Mereka mengatakan bahwa
makna musim semi adalah sebuah perjumpaan. Es yang
sebelumnya membeku mulai mencair. Hewan-hewan merangkak keluar dari sarang persembunyian
mereka dan hendak berkeliaran bebas di angkasa dan daratan. Bunga-bunga mengintip malu, ingin
menyambut perjumpaan dengan angin semilir yang hangat dan kecupan dari
burung-burung bertamu. Pertemuan kembali. [1]
Kau tahu, apa kesamaan dari musim semi
dan masa muda? Itu adalah dalam masa muda terdapat musim semi. Dalam Bahasa
Mandarin, mereka menggunakan satu kata yang sama. Musim semi (春天-Chun Tian) dan masa muda (青春-Qing Chun).
Seperti energi yang tercipta oleh musim semi, masa muda identik dengan keinginan dan impian yang ingin dicapai. Dimulai dari sebuah langkah kecil saat pertama kali keluar untuk melihat dunia.
Dinding itu menyimpan sebuah impian.
Impianku. Di sana aku menatapnya. Di tempat itu aku mengutarakan segalanya. Deretan
kata dan gambar yang mewakili keinginan terdalamku. Aku menempelkannya untuk kuperhatikan dari jauh. Pun, agar ia terus mengingatkanku pada apa yang
ingin kucapai.
“Lo tuh gila ya?”
“Kita masih muda. Ngapain sih ngoyo kayak
gini. Have fun. Enjoy life.”
Maaf, caraku bersenang-senang dengan
masa mudaku adalah seperti ini. Menatap impianku satu per satu tercapai.
Masa muda, tentu saja kita harus
banyak bersenang-senang, menikmati hidup. Melakukan segudang kegilaan,
kesalahan, dan orang-orang akan memaafkanmu untuk apa yang kau lakukan atas
nama: “Namanya juga masih muda.”
Meskipun begitu, banyak hal masih
akan kau khawatirkan; tentang masa depan, arah hidup, bahkan detik ini tentang
apa yang ingin kau lakukan. Itu juga terjadi padaku.
Susunan batu bata berlapis cat putih
di sekujur tubuhnya yang berdiri kokoh di salah satu sisi kamarku itu menyimpan
kenangan. Kenangan akan diriku yang memiliki segudang impian. Namun, hari ini
sepertinya aku harus berpaling menatap pada dinding lain.
Ketika kau menatap sisi itu
sekelilingmu terasa gelap. Kau tak bisa melihat apa yang sedang dan
akan terjadi di depan matamu. Ia bisa membuatmu merasa tak berdaya, frustasi,
dan ingin memberontak, berpaling darinya. Ya, itu adalah dia. Kau pun pasti
mengetahuinya. Ia bernama Dinding Realitas. Berdiri tegak, kokoh, dan terasa
dingin. Menghalangi segala yang ada di depan dari penglihatanmu.
“Bermimpi itu boleh tapi tentukan
batas waktunya. Jangan terlena. Lakukan sesuatu.” Kau pikir aku tidak berusaha melakukan sesuatu?
“Kalau ternyata itu tidak
menghasilkan uang, jangan teruskan. Segera cari yang lain.” Uang. Uang. Uang. Selalu itu, mereka yang telah
berbenturan dengan dinding realitas, katakan. Jika itu tidak menguntungkan,
segera akhiri usahamu.
Apa kau sudah melupakannya? Bahwa di
dalam perjalanan mencapai mimpi itu terdapat banyak hal lain yang bisa kau dapatkan
selain keuntungan materi. Pengalaman. Bukankah hal itu lebih berharga?
Saat ini, usiaku baru mulai berkutat
dengan angka dua. Sepuluh tahun lagi, diriku barulah tiga puluhan, apa yang harus
kutakutkan? Jika pada akhirnya mungkin saja hasil menunjukan kegagalan setidaknya
aku pernah melakukannya.
Jangan takut untuk melakukannya.
Kalaupun tidak berhasil, kau masih muda. Masih ada banyak waktu untuk memulai
kembali. Memang tak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu,
namun akan lebih baik jika kau mengawalinya lebih dahulu dari siapapun.
Dinding
itu menyimpan hasratku. Keinginan untuk menghancurkan apa yang
menghalangi langkahku untuk beranjak menuju sebuah tempat beraroma musim
semi bernama impian. Orang-orang bercerita seperti
itulah permulaan musim semi. Langkah kecil-kecil, sepintas terlihat ragu, namun dipenuhi impian.
[1] Terinspirasi oleh salah satu chapter dalam buku yang ditulis Zhang Yixing. :)
Tangerang, 8 Oktober 2015
Notes: ditulis untuk memenuhi tantangan nulis bareng Kampus Fiksi dengan tema Dinding.























