[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Eleventh Run

10:48 PM



ELEVENTH RUN
Today the moonshines brighter
on the blank spot in my memories
it swallowed me, this lunatic,
please save me tonight
(Please save me tonight,
please save me tonight)
Within this childish madness
you will save me tonight


“Aku merasa ingin muntah. Kita makan terlalu banyak.” Jungkook berjalan keluar dari restoran diikuti yang lainnya. Masing-masing dari mereka mengusap perut. Jin tertinggal di belakang bersama Yoongi untuk menyelesaikan pembayaran.
“Itu karena kau memesan terlalu banyak, Kookie.” Taehyung menggoda Jungkook.
“Kenapa itu salahku? Aku kan dengan tepat pesan untuk tujuh orang. Itu karena Jimin Hyung tidak makan banyak. Bagaimana bisa aku tahu kalau dia tidak punya selera makan yang besar?”
Jimin memalingkan pandangannya ke arah lain.
“Kalau dipikir-pikir, iya ya Jimin makan sedikit sekali.” Hoseok mengalungkan lengannya pada Jimin yang segera merasakan bulu kuduknya menyerbak oleh sentuhan tersebut. “Apa kau selalu makan sesedikit itu?”
“Sesungguhnya dia jarang makan, Hyung.” Namjoon menjawabnya untuk Jimin sebelum pemuda tersebut dapat melakukannya untuk dirinya.
Itu membuatnya sadar, semenjak dia dan Jungkook bergabung dengan acara kumpul-kumpul grup tersebut, Hoseok tidak pernah melihat pemuda tersebut makan bersama mereka. Jimin selalu saja berada di samping menyaksikan yang lain melahap camilan yang mereka pesan dari layanan pesan-antar. Seperti dia sedang dihukum untuk tidak makan.
“Itu tidak baik. Kau sudah sekurus ini. Kau harus makan lebih banyak supaya punya tenaga. Seperti Taehyung. Dia makan begitu banyak dan lihatlah betapa hiperaktifnya dia.” Hoseok menunjuk pada Taehyung yang sedang berdebat dengan Jungkook.
“Apa kau sedang mengataiku makan seperti babi dan bersikap seperti anjing gila, Hyung?” Taehyung mendengar komentar tersebut.
Hoseok tertawa tapi Jimin tidak. Perkataan Taehyung untuk mendeskripsikan apa yang dia lakukan membuat Jimin merasa tidak nyaman. Bagaimana pemuda tersebut bisa menghina dirinya dengan semudah itu.?
“Aku masih dalam masa pertumbuhan. Tentu saja aku harus makan banyak.” Taehyung tidak terlihat tersinggung, malahan dia membalasnya dengan sangat santai dan kembali berbincang dengan Jungkook.
Jimin iri dengan sikap Taehyung seperti itu sesungguhnya. Dia tidak terpengaruh oleh komentar orang-orang dan masih saja bersikap sama, seceria biasanya. Seakan dia tidak pernah mendengar hal tersebut.
“Lihat. Tidak buruk untuk makan lebih banyak. Kau kan masih muda. Kau bisa membakar kalori dengan lebih banyak bergerak. Apa kau sedang diet?”
“Aku makan dengan baik.” Sebelum Jimin dapat menjelaskan dirinya, ponsel yang berdering telah mengalihkan perhatian Hoseok.
Hoseok melayangkan pandangan meminta maaf dan berpindah ke samping untuk mengecek ponselnya. Dia telah melakukan hal tersebut sejak makan siang. Sesekali menerima pesan yang harus segera dia periksa secepatnya, dengan sembunyi-sembunyi.
Jimin tidak lagi memusatkan perhatian ke arah anggota kru lagi. Pikirannya mulai berkelana. Itu adalah saat ketika matanya bertubrukan dengan sepasang mata yang tidak asing. Jimin segera memalingkan tubuhnya dari pemuda tersebut. Dia mencoba menyembunyikan dirinya di belakang anggota kru.
“Apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau bersembunyi di belakangku?” Jin yang baru saja keluar dari restoran terkejut dengan sikap Jimin.
“Jalan saja. Ayo pergi dari sini, Hyung. Kumohon.” Jimin memegang tas punggung Jin dengan erat.
Jin melirik Yoongi untuk mencerna sikap aneh pemuda yang lebih muda ini. Yoongi hanya mengendikan bahu dan mengangkat sedikit dagunya untuk memberi kode Jin berjalan.
Para anggota kru segera berpindah dari tempat tersebut. Jimin mengikuti mereka dengan ketat tepat di belakang. Jin dapat merasakan kecemasan pemuda tersebut. Dia bertanya-tanya apa yang Jimin lihat hingga membuatnya ketakutan.
Hyung, ayo kita beli kembang api. Kita bisa memainkannya begitu malam tiba.” Taehyung menyarankan selagi mereka berjalan.
Diam-diam Jimin melirik ke arah dia tadi melihat orang yang tidak asing tersebut. Orang tersebut telah pergi. Itu membuat Jimin merasa dapat bernapas lagi.
☆☆☆☆☆☆☆

