[Cerpen] One Night in Winter

9:29 PM




Apakah pertemuan satu malam yang kurang dari sepuluh menit bisa membuat seseorang menyukai seseorang lainnya?  Jia meragukannya.

Seoul, malam itu suhu kota tersebut mencapai minus sepuluh derajat. Uap putih menguar dari hidung dan mulut setiap kali ia menarik napas dan berbicara. Jalanan Hongdae di malam minggu kali ini terlihat sangat ramai. Masih sama dengan setahun yang lalu ketika ia terakhir kali mengunjunginya. Jalanan sebagian besar dikuasai oleh taksi berwarna orange dan para pejalan kaki dengan pakaian fashionable. Ya, mereka sedang menuju klub-klub malam yang terletak di sepanjang jalanan Hongdae.  Hongdae memang selalu dipenuhi anak-anak muda setiap malam akhir pekan. Tujuannya adalah untuk bersenang-senang. Namun, berbeda dengan tujuan Jia untuk berkunjung ke distrik tersebut.

Gadis yang tampak berusia pertengahan dua puluh tersebut berdiri di depan pintu sebuah kafe yang bernuansa coklat dengan plang nama berwarna merah besar bertuliskan Tom n Toms Coffee. Ya, itu adalah cafe franchise yang berdiri tepat di ujung seberang jalan dari jalanan tempat pasar bebas Hongdae digelar. Mata cokelat Jia menatap lurus ke dalam kafe, menimbang keinginannya untuk memasuki kafe tersebut.

Apakah ia harus berpura-pura tersesat dan meminta bantuan pemuda itu lagi? Ataukah ia berjalan saja ke kasir dengan muka tebal dan bertanya apakah pemuda itu masih mengingatnya?

Tidak... tidak... Dasar bodoh. Kau pikir dia masih akan mengingatmu dari sekian banyak pengunjung yang datang ke kafe ini? Kau hanya pernah berbicara dengannya tak kurang dari sepuluh menit. Meski begitu, Jia masih mengingatnya.

“Hufh...,” Jia menghela napas untuk kesekian kalinya.

Jia adalah seorang pemimpi, juga pengecut. Ia hanya berani membayangkan segala skenario yang bisa ia lakukan untuk dapat berbicara dengan pemuda itu lagi. Tidak, tidak. Ia tidak menyukai pemuda itu. Ia hanya ingin berterima kasih atas bantuannya malam itu.

Untuk apa kau repot-repot kembali ke tempat itu hanya untuk berterima kasih. Kita sudah mengucapkannya malam itu,” Perkataan Hui Fang malam sebelum hari keberangkatannya ke Seoul itu kembali terngiang di benak Jia. Ia sempat menceritakan keinginannya ini pada teman dekatnya.

Memang benar kata Hui Fang, untuk apa ia repot-repot kembali ke tempat ini hanya untuk mengucapkan hal yang sudah pernah ia ucapkan? Toh, ini bukan bantuan yang sangat besar.

Mungkin ini ada hubungannya dengan rasa penasaran Jia. Pada wajah pemuda yang Jia hanya ingat tentang anting-anting bintang hitam di telinga kirinya.

***

           

“Wow, aku tidak menyangka ini benar-benar terjadi. Hanya dengan berada di Korea Selatan sungguh seperti hidup dalam drama selama dua puluh empat jam,” Hui Fang terus saja meracau tentang pengalaman yang baru saja mereka alami. Tentang mahasiswa manis yang tampak canggung akibat mereka perhatikan terus menerus di dalam kereta bawah tanah. Tentang pemabuk yang mengamuk di kantor pemadam kebakaran tengah malam dekat apartemen mereka menginap. Tentang seorang pria yang mengikatkan tali sepatu pacarnya di depan toilet. Dan kali ini tentang mereka yang tertinggal kereta terakhir karena keasikan mengamati aksesoris yang dijual di pasar bebas Hongdae. Tidak hanya itu, malam itu Jia dan Hui Fang mengalami sendiri adegan layaknya drama romantis dari Negeri Ginseng ini.

Semua berawal dari dua jam yang lalu.

Jie[1], ayo segera selesaikan pilihanmu. Sudah jam sebelas,” Jia merintih sambil bergerak-gerak gelisah di samping Hui Fang yang masih asyik untuk memilah cincin-cincin di hadapannya.

