3분의1 (1/3): Chapter 2
9:49 PMCHAPTER 2
J, visual member Achanés adalah seorang stalker
Aku
sungguh tidak tahu apakah Kim Hyunsoo ini maniak ataukah stalker. Ya,
kau tidak salah baca, aku memang memanggilnya seperti itu. Apa? Belum
pernah mendengar seseorang memanggil idol dengan maniak atau stalker?
Kau mendengarnya sekarang. Sejak seminggu lalu, maniak ini tidak pernah
berhenti mengikutiku ke mana pun. Ke sudut manapun dari SNU ini aku selalu
menemukannya, selalu.
Bahkan
di sudut terdalam dari perpustakaan seperti saat ini. Apa dia tidak
punya pekerjaan lain ataukah kelas? Dan lagi lagi dia memakai baju
berwarna hitam. Apa seluruh bajunya hanya berwarna hitam saja? Atau dia
memang terobsesi dengan warna hitam?
Aku
menatapnya ngeri ketika Hyunsoo berjalan mendekatiku. Sepertinya memang
dia berbakat untuk menjadi terobsesi pada suatu hal, sama seperti
obsesinya untuk membuatku mengenali Achanés.
“Hyemi ya,
kau sudah mendengar lagu yang ini? Ini lagu terbaru kam.. ah..” Idol
maniak itu berjalan sambil menyodorkan headset yang terpasang pada iPod.
Tepat sebelum ia sedikit terpeleset.
Aku
berusaha menahan tawa melihatnya mengamati lantai sambil sambil
menggesekkan sepatunya berulang kali untuk mengeceknya. Satu lagi yang
lupa kusebutkan lagi, setelah seminggu ini maniak ini selalu
menggangguku, satu hal yang kusadari. Dia adalah slipping king.
Entah ada masalah apa pada sepatunya, ke mana pun ia berjalan ia hampir
tidak pernah tidak terpeleset, tergelincir ataupun tersandung.
“Jangan ganggu aku!” Berusaha tidak mengacuhkannya, aku kembali memainkan game di ponselku.
Aku tersentak kaget ketika merasakan ada sesuatu yang mendekat pada telingaku. “Apa yang kau lakukan?!”
Hyunsoo menatapku dengan tatapan polos. “Aku hendak memperdengarkannya padamu”
“Aku
sudah bilang bukan? Aku tidak mau mendengarnya” tanpa sadar nada
suaraku mulai meninggi. Aku sangat tidak menyukai orang yang keras
kepala, terutama jika dia memaksakan sesuatu yang tidak ingin kulakukan.
Entah
apa yang dipikirkan maniak ini, tetapi ia memasang ekspresi cemberut
seperti seorang anak anak. Aku tidak mengerti apa dia memang seperti itu
atau hanya berpura pura agar aku jatuh dalam jebakannya.
“Tidak ada salahnya kan jika mendengarnya sedikit” katanya sambil mengambil tempat duduk di sampingku.
“Aku
sudah mendengarnya sebelumnya” jawabku sebelum bisa kukontrol. Aish!
Mengapa harus kukatakan, pastinya maniak ini akan mengira aku sudah
mulai memperhatikan grupnya.
“Beneran? Bagaimana?” tanyanya dengan mata berbinar.
“Biasa saja. Telingaku yang berharga aigoo” jawabku acuh sambil kembali memainkan gameku.
Maniak itu tampak terdiam sejenak. Aku perlahan merasakan perubahannya dan menoleh. Apakah komentarku sudah menyinggungnya?
“Jang
Hyemi, apa kau selalu sesinis ini?” komentarnya singkat sambil
menampilkan senyumannya.
Aku terdiam melihat senyuman itu. Aku tidak
menyangkanya, ia memiliki senyuman yang cantik.
Aku
memalingkan wajahku cepat, pastinya hanya karena efek wajahnya yang
lumayan tampan. Maniak itu tampak tidak seperti tidak merasa bersalah
membuat wajahku sedikit memanas, malahan mengutak atik iPodnya.
“Bagaimana
kalau lagu yang ini? Kau sudah mendengarnya?” tanyanya sambil kembali
menyodorkan headsetnya. Aku segera mendorong tangannya.
“Tidak mau”
Namun
penolakanku tidak cukup untuk membuatnya menyerah, ia terus bercerita
mengenai lagu dan juga mengenai grupnya. Achanés (아카네스) sudah memiliki
dua mini album dan sebuah full album untuk saat ini, yang terbaru adalah full album dengan lagu utama Evolution. Mereka debut sudah dua tahun, nama fansclub mereka adalah Epiphany
(에피파니) yang bermakna pencerahan. Warna fandom mereka adalah... Arghhhhh
mengapa aku terus mendengarkan pembicaraannya? Hentikan Jang Hyemi,
jangan dengarkan maniak ini.
Tidak ada idol lain yang bisa menyaingi kesempurnaan JYJ! Aku berusaha memfokuskan diriku pada game yang sebelumnya kumainkan.
“Hyemi ya”
Aku menoleh kembali dengan kesal. “Apa? Kau tidak bosankah memanggilku seharian? Dan sejak kapan kau boleh menggunakan banmal[1] padaku?”
“Tidak, lagipula kita kan teman karena seangkatan. Tidak boleh? Aku harus menggunakan jeondaemal[2]?”
bibirnya kembali mengerucut. Setiap kali ia merasa kesal ataupun
menginginkan sesuatu, kulihat bibirnya selalu mengerucut seperti itu.
“Gunakan jeondaemal.
Kita bahkan bukan teman” Aku tidak mengerti apakah sikap kasar dan
cuekku padanya seminggu ini tidak cukup untuk membuatnya mundurkah.
“Kau sungguh orang yang kaku, Hyemi ya”
komentarnya. Lagi lagi. Sehari ini, sudah dua komentar dibuatnya
mengenai karakterku, satu sinis dua kaku. Apakah aku sungguh seperti
itu? Huh?
“Ada apa kau memanggilku tadi?” tanyaku akhirnya berusaha tidak mempedulikan komentarnya.
“Kau
tidak mendengar pertanyaanku tadi?” Hyunsoo mengerucutkan bibirnya
tampak tidak senang. Aku hanya menggeleng cuek “Aku bertanya tadi musik
apa yang kau suka dengarkan? Dari seluruh idol yang ada kau menyukai
yang mana?”
“Ah, JYJ” jawabku singkat.
“JYJ sunbaenim[3]? Ah...” Hyunsoo mengangguk sendiri.
“Ada apa? Kau tidak akan bisa menyaingi mereka!”
“Aku tidak berniat untuk menyaingi mereka, JYJ sunbaenim dan Achanés punya kelebihan yang berbeda, meskipun aku juga menyukai lagu mereka”
Aku
mengenyitkan dahi mendengar komentar tersebut. Entah mengapa saat
maniak ini mengatakannya, sosoknya jadi terlihat lebih dewasa dari yang
biasa kulihat dan juga membuatku penasaran. Sebenarnya apa yang
membuatnya begitu percaya diri.
“Ah! Aku masih ada jadwal kerja! Tidak Jongwoon hyung[4]
pasti akan marah besar padaku jika telat” Hyunsoo melihat jam di
ponselnya dan tercengang melihat angka yang menunjukan jam saat ini itu.
“Hyemi ya, aku pergi dulu. Sampai ketemu lain kali! Lain kali aku yakin kau akan mulai menyukai lagu lagu kami!”
Maniak
itu berjalan pergi sambil melambaikan tangannya padaku. Untung saat itu
perpustakaan cukup sepi, hanya beberapa kutu buku saja yang sedang
duduk membaca buku mereka, tidak mempedulikan kami.
“Disini
perpustakaan, kalau ingin mengobrol keluar!” tiba tiba penjaga
perpustakaan muncul di belakang Hyunsoo membuatnya menabrak wanita tua
itu.
“Ups... jwesonghamnida”
Hyunsoo membungkukkan tubuhnya meminta maaf. Aku tetap duduk di
tempatku berusaha bersikap seolah tidak mengenalnya, namun diam diam
mengamati maniak itu diomeli oleh penjaga perpustakaan. Rasakan. Aku
tertawa dalam hati.
∞∞∞∞∞∞∞
[1] bahasa informal
[2] bahasa formal
[3] senior
[4] panggilan untuk laki laki yang lebih tua (untuk pemanggil laki laki)
Huah... sudah berapa lama ga update cerita ini di WP... Kekekekeke.. Mian ^^






















0 comments