[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Fifteenth Run
3:24 PM
FIFTEENTH
RUN
Deeper, deeper, the wound just gets deeper
Like pieces of broken glass that I can’t reverse
Deeper, it’s just the heart that hurts every day
(You) who was punished in my stead,
You who were only delicate and fragile
Like pieces of broken glass that I can’t reverse
Deeper, it’s just the heart that hurts every day
(You) who was punished in my stead,
You who were only delicate and fragile
Apa kau
pernah merasakan hal yang terjadi itu terlalu mengerikan untuk menjadi sebuah
kenyataan? Kau terjebak dalam neraka, dihukum untuk dosa yang telah kau
lakukan. Begitu buruk hingga kau hanya dapat berharap bahwa itu hanyalah sebuah
mimpi, seseorang tolong muncul dan bangunkan kau dari mimpi tersebut.
Tubuh Jimin bergetar hebat ketika dia melihat pesan
yang dikirimkan kepada ponselnya. Itu bukan kali pertama dia menerima pesan
tersebut semenjak acara jalan-jalan singkat tersebut. Mimpi buruknya telah kembali. Bahkan bersembunyi di tempat ini pun
tidak akan membantu. Dia tidak akan pernah bisa kabur dari mereka. Mereka akan
selalu menemukannya.
“Jimin a!”
sebuah suara yang amat keras terdengar dari belakang. Itu mengejutkan Jimin.
Tubuhnya gemetar selagi dia berbalik.
“Park Jimin, aku sudah panggil kau beberapa kali.
Apa kau tidak dengar itu?”
Itu
adalah Taehyung. Itu adalah Kim Taehyung. Jimin tahu itu namun dia tidak dapat
menghentikan dirinya terjebak di dalam ketakutan. Pikirannya berkabut. Dia
tidak dapat memikirkan apa pun selain untuk mencari tempat untuk kembali
bersembunyi. Dia tidak aman berada di mana pun. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Taehyung lagi-lagi terkejut melihat tindakan pemuda
tersebut. Dia penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Jimin. Ternyata beberapa
hari tidaklah cukup untuknya kembali menjadi dirinya sebelumnya. Bukannya
kembali normal, Jimin malah semakin menjauh dari seluruh anggota kru. Dia telah
kembali pada gua kelamnya. Dia tidak pernah muncul di tempat Namjoon. Bahkan
meskipun Jimin sebelumnya tidak pernah melakukan banyak hal di sana, dia akan
selalu hadir. Untuk duduk dalam diamnya atau mengamati para anggota kru
melakukan aktivitas mereka. Namun kini dia tidak pernah lagi datang. Taehyung
tidak menyukai perubahan ini namun dia tidak dapat melakukan apa pun mengenai
itu. Perasaan bersalah menghentikannya untuk memaksa Jimin sekali lagi. Dia
khawatir jika memaksakan pendapatnya kepada pemuda tersebut, dia akan semakin
menyakitinya. Taehyung sudah muak menyakiti semua orang. Dia tidak ingin ada
lagi yang terluka karenanya.
Yang dia dapat lakukan hanyalah menyaksikan semua
satu persatu meninggalkannya.
Sekali
lagi, itu adalah kesalahannya.
☆☆☆☆☆☆☆
Satu
persatu dari mereka mulai tidak lagi muncul di pertemuan kelompok tersebut.
Rasanya seperti saat kita kecil, bermain di taman
bermain di dekat lingkungan rumah. Begitu matahari terbenam, para ibu mulai
memanggil anak-anak mereka untuk pulang. Satu persatu dari kita beranjak
kembali ke rumah. Waktu bermain telah usai dan yang tertinggal hanyalah satu
orang di dalam taman bermain yang begitu luas tersebut.
Semua orang begitu sibuk dengan hal masing-masing.
Mulai dari Jimin, Jin, dan kemudian Hoseok. Bahkan kekeraskepalaan Taehyung
kali ini pun tidak mampu melakukan apa pun untuk menyatukan mereka semua
kembali. Situasi ini membuat Jungkook merasa muram.
Jungkook tidak mengkhawatirkan menghilangnya Jin
atau Jimin. Mereka mungkin sibuk atau butuh waktu menyendiri. Namun dia
mengkhawatirkan mengenai Hoseok. Suatu hari setelah acara jalan-jalan singkat itu,
Hoseok berhenti mampir ke tempat Namjoon. Taehyung bertanya padanya ketika
mereka bertemu di sekolah. Hoseok hanya berkata bahwa dia akhir-akhir ini
sangat sibuk, tidak ada waktu untuk mampir. Itu adalah hal yang biasa untuknya,
namun Taehyung mengatakan bahwa pemuda yang lebih tua itu terlihat sedikit kacau.
Jungkook teringat pada hal yang Hoseok bongkar pada
percakapan mereka di pantai.
Sekali, dia pernah bertanya mengenai kondisi
keluarga mereka pada Howon, pemuda tersebut mengatakan tidak ada hal yang
terjadi selagi tersenyum pahit. Dia menyembunyikan sesuatu. Jungkook merasakan
itu namun dia pun tahu bahwa dia tidak dapat memaksa pemuda tersebut untuk
membicarakannya. Mereka tidaklah cukup dekat untuk dapat membicarakan hal-hal
tersebut. Jika itu adalah Jungkook, dia pun akan melakukan hal yang sama.
“Ya Tuhan! Kim Namjoon, kenapa kau terus-terusan
ingin memakai sumpah serapah?” Yoongi mengerang frustrasi untuk kedua kalinya
sore itu.
“Itu terdengar lebih baik, Hyung.”
“Tapi ini untuk broadcasting. Kau tidak boleh
berkata kasar di televisi.”
“Yah, di SMTM rapper-rapper itu boleh saja berkata
kasar sebanyak yang mereka inginkan, Hyung.
Editor di stasiun televisi itu akan menyensornya.”
“Aku tidak mau laguku terus-terusan terdengar
sebagai piiip atau disenyapkan. Lagi pula ini kan bukan SMTM bodoh itu.” Yoongi
menatap sebal pada Taehyung karena komentarnya.
Yoongi merasa bahwa SMTM adalah sebuah program yang
mengerikan. Rasanya seperti sedang menyaksikan pertarungan hewan. Kau harus
menggigit terlebih dahulu sebelum kau tergigit. Bertarung untuk dominasi.
Sumpah serapah dan tingkah laku tidak senonoh tersebar di mana-mana, bersama
dengan para rapper palsu tanpa kemampuan yang sesungguhnya. Mereka berpikir itu
keren, namun Yoongi berpikir itu bodoh. Konyol. Yoongi tidak akan pernah ingin
berpartisipasi dalam program tersebut meskipun semua orang menyarankan dia dan
Namjoon mencobanya.
Taehyung hanya mengendikan bahu sebagai balasan.
Tanpa tiga orang lainnya, para anggota kru pun
masih saja hidup dengan baik. Namjoon mendapat sebuah undangan dari Junghyun,
seorang produser musik yang dia kenal untuk bergabung dalam sebuah kompetisi
dari salah satu stasiun televisi. Itu adalah kompetisi untuk penyanyi sekaligus
penulis lagu. Kurang lebih semacam kompetisi musik lainnya, hanya saja bedanya
partisipan haruslah mampu menuliskan lagu dan membawakannya sendiri dan itu
disiarkan di televisi. Bisa melakukannya dalam grup atau sendirian. Jika kau
lolos dalam tahap pertama, seorang produser akan memilihmu sebagai anggota
timnya. Mereka akan membantumu untuk menyempurnakan musik yang telah kau buat
menjadi sesuatu yang lebih menjual. Mungkin akan ada tiga-empat episode untuk
kompetisi ini, sebuah program yang singkat.
Kenalan Namjoon itu kebetulan adalah salah satu
panelis juri di sana. Yoongi dan Namjoon memutuskan untuk mencoba kompetisi
tersebut. Tidak ada yang cukup yakin apakah Yoongi akan dapat bertahan dalam
proses rekaman kompetisi tersebut atau dia akan menghancurkan segalanya begitu
dia merasa muak dengan peraturan dari stasiun televisi tersebut. Yoongi bukanlah
pengikut peraturan yang baik. Dia benci terkurung dalam peraturan dan regulasi.
Namun di dalam kru ini ada Namjoon. Mungkin saja BTS dapat melihat sebuah titik
terang. Jika mereka beruntung, mereka akan bertahan hingga akhir. Itu adalah
kesempatan yang sangat baik dan mereka mulai memimpikan hal tersebut.
“Aku masih tidak percaya kalau kita lolos tahap
pertama. Apa ini berarti kita adalah partisipan termuda?” Taehyung berkomentar
sekali lagi sambil membaringkan tubuh.
Mengingat hal tersebut, Taehyung merasa tercengang
ketika mendengarnya untuk pertama kali. Tiba-tiba saja Namjoon memberi tahu kru
bahwa mereka mendapatkan pengumuman kalau mereka harus mempersiapkan beberapa
lagu untuk dapat berpartisipasi dalam ronde selanjutnya.
Jungkook pun tidak dapat mempercayai hal tersebut.
Rasanya baru saja Yoongi memintanya untuk menyanyikan suatu bagian dari lagu
tersebut bersama Taehyung selagi Namjoon dan Yoongi mengisi bagian rap. Mereka
tidak pernah menjelaskan untuk apa itu. Namun Jungkook menyukai perasaan ini.
Ketika dia dapat berpartisipasi dalam suatu hal. Itu membuatnya terkesan. Dia
tidak pernah mendapatkan kesempatan semacam ini sebelum bertemu dengan BTS.
Yoongi dan Namjoon sering kali merekam para anggota kru bernyanyi atau
melakukan rap untuk sebuah lagu sebelumnya. Jungkook pikir itu hanya untuk
kesenangan semata, dan kemudian baru diketahui bahwa ternyata mereka sedang
membuat demo song untuk dikirimkan
pada kompetisi.
“Rasanya akan lebih luar biasa jika semua orang ada
di sini.”
Taehyung melihat ke sekeliling. Matanya terlihat
sedikit berair.
Jungkook tidak dapat tidak menyetujui hal tersebut.
Sekali lagi ruang kosong yang diciptakan oleh ketidakhadiran tiga orang
tersebut mengelilingi mereka. Ruangan tersebut terasa lebih besar tanpa tujuh
orang dari mereka berdesakan di dalam. Mereka bertahan dengan cukup baik tanpa
tiga orang lainnya namun ada ruang kosong yang selalu saja tertinggal untuk
diisi. Tanpa mereka, rasanya sesuatu telah hilang dari sana.
Tidakkah ini terasa sebagai sebuah ironi?
Sesungguhnya kau tidak butuh seseorang untuk terus bertahan hidup, namun kau
selalu menginginkan kehadiran seseorang untuk membuatmu merasa sepenuhnya.
☆☆☆☆☆☆☆
“Dah, Hyung!”
“Apa aku boleh tinggal lebih lama?”
“Tidak, kau pulang sana! Kau sudah bertengger di
dalam tempatku selama dua hari. Aku muak denganmu.”
Para anggota kru beranjak keluar dari tempat
Namjoon. Taehyung sedang merengek karena tidak ingin mengakhiri malam tersebut.
Namun seluruh anggota kru harus pulang ke rumah masing-masing. Hari sudah
larut. Namjoon pun memiliki kerja sambilan di pom bensin dan Jungkook harus
menghadiri hagwon-nya. Ibunya telah
memberikan peringatan jika dia lagi-lagi bolos, dia akan mendapat masalah.
Belum lagi mengenai kabur dari rumah sebelumnya. Jungkook cukup beruntung
karena ibunya bersedia mendengarkan permintaannya sedikit.
“Aku benci hagwon-hagwon
itu.” Jungkook terlihat tidak bersemangat mengenai jadwal yang harus dia
penuhi, namun itulah kesepakatannya. Dia boleh memiliki waktu kosong untuk
bergaul dengan BTS, namun sebagai gantinya dia harus berjanji akan menghadiri
kelas-kelasnya. “Bagaimana bisa kau mendapat nilai yang bagus tanpa mengikuti hagwon, Namjoon Hyung? Itu tidak dapat dipercaya. Kapan kau punya waktu untuk
belajar jika jadwalmu sepadat ini? Apa kau punya kemampuan mengingat yang fotografis?
Berapa IQ-mu?”
Namjoon mendengus tanpa menjawab.
“Kalau saja aku bisa membujuk ibuku untuk menukar hagwon dengan belajar darimu, Hyung. Mungkin aku akan punya lebih
banyak waktu untuk bermain.”
“Aku tidak punya waktu untuk mengasuh kalian semua.
Kembali sana ke rumah kalian masing-masing.”
Namjoon memutar matanya. Tidak dari Jungkook juga.
Dia sudah muak. Namjoon mendorong semua orang dari depan pintunya. Yoongi sudah
berada satu langkah sebelum menuruni tangga. Dia sedang menanti dua yang
lainnya untuk pergi bersamanya.
Hanya setelah semua orang telah pergi sajalah
Namjoon dapat kembali bernapas lega. Bersosialisasi adalah hal yang sangat
melelahkan. Dia tidak akan pernah terbiasa dengan hal tersebut.
“Kulihat akhir-akhir ini kau selalu punya seseorang
keluar masuk di tempatmu. Apa yang sedang kau lakukan dengan mereka
sebenarnya?” Sebuah suara terdengar sebelum Namjoon dapat kembali masuk ke
dalam ruangannya. Itu adalah Rahoon yang muncul dari kegelapan di sisi lain
tempat itu.
“Itu bukan urusanmu.” Namjoon tidak ingin Rahoon
tahu apa yang dia lakukan, namun dia juga yakin pemuda itu sudah tahu. Rahoon
tidak pernah benar-benar butuh jawaban ketika dia bertanya.
Rahoon mengendikan bahu selagi menatap Namjoon.
“Kenapa kau terus-terusan datang ke mari?” Namjoon
merasa janggal dengan kehadiran Rahoon di tempatnya. Ini sudah kedua kalinya.
Setelah semakin kasar padanya, apakah kali ini Rahoon pun memutuskan untuk
mengganggu Namjoon di tempatnya?
Rahoon berjalan untuk menduduki dipan kayu lebar
yang sering kali digunakan sebagai tempat makan di luar ruangan. Kedua
tangannya disembunyikan di dalam kantong celana.
“Kenapa? Tidak boleh? Bukankah tempat ini juga
datangnya dari uang keluargaku?”
Tempat ini adalah satu-satunya hal yang tidak
pernah didapatkan dari uang keluarga tersebut. Itu adalah satu-satunya hal yang
Namjoon miliki sebelum dia memasuki rumah Rahoon. Namjoon tahu itu terdengar
konyol untuk terus-terusan bergantung pada kenangan yang telah memudar. Namun
tempat ini dulunya adalah rumah orang tuanya, kenangan terakhir Namjoon
mengenai keluarganya sendiri. Meskipun saat ini dia hanyalah seorang penyewa di
sini.
“Apa yang membawamu ke sini?” Namjoon menghela
napas. Dia tidak ingin berdebat dengan pemuda tersebut meskipun dia sangat
ingin membantah apa yang dia katakan.
“Jung Yosa-nim
(Nyonya Jung yang terhormat) menyuruhku untuk mengirimkan ini pada anak
laki-laki tercintanya.” Rahoon menyenggol bungkusan tinggi yang dibungkus kain
berwarna cerah di sampingnya. Namjoon baru menyadari hal tersebut ada di sana
setelah Rahoon menyebutkan mengenai itu. Mungkin adalah side dish yang dibuat oleh ibu Rahoon.
“Dia itu ibumu.” Namjoon tidak menyukai ketika
Rahoon memanggil ibunya sendiri dengan panggilan-panggilan lain. Dia selalu
melakukan itu setiap kali dia memiliki sesuatu yang tidak dia sukai. Namun
kebanyakan dia melakukan itu untuk membuat kesal Namjoon.
“Tidak lagi semenjak kau datang. Kau sudah
mengambil semua dariku.”
“Apa masalahmu denganku sebenarnya?”
“Kau jadi semakin berani, huh? Apa karena kau
sekarang punya seseorang yang menopangmu? Senior kayamu? Apa yang kau tawarkan
padanya?”
“Apa?”
“Apa kau melakukan pekerjaan untuknya? Atau kau
melakukan sesuatu yang ilegal dengan anak-anak itu?”
Namjoon terlihat terkejut dengan tuduhan tersebut.
Dia tidak memahami dari mana pemuda itu mendapatkan pemikiran tersebut namun
dia memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun agar Rahoon segera mengakhiri
permasalahan tersebut. Namun pemuda tersebut tidak melepaskan hal tersebut
dengan mudah. Dia menangkap pandangan diam Namjoon berikan adalah sebuah
tantangan.
“Kenapa? Apa aku menangkap basahmu? Bukannya kau
juga melakukannya pada ibuku sebelumnya. Kau menjilatnya supaya dia memberimu
segala yang kau inginkan dan membuang anak kandungnya sendiri. Sebentar, apa
dia sudah tahu mengenai apa yang kau lakukan ini?”
“Apa yang sebenarnya kau bicarakan?”
“Nggak usah pura-pura. Sikap palsumu membuatku
ingin muntah.”
“Aku tidak membiarkan apa pun pada siapa pun.
Berhenti berbicara seperti kau mengetahui segalanya.”
Rahoon membuka mulutnya untuk mengucapkan hal lain
namun bibirnya berubah membentuk seulas seringai. “Benarkah? Kalau begitu
mengapa dia kembali sendiri ketika semua orang sudah pergi?”
Matanya mengarah pada hal di belakang Namjoon. Itu
membuat pemuda yang lebih pendek itu berpaling dan menemukan Yoongi sedang
berdiri di sana. Mengapa dia kembali?
“Aku meninggalkan ponselku di sini.”
“Tentu saja.”
Rahoon menyeringai seakan dia memikirkan makna lain dari kalimat tersebut.
Namjoon segera memastikan apakah yang lainnya juga
datang bersama Yoongi. Untunglah tidak, itu membuat Namjoon menghela napas
lega. Dia tidak ingin ada lagi yang mengetahui apa yang dia bicarakan dengan
Rahoon.
“Sekarang aku harus pergi sebelum tuanmu yang baru
menyerangku.” Rahoon mengendikan bahu dan memasukkan tangan ke dalam kantong.
Dia menendang bungkusan tadi ketika hendak berjalan menuju tangga, melewati
Yoongi. Dia meninggalkan Namjoon dengan kekacauan untuk dibereskan, seperti
biasa.
Alis Yoongi membentuk kerutan ketika dia mendengar
cara Rahoon menamainya, namun dia tidak mempermasalahkannya. Bukannya
mempertanyakan hal tersebut kepada Rahoon, dia menatap Namjoon.
“Di mana kau meninggalkan ponselmu? Aku akan
mengambilkannya untukmu.”
“Di atas meja.”
Namjoon tidak mengatakan apa pun selain berjalan
masuk ke dalam tempatnya untuk mengambil ponsel Yoongi. Meninggalkan Yoongi di
luar. Benak Namjoon menjadi kacau karena kejadian yang baru saja terjadi.
Seberapa banyak Yoongi mendengar percakapannya dengan Rahoon? Jika Yoongi
mendengarnya, dia sudah pasti akan menanyakan hal tersebut. Dia akan
menginterogasi Namjoon mengenai hal yang baru dia dengar hingga dia mendapat
jawaban. Namjoon tidak yakin apa yang harus dia katakan mengenai hal tersebut.
Dia tidak tahu apakah dia siap untuk membicarakan hal itu pada siapa pun.
Rasanya seperti sebuah rahasia lama yang Namjoon kira telah berhasil dia kubur
sedalam-dalamnya dan mengakhirinya. Dia pikir dia sudah baik-baik saja. Namun
ternyata luka yang ditimbulkan oleh rentetan kejadian itu masih saja hidup di
dalam relung terdalam benaknya.
Hingga saat itu, kejadian itu masih membuatnya
merasa pahit setiap kali dia mengingatnya.
☆☆☆☆☆☆☆
“Yimo,
tolong buka pintunya! Buka pintunya!” Namjoon yang masih kecil sedang mengedor
pintu dengan liar. Aliran air mata menuruni pipinya. Dia tidak berhenti
menggedor, bahkan ketika tangannya telah memerah dan berdenyut sakit. Dia harus
menjelaskan hal ini sebelum ini menjadi lebih buruk untuk seseorang di dalam
ruang tersebut.
“Omma...
Aku minta
maaf...
Aku tidak
akan melakukannya lagi...
Aku
salah...
Maafkan
aku.”
Terdapat suara-suara di dalam sana, tangisan yang
tak henti dari seorang anak laki-laki dan suara seorang wanita yang sedang
memarahi anak tersebut. Di dalam sangat bising dan menjadi semakin ribut dengan
tangisan putus asa Namjoon dan gedoran pintunya. Dia baru dua belas tahun dan
tidak berdaya di hadapan dunia. Dia tidak tahu mengenai apa pun. Dia tidak
pernah menyangka bahwa sebuah tindakan kecil yang bermaksud baik dapat
mengakibatkan kekacauan yang sedemikian besar.
“Yimo,
ini adalah kesalahanku. Kesalahanku. Tolong jangan hukum Rahoon lagi.” Namjoon
mengeratkan tangan pada pakaian wanita itu begitu dia keluar dari ruangan
tersebut. Namjoon begitu putus asa untuk memperbaiki hal yang telah dia
kacaukan.
“Apa yang sedang kau bicarakan, Namjoon a? Berapa kali aku harus memintamu untuk
memanggilku Omma?”
Seperti orang yang berbeda dari sebelumnya, Yiran
tersenyum kepada Namjoon selagi mengusap rambut anak laki-laki itu. Sepintas
dia terlihat seperti seseorang yang sangat baik hati, namun Namjoon dapat
melihat sesuatu di balik topeng tersebut, sosok yang mengerikan yang baru saja
berada di dalam ruangan. Tangan kanannya memerah dan terdapat goresan.
Rambutnya sedikit berantakan sebelum dia kembali merapikannya, kembali pada
topeng wanita anggun nan sempurnanya. Namjoon tidak ingin membayangkan apa yang
sesungguhnya terjadi di dalam sana namun dia tahu itu adalah hal yang
mengerikan. Dia selalu melakukannya bahkan sebelum kejadian ini.
“Omma, Rahoon tidak memaksaku untuk melakukan ujiannya.
Aku yang menawarkan padanya. Aku hanya pikir kalau dia gagal dalam tes ini
lagi, kau akan marah padanya.” Namjoon segera mengubah caranya memanggil wanita
tersebut untuk menyenangkannya. Dia akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan
Rahoon.
“Wah, sudah jam berapa ini. Ayo makan malam,
Namjoon. Kau pasti sudah lapar. Kau harus makan dengan baik supaya bisa melakukan
yang terbaik untuk pelajaranmu.” Seakan dia tidak mendengar pembelaan dari
Namjoon, Yiran berpindah dari tempat itu sambil menggenggam tangan Namjoon.
“Yim... Omma....” Namjoon mengerang sambil
mengikuti wanita itu. Dia mengkhawatirkan kondisi Rahoon. Apakah Rahoon akan
makan bersama mereka? Apakah dia baik-baik saja?
Ketika Yiran berpindah dari pintu, Namjoon menoleh
ke arah pintu. Di antara celah kecil sebelum pintu tertutup, dia melihatnya.
Itu hanya terjadi dalam waktu yang singkat untuk menunjukkan sosok Rahoon namun
segalanya terasa terjadi seperti dalam mode slow
motion. Anak itu mengulurkan tangan ke udara. Pandangan memohonnya yang dipenuhi
harapan dan keputusasaan memandang ke arah Namjoon, meminta pertolongan, namun
Namjoon mengalihkan tatapannya. Dia mengkhianati Rahoon. Dia tidak melakukan
apa pun. Dia tidak dapat melakukan apa pun. Dia... terlalu ketakutan.
Siapa wanita yang sedang berjalan di depannya ini
sesungguhnya? Mengapa? Mengapa dia sampai hati melakukan hal itu kepada anak
kandungnya sendiri? Kalau begitu, bagaimana dengannya yang hanya merupakan anak
angkat?
☆☆☆☆☆☆☆
“Kau tidak boleh melakukannya.”
Dengan ekspresi kaku wanita itu mengatakannya
ketika Namjoon berusaha menyampaikan hal yang dia inginkan. Sesungguhnya dia
sudah mengetahui sejak awal kalau wanita itu akan tidak mengizinkannya bahkan
sebelum dia mengatakan apa pun.
“Omma,
kumohon. Aku tidak akan pergi jauh. Aku hanya ingin kembali ke rumahku.”
“Bukankah ini rumahmu? Kau bilang kau akan
mengikuti perkataanku jika aku membiarkan Rahoon. Sekarang kau ingin
meninggalkanku juga?” Ibu angkatnya mulai bersikap histeris. Dia akan berbicara
dalam nada suara yang tinggi dan menjerit-jerit. Dia akan menolak untuk
mendengar apa pun sebelum Namjoon mengatakan dia akan mengikuti permintaannya.
Itu adalah sesuatu yang selalu membuat Namjoon
tidak tahu apa yang harus dilakukan. Itu juga membuatnya merasa seperti dialah
yang melakukan kesalahan. Tapi apa yang begitu salah mengenai ingin menjadi
lebih mandiri?
“Bukan itu maksudku. Omma salah memahaminya. Aku akan mengunjungimu sebanyak yang kau
inginkan, kapan pun Omma meneleponku.”
“Apa aku membesarkanmu untuk ini? Apa ini caramu
membalasku? Jangan buat aku kecewa padamu, Namjoon.”
Jangan
buat aku kecewa.
Itu selalu menjadi kata-kata sakral yang dapat
membuat Namjoon meragukan keinginannya. Namun dia harus melakukan sesuatu. Dia
harus bertahan hidup. Dia ingin melakukan hal itu dengan baik, namun untuk
tinggal di dalam rumah ini membuatnya tercekat. Dia tidak dapat bernapas dengan
baik dengan semua tekanan yang terarah padanya. Dia pikir dia akan mati
karenanya.
☆☆☆☆☆☆☆
“Apa kau baik-baik saja, Namjoon? Kau sudah pergi
begitu lama sejak kau bilang akan mengambilkan ponselku.”
Suara Yoongi mengisi pendengarannya. Namjoon segera
menarik diri dari lamunannya dan melirik ke arah pemuda yang telah berdiri di
kusen pintu tempat Namjoon.
“Aku baik-baik saja. Hanya saja aku tidak dapat
menemukan barangku. Maaf sudah membuatmu menunggu, Hyung.” Namjoon kembali bersembunyi di balik topeng ketenangannya.
Dia berjalan ke arah Yoongi untuk memberikan ponsel milik pemuda itu.
Yoongi menerima ponsel tersebut namun dia tidak
memindahkan tatapannya. Namun dia dapat melihat bahwa Namjoon tidak merasa
nyaman karena tatapan tersebut, jadi dia melakukan hal yang tidak biasa dia
lakukan. Dia memutuskan untuk tidak lagi membahas dan memalingkan wajahnya
selagi memasukkan ponsel ke dalam saku. Yoongi merasa bahwa Namjoon adalah
seseorang yang dapat menangani diri sendiri dengan cukup baik. Pemuda itu
selalu tahu apa yang dia lakukan, dan Yoongi tahu dia tidak dapat memaksakan
caranya pada Namjoon. Dia sudah pernah mencobanya dan gagal.
“Aku tidak akan memaksamu berbicara mengenai apa
pun. Bahkan tidak satu pertanyaan pun mengenai apa yang kudengar tadi. Jangan
khawatir.”
Dia
mendengar semuanya. Itu adalah
hal yang Namjoon pikirkan begitu mendengar Yoongi. Itu membuatnya merasa panik.
Dia tidak tahu bagaimana cara untuk memulai ceritanya atau pada titik apa dia
harus bercerita. Namjoon mengira Yoongi sedang melakukan psikologi terbalik
padanya untuk membuatnya ingin bercerita.
“Aku tahu kehidupanku terlihat cukup berantakan.”
Namjoon menyerah untuk melakukan perhitungan. Dia memutuskan untuk berbicara
selagi mendorong pintu untuk beranjak keluar. Dia merasa tercekik di dalam
ruangan.
“Aku tidak bertanya.”
Namjoon sedikit terkejut karena komentar tersebut.
Dia tidak berpikir bahwa Yoongi memang memaksudkan perkataannya. Itu adalah
sisi yang tidak Namjoon duga.
“Kau benar.” Namjoon menyeringai sambil
menggelengkan kepala.
Meskipun komentar blak-blakan Yoongi sedikit
mengejutkan Namjoon, dia menunjukkan seolah-oleh dia tidak pernah mengatakan
atau mendengar apa pun sebelumnya. Namjoon berjalan menuruni tangga untuk
berangkat kerja. Yoongi mengikutinya. Mereka berjalan bersampingan menyusuri
jalanan. Lingkungan itu terasa sepi. Hanya ada mobil-mobil yang terparkir di
jalanan.
“Hyung,
kenapa kau begitu kukuh mengenai musikmu?”
“Karena aku tahu apa yang kuinginkan dan aku harus
menjalankan apa yang kupercayai.”
Namjoon terkekeh. “Mengetahui apa yang kuinginkan
dan menjalankan apa yang kupercayai. Betapa baiknya itu terdengar.”
Namjoon tenggelam dalam pemikirannya. Dia tidak lagi
berbicara pada Yoongi. Dia memikirkan mengenai Rahoon, mengenai ibu Rahoon,
mengenai kenangan masa kanak-kanaknya, mengenai perjanjiannya dengan wanita itu
agar dia dapat keluar dari rumah itu, mengenai keserakahannya untuk
menyelamatkan semua orang. Terkadang keserakahan manusia itu adalah sesuatu
yang mengerikan. Dia dapat membantumu untuk mencapai kesuksesan namun juga
dapat menelanmu hidup-hidup di dalamnya. Kau akan terjebak di dalam obsesi dan
keserakahan.
“Musik yang sesungguhnya?
Seperti apa yang kau maksud?”
“Hip hop. Musik yang
sesungguhnya yang dapat menyampaikan pemikiran dan pandangan kita. Bukan
lirik-lirik menyedihkan yang orang-orang penuh kepalsuan itu muntahkan. Pesan
yang kuat yang mampu menyentuh kemudian menggerakkan hati banyak orang.”
Namjoon teringat pada apa yang Yoongi pernah katakan padanya pertama kali
ketika dia menginginkan Namjoon bergabung dalam krunya. “Sebuah pesan yang kuat
yang dapat menyentuh dan menggerakkan hati seseorang”. Itu adalah hal yang
segera menarik perhatian Namjoon. Pada akhirnya, dia masih saja tidak dapat
menyerah mengenai segalanya. Meskipun itu terasa tidak memiliki hubungan atau
pun makna yang cukup berarti, dia ingin melakukan sesuatu untuk semua orang.
“Hyung, ayo kita buat musik yang
bagus.”
☆☆☆☆☆☆☆






















0 comments