“Sebentar lagi. Sebentar lagi.”

“Tapi, ini sudah dekat waktu kereta terakhir. Kau tidak mau kita panik berlari seperti di Gyeongbokgung kemarin, ‘kan?” Jia mengingatkan Hui Fang pada kejadian semalam di mana mereka baru naik kereta pulang tepat sebelum stasiun ditutup. Semua karena dirinya hanya salah mengira stasiun tempat mereka harus turun untuk pergi ke Sungai Cheonggyecheon yang mereka ingin kunjungi. Mereka harus berjalan selama tiga jam untuk mencapai tempat yang dimaksud dan akibatnya ketika mereka sampai, waktu telah menunjukkan pukul 22.30.

“Tenanglah, ini baru jam sepuluh. Lagipula ini Hongdae. Masa kereta di sini berhenti lebih cepat daripada Gyeongbokgung.” Hui Fang mengatakan hal tersebut karena Hongdae terlihat jauh lebih ramai daripada tempat yang mereka kunjungi sebelumnya.

“Tapi, aku butuh toilet segera.” Jia semakin gelisah, separuh memang karena menahan pipis, separuh lagi karena perasaannya tidak tenang mengenai kereta terakhir.

Akhirnya setelah beberapa menit berlalu, Jia berhasil membujuk Hui Fang untuk beranjak memasuki stasiun subway Hongik University.

“Kereta terakhir baru saja berangkat,” Hui Fang mengatakan dengan wajah datar ketika Jia kembali dari toilet stasiun. Ia menjelaskan itulah mengapa ketika mereka berjalan masuk ke dalam stasiun sebagian besar orang-orang berlarian.

“Kenapa tadi nggak bilang?” Jia berseru kesal.

“Kau kan tadi bilang perlu toilet,” sahut Hui Fang masih datar, tak terlihat panik meski mereka baru saja ketinggalan angkutan terakhir untuk membawa mereka pulang. Berbeda dengan Jia.

“Lantas bagaimana kita pulang?” Ini adalah Hongdae, tempat yang tidak Jia kenali. Terlebih lagi ini adalah Korea Selatan, bukan Guilin, tempat asalnya.

“Buka HP-mu. Cari jalan pulang. Kita bisa gunakan wifi di sini kan?” Hui Fang mengingatkan Jia pada kartu wifi prabayar yang tidak sempat mereka gunakan dan belum habis masa berlakunya.

Sialnya, Jia tidak mengerti cara menghubungkannya.

“Kita cari kafe saja dulu. Pakai wifi di sana saja. Lebih cepat,” saran Hui Fang yang segera Jia setujui. Mereka menyeberangi jalan raya untuk memasuki sebuah kafe terdekat.

Sementara Jia sibuk dengan aplikasi Naver Map untuk mencari jalan pulang, Hui Fang pergi memesan sesuatu untuk ia cemil. Gadis itu benar-benar tidak bisa bertahan hidup tanpa cemilan beberapa menit sekali. Namun, Jia tidak peduli. Ia hanya berkutat pada ponselnya mencoba mengkoneksikan benda tersebut dengan internet.

“Tidak bisa,” Jia berkata pada Hui Fang yang kembali dengan membawa benda bulat berlampu merah yang menunjukkan nomor antrian.

“Kenapa?” Hui Fang bertanya sambil duduk di depan Jia.

Password-nya tidak bisa,” Jia pernah memakai wifi dari cabang kafe ini dari tempat lain. Ia mengira kata sandinya pun akan sama. Namun, ternyata tidak.

Hui Fang mengulurkan kertas putih, “Ini struknya. Coba cek saja.”

Jia segera memeriksa di antara deretan huruf Korea untuk mencari apakah ada tulisan password seperti di tempat sebelumnya, namun hasilnya nihil.

“Coba kau tanyakan pada kasir saja.” Hui Fang menunjuk pada tiga orang di belakang meja kasir. Jia segera bergerak menuju tempat itu, namun temannya kembali memanggil. “Jia, kasirnya tidak bisa berbahasa Inggris. Oh ya, sekalian ambil pesanan ini.”

Jia mengambil buzzer dari tangan Hui Fang dan berjalan ke kasir.

Excuse me,” Meski telah diperingatkan oleh Hui Fang, Jia tetap saja menggunakan Bahasa Inggris. Ia tidak terlalu percaya diri dengan kemampuan Bahasa Koreanya.

Salah seorang dari pekerja yang dilihatnya pertama kali berhenti untuk membantu Jia.

Password.” Jia tidak ingin banyak bicara karena sudah terlalu lelah malam itu juga kesal karena tertinggal kereta. Ia hanya menunjukkan ponsel. Karyawan kafe tersebut tampak bingung, namun beberapa detik berikutnya ia akhirnya paham.

“Ah... jeonhwa bonho.[2]” Pekerja itu menunjuk pada nomor telepon pada struk yang diulurkan Jia pula. Gadis itu mengangguk dan berterima kasih sebelum berjalan pergi ke meja lain untuk mengambil pesanan Hui Fang.

Sekilas Jia melihat pemuda berkacamata bingkai hitam yang memberikan pesanannya. Namun, Jia tidak mempedulikan hal tersebut. Yang ada dalam pikirannya saat itu hanyalah bagaimana menemukan jalan untuk mereka pulang ke Yeongdeungpo.

“Satu jam dua puluh satu menit,” Jia mengumumkan hasil pencariannya di aplikasi peta Korea tersebut. “Yakin mau jalan kaki hingga Yeongdeungpo?”

Jia dan Hui Fang serempak menoleh ke arah luar. Jalanan Hongdae tengah malam itu terlihat masih sangat ramai meski suhu udara terasa dingin. Taksi berderet di sepanjang jalan, bukan karena sedang mangkal melainkan karena kemacetan yang diakibatkan oleh padatnya pengunjung daerah itu.

“Sekarang sih masih ramai, tapi kalau kita jalan kaki pulang, aku tidak yakin. Bagaimana kalau nanti kita bertemu dengan pemabuk seperti semalam?” Meskipun Seoul merupakan salah satu kota teraman di dunia, pengalaman menyaksikan drama tengah malam di jalanan Yeongdeungpo tidaklah menyenangkan baik untuk Hui Fang maupun Jia.

“Kita naik taksi saja?” Jia menyarankan.

“Katamu taksi di sini suka mencurangi tarif pada turis.” Hui Fang mengingatkan Jia pada artikel-artikel perjalanan yang ia baca sebelum berangkat ke negara ini.

“Iya sih. Katanya taksi hitam lebih aman, hanya saja harganya juga lebih mahal.”

“Ya sudah itu saja, tapi bagaimana kita naik taksi itu? Sepertinya daritadi hanya orange saja yang lewat.”

“Harus lewat telepon, kah?” Jia berusaha mengingat-ingat isi artikel yang ia baca.

“Bagaimana kau akan menjelaskannya? Bahasa Koreamu kan tidak sefasih itu.” Meskipun begitu dalam perjalanan ini mereka berdua mengandalkan kemampuan pas-pasan Jia yang satu ini. Hui Fang sama sekali tidak bisa berbicara dalam bahasa Korea. Jangankan berbicara, membaca hangeul[3] saja ia masih terbata-bata.

Jia dan Hui Fang saling melirik dan memberi kode untuk bertanya pada seseorang. Pilihan tersebut jatuh pada wanita yang duduk sendiri di samping mereka. Jia menggeleng ketika Hui Fang mendorongnya untuk bertanya karena posisinya lebih dekat.

“Kau saja. Dari kemarin masa aku yang bertanya.” Jia menolak keras mengingat pengalamannya beberapa hari tersesat di negeri surga entertaimen ini. Jia sedikit enggan berurusan dengan orang Korea soal bertanya jalan. Mereka sering kali menjawab tidak tahu. Entah mereka benar-benar tidak tahu jalan atau tidak mengerti apa yang mereka katakan. Yang jelas, Jia merasa sedikit sebal, meski ada beberapa orang yang cukup berbaik hati untuk menunjukkan jalan.

Hui Fang tidak menerima penolakan tersebut, malah mendorongnya lebih keras untuk mendekati wanita itu. Mau tak mau Jia yang sudah terlanjur hampir jatuh dari kursinya pun beranjak untuk bertanya.

Sialnya, Eonni[4]Korea yang satu itu tidak terlalu fasih berbahasa Inggris. Ia bingung, Jia pun ikut bingung mendengar penjelasannya mengenai taksi mana yang mereka harus naiki, karena ternyata ada taksi yang menolak untuk pergi ke tempat yang kita tuju.

“Katanya taksi orange cukup aman, tapi aku masih ragu. Bagaimana kita akan pulang?” Jia menatap putus asa pada Hui Fang sekembalinya dari bertanya.

“Tidak ada alternatif kendaraan lainkah? Bus?”

“Sudah berhenti juga.”

“Apa kita harus menginap di sini hingga pagi?” Hui Fang semakin memelas. Ia mulai menyadari betapa gawatnya situasi mereka saat ini.

Jia memutar otak, memikirkan apakah hal itu lebih baik atau ia harus bertanya kembali pada wanita tadi? Selagi Jia ragu, ia melihat wanita itu membereskan barangnya dan mengembalikan nampan ke kasir.

Eonni itu pergi. Kita tidak bisa bertanya lagi. Sepertinya lebih baik kita menunggu kereta pertama di sini saja, daripada dibawa taksi entah ke mana.”

“Tapi, kita belum membereskan koper. Besok kan kita pulang.”

Jia semakin bingung. Wanita Korea itu tampak berbicara dengan karyawan kafe sejenak sebelum ia berjalan melewati meja Jia untuk mengatakan, “I have told the worker here. He will help you. Just tell him the address,” katanya dengan bahasa Inggris sepatah-patah.

Jia dan Hui Fang terkejut mendengarnya. Mereka berpikir wanita itu akan pergi begitu saja tanpa menolong mereka. Untuk pertama kalinya, Jia merasakan kehangatan warga lokal setelah beberapa hari mengalami penolakan. Yah, tidak semuanya bersikap tak acuh namun hal itu tidak bisa dibandingkan dengan bantuan malam ini.

Gamsahamnida,” Jia dan Hui Fang berterima kasih serempak dan merasa lega.

Tak lama, seorang pemuda berkacamata hitam datang menghampiri mereka. Jia menyodorkan sebuah kartu nama yang berisi alamat tempat tinggal mereka selama di Seoul.

I want to go to this address,” Jia berbicara dengan campuran bahasa Inggris dan Korea. Ia mengira pemuda tersebut sama dengan wanita tadi yang tidak terlalu paham berbahasa asing. Namun, ternyata tidak. Pemuda itu cukup fasih.

Wait a minute.” Pemuda itu berjalan kembali ke meja kasir, sepertinya untuk mengambil jaket. Tak lama ia kembali dan menyuruh Jia untuk mengikutinya. Hui Fang tampak sedikit terkejut melihat pemuda tersebut, sedangkan Jia tak acuh. Saat itu, ia hanya berpikir bagaimana untuk segera pulang.

Selama berjalan ke pintu keluar kafe, Jia mengamati tengkuk pemuda tersebut, karena tinggi tubuh mereka berselisih cukup jauh. Rambut pemuda itu berwarna hitam pekat, tidak seperti anak muda Korea lainnya yang mewarnai rambut dengan berbagai warna yang sedang tren tahun itu. Bahunya terlihat lebar. Namun, Jia tidak mengingat seperti apa wajah pemuda tersebut. Ia memang lemah dalam mengingat wajah seseorang. Hanya saja ada satu hal yang melekat dalam benak Jia, anting-anting hitam berbentuk bintang di telinga kirinya. Jia memperhatikan hal itu ketika pemuda itu membukakan pintu untuknya dan Hui Fang. Dan ternyata memang hal itulah yang paling mencolok dari sosoknya yang terlihat biasa, karena Hui Fang pun berkomentar hal yang sama ketika mereka berada di dalam taksi.

Namun, bukan ini adegan bak drama Korea yang Hui Fang maksud. Melainkan sosok pemuda itu dan apa yang ia lakukan sebelum membiarkan mereka melaju pulang dengan taksi.

“Aku nggak nyangka. Dia terlihat sangat berbeda tanpa kacamata. Tadi sewaktu memesan aku tidak memperhatikannya, tapi tadi ternyata dia ganteng banget.” Hui Fang terlihat begitu terpesona dengan sosok yang baru saja menolongnya.

“Masa?” Jia yang saat itu tidak benar-benar memperhatikan wajah pemuda itu merasakan ada sedikit penyesalan. Hui Fang terus membicarakan ketampanan pemuda yang baru saja membantu mereka. Hal itu membuat Jia semakin penasaran. Satu-satunya hal yang mampu ia ingat dari pemuda tersebut hanyalah rambut dan anting-anting bintang berwarna hitam.

“Jadi, tadi kenapa dia menahanmu masuk taksi?” Jia menanyakan kejadian sebelum mereka beranjak pulang.

Setelah memanggil taksi untuk mereka dan berbicara dengan supir taksi tersebut, pemuda tersebut menyuruh Jia masuk, namun menahan Hui Fang untuk masuk dan sedikit berdebat dengan supir taksi mengenai alamat yang Jia berikan.

“Dekat stasiun pemadam kebakaran kan?” tanya pemuda itu pada Hui Fang. Hui Fang mengangguk. Pemuda tersebut kembali menjelaskan alamat tersebut, namun setelah itu Jia tidak mengerti apa yang keduanya bicarakan karena tiba-tiba saja pengemudi taksi itu memajukan mobil yang membuat Jia panik karena Hui Fang belum naik.

Ajooshi, odie ga yo[5]?” Jia berusaha menunjukkan bahwa ia memahami bahasa Korea agar pria itu tidak berbuat macam-macam. Pengemudi taksi itu segera mengenghentikan mobilnya kembali.

Jia mengamati pemudi itu berbicara dengan Hui Fang berulang kali dengan cemas.

“Dia meminta nomor teleponku,” itu adalah jawaban Hui Fang untuk pertanyaan Jia sebelumnya.

“Huh?” Jia mengenyit heran.

“Iya, dia tadi bilang phone number, berulang kali, lalu karena aku panik kau akan dibawa pergi taksi aku tidak bisa memahami apa yang dia katakan. Akhirnya kujawab saja tidak ada, biar cepat.”

Jawaban Hui Fang, membuat hati Jia terasa mencelos.

“Tidak menyangka, kejadian hari ini benar-benar seperti di dalam drama, ya. Kita tersesat, kemudian tiba-tiba saja muncul seseorang yang menolong kita. Dan kerennya, cowok itu ternyata sangat tampan. Padahal sewaktu memesan cemilan, aku sudah melihat dia dan tidak terlihat seperti itu. Ah, seharusnya tadi kuberikan saja.” Hui Fang terlihat menyesali kepanikannya tadi. Ia menceritakan ulang apa yang terjadi sebelumnya di dalam kafe, ketika ia memesan cemilan pada kasir yang tidak bisa berbahasa Inggris, dan yang membantunya mencatat pesanan dalam Bahasa Inggris adalah pemuda itu.

“Mungkin dia hanya berusaha memastikan bahwa kita sampai di apartemen dengan selamat.”

“Mungkin saja, soalnya sebelumnya dia seperti sedang mencatat plat nomor taksi. Dia benar-benar baik ya, sampai mengkhawatirkan turis seperti kita sampai atau tidak di tujuan.” Hui Fang tampak cuek dengan sergahan Jia yang berusaha menghentikan fantasi romantisnya.

Jia berusaha untuk tidak merasa kecewa oleh lagi-lagi perhatian tertuju pada Hui Fang yang cantik dan supel. Namun, hal itu tidak bisa dihindari. Sejak lama Jia berteman dengan Hui Fang, setiap perhatian orang-orang selalu saja terarah pada Hui Fang. Tak pernah satu pun tertuju padanya. Terkadang Jia merasa bersama Hui Fang, ia seakan tidak terlihat.

***

Ketika pertahananmu sedang rapuh, saat itulah meski hanya berupa kejadian kecil, namun itu mampu merebut perhatianmu dalam sekejap.

Untuk orang lain, kejadian tahun lalu hanyalah kejadian tersesat biasa saja. Namun untuk Jia, hal tersebut meninggalkan kesan mendalam. Sejak malam itu, Jia masih saja diliputi rasa penasaran mengenai wajah pemilik anting-anting bintang hitam yang kata Hui Fang sangat tampan. Jia mempercayai itu, karena Hui Fang tidak pernah mengatakan siapa pun tampan selain Kim Jaejoong, penyanyi favoritnya sejak lama. Jia menyesali mengapa ia tidak bisa mengingat bagaimana wajah pemuda itu.

Selain itu, ia ingin mengetahui alasannya menahan Hui Fang masuk ke dalam taksi setelah menyuruhnya masuk terlebih dahulu. Padahal jika ia ingin menanyakan alamat lebih jelas, ia seharusnya bertanya pada Jia yang berbicara padanya sejak awal. Apakah memang hanya untuk menanyakan nomor ponsel Hui Fang saja?

Ah, Jia lagi-lagi berpikir terlalu banyak. Padahal bisa saja itu semua tidak berarti apa pun, hanya perasaan rendah diri dan ingin mendapat sedikit perhatian menguasai rasa penasaran Jia.

Namun, saat ini ia telah berdiri di dalam kafe ini. Ia hanya ingin melihat apakah memang benar wajah pemuda itu sangat menarik seperti Hui Fang katakan. Jia hanya samar mengingat bahwa kesan pemuda itu terlihat seperti Seo Inguk, pemain drama Reply 1997 yang saat itu sedang ia gandrungi. Tapi, kata Hui Fang tidak mirip.  Jia ingin memastikannya. Hanya selangkah lagi.

“Ah, tidak ada.” Jia terpaksa harus menahan rasa kecewanya ketika ia tidak menemukan sosok dari musim dingin tahun lalu.

Tentu saja, tidak mungkin dia masih bekerja di sini. Jia sudah menduganya sejak awal. Namun, rasa penasarannya tetap membawa langkah kakinya ke tempat ini meskipun ia baru saja mendarat di Seoul beberapa jam lalu.

Jia terpaksa melangkah keluar dari kafe tersebut tanpa mendapatkan hasil yang ia inginkan.

BRUK!

“Ah... Sorry,” Jia tanpa sengaja menubruk seseorang ketika melangkah keluar dari pintu keluar. Ini akibat ia terus saja memandang ke dalam kafe lewat jendela kacanya.

It’s okay,” suara rendah seorang laki-laki memenuhi indera pendengaran Jia, membuatnya mendongak menatap sosok tinggi di hadapannya.

Jia terdiam.

“Hey, are you okay?” Laki-laki itu mengayunkan tangan di depan wajah Jia. Rupanya Jia menatapnya terlalu lama.

I’m okay.” Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari sosok laki-laki beretnis Korea tersebut. Jia menyingkir untuk memberi jalan padanya tersebut untuk memasuki kafe.

Jia mungkin tidak dapat mengenali wajah pemuda musim dingin tahun lalu. Ia juga tidak mengingat bagaimana suara sosok itu ketika berbicara padanya. Namun, Jia mengingat anting-anting bintang hitam di telinga kiri dan rambut hitamnya.

Sosok laki-laki bermata sipit dengan tahi lalat di bawah mata kiri di hadapan Jia, dia adalah pemuda musim dingin tahun lalunya.  Jia melihatnya dengan jelas kali ini. Ternyata Jia memang benar, ia mirip dengan Seo Inguk.

Jia merasakan adrenalinnya berpacu hanya dengan bertukar beberapa kalimat singkat dengannya sekali lagi. Jia menoleh sekali lagi untuk mengingat sosok itu agar bisa menceritakan pada Hui Fang tentang hari ini. Jia berani bertaruh temannya pasti menyesal tidak ikut ke tempat ini.

“Hey,” sosok itu memanggilnya.  Jia menoleh. “Kau... tahun lalu pernah ke sini, bukan?”

Apakah kalian percaya pertemuan satu malam yang kurang dari sepuluh menit bisa membuat seseorang tertarik seseorang lainnya? Saat ini ada sebuah perasaan bergemuruh sedang menggedor dinding jantung Jia mendengar pertanyaan tersebut.




[1] Panggilan untuk perempuan yang lebih tua
[2] nomor telepon
[3] huruf alfabet Korea
[4] Panggilan untuk wanita yang lebih tua oleh perempuan
[5] Paman, mau ke mana?

You Might Also Like

1 comments

  1. Aaahhh lanjutttt. Adegan romantisnya manahhh? Tapi dah cukup manis kok ceritanya....kurang nih... Lalu mereka jadian nggak? #eh

    ReplyDelete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide