[Cerpen] One Night in Winter
9:29 PM
Apakah pertemuan satu malam yang kurang
dari sepuluh menit bisa membuat seseorang menyukai seseorang lainnya? Jia meragukannya.
Seoul, malam itu suhu kota tersebut mencapai minus sepuluh derajat. Uap
putih menguar dari hidung dan mulut setiap kali ia menarik napas dan berbicara.
Jalanan Hongdae di malam minggu kali ini terlihat sangat ramai. Masih sama
dengan setahun yang lalu ketika ia terakhir kali mengunjunginya. Jalanan
sebagian besar dikuasai oleh taksi berwarna orange dan para pejalan kaki dengan
pakaian fashionable. Ya, mereka
sedang menuju klub-klub malam yang terletak di sepanjang jalanan Hongdae. Hongdae memang selalu dipenuhi anak-anak muda
setiap malam akhir pekan. Tujuannya adalah untuk bersenang-senang. Namun, berbeda dengan tujuan Jia untuk berkunjung ke distrik tersebut.
Gadis yang tampak berusia pertengahan dua puluh tersebut berdiri di depan
pintu sebuah kafe yang bernuansa coklat dengan plang nama berwarna merah besar
bertuliskan Tom n Toms Coffee. Ya, itu adalah cafe franchise yang berdiri tepat di ujung seberang jalan dari jalanan
tempat pasar bebas Hongdae digelar. Mata cokelat Jia menatap lurus ke dalam
kafe, menimbang keinginannya untuk memasuki kafe tersebut.
Apakah ia harus berpura-pura tersesat dan meminta bantuan pemuda itu lagi?
Ataukah ia berjalan saja ke kasir dengan muka tebal dan bertanya apakah pemuda
itu masih mengingatnya?
Tidak... tidak... Dasar bodoh. Kau pikir
dia masih akan mengingatmu dari sekian banyak pengunjung yang datang ke kafe
ini? Kau hanya pernah berbicara dengannya tak kurang dari sepuluh menit. Meski begitu, Jia masih mengingatnya.
“Hufh...,” Jia menghela napas untuk kesekian kalinya.
Jia adalah seorang pemimpi, juga pengecut. Ia hanya berani membayangkan
segala skenario yang bisa ia lakukan untuk dapat berbicara dengan pemuda itu
lagi. Tidak, tidak. Ia tidak menyukai pemuda itu. Ia hanya ingin berterima
kasih atas bantuannya malam itu.
“Untuk apa kau repot-repot kembali ke
tempat itu hanya untuk berterima kasih. Kita sudah mengucapkannya malam itu,”
Perkataan Hui Fang malam sebelum hari keberangkatannya ke Seoul itu kembali
terngiang di benak Jia. Ia sempat menceritakan keinginannya ini pada teman
dekatnya.
Memang benar kata Hui Fang, untuk apa ia repot-repot kembali ke tempat ini
hanya untuk mengucapkan hal yang sudah pernah ia ucapkan? Toh, ini bukan
bantuan yang sangat besar.
Mungkin ini ada hubungannya dengan rasa penasaran Jia. Pada wajah pemuda
yang Jia hanya ingat tentang anting-anting bintang hitam di telinga kirinya.
***
“Wow, aku tidak menyangka ini benar-benar terjadi. Hanya dengan berada di
Korea Selatan sungguh seperti hidup dalam drama selama dua puluh empat jam,”
Hui Fang terus saja meracau tentang pengalaman yang baru saja mereka alami.
Tentang mahasiswa manis yang tampak canggung akibat mereka perhatikan terus
menerus di dalam kereta bawah tanah. Tentang pemabuk yang mengamuk di kantor
pemadam kebakaran tengah malam dekat apartemen mereka menginap. Tentang seorang
pria yang mengikatkan tali sepatu pacarnya di depan toilet. Dan kali ini
tentang mereka yang tertinggal kereta terakhir karena keasikan mengamati
aksesoris yang dijual di pasar bebas Hongdae. Tidak hanya itu, malam itu Jia
dan Hui Fang mengalami sendiri adegan layaknya drama romantis dari Negeri
Ginseng ini.
Semua berawal dari dua jam yang lalu.
“Jie[1],
ayo segera selesaikan pilihanmu. Sudah jam sebelas,” Jia merintih sambil
bergerak-gerak gelisah di samping Hui Fang yang masih asyik untuk memilah
cincin-cincin di hadapannya.
“Sebentar lagi. Sebentar lagi.”
“Tapi, ini sudah dekat waktu kereta terakhir. Kau tidak mau kita panik
berlari seperti di Gyeongbokgung kemarin, ‘kan?” Jia mengingatkan
Hui Fang pada kejadian semalam di mana mereka baru naik kereta pulang tepat
sebelum stasiun ditutup. Semua karena dirinya hanya salah mengira stasiun
tempat mereka harus turun untuk pergi ke Sungai Cheonggyecheon yang mereka
ingin kunjungi. Mereka harus berjalan selama tiga jam untuk mencapai tempat
yang dimaksud dan akibatnya ketika mereka sampai, waktu telah menunjukkan pukul
22.30.
“Tenanglah, ini baru jam sepuluh. Lagipula ini Hongdae. Masa kereta di sini
berhenti lebih cepat daripada Gyeongbokgung.” Hui Fang mengatakan hal tersebut
karena Hongdae terlihat jauh lebih ramai daripada tempat yang mereka kunjungi
sebelumnya.
“Tapi, aku butuh toilet segera.” Jia semakin gelisah, separuh memang karena
menahan pipis, separuh lagi karena perasaannya tidak tenang mengenai kereta
terakhir.
Akhirnya setelah beberapa menit berlalu, Jia berhasil membujuk Hui Fang untuk beranjak
memasuki stasiun subway Hongik
University.
“Kereta terakhir baru saja berangkat,” Hui Fang mengatakan dengan wajah
datar ketika Jia kembali dari toilet stasiun. Ia menjelaskan itulah mengapa
ketika mereka berjalan masuk ke dalam stasiun sebagian besar orang-orang
berlarian.
“Kenapa tadi nggak bilang?” Jia berseru kesal.
“Kau kan tadi bilang perlu toilet,” sahut Hui Fang masih datar, tak
terlihat panik meski mereka baru saja ketinggalan angkutan terakhir untuk
membawa mereka pulang. Berbeda dengan Jia.
“Lantas bagaimana kita pulang?” Ini adalah Hongdae, tempat yang tidak Jia
kenali. Terlebih lagi ini adalah Korea Selatan, bukan Guilin, tempat asalnya.
“Buka HP-mu. Cari jalan pulang. Kita bisa gunakan wifi di sini kan?” Hui Fang mengingatkan Jia pada kartu wifi prabayar yang tidak sempat mereka
gunakan dan belum habis masa berlakunya.
Sialnya, Jia tidak mengerti cara menghubungkannya.
“Kita cari kafe saja dulu. Pakai wifi
di sana saja. Lebih cepat,” saran Hui Fang yang segera Jia setujui. Mereka
menyeberangi jalan raya untuk memasuki sebuah kafe terdekat.
Sementara Jia sibuk dengan aplikasi Naver
Map untuk mencari jalan pulang, Hui Fang pergi memesan sesuatu untuk ia
cemil. Gadis itu benar-benar tidak bisa bertahan hidup tanpa cemilan beberapa
menit sekali. Namun, Jia
tidak peduli. Ia hanya berkutat pada ponselnya mencoba mengkoneksikan benda
tersebut dengan internet.
“Tidak bisa,” Jia berkata pada Hui Fang yang kembali dengan membawa benda
bulat berlampu merah yang menunjukkan nomor antrian.
“Kenapa?” Hui Fang bertanya sambil duduk di depan Jia.
“Password-nya tidak bisa,” Jia pernah memakai wifi dari cabang kafe ini
dari tempat lain. Ia mengira kata sandinya pun akan sama. Namun, ternyata
tidak.
Hui Fang mengulurkan kertas putih, “Ini struknya. Coba cek saja.”
Jia segera memeriksa di antara deretan huruf Korea untuk mencari apakah ada
tulisan password seperti di tempat
sebelumnya, namun hasilnya nihil.
“Coba kau tanyakan pada kasir saja.” Hui Fang menunjuk pada tiga orang di
belakang meja kasir. Jia segera bergerak menuju tempat itu, namun temannya
kembali memanggil. “Jia, kasirnya tidak bisa berbahasa Inggris. Oh ya, sekalian ambil pesanan ini.”
Jia mengambil buzzer dari tangan
Hui Fang dan berjalan ke kasir.
“Excuse me,” Meski telah diperingatkan
oleh Hui Fang, Jia tetap saja menggunakan Bahasa Inggris. Ia tidak terlalu
percaya diri dengan kemampuan Bahasa Koreanya.
Salah seorang dari pekerja yang dilihatnya pertama kali berhenti untuk
membantu Jia.
“Password.” Jia tidak ingin
banyak bicara karena sudah terlalu lelah malam itu juga kesal karena tertinggal
kereta. Ia hanya menunjukkan ponsel. Karyawan kafe tersebut tampak bingung,
namun beberapa detik berikutnya ia akhirnya paham.
“Ah... jeonhwa bonho.[2]”
Pekerja itu menunjuk pada nomor telepon pada struk yang diulurkan Jia pula. Gadis itu mengangguk dan berterima
kasih sebelum berjalan pergi ke meja lain untuk mengambil pesanan Hui Fang.
Sekilas Jia melihat pemuda berkacamata bingkai hitam yang memberikan
pesanannya. Namun, Jia tidak mempedulikan hal tersebut. Yang ada dalam
pikirannya saat itu hanyalah bagaimana menemukan jalan untuk mereka pulang ke
Yeongdeungpo.
“Satu jam dua puluh satu menit,” Jia mengumumkan hasil pencariannya di
aplikasi peta Korea tersebut. “Yakin mau jalan kaki hingga Yeongdeungpo?”
Jia dan Hui Fang serempak menoleh ke arah luar. Jalanan Hongdae
tengah malam itu terlihat masih
sangat ramai meski suhu udara terasa dingin. Taksi berderet di sepanjang jalan,
bukan karena sedang mangkal melainkan karena kemacetan yang diakibatkan oleh
padatnya pengunjung daerah itu.
“Sekarang sih masih ramai, tapi kalau kita jalan kaki pulang, aku tidak
yakin. Bagaimana kalau nanti kita bertemu dengan pemabuk seperti semalam?”
Meskipun Seoul merupakan salah satu kota teraman di dunia, pengalaman
menyaksikan drama tengah malam di jalanan Yeongdeungpo tidaklah menyenangkan
baik untuk Hui Fang maupun Jia.
“Kita naik taksi saja?” Jia menyarankan.
“Katamu taksi di sini suka mencurangi tarif pada turis.” Hui Fang mengingatkan Jia pada
artikel-artikel perjalanan yang ia baca sebelum berangkat ke negara ini.
“Iya sih. Katanya taksi hitam lebih aman, hanya saja harganya juga lebih mahal.”
“Ya sudah itu saja, tapi bagaimana kita naik taksi itu? Sepertinya daritadi
hanya orange saja yang lewat.”
“Harus lewat telepon, kah?” Jia berusaha mengingat-ingat isi artikel yang
ia baca.
“Bagaimana kau akan menjelaskannya? Bahasa Koreamu kan tidak sefasih itu.”
Meskipun begitu dalam perjalanan ini mereka berdua mengandalkan kemampuan
pas-pasan Jia yang satu ini. Hui Fang sama sekali tidak bisa berbicara dalam
bahasa Korea. Jangankan berbicara, membaca hangeul[3]
saja ia masih terbata-bata.
Jia dan Hui Fang saling melirik dan memberi kode untuk bertanya pada
seseorang. Pilihan tersebut jatuh pada wanita yang duduk sendiri di samping
mereka. Jia menggeleng ketika Hui Fang mendorongnya untuk bertanya karena posisinya lebih dekat.
“Kau saja. Dari kemarin masa aku yang bertanya.” Jia menolak keras
mengingat pengalamannya beberapa hari tersesat di negeri surga entertaimen ini. Jia sedikit enggan berurusan dengan
orang Korea soal bertanya
jalan. Mereka sering kali menjawab tidak tahu. Entah mereka benar-benar tidak
tahu jalan atau tidak mengerti apa yang mereka katakan. Yang jelas, Jia merasa
sedikit sebal, meski ada beberapa orang yang cukup berbaik hati untuk
menunjukkan jalan.
Hui Fang tidak menerima penolakan tersebut, malah mendorongnya lebih keras
untuk mendekati wanita itu. Mau tak mau Jia yang sudah terlanjur hampir jatuh
dari kursinya pun beranjak untuk bertanya.
Sialnya, Eonni[4]Korea
yang satu itu tidak terlalu fasih berbahasa Inggris. Ia bingung, Jia pun ikut
bingung mendengar penjelasannya mengenai taksi mana yang mereka harus naiki,
karena ternyata ada taksi yang menolak untuk pergi ke tempat yang kita tuju.
“Katanya taksi orange cukup aman, tapi aku masih ragu. Bagaimana kita akan
pulang?” Jia menatap putus asa pada Hui Fang sekembalinya dari bertanya.
“Tidak ada alternatif kendaraan lainkah? Bus?”
“Sudah berhenti juga.”
“Apa kita harus menginap di sini hingga pagi?” Hui Fang semakin memelas. Ia
mulai menyadari betapa gawatnya situasi mereka saat ini.
Jia memutar otak, memikirkan apakah hal itu lebih baik atau ia harus bertanya
kembali pada wanita tadi? Selagi
Jia ragu, ia melihat wanita itu membereskan barangnya dan mengembalikan nampan
ke kasir.
“Eonni itu pergi. Kita tidak bisa bertanya lagi.
Sepertinya lebih baik kita menunggu kereta pertama di sini saja, daripada
dibawa taksi entah ke mana.”
“Tapi, kita belum membereskan koper. Besok kan kita pulang.”
Jia semakin bingung. Wanita Korea itu tampak berbicara dengan karyawan kafe
sejenak sebelum ia berjalan melewati meja Jia untuk mengatakan, “I have told the worker here. He will help
you. Just tell him the address,” katanya dengan bahasa Inggris
sepatah-patah.
Jia dan Hui Fang terkejut mendengarnya. Mereka berpikir wanita itu akan
pergi begitu saja tanpa menolong mereka. Untuk pertama kalinya, Jia merasakan kehangatan
warga lokal setelah beberapa hari mengalami penolakan. Yah, tidak semuanya
bersikap tak acuh namun hal itu tidak bisa dibandingkan dengan bantuan malam
ini.
“Gamsahamnida,” Jia dan Hui Fang
berterima kasih serempak dan merasa lega.
Tak lama, seorang pemuda berkacamata hitam datang menghampiri mereka. Jia
menyodorkan sebuah kartu nama yang berisi alamat tempat tinggal mereka selama
di Seoul.
“I want to go to this address,”
Jia berbicara dengan campuran bahasa Inggris dan Korea. Ia mengira pemuda
tersebut sama dengan wanita tadi yang tidak terlalu paham berbahasa asing.
Namun, ternyata tidak. Pemuda itu cukup fasih.
“Wait a minute.” Pemuda itu
berjalan kembali ke meja kasir, sepertinya untuk mengambil jaket. Tak lama ia
kembali dan menyuruh Jia untuk mengikutinya. Hui Fang tampak sedikit terkejut
melihat pemuda tersebut, sedangkan Jia tak acuh. Saat itu, ia hanya berpikir
bagaimana untuk segera pulang.
Selama berjalan ke pintu keluar kafe, Jia mengamati tengkuk pemuda tersebut,
karena tinggi tubuh mereka berselisih cukup jauh. Rambut pemuda itu berwarna
hitam pekat, tidak seperti anak muda Korea lainnya yang mewarnai rambut dengan
berbagai warna yang sedang tren tahun itu. Bahunya terlihat lebar. Namun, Jia
tidak mengingat seperti apa wajah pemuda tersebut. Ia memang lemah dalam
mengingat wajah seseorang. Hanya saja ada satu hal yang melekat dalam benak
Jia, anting-anting hitam berbentuk bintang di telinga kirinya. Jia
memperhatikan hal itu ketika pemuda itu membukakan pintu untuknya dan Hui Fang.
Dan ternyata memang hal itulah yang paling mencolok dari sosoknya yang terlihat
biasa, karena Hui Fang pun berkomentar hal yang sama ketika mereka berada di
dalam taksi.
Namun, bukan ini adegan bak drama Korea yang Hui Fang maksud. Melainkan
sosok pemuda itu dan apa yang ia lakukan sebelum membiarkan mereka melaju
pulang dengan taksi.
“Aku nggak nyangka. Dia terlihat sangat berbeda tanpa kacamata. Tadi
sewaktu memesan aku tidak memperhatikannya, tapi tadi ternyata dia ganteng banget.”
Hui Fang terlihat begitu terpesona dengan sosok yang baru saja menolongnya.
“Masa?” Jia yang saat itu tidak benar-benar memperhatikan wajah pemuda itu
merasakan ada sedikit penyesalan. Hui Fang terus membicarakan ketampanan pemuda
yang baru saja membantu mereka. Hal itu membuat Jia semakin penasaran.
Satu-satunya hal yang mampu ia ingat dari pemuda tersebut hanyalah rambut dan
anting-anting bintang berwarna hitam.
“Jadi, tadi kenapa dia menahanmu masuk taksi?” Jia menanyakan kejadian
sebelum mereka beranjak pulang.
Setelah memanggil taksi untuk mereka dan berbicara dengan supir taksi
tersebut, pemuda tersebut menyuruh Jia masuk, namun menahan Hui Fang untuk
masuk dan sedikit berdebat dengan supir taksi mengenai alamat yang Jia berikan.
“Dekat stasiun pemadam kebakaran kan?” tanya pemuda itu pada Hui Fang. Hui
Fang mengangguk. Pemuda tersebut kembali menjelaskan alamat tersebut, namun
setelah itu Jia tidak mengerti apa yang keduanya bicarakan karena tiba-tiba
saja pengemudi taksi itu memajukan mobil yang membuat Jia panik karena Hui Fang
belum naik.
“Ajooshi, odie ga yo[5]?”
Jia berusaha menunjukkan bahwa ia memahami bahasa Korea agar pria itu tidak
berbuat macam-macam. Pengemudi taksi itu segera mengenghentikan mobilnya
kembali.
Jia mengamati pemudi itu berbicara dengan Hui Fang berulang kali dengan
cemas.
“Dia meminta nomor teleponku,” itu adalah jawaban Hui Fang untuk pertanyaan
Jia sebelumnya.
“Huh?” Jia mengenyit heran.
“Iya, dia tadi bilang phone number,
berulang kali, lalu karena aku panik kau akan dibawa pergi taksi aku tidak bisa
memahami apa yang dia katakan. Akhirnya kujawab saja tidak ada, biar cepat.”
Jawaban Hui Fang, membuat hati Jia terasa mencelos.
“Tidak menyangka, kejadian hari ini benar-benar seperti di dalam drama, ya.
Kita tersesat, kemudian tiba-tiba saja muncul seseorang yang menolong kita. Dan
kerennya, cowok itu ternyata sangat tampan. Padahal
sewaktu memesan cemilan, aku sudah melihat dia dan tidak terlihat seperti itu.
Ah, seharusnya tadi kuberikan saja.” Hui Fang terlihat menyesali kepanikannya
tadi. Ia menceritakan ulang apa yang terjadi sebelumnya di dalam kafe, ketika
ia memesan cemilan pada kasir yang tidak bisa berbahasa Inggris, dan yang
membantunya mencatat pesanan dalam Bahasa Inggris adalah pemuda itu.
“Mungkin dia hanya berusaha memastikan bahwa kita sampai di apartemen
dengan selamat.”
“Mungkin saja, soalnya sebelumnya dia seperti sedang mencatat plat nomor
taksi. Dia benar-benar baik ya, sampai mengkhawatirkan turis seperti kita
sampai atau tidak di tujuan.” Hui Fang tampak cuek dengan sergahan Jia yang
berusaha menghentikan fantasi romantisnya.
Jia berusaha untuk tidak merasa kecewa oleh lagi-lagi perhatian tertuju
pada Hui Fang yang cantik dan supel. Namun, hal itu tidak bisa dihindari. Sejak
lama Jia berteman dengan Hui Fang, setiap perhatian orang-orang selalu saja
terarah pada Hui Fang. Tak pernah satu pun tertuju padanya. Terkadang Jia
merasa bersama Hui Fang, ia seakan tidak terlihat.
***
Ketika
pertahananmu sedang rapuh, saat itulah meski hanya berupa kejadian kecil, namun
itu mampu merebut perhatianmu dalam sekejap.
Untuk orang lain, kejadian tahun lalu hanyalah kejadian tersesat biasa
saja. Namun untuk Jia, hal tersebut meninggalkan kesan mendalam. Sejak malam
itu, Jia masih saja diliputi rasa penasaran mengenai wajah pemilik anting-anting bintang hitam yang
kata Hui Fang sangat tampan. Jia mempercayai itu, karena Hui Fang tidak pernah
mengatakan siapa pun tampan selain Kim Jaejoong, penyanyi favoritnya sejak
lama. Jia menyesali mengapa ia tidak bisa mengingat bagaimana wajah pemuda itu.
Selain itu, ia ingin mengetahui alasannya menahan Hui Fang masuk ke dalam
taksi setelah menyuruhnya masuk terlebih dahulu. Padahal jika ia ingin
menanyakan alamat lebih jelas, ia seharusnya bertanya pada Jia yang berbicara
padanya sejak awal. Apakah memang hanya untuk menanyakan nomor ponsel Hui Fang
saja?
Ah, Jia lagi-lagi berpikir terlalu banyak. Padahal bisa saja itu semua
tidak berarti apa pun, hanya perasaan rendah diri dan ingin mendapat sedikit
perhatian menguasai rasa penasaran Jia.
Namun, saat ini ia telah berdiri di dalam kafe ini. Ia hanya ingin melihat
apakah memang benar wajah pemuda itu sangat menarik seperti Hui Fang katakan.
Jia hanya samar mengingat
bahwa kesan pemuda itu terlihat seperti Seo Inguk, pemain drama Reply 1997 yang
saat itu sedang ia gandrungi. Tapi, kata Hui Fang tidak mirip. Jia ingin memastikannya. Hanya selangkah
lagi.
“Ah, tidak ada.” Jia terpaksa harus menahan rasa kecewanya ketika ia tidak
menemukan sosok dari musim dingin tahun lalu.
Tentu saja, tidak mungkin dia masih
bekerja di sini. Jia
sudah menduganya sejak awal. Namun, rasa penasarannya tetap membawa langkah
kakinya ke tempat ini meskipun ia baru saja mendarat di Seoul beberapa jam
lalu.
Jia terpaksa melangkah keluar dari kafe tersebut tanpa mendapatkan hasil
yang ia inginkan.
BRUK!
“Ah... Sorry,” Jia tanpa sengaja
menubruk seseorang ketika melangkah keluar dari pintu keluar. Ini akibat ia
terus saja memandang ke dalam kafe lewat jendela kacanya.
“It’s okay,” suara rendah seorang
laki-laki memenuhi indera pendengaran Jia, membuatnya mendongak menatap sosok
tinggi di hadapannya.
Jia terdiam.
“Hey, are you okay?” Laki-laki
itu mengayunkan tangan di depan wajah Jia. Rupanya Jia menatapnya terlalu lama.
“I’m okay.” Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari
sosok laki-laki beretnis Korea tersebut. Jia menyingkir untuk memberi jalan padanya tersebut untuk memasuki kafe.
Jia mungkin tidak dapat mengenali wajah pemuda musim dingin tahun lalu. Ia
juga tidak mengingat bagaimana suara sosok itu ketika berbicara padanya. Namun,
Jia mengingat anting-anting bintang hitam di telinga kiri dan rambut hitamnya.
Sosok laki-laki bermata sipit dengan tahi lalat di bawah mata kiri di
hadapan Jia, dia adalah pemuda musim dingin tahun lalunya. Jia melihatnya dengan jelas kali ini.
Ternyata Jia memang benar, ia mirip dengan Seo Inguk.
Jia merasakan adrenalinnya berpacu hanya dengan bertukar beberapa
kalimat singkat dengannya sekali lagi. Jia menoleh sekali lagi untuk mengingat
sosok itu agar bisa menceritakan pada Hui Fang tentang hari ini. Jia berani
bertaruh temannya pasti
menyesal tidak ikut ke tempat ini.
“Hey,” sosok itu memanggilnya.
Jia menoleh. “Kau... tahun lalu pernah ke sini,
bukan?”
Apakah kalian percaya pertemuan satu malam
yang kurang dari sepuluh menit bisa membuat seseorang tertarik seseorang
lainnya? Saat ini ada sebuah perasaan bergemuruh sedang menggedor dinding
jantung Jia mendengar pertanyaan tersebut.






















1 comments
Aaahhh lanjutttt. Adegan romantisnya manahhh? Tapi dah cukup manis kok ceritanya....kurang nih... Lalu mereka jadian nggak? #eh
ReplyDelete