Kau bisa mengatakan bahwa Jinha bukanlah pantai yang akan memberikanmu banyak hiburan selain pantai yang indah dan makanan laut yang lezat. Jika kau tidak akan mengeksplorasi kota Ulsan, tidak ada banyak hal yang dapat kau lakukan di pantai. Tidak ada atraksi permainan seperti flying banana atau ski air. Angin tidak bertiup terlalu keras maupun kencang. Itu adalah tempat yang luar biasa untuk berselancar angin. Itulah sebabnya pada sore hari, sekitar pukul 4-5 ketika matahari sudah tidak terlalu tinggi, mereka dapat melihat ada banyak peselancar asing yang berjalan di sekitar pantai dari lokasi berkemah di bawah pepohonan pinus.
Tapi tidak ada hal yang dapat dilakukan para anggota kru di sana, terutama untuk Jimin yang tidak dapat mendekati air. Mereka hanya dapat bermain dengan pasir di sore hari. Ketika malam tiba bermain dengan kembang api atau bernyanyi dan nge-rap mengikuti musik yang mereka mainkan dan mereka melakukan barbeque serta api unggun. Yoongi bertugas untuk memanggang daging karena dia kalah dalam permainan gunting batu kertas. Jin berdiri di sampingnya sebagai asisten namun yang dia lakukan malah merekam acara kumpul kelompok tersebut. Sementara itu yang lainnya berkumpul di sekitar api unggun untuk mendengarkan lagu Jungkook.
Ternyata Jungkook merupakan penyanyi yang cukup baik. Dia memiliki suara yang lembut yang dapat melelehkan hati para gadis. Itu terbukti karena beberapa gadis mendekati lokasi berkemah kru ketika mereka mendengar suara Jungkook dan Taehyung berharmonisasi. Tapi para gadis itu segera kabur setelah melihat wajah menyeramkan Yoongi. Taehyung tertawa sangat keras setiap kali itu terjadi. Dan itu mengakibatkan dia mendapatkan tatapan garang dari Yoongi.
“Hara mungkin akan sangat kesal karena aku tidak mengizinkan dia untuk ikut jika dia tahu cowok yang dia taksir dapat bernyanyi dengan sangat indah.” Hoseok memberi komentar.
“Kau harus meminta rekamannya dari Jin Hyung. Dia kan merekam semua. Dengan begitu Hara bisa menikmati dan mengulangnya sebanyak yang dia inginkan.” Taehyung bergabung untuk menggoda Jungkook.
Wajah dari pemuda termuda di sana nyaris berubah sangat merah setiap kali dia mendengar Hoseok menggodanya mengenai Hara. Padahal Haralah yang memiliki perasaan terhadapnya tapi mengapa dialah yang tersiksa di sini? Ini bukan berarti Jungkook memiliki perasaan terhadap Hara. Maksudnya, Hara memang seorang gadis yang cantik, tapi hanya saja ... pada saat itu dia sedang tidak memiliki pemikiran apa pun mengenai lawan jenis.
“Jika Howon ada di sini, pasti ada lebih banyak kesenangan.” Taehyung mengatakannya lagi.
“Yeah, ini gilirannya untuk membantu orang tua kami di pasar.”
Jimin, Taehyung bilang kau punya suara yang bagus. Kau juga harus coba menyanyikan beberapa lagu. Aku tidak pernah mendengarmu menyanyi.” Hoseok memalingkan perhatiannya pada Jimin.
“Aku-.”
“Ayolah Jimin! Tidak ada orang asing di sini. Kau tidak usah malu-malu. Kita tahu kau memiliki suara yang indah. Kau kan lead singer BTS.” Taehyung menambahkan. “Bagaimana jika menyanyikan lagu Yui yang Goodbye Days? Kau suka lagu itu, kan? Pertama kali aku memintamu bergabung dengan kru ini kau sedang menyanyikan lagu itu.”
“Benarkah? Aku juga suka lagu itu. Ayo nyanyikan bersama, Hyung. Biarkan aku mencari dahulu.  Adakah versi karaoke untuk lagu ini?” Jungkook meraih ponselnya dan mulai mencari melalui channel online streaming yang menyediakan instrumental untuk menyanyi.
Jimin tidak yakin apakah dia harus melakukan itu namun sebelum dia dapat memutuskannya, Jungkook telah menemukannya dan menyalakan musik. Para anggota kru pun telah menenggelamkan diri ke dalam musik. Mereka mengayunkan tangan-tangan mereka ke udara. Taehyung memaksa Jimin untuk ikut menyanyi. Pemuda tersebut melakukannya dengan ragu, dengan suara yang teramat pelan.
“Ayolah Jimin. Kami tidak bisa mendengar suaramu. Bahkan Namjoon yang merupakan rapper hebat tapi penyanyi yang buruk pun ikut bernyanyi.”
Ya, kau ingin mati?” Namjoon menendang udara selagi Taehyung menghindar dan menertawakannya.
“Jimin? Park Jimin, kah?”
Seseorang menyela momen grup tersebut. Mereka memalingkan perhatian ke arah orang tersebut pada waktu yang bersamaan. Seorang pemuda yang kira-kira seusia mereka mendekat seakan dia sedang memastikan pandangannya mengenai Jimin sementara Jimin terlihat tegang. “Kau Park Jimin. DwaeJimin (BabiMin)!”
“Hei, jaga mulutmu.” Yoongi mengarahkan penjepit di tangannya ke arah orang tersebut.
Pemuda tersebut mengangkat tangannya ke udara. “Aku tidak bermaksud buruk. Hanya berniat memastikan aku tidak salah orang. Kupikir aku sudah mengenali orang yang salah siang tadi, tapi baru saja aku mendengar temanmu memanggilmu. Itu membuatku ingin memastikan, kalau saja ....”
Ekspresi wajah Jimin mendadak semakin suram. Pengusik itu tidak menyadarinya namun seluruh kru melihatnya. Yoongi baru saja hendak menyergap maju ke arah pemuda tersebut namun Jin menahannya. Jin tidak yakin apakah pemuda tersebut bermaksud buruk atau hanya ingin mengenang masa lalu.
“Kupikir kau sudah mati sejak kejadian itu. Semua orang bilang seperti itu dan kau tidak pernah kembali ke sekolah.”
Tangan Jimin menjadi semakin dingin. Keringat dingin mengalir menuruni punggung selagi dia mendengar pemuda tersebut berbicara. Kenangan dari hari-hari itu mulai memasuki benaknya lagi. Tarikan napasnya memendek. Dia tidak dapat menggerakkan tubuh sama sekali meskipun dia sangat ingin kabur dari tempat tersebut. Mulutnya terasa masam ketika dia mengeratkan rahang.
“Yah Jimin, apa ini benar-benar kau? Kau berubah sangat banyak. Kau menghilangkan seluruh lemakmu. Apa kau melakukan operasi atau diet? Uhm, itu tidak benar. Mustahil untukmu untuk berhenti ... Hey!”
Yoongi menyela pemuda tersebut. Dia mencengkeram leher baju pemuda tersebut. Pemuda itu terlihat sangat tidak senang dengan tingkah Yoongi.
“Apa masalahmu?”
“Apa masalahmu? Itu harusnya pertanyaanku untukmu.”
“Memangnya siapa kau? Apa sekarang DwaeJimin punya seekor anjing? Wow, itu ....”
Yoongi mengayunkan tinju ke arah pemuda tersebut. Segera pemuda tersebut terjebab rata dengan tanah dan Yoongi menghajarnya terus menerus. Jin dan Namjoon mencoba memisahkannya dari pemuda tersebut. Sebenci apa pun mereka mengenai perkataan pemuda tersebut terhadap Jimin, tidak ada seorang pun yang menginginkan Yoongi melukai seseorang, terlebih lagi membunuh pemuda tersebut.
“Jimin a (Hyung) ....” Taehyung dan Jungkook pada saat bersamaan melihat Jimin berlari pergi dari tempat itu menuju pantai. Mereka ingin mengikutinya namun Hoseok menghentikan mereka. Dialah yang mengejar pemuda yang bermasalah tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆

Ayo kita suruh DwaeJimin lakukan pertunjukan untuk kita.”
Ya! DwaeJimin, pergi belikan kami camilan.
DwaeJimin, merangkak! Kau kan babi. Beraninya kau berjalan dengan dua kaki.”
Berhenti makan, dasar kau Babi.”
“Uh... DwaeJimin itu mengganggu pemandangan mata. Menjijikkan. Kenapa dia melakukan itu?
DwaeJimin
Jimin dapat mendengar suara-suara tersebut di dalam kepalanya selagi dia berlari. Orang-orang sedang menatapnya dengan ekspresi jijik. Dia merasa telanjang. Mereka tertawa selagi menikmati menyiksanya. Mereka mengarahkan telunjuk ke arahnya dan mengambil gambar, seperti dia adalah sebuah objek eksperimen.
Mengapa ciptaan gagal sepertimu itu hidup?”
Sejumlah banyak air, orang-orang berbicara dengan suara yang teramat keras dan mereka juga menertawakannya. Di atas lantai, merangkak di tanah, Jimin merasakan kepalanya dipaksa untuk memasuki air.
Aku ingin bernapas.
Jika ini adalah sebuah mimpi, bangunkan aku!
Seseorang tolong datang dan selamatkanku. Siapa pun.
Tidak adakah seseorang untuk menyelamatkannya?
“Jimin a!” Seseorang mencengkeram Jimin pada bahu. Itu mengejutkan pemuda tersebut hingga membuatnya memberontak sangat liar.
“Ini aku, Hoseok Hyung. Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu juga.” Hoseok mengangkat tangannya dari bahu Jimin. Seluruh tangannya terangkat ke udara. Dia beranjak mundur beberapa langkah untuk menenangkan pemuda tersebut.
Setelah beberapa saat, Jimin mulai kehilangan tenaga dan terjatuh ke atas pasir. Wajahnya pucat dan tubuhnya mulai bergetar dengan kuat. Tatapan matanya kosong seakan dia telah tenggelam dalam kenangan. Dia terlihat sangat rapuh ketika memeluk dirinya sendiri. Seakan itu pilihan terakhirnya untuk melindungi diri.
Tidak akan ada yang menyelamatkanmu. Kau tidak seharusnya ada di dunia ini. Kau adalah keberadaan yang tidak diinginkan siapa pun.
Pemandangan itu membuat hati Hoseok terasa sakit. Dia tidak tahu bagaimana cara untuk menyelamatkan pemuda tersebut tanpa membuatnya semakin hancur berantakan.
“Jimin a.” Hoseok memanggil lembut namun dia tidak mendapatkan respons dari pemuda tersebut. Dia merendahkan diri untuk mencocokkan tinggi dengan pemuda tersebut selagi dia mendekatinya.
Hoseok tidak dapat meraih pemuda tersebut tanpa cukup yakin bahwa itu tidak akan membuat pemuda tersebut ketakutan seperti sebelumnya. Akhirnya dia memilih untuk berdiam di posisinya. Menanti Jimin untuk menenangkan diri. Mereka berdua duduk di atas pasir menghadap pantai namun hanya Hoseoklah yang menatap pemandangan di hadapan mereka.
“Apa yang sesungguhnya terjadi padamu hingga membuatmu menjadi seperti ini, Park Jimin?”
Pada akhirnya Hoseok tidak dapat lagi menahan dirinya. Dia menanyakan pertanyaan yang telah mengambang di dalam benaknya sejak pertama kali dia melihat Jimin di taman Hongdae. Dia lebih seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri daripada kepada Jimin.
Sekali lagi, tidak ada yang berbicara. Hoseok menanti untuk waktu yang lama agar Jimin dapat mengendalikan dirinya kembali.
☆☆☆☆☆☆☆


Suka dengan cerita ini? Bisa lanjut baca di postingan dengan tag "Youth of Lily". Kalau nggak sabaran menanti terjemahan bisa langsung mampir ke sini untuk versi Inggrisnya.  Versi wattpad bisa dicari di sini

You Might Also Like

1 comments

  1. Haii Daesy

    Wah aku suka bagian cerita jimin, aku bacanya masuk banget jd ngerasa seperti jimin tiba2 aku menjadi sedih ...

    Mau lanjut baca lagi ...

    ReplyDelete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide