[Fiksi] Celotehan Semata
8:52 PM
Ini adalah celotehanku tentang Ibu.
Sejujurnya aku pun tak tahu
Apakah ini cerpen atau puisi?
Yang jelas ini adalah fiksi.
Jika ada kesamaan tokoh maupun tempat,
Itu hanyalah ketidaksengajaan belaka.
Sejujurnya aku pun tak tahu
Apakah ini cerpen atau puisi?
Yang jelas ini adalah fiksi.
Jika ada kesamaan tokoh maupun tempat,
Itu hanyalah ketidaksengajaan belaka.
Inilah celotehanku.
Kami adalah sebuah keluarga yang normal.
Aku, adik perempuanku, dan Ibu.
Ya, kami memang bertiga semenjak ditinggal Ayah
Memilih menjadi bagian keluarga baru.
Semenjak Ayah pergi, Ibu menjadi pusat rotasi kami.
Padanya kami menggantungkan hidup dan harapan.
Ibu bukan sosok yang luar biasa pandai.
Ia hanyalah seorang ibu rumah tangga
Yang terpaksa untuk mencari cara menghidupi kami.
Ibu sangat ulet dan pemberani.
Ia melakukan apa pun demi kami.
Termasuk menahan pedih hatinya oleh kelakuan aku dan adik.
Termasuk mencari jalan keluar lain
Ketika keadaan tak lagi memungkinkan untuk menutupi biaya kami.
Kami terlihat seperti keluarga yang normal.
Bahkan cenderung dianggap sempurna.
Setiap orang yang datang berkunjung ke rumah pasti berkomentar,
"Duh, anaknya rajin amat, ya."
Siang itu Ibu berubah.
"Pokoknya aku ga mau tahu. Aku mau dia keluar! Dasar anak enggak tahu diuntung! KELUAR!!!"
Ibu menjadi histeris dan mencoba mengusir Adik keluar dari rumah.
Kami ketakutan.
Tak tahu harus melakukan apa.
Kami tak merasa telah melakukan sesuatu yang salah.
Kami melakukan semua yang Ibu inginkan.
Membersihkan rumah.
Mencuci baju.
Membantunya memasak di dapur.
"Sudah, Ibu hanya lagi banyak pikiran. Kalian enggak usah terlalu sedih."
Itu adalah kata ayah tiri kami.
Siang itu berlalu begitu saja.
Kami hanya berpikir bahwa itu memang Ibu sedang stress.
Kami tak tahu hal itu akan merubah segalanya.
Pertama kali, kami ketakutan.
Kedua kali, kami merasa takut tetangga mendengar teriakan Ibu.
Ketiga kali...
Keempat kali...
Kami mulai merasa kesal dan semakin tidak ingin berurusan dengan Ibu.
Diam.
Ketika suara mobil Ibu mendekat,
Kami berlari untuk mematikan lampu kamar.
Mendekam dalam gelap.
Sejak awal kami memang bukanlah keluarga yang dekat satu sama lain.
Kami tak pernah merayakan ulang tahun bersama.
Tak pernah membicarakan kejadian apa yang terjadi hari ini.
Kami tak pernah berbicara tentang masalah hati.
"Kak, cepat pulang."
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku malam itu.
Dari adikku.
Ketika kutelepon.
Ia tersedu.
Ribuan kemungkinan berkecamuk dalam benakku seketika.
Ada apa?
Apakah Ibu sakit?
Apakah ada yang mendobrak masuk?
Ah...
Pasti Ibu mengamuk lagi.
"Aku nggak mau masuk."
"Aku takut."
"Aku nggak mau kuliah lagi kalau begini terus."
"Ibu mencekikku, Kak!"
Adik meringkuk di sudut kamarku.
Menutupi diri dengan selimut. Gemetar.
Aku pun begitu.
Aku mengunci pintu kamar.
Berharap Ibu tak kan menghampiri kami.
Berharap semua ini akan segera berlalu.
"Ibu itu seperti pelacur! Setiap hari harus berusaha menyenangkan dia!
Dekati dia demi kalian.
Demi uangnya.
Tapi apa yang kalian lakukan?
Muka selalu masam.
Nggak ada senyumnya sama sekali.
Ibu itu sudah seperti pelacur.
Mau ketemu teman nggak enak.
Mau ketemu keluarga nggak enak.
Malu! Punya suami kayak dia."
Maksudnya adalah ayah tiri kami.
Layaknya aku memperlakukan ponselku yang hampir rusak,
Meskipun itu merusak hati kami,
Aku membiarkan keadaan seperti ini.
Kami adalah keluarga yang canggung.
Melukai satu sama lain.
Tak tahu bagaimana memperbaikinya.
Takut.
Kami adalah sebuah keluarga yang normal.
Aku, adik perempuanku, dan Ibu.
Ya, kami memang bertiga semenjak ditinggal Ayah
Memilih menjadi bagian keluarga baru.
Semenjak Ayah pergi, Ibu menjadi pusat rotasi kami.
Padanya kami menggantungkan hidup dan harapan.
Ibu bukan sosok yang luar biasa pandai.
Ia hanyalah seorang ibu rumah tangga
Yang terpaksa untuk mencari cara menghidupi kami.
Ibu sangat ulet dan pemberani.
Ia melakukan apa pun demi kami.
Termasuk menahan pedih hatinya oleh kelakuan aku dan adik.
Termasuk mencari jalan keluar lain
Ketika keadaan tak lagi memungkinkan untuk menutupi biaya kami.
Kami terlihat seperti keluarga yang normal.
Bahkan cenderung dianggap sempurna.
Setiap orang yang datang berkunjung ke rumah pasti berkomentar,
"Duh, anaknya rajin amat, ya."
Siang itu Ibu berubah.
"Pokoknya aku ga mau tahu. Aku mau dia keluar! Dasar anak enggak tahu diuntung! KELUAR!!!"
Ibu menjadi histeris dan mencoba mengusir Adik keluar dari rumah.
Kami ketakutan.
Tak tahu harus melakukan apa.
Kami tak merasa telah melakukan sesuatu yang salah.
Kami melakukan semua yang Ibu inginkan.
Membersihkan rumah.
Mencuci baju.
Membantunya memasak di dapur.
"Sudah, Ibu hanya lagi banyak pikiran. Kalian enggak usah terlalu sedih."
Itu adalah kata ayah tiri kami.
Siang itu berlalu begitu saja.
Kami hanya berpikir bahwa itu memang Ibu sedang stress.
Kami tak tahu hal itu akan merubah segalanya.
Pertama kali, kami ketakutan.
Kedua kali, kami merasa takut tetangga mendengar teriakan Ibu.
Ketiga kali...
Keempat kali...
Kami mulai merasa kesal dan semakin tidak ingin berurusan dengan Ibu.
Diam.
Ketika suara mobil Ibu mendekat,
Kami berlari untuk mematikan lampu kamar.
Mendekam dalam gelap.
Sejak awal kami memang bukanlah keluarga yang dekat satu sama lain.
Kami tak pernah merayakan ulang tahun bersama.
Tak pernah membicarakan kejadian apa yang terjadi hari ini.
Kami tak pernah berbicara tentang masalah hati.
"Kak, cepat pulang."
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku malam itu.
Dari adikku.
Ketika kutelepon.
Ia tersedu.
Ribuan kemungkinan berkecamuk dalam benakku seketika.
Ada apa?
Apakah Ibu sakit?
Apakah ada yang mendobrak masuk?
Ah...
Pasti Ibu mengamuk lagi.
"Aku nggak mau masuk."
"Aku takut."
"Aku nggak mau kuliah lagi kalau begini terus."
"Ibu mencekikku, Kak!"
Adik meringkuk di sudut kamarku.
Menutupi diri dengan selimut. Gemetar.
Aku pun begitu.
Aku mengunci pintu kamar.
Berharap Ibu tak kan menghampiri kami.
Berharap semua ini akan segera berlalu.
"Ibu itu seperti pelacur! Setiap hari harus berusaha menyenangkan dia!
Dekati dia demi kalian.
Demi uangnya.
Tapi apa yang kalian lakukan?
Muka selalu masam.
Nggak ada senyumnya sama sekali.
Ibu itu sudah seperti pelacur.
Mau ketemu teman nggak enak.
Mau ketemu keluarga nggak enak.
Malu! Punya suami kayak dia."
Maksudnya adalah ayah tiri kami.
Layaknya aku memperlakukan ponselku yang hampir rusak,
Meskipun itu merusak hati kami,
Aku membiarkan keadaan seperti ini.
Kami adalah keluarga yang canggung.
Melukai satu sama lain.
Tak tahu bagaimana memperbaikinya.
Takut.
Sekali lagi, ini hanyalah sebuah celotehan saja.
Bukan kejadian nyata.
Bukan cerpen atau pun puisi.
Sepertinya sih fiksi.
Jika ada kesamaan tokoh mau pun cerita,
Mungkin aku sengaja.
Tangerang, 16 September 2015
- Ditulis untuk Tantangan Alumni Kampus Fiksi #MenulisIbu -





















2 comments
nyesek ih, deas! serem jugaaaa... konflik batinnya dapet euy :3
ReplyDeleteKok sedih ya deas aku bacanya...
ReplyDelete