[BookTalk] Me Before You

6:43 PM


Finally, review buku ketiga. Fiuh...

Sebenarnya aku sudah membaca beberapa buku beberapa minggu belakangan, hanya saja beberapa belum selesai dan yang lainnya I don't know what to say about those books.

Buku yang ketiga ini pun penuh intrik dan menghasilkan sebuah pergulatan di dalam pikiranku bahkan hingga saat ini, ketika akan mengetik review tentang ini.

Pro-Life or Pro-Chance. It's really a hard choice. 


Well, sebelum kita membahas lebih lanjut soal ini. Let me start this review first with the usual. Beberapa part akan kupercepat saja agar tidak memperpanjang review.  

WARNING FOR SPOILERS ... 
Susah untuk membahas cerita ini tanpa mengupas hal itu. 


Nah, buku yang kali ini mau kubahas berjudul


ME BEFORE YOU
Sebelum Mengenalmu
oleh Jojo Moyes

Sinopsis/ Deskripsi Cerita


Blurb-nya ada disini

Untuk singkatnya, novel ini bercerita tentang dua orang yang sangat bertolak belakang; Lou yang ceria, sehat, hanya saja miskin dan Will yang dulu merupakan pengusaha sukses yang aktif dan kaya namun sebuah kecelakaan mengubah hidupnya menjadi suram dan tanpa masa depan. Pada intinya, ini adalah sebuah cerita tentang bagaimana dua orang saling mempengaruhi hidup masing-masing. 

Well, it's quite interesting right? Bagaimana bertemu dengan seseorang bisa mengubah hidupmu. Cliché, tapi mash menarik untuk diceritakan. 

Apa yang harus kukatakan ya tentang novel ini? 
Ehm... Aku ga punya terlalu banyak komentar tentang sinopsis ini. Menarik, meski pun sejujurnya mungkin saja aku tidak akan pernah beli kalau bukan mau baca untuk referensi novel >,< hehehe. 

Tapi setelah membaca isinya, ekspektasi yang sudah dibangun lewat sinopsis terhadap cerita ini tidak berjalan semulus harapanku. 

First Impression

Mungkin saja ekspektasiku berlebihan terhadap sebuah sinopsis singkat ini. Kesan pertama untuk buku ini. Hmmh... *kenapa hari ini sepertinya aku mereview dengan setengah hati ya? haha*

Pada awalnya ketika membaca deskripsi cerita ini, aku membayangkan sebuah cerita yang akan menghangatkan hati. 

Bayangkan, bagaimana seseorang yang sudah tidak ingin melanjutkan hidup perlahan berubah. I guess something must be happened, but it doesn't turn out like what I thought.


Karakterisasi


Ketika membuka lembaran-lembaran awal buku, ada hal yang mengusik. Karakter Lou yang sepanjang cerita dikatakan sebagai sosok yang hangat, suka mengobrol, dan membuat suasana ceria. Hmh...

Let me quote one review from Goodreads. Review ini benar-benar menggambarkan kesanku terhadap karakterisasi dalam buku ini. 

This is a story that revolves around an immature, self-centered, vacuous woman named Louisa. She has no desire to do anything in life or better herself in any way, she’s perfectly content to work whatever job she can find, allow herself to be stuck in a loveless relationship and forever remain a selfish child. 

Kekanakan, self centered, tidak punya ambisi sedikit pun. Itulah kesan yang kudapatkan. Terutama saat membaca bagian ia mencari pekerjaan baru. 

Entah mengapa karakter Lou sangat membuatku kesal dan gemas. Bahkan hingga akhir cerita pun aku masih tidak bisa suka pada karakter ini. Tidak hanya karakter Lou, bahkan pada karakter Will. 

Untukku, karakter Will dibuat dengan sangat menyebalkan dan tidak loveable sedikit pun. Namun hal ini masih bisa dimengerti karena tokoh mengalami Quadriplegia C5/6, which means Will tidak akan pernah sembuh. Tidak ada harapan. 

Aku tahu, sejak awal Will digambarkan sebagai orang yang sangat keras kepala dan selalu tahu pasti apa yang ia lakukan. Sekali ia telah memutuskan, maka tidak akan pernah merubahnya. But... it's just... something little voice inside me hoping for Will to change his decision a bit. At the last chance. 

Kalau Will tidak berubah sedikit pun pada akhirnya, apakah itu yang dinamakan perubahaan besar untuk masing-masing? Pertemuan ini bahkan tidak bisa mengubah keputusan Will. 

Judul buku ini kan Me Before You. Kalau menggunakan terjemahannya 'Sebelum mengenalmu'. Namun mengapa aku merasa makna yang lebih tepat adalah 'Aku sebelum Dirimu' 

Yeah, benar-benar terjemahan literal, karena apa? Semua karakter disini sangat egois. Super egois. Pada akhirnya menjadi sangat egois untuk diri masing-masing. Well, I know. Manusia itu adalah makhluk yang paling egois. 

T-tapi... T-T It's just... why can you make me happy a little?  

Pemikiran ini juga dilematis. Di satu sisi aku tahu akan sangat sulit untuk seorang Will yang harga dirinya tinggi untuk memutuskan bergantung pada seseorang seumur hidupnya. 

By the way, meskipun aku nge-reviewnya seperti ini. Ini bukan berarti karakternya jelek. Itu hanya berarti aku tidak suka dengan karakter semacam ini. 

Menurutku, karakterisasi dalam novel ini cukup terasa natural. Alasan-alasan mereka melakukan suatu hal cukup logis dan hidup. Beberapa kali meski pun sebal, tapi harus kuakui ada orang-orang semacam Lou atau pun yang memilih jalan hidup seperti Will. Hanya satu hal saja yang kusayangkan, yaitu keputusan terakhir Will.


Story Line

Nah, sampai juga kita pada part ini. Alangkah baiknya, aku memulai dari membahas 'Keputusan terakhir Will'.

Oh God!!! Part ini membuatku galau memikirkan jalan keluar yang terbaik. Aku yakin, hal itu juga yang terjadi pada Jojo Moyes ketika memutuskan akhir yang seperti itu. 

Let me share what bothered me. 

Pro-Life dan Pro-Chance. 

Pro-Life dan Pro-Chance, dua hal ini yang menjadi perdebatan sejak pertengahan cerita hingga pada akhirnya. Ini benar-benar sulit untuk diputuskan. Keputusan Will untuk mengakhiri penderitaannya dengan pergi ke Dignitas. 

Di satu sisi, aku merasa ya, mungkin dengan begitu beban hidup Will akan segera berakhir. Dengan begitu semua menjadi tidak lagi  terbebani oleh keterbatasan Will. 

Tapi... rasanya itu sebuah keputusan yang egois sekaligus penuh pengorbanan. Siapa sih yang mau mengorbankan nyawanya demi kebahagiaan orang-orang di sekitarnya? Semua tergantung sudut pandang. Apakah itu demi orang lain ataukah demi ego Will yang tidak ingin menjadi tergantung dengan semua orang?  

Tapi... *again* dalam hal ini, alasan yang disini yang disoroti adalah kepribadian Will yang seperti itu. Itu membuat kesan yang sangat berbeda. 


Aku bukanlah Will. Aku ga pernah merasakan apa yang dia rasakan, penderitaannya dengan penyakit-penyakit yang datang sepaket dengan Quadriplegia-nya. 

Oleh karena itu, mungkin memang pilihan yang terbaik adalah pilihan Will.

Meski dalam hati kecil, aku merasa, berharap, bahwa di momen penting itu Will setidaknya sedikit memikirkan permintaan Lou. 

Di sini aku menyadari satu hal lagi. Jika Will saat itu memang memilih untuk merubah keputusannya, mungkin saja mereka tak akan pernah bahagia. Saat ini mungkin Will dan Lou akan bahagia, namun ke depannya, selang beberapa waktu lamanya hal itu tidak bisa dipastikan. Lou masih punya masa depan yang 'cerah', dia berhak untuk menikmati hidup bukan untuk merawat Will seumur hidup. 

*oh... God, disini aku berharap andai saja tiba-tiba saja ditemukan sebuah obat mujarab yang bisa meringankan penderitaan Will.* You're so cruel, Jojo Moyes, T_T 

Alright, mari kita akhiri kegalauan ini dengan lanjut ke bagian lagi dari Story Line

Satu hal yang membuatku sedikit sebal adalah POV cerita yang berganti secara random. POV utama dalam cerita ini adalah POV Lou. Menurutku, seharusnya tetap saja begitu. Jangan tiba-tiba loncat ke POV Mr. Traylor, Nathan, Treena atau siapa pun yang ada di dalam cerita. 

Hal itu terkesan tidak konsisten. Rasanya janggal saja dan aku tidak merasakan adanya alasan mendesak untuk berganti POV tersebut. Kesannya hanya penulis malas untuk memikirkan bagaimana menceritakan adegan tersebut dari sudut pandang Lou karena itu terlalu sulit. 

Menurutku tanpa adanya hal itu pun tidak mempengaruhi jalur cerita. 

Kalau pun harus berpindah POV, awalnya aku berharap hanya ada dua POV. Lou dan Will saja. Alasan, karena ini kan cerita tentang dua orang tersebut yang saling membawa perubahaan besar dalam hidup masing-masing. 


Moral Story

Well, cerita ini memiliki moral story yang bagus. Hanya saja bersamaan dengan hal itu hadir pula sebuah pesan yang menurutku berbahaya. 

Novel ini tidak boleh dibaca oleh orang-orang yang memiliki penderitaan yang sejenis karena apa? Ini seakan mengatakan. It's okay, jika kamu sudah tidak dapat menahannya lagi kamu boleh memilih pilihan seperti Will. Ini seakan sebuah ajakan bunuh diri. 

That's what I want to say from the start. Ini berbahaya. Sebagai penulis kita harus menyadari betapa kuatnya kemampuan sebuah pesan cerita untuk pola pikir seseorang. 

Mungkin seseorang di luar sana akan menyanggah, mengatakan: Itu kan kembali lagi pada pembaca masing-masing. Kita tidak boleh meremehkan kecerdasan mereka untuk menyaring semua itu. Jika pada akhirnya mereka memilih jalan yang sama itu bukan tanggung jawabku. 

No, untukku itu adalah hal yang salah. Kita... bertanggung jawab atas hal itu. Totally. Jika ide yang tumbuh dan berkembang di dalam benaknya itu berasal dari tulisan kita, kita sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi. It's like a karma. Kita tidak pernah bermaksud untuk membuat hal itu menjadi seperti ini, tapi hal yang terjadi tetap berasal dari perbuatan kita. Tentu saja, kita tidak mungkin membebani diri semua tanggung jawab itu. Itu sangat sulit. 

That's why there's an old said: 

“Watch your thoughts, they become words;Watch your words, they become actions;Watch your actions, they become habits;Watch your habits, they become character;Watch your character, for it becomes your destiny.”


PENILAIAN: 

1. Judul: 8/10 

2. Blurb/ Sinopsis: 7/10

3. Karakterisasi: 7/10

4. Jalan cerita: 7/10 

5. Originalitas: 8/10


Overall Enjoyment : 37/50


Well, overall. Cerita ini menurutku menarik. Hanya saja bagian akhir dari cerita tersebut kurang pas di hati. Jika aku yang menjadi penulis novel ini, mungkin aku akan memilih untuk merubah keputusan tersebut at the very last moment

Alasan, karena hal itu lebih membahagiakan dan memberi harapan, meskipun kebahagiaan itu mungkin tidak akan berlangsung lama, tapi setidaknya pasti akan ada sebuah alasan untuk kita maupun orang-orang di sekeliling kita, jika kita memilih untuk terus hidup hingga waktunya kita berakhir

Everything happen for reason


You Might Also Like

4 comments

  1. Finally ada seseorang yang juga berpikiran sama kalau kedua karakter utama di buku ini sama-sama egois.
    Ketika semua orang baca buku ini sambil mewek, entah kenapa saya ngga menitikkan air mata sedikit pun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Benar! Egois banget. Sampe sekarang aku kalau inget buku ini masih kesal banget. Sama juga, saya juga tidak menangis sama sekali bahkan hingga akhir cerita.

      Delete
  2. Makasih buat Daisy atas review nya. Di awal baca buku ini Ekspektasi saya Will akan sembuh dan hidup bersama Lou, tapi ternyata Will lebih milih buat pergi.tapi semuanya tetep keren. terimakasih untuk Jojo moyes udh bikin cerita yg bener2 gabiasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga sudah mampir ke sini. :)

      Ini pilihan Will juga tidak salah, hanya saja itu membuat saya sedih. :'(

      Delete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide