tersebut untuk memberinya pelajaran namun Sohee menahannya.
“Biarkan dia pergi. Itu tidak menggangguku sama sekali. Toh, aku juga sudah terbiasa.”
“Bagaimana kau bisa terbiasa dengan sikap semacam itu? Punya harga diri sedikit, Yun Sohee.”
Jin tidak tahu apa yang mengendalikannya namun dia merasa ingin mempermasalahkan kekesalannya atas perasaan Sohee terhadap Yoongi.
“Ada apa dengan kalian semua hari ini? Kalau Yoongi sih sudah biasa, tapi tidak kau juga, Seokjin.” Sohee melipat lengannya di depan dada. Dengan jelas terlihat tidak suka dengan perlakuan ini.
“Jadi, tidak masalah untuk Yoongi tapi masalah untukku? Apa yang kau pikirkan tentangku? Orang kudus?”
Sohee membuka mulutnya untuk menjawab namun tidak ada perkataan yang keluar dari bibirnya. Itu sungguh pemandangan yang tidak biasa dari Jin. Mereka sudah saling mengenal nyaris sejak mereka lahir, namun ini pertama kalinya Sohee melihat Jin begitu emosi padanya.
Jin pun terkejut dengan pernyataannya ketika dia melihat ekspresi terkejut Sohee. Dia segera menghela napas kesal dan berjalan pergi dari situasi menegangkan tersebut sebelum perasaan bersalah menguasainya. Dia tidak akan mundur.
☆☆☆☆☆☆☆


“Selamat pagi! Pagi!” Taehyung menyapa setiap orang selagi dia dan Namjoon berjalan memasuki kelas. Dia mulai kembali menjadi dirinya yang biasa dikenal para anggota kru. Semua orang yang dia sapa menoleh dan memperhatikan sepintas. Mereka tidak akan pernah terbiasa dengan kepribadian Taehyung yang terlewat ceria.
Namjoon mengabaikan pemuda tersebut untuk berjalan ke mejanya.
“Selamat pagi, Jimin.” Kali itu Taehyung menyapa Jimin yang telah duduk di kursinya.
Jimin sedikit terkejut karena dia sedang menatap ponsel sebelum Taehyung datang. Begitu dia melihat bahwa itu adalah Taehyung yang berdiri di hadapannya, gambaran Taehyung yang menangis malam itu kembali terlintas di benak Jimin sekali lagi. Itu masih meninggalkan ketakutan yang besar untuknya. Itu membuatnya bertanya-tanya mengapa Taehyung bersikap seperti itu.  
Jimin sekali lagi menunduk tanpa menjawab pemuda tersebut.
“Apa kau tidur nyenyak semalam?” Taehyung masih mencoba melakukan percakapan dengannya.
Jimin merasakan ketidaknyamanan yang menyebabkan dia menyelinap keluar dari tempat duduknya dan berlari keluar dari kelas. Namjoon melihat hal tersebut.
“Hey!” Taehyung terkejut dengan sikap Jimin.
“Biarkan dia, Taehyung.” Namjoon mendekati Taehyung untuk menghentikannya mengejar Jimin.
“Tapi ....”
“Biarkan dia sendiri untuk saat ini. Mungkin dia butuh beberapa waktu sendirian.”
Taehyung melihat ke arah jejak Jimin pergi. Dia teringat mengenai malam di pantai ketika seseorang yang dikenal Jimin pada masa SMPnya muncul. Pemuda itu memberitahu mereka kejadian yang terjadi pada masa SMP kepada seluruh anggota kru yang tertinggal setelah Jimin pergi. Taehyung merasakan hatinya teriris ketika dia mengingat hal tersebut.
“Baiklah.” Dia menghela napas kekalahan.
Dia tidak dapat memutuskan apakah meninggalkan Jimin sendiri di dalam dunianya akan membuat hal menjadi lebih baik ataukah lebih buruk daripada sebelumnya. Namun pada saat itu, mungkin Namjoon benar. Meninggalkan Jimin untuk memberinya waktu sendiri mungkin akan menolongnya. Akhir-akhir ini semua hal terasa terlalu intensif untuk mereka semua.
Namun tanpa Taehyung dan Namjoon ketahui, perpisahan mulai mendatangi mereka.
☆☆☆☆☆☆☆



Ngomong-ngomong, apa kalian tahu soal app Amino untuk iPhone dan Android? Di sana ada komunitas ARMY internasional. Aku ada di sana. Jika kalian juga ada di sana, kalian bisa nge-add aku decdaisy untuk berbicara denganku. :)

Dan khusus ARMY Indonesia, kita punya satu komunitas khusus lagi. Kalian juga bisa mengunjungiku di sana. :) Ajak saja aku berbicara jika kalian ingin. Kuharap bisa bertemu dengan kalian di saja. Rasanya ingin supaya ARMY Indonesia bisa berkumpul di tempat yang sama supaya kita bisa menunjukkan bahwa BTS punya fan base yang cukup besar di Indonesia.


Anyway, terima kasih sudah mengikuti ceritaku di sini dan terus meninggalkan komentar.


Suka dengan cerita ini? Bisa lanjut baca di postingan dengan tag "Youth of Lily". Kalau nggak sabaran menanti terjemahan bisa langsung mampir ke sini untuk versi Inggrisnya. Versi wattpad bisa dicari di sini.

You Might Also Like

2 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide