[Cerpen] Not a Goodbye
11:37 PM
Kau tahu? Diam memiliki makna. Diam adalah teriakan terkeras, namun kau
tak akan pernah mendengarnya. Tidak ada yang ingin mendengar. Ia lelah.
Sepi. Sekujur tubuhnya terasa sakit.
Terkoyak di bawah sayatan ratusan pisau. Meski begitu, ia tetap diam. Tak ada
yang akan mendengar permintaan tolongnya. Mereka hanya ingin mendengar dan
mengatakan yang mereka inginkan saja.
Siapa kau?
Apa hakmu untuk menilainya?
Tak ada.
Tak ada seorang pun berhak melakukan hal itu.
Hei, kalian manusia-manusia bertopeng. Di depan
muka kau mengatakan hal semanis madu, ketika ia membalikkan tubuh, pisau kau
asah. Bersiap untuk menikamnya hingga mati. Menikmati detik demi detik
kesakitan yang ia derita. Apa
hanya dengan begitu kau bisa merasa bahagia? Dengan melihat penderitaan orang
lain?
“Tahu
nggak sih. si anu lagi di Korea sekarang?”
“Iya,
kemarin aku lihat fotonya. Gila ih, sekarang dia langsing banget. Beda
wajahnya. Oplas, ya?”
“Pastinya.
Lihat saja kakinya. Bentuknya aneh.”
“Makin
gila aja ya tuh anak.”
Ia tidak peduli. Apa pun yang orang katakan
tentangnya, itu tak akan mempengaruhinya. Selama dirinya mengingat siapa ia
sesungguhnya, ia tidak peduli. Ia berhak melakukan apa pun. Untuk apa kau
peduli? Toh itu tidak menganggu kehidupanmu.
“Selama
hatimu mengatakan itu harus kau lakukan, lakukanlah. Jalani hidupmu sepenuh
hati,” Perkataan itu
selalu ia ingat dalam melakukan setiap hal yang akan digunjingkan. Ini caranya
untuk mengisi ruang kosong di hatinya. Apa pedulimu?
Hari ini, ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuknya. Seseorang.
Tangannya bergetar sejak tadi ia tiba dalam gedung
ini. Langkah kakinya lamat-lamat bergerak menuju ujung lain dari koridor. Pikirannya
kosong. Ia hanya mampu terus menatap pada sosok bergaun putih yang terbingkai
waktu yang telah berakhir.
Langkah kakinya terhenti tepat di depan kotak panjang berwarna
cokelat dan berbalut kain putih. Cengkraman tangan pada kedua benda yang berada
di dalamnya menguat. Ia tidak takut akan kehilangan. Itu hanyalah sebuah perpisahan
untuk sementara waktu.
“Kenapa dia
pakai baju seperti itu? Tidak sopan!” Terserah kau ingin mengatakan apa.
Sorot matanya mengarah pada sosok yang tampak
tidur dalam kedamaian. Ia menatap dari ujung kaki hingga kepala. Mengingat
setiap inchi darinya. Mungkin untuk beberapa saat ia hanya mampu mengingatnya
dalam kenangan, hingga waktunya berjumpa lagi.
Tangannya
bergerak untuk menyentuh kotak di hadapannya.
“Mau apa tuh
anak? Suruh dia turun!” Kebisingan mulai terjadi dalam gedung.
Beberapa pria berjas hitam mulai mengerumuninya. Kali ini Ia memberontak. Semua orang menahannya untuk membuka tutup kaca yang menghalanginya untuk
bertemu langsung dengan sosok itu.
“Lepaskan
dia. Biar saja dia lakukan itu.” Tanpa menoleh pun ia hapal betul suara
berat yang berucap penuh otoritas itu. Ia tidak peduli. Hanya itu tidak akan mengurangi dosamu, Tuan. Kau tetap orang paling
buruk di dalam ruangan ini.
Ia melakukan
apa yang ingin ia lakukan. Meletakkan sebuah boneka binatang berwarna merah
muda kesayangannya dan selembar foto berisi dirinya dan sosok itu. Ia ingin
mengabadikan saat itu. Saat terakhirnya untuk bisa bersama dengan sosok itu. Tak
ada yang boleh melarangnya.
Ehehehe she sleeps so well. Look! I got her my favorite doll to accompany here since I cannot be there beside her personally after tomorrow, and a photo of us! Just in case she started to forget how I look like, cause she wouldn’t be able to see me for a long period of time. :)
Sebuah posting-an ia unggah dalam media sosial
beserta foto kenangan saat terakhir bersama sosok itu.
Hari ini ia akan berpisah untuk sementara waktu
dengan teman yang tak pernah akan mengkhianati maupun mengatakan hal buruk di
belakangnya. Sosok pendukung
terbesarnya.
Ini tidak akan sakit. Ia akan segera baik-baik
saja ketika waktunya tiba.
“See you
again there, Ma.”
***
This is a short fiction
dedicated for you; someone that I used to think badly, someone who we always
talked bad about, even when we never got to know the real you. Now, I know that
you’re not okay. You’re hurt too behind those facades. I’m sorry about it.
And I’m sending my deep consolidation for your
loss.






















3 comments
:')
ReplyDeleteAku kok bacanya sedih ya.. : (
Ce Deasy, sakitnya tuh di sini loh akunya baca ini. Hikseu.. > <
kebayang suasananya tuh nyesek banget
ReplyDeletekayaknya ada banyak banget beban si tokoh utamanya, huhuhuhu
salam kenal dari Bening KF13
Salam kenal, Mbak Bening. :) Makasih sudah mampir.
Delete