[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Tenth Run

9:03 PM



TENTH RUN
Everyone's running but why am I still here
So far away, if I had a dream,
 If only I had a flying dream
Don’t go far away, if I had a dream,
 If only I had a flying dream

           
“PANTAI!!!!” Taehyung dan Jungkook berseru keras begitu melihat tempat tersebut. Mereka berlari dengan semangat tinggi menuju air.
Hoseok, Namjoon, dan Yoongi mengikuti mereka segera. Seperti yang Jin sudah tebak sebelumnya, Yoongi akan ikut bagaimana pun juga. Dia hanya akan menolak pada percobaan pertama. Dan melihat ekspresi Yoongi, Jin tahu kalau Yoongi tidak menyesali ikut serta dalam perjalanan ini. Mereka berlima bermain dengan sangat gembira di pinggir pantai. Berjalan menuju ombak, berkejar-kejaran, dan mencoba menenggelamkan salah satu dari mereka yang dapat mereka tangkap. Target paling diincar untuk ditenggelamkan adalah Taehyung. Tapi pemuda tersebut tidak ambil pusing dengan hal tersebut. Taehyung dan Jungkook sudah basah kuyup dari atas hingga bawah, bermain memercihkkan air pada satu sama lain, seperti seorang anak kecil. Taehyung bersikap ceria seperti biasa. Bahkan sepanjang perjalanan ke sana pemuda tersebut tidak berhenti berbicara. Seakan dia tidak pernah menghilang selama empat hari.
Jin sedang memegangi kameranya untuk merekam pemandangan dan para kru di pantai. Dan pada kepribadian yang bertolak belakang dari Taehyung, ada Jimin yang berdiri di samping Jin dalam diamnya. Dia tidak mengikuti mereka. Jimin tidak sedang ingin pergi ke pantai. Jika saja Taehyung tidak mengusiknya sejak pukul lima pagi dan mengancam akan menjemputnya langsung dari rumah, mungkin Jimin akan lebih memilih untuk tinggal di rumah.
“Apa kau baik-baik saja, Jimin?” Itu adalah ketiga kalinya Jin bertanya pada pemuda tersebut semenjak insiden di kantin. Dia tidak tahu mengapa namun Jin merasa dia harus bertanya pada pemuda tersebut berulang kali hanya agar dapat mendapatkan sepintas pemikirannya yang sesungguhnya. Rasanya seperti Jimin sedang menyembunyikan sesuatu di dalam diamnya.
“Tentang apa, Hyung?”
“Tentang ke tempat ini. Kau terlihat tidak begitu ingin ikut serta.”
“Iya, kalau saja bukan karena Taehyung, tapi aku baik-baik saja, kurasa.”
“Kau benci pantai?”
Jimin menatap Jin ketika dia mendengar pertanyaan tersebut.
“Jika kau mengatakannya dengan tegas, sesungguhnya kau bisa menolak untuk ikut. Taehyung tidak akan memaksamu untuk datang. Tapi kau tidak pernah mengatakan apa pun pada kami. Maksudku, kau selalu bisa mengatakan apa pun padaku atau kami. Jangan simpan di dalam.”
Jimin terpaku untuk sesaat. Pikirannya sontak melayang pada kenangan masa lalunya, menyangkut sekumpulan orang, banyak sekali air, dan tenggelam. Itu membuatnya kesulitan bernapas untuk sesaat, seperti dia baru saja berada di bawah air. Jimin mencoba mengendalikan pemikiran-pemikiran tersebut. Dia telah belajar untuk tidak membiarkan pikirannya berkelana jauh. Kemudian, Jimin tersenyum pada tawaran yang terdengar tulus dari Jin.
“Sesungguhnya aku tidak membenci pantai secara khusus. Hanya saja aku memiliki beberapa kenangan buruk menyangkut air dalam jumlah banyak. Itu membuatku sedikit tidak nyaman, tapi aku bisa mengendalikannya.”
Itu pertama kalinya Jimin berbicara mengenai masa lalunya. Jin sangat ingin mendengar lebih namun tidak tidak menanyakan apa pun. Dia membiarkan pemuda tersebut mengambil waktu untuk bercerita namun sekali lagi Jimin tidak banyak bicara. Dia mengakhirinya setelah kalimat terakhir sebelumnya.
Sebagai siswa pindahan dari Busan, Jin pikir Jimin mungkin saja tumbuh terbiasa bermain di sekitar pantai. Itu membuat Jin bertanya-tanya apa yang terjadi. Apakah ada hubungan antara kenangan-kenangan tersebut dengan penjara yang mengekang Jimin di dalamnya? Apa yang membuat pemuda tersebut begitu terkurung di dalam ketakutannya?
Bagaimanapun, hal yang cukup sulit untuk Jimin bicarakan mungkin saja memang sangat besar. Jin tidak ingin memaksa pemuda tersebut untuk berbicara, meski dia sesungguhnya sangat ingin mengetahuinya. Dengan begitu dia bisa melakukan sesuatu untuk pemuda tersebut. Tapi, Namjoon benar. Kau tidak bisa menolong seseorang yang tidak ingin diselamatkan. Itu bukan tempat Jin untuk berpura-pura menjadi pahlawan. Dan Jin bukanlah Yoongi. Dia tidak bisa melakukan hal seperti yang Yoongi lakukan.
“Jin Hyung! Apa yang kau dan Jimin lakukan di sana? Ke mari! Ayo bersenang-senang. Airnya terasa sangat enak. Segar!” Taehyung memanggil sambil menyipratkan air laut.
Jin menatap kamera di tangannya dan sedikit meragu. Jin tidak tahu di mana dia harus meletakkan kameranya jika dia akan bermain dengan mereka. Lima orang itu meninggalkan barang-barang bawaan dan sepatu mereka secara sembarangan di atas pasir namun Jin tidak bisa melakukan hal yang sama.
“Tinggalkan bersamaku saja, Hyung. Aku akan merekam semua untukmu.”
Tawaran Jimin mencerahkan Jin, namun dia tidak yakin apakah dia bisa meninggalkan pemuda tersebut sendiri.
“Apa kau akan baik-baik saja?”
Jimin menatap anggota kru yang sedang bermain melemparkan Taehyung ke dalam air sekali lagi. Seringkali candaan dan penindasan itu berjalan bersisian dengan seuntas tali tipis saja yang menjadi perbedaan mereka. Kau tidak akan cukup yakin apakah mereka sedang bermain-main atau menindas Taehyung jika kau hanya melihatnya dari sudut pandang orang luar, terlebih lagi dari kejauhan. Ketika kau dengan tak acuh berpikir mereka sedang bercanda, itu bisa jadi merupakan pengalaman nyaris mati untuk seseorang. Jimin tidak pernah menyukai permainan semacam itu.
“Selama tidak ada yang memaksaku masuk ke dalam air, aku akan baik-baik saja duduk di pinggir pantai. Aku akan menjaga barang-barang kalian.”
Jin mengangguk. “Aku akan memastikan Taehyung atau siapa pun tidak melakukan itu.”
“Jin Hyung!” Taehyung kembali memanggil.
“Baiklah, aku ke sana!” Jin melambai ke arah Taehyung Dia menoleh kepada Jimin untuk menyerahkan kamera kepada pemuda tersebut sebelum berlari ke arah yang lainnya.
Hanya tersisa Jimin seorang dengan barang-barang bawaan para anggota kru di sisinya. Dia sedang menatap ke arah para anggota kru yang sedang bermain dengan gembira di tepi pantai. Jimin mencoba mengingat kapankah terakhir kali dia merasakan hal yang sama. Sepertinya tidak pernah. Jimin telah lama melupakan bagaimana cara untuk bahagia. Satu-satunya yang tersisa darinya hanyalah kecemasan dan perasaan sepi. Ya, setidaknya akhir-akhir ini dia tidak begitu merasa kesepian karena mereka, namun begitu dia pulang ke rumah, perasaan itu kembali dua kali lipat dan lebih buruk.
Bagaimana yang kau rasakan saat ini?”
“Aku tidak yakin. Semua rasanya sama saja.”
“Kami tidak bisa menolong Jimin jika dia tidak ingin ditolong. Pertama-tama dia harus melakukannya untuk dirinya sendiri.”
Itu adalah salah satu percakapan yang orang-orang di rumah sakit itu akan selalu suka untuk bicarakan dengannya setiap kali mereka menemui jalan buntu dalam kasusnya. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Dia adalah kasus yang tak terpecahkan. Keluarganya telah lama menyerah atasnya. Mereka tidak dapat mengerti mengapa dia merasakan hal seperti itu. Ya, Jimin pun bahkan tidak mengerti mengapa dirinya merasa seperti itu. Para dokter dan juga keluarganya terus saja mengatakan padanya untuk mengambil alih kesadarannya lagi. Mengendalikan dirinya, menghentikan semua pemikiran buruk, dan memikirkan hal-hal yang positif.
Semua itu omong kosong.
Jika Jimin dapat memilih, tentu saja dia menginginkan untuk hidup seperti kebanyakan orang. Dia ingin menjadi orang yang normal yang dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat.
Bagaimana bisa mereka mengatakan mereka tidak dapat menyelamatkannya?
Beraninya mereka menyatakan dirinya tidak ingin diselamatkan?
Dia terjebak dan tidak tahu bagaimana untuk meminta pertolongan. Jika dia tahu cara melakukannya, apakah dia akan menjadi seperti saat ini sekarang? Apakah dirinya yang ingin merasakan seperti ini?
Ya! Park Jimin, bagaimana bisa kau datang sejauh ini hanya untuk duduk-duduk saja? Kenapa kau tidak bergabung dengan kami?” Tanpa Jimin sadari kapan Taehyung melakukannya, pemuda tersebut telah keluar dari air.
Jin segera mencoba menahan Taehyung.
“Jin Hyung bilang padaku untuk meninggalkanmu sendiri. Apa menonton saja tidak membuatmu bosan?” Taehyung berkelit dari pegangan Jin.
“A-aku ....”
Taehyung berjalan ke arahnya. Jimin dapat merasakan keringat dingin mulai menyusuri dari leher hingga ke punggungnya. Sebuah gambaran yang berulang; sekelompok orang-orang, sejumlah besar air, orang-orang sedang tertawa; sebuah kenangan diseret menuju air dan tenggelam menghampiri benaknya.
“Biarkan dia, Taehyung. Kau akan menyakitinya jika kau memaksanya bergabung.” Jin mengikuti pemuda tersebut.
“Apa yang akan menyakitinya jika dia bergabung dengan kita? Apa kita melukainya?”
“KIM TAEHYUNG!”
Taehyung mengambil napas dalam-dalam seakan dia bertekad selagi merangsak maju. Jimin dapat merasakan jantungnya berdebar dengan liar selagi dia melihat pemuda itu menghampirinya. Perasaan panik melandanya. Jimin tahu lagi-lagi dia melakukannya, kehilangan kontrol atas diri.
“Baiklah.” Ternyata Taehyung berdiri di depan Jimin dan tidak melakukan hal seperti yang Jimin kira dia akan lakukan. Hal selanjutnya yang dia lakukan membuat Jimin terpaku untuk sesaat. “Hyung, ayo cari makan. Aku lapar.”
Taehyung berpaling ke arah kru dan berteriak. Para anggota kru menghentikan aktivitas mereka.
“Ayo keluar dari pantai.” Taehyung berteriak sekali lagi. Kemudian dia menoleh ke arah Jimin yang terlihat terkejut. Dia tersenyum.
“Apa-apaan ini? Kau sendiri yang mau main di pantai. Kita baru saja mulai sekitar setengah jam dan kau sudah bosan. Apa aku harus membunuhmu sekarang?” Yoongi menyingkir dari laut bersama yang lain.
“Tidak asyik kalau ada seseorang yang tertinggal sendiri.” Taehyung mengusap rambutnya yang basah.
Perhatian para anggota tertuju pada Jimin. Hal itu membuatnya sedikit merasa bersalah. Dia lebih baik tinggal di rumah saja. Keberadaannya hanyalah sebuah gangguan untuk orang lain. Dia adalah perusak suasana. Pemikiran tersebut telah membuat suasana hati Jimin merosot ke titik terendah.
 “Baiklah, ayo kita cari makan. Aku juga sudah mulai lapar. Perjalanan jauh membuatku lapar.” Hoseoklah yang pertama kali memecahkan suasana.
Jungkook dan Namjoon segera setuju dengannya. Sementara Yoongi, dia terlihat memahami mengapa Taehyung melakukan itu. Itulah sebabnya dia tidak mengatakan apa pun selain pergi mengambil tas punggungnya. Para anggota kru mengikuti apa yang Yoongi lakukan.
“Aish, kupikir jika Jimin berasal dari Busan, mungkin saja dia akan merindukan bermain di pantai. Kurasa pemikiranku salah.” Taehyung sedang berbicara pada dirinya selagi dia berjalan menuju tempat bilas untuk membersihkan diri.
“Coba lainnya, Hyung.” Jungkook meresponsnya ketika dia berjalan di sisi pemuda tersebut.
“Ayo kita cari hal lain yang bisa kita nikmati bersama.”
Mereka berbicara dengan suara pelan namun Jimin dapat mendengar percakapan tersebut. Dia menyadari bahwa Taehyung sedang bersikap berhati-hati di sekitarnya setelah kejadian itu. Taehyung mungkin merasa bersalah telah memaksa Jimin untuk melakukan pertunjukan. Dia mencoba memperbaiki hal tersebut untuk Jimin. Jimin dapat merasakan perhatian Taehyung.
Para anggota kru tidak pernah bertanya apa yang sesungguhnya terjadi pada Jimin setiap kali mereka bersikap aneh di sekitarnya. Rasanya seperti mereka dapat menebak dari petunjuk-petunjuk dan secara serempak setuju untuk memahami situasinya. Mereka diam-diam menunjukkan perhatian dengan cara mereka sendiri. Tapi itu membuat Jimin merasa terbebani. Jimin tidak tahu bagaimana cara untuk menanggapi hal tersebut setiap kali mereka memberikan pengertian mengenai kondisinya. Itu membuatnya merasa harus melakukan sesuatu untuk membalas jasa. Setiap kali Jimin memikirkan hal itu, dia sangat menginginkan untuk bersembunyi di bawah selimut dan tidak pernah lagi menunjukkan dirinya pada dunia. Dengan begitu dia tidak akan mengganggu kehidupan orang lain.

☆☆☆☆☆☆☆

Seharusnya baru akan update lagi Sabtu depan, tapi karena kemarin-kemarin absen lama banget, kudouble update nih minggu ini. 
Suka dengan cerita ini? Bisa lanjut baca di postingan dengan tag "Youth of Lily". Kalau nggak sabaran menanti terjemahan bisa langsung mampir ke sini untuk versi Inggrisnya.  Versi wattpad bisa dicari di sini

You Might Also Like

2 comments

  1. Hai Daesy ...

    Wah aku suka sekali sama jalan ceritanya

    Makin solid iya mereka, sudah mulai memahami satu sama lain walau belum sepenuhnya

    Suka sama karakternya jin yg selalu ada buat mereka dan tanpa mereka sadari mereka cerita sendiri sama jin masalah mereka walau ceritanya sedikit2

    nunggu terjemahan selanjutnya iya

    ReplyDelete